Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Nafkah


__ADS_3

Sudah bersiap untuk tidur, tapi entah kenapa sedari tadi perasaan Kinara tidak enak. Apalagi, Javas yang sepertinya sedang mengawasi segala gerak-geriknya. Tapi, Kinara mencoba untuk berpikiran positif.


Kinara semakin takut ketika dia naik ke atas ranjang, dan Javas lagi-lagi memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Na..", ucapnya.


"Iya..",


"Aku ada disini, bukan disitu..", protes Javas karena Kinara tidak memandang ke arahnya ketika menjawab pertanyaannya.


"Iya mas..", ucapnya menoleh ke samping, tempat Javas berbaring.


"Aku mau tanya ..", ucapnya memeluk Kinara yang membuat mereka kini saling berhadapan.


"Apa..?",


Jujur, Kinara dibuat salah tingkah oleh tatapan Javas. Terlihat teduh dan lembut.


"Kamu kalo liat mommy gimana?",


"Gimana apanya mas?",


"Ya.., menurut kamu mommy sosok istri yang kayak gimana?",


"Oh...",


"Apa?",


"Mommy lembut, tegas, tapi nggak pernah melampaui batasan sebagai seorang istri. Yang Kina tau, mommy selalu nurut apa yang dibilang sama Daddy..",


"Kamu nggak pengen kayak mommy..?",


"Pengen apa mas?",


"Nurut kata-kata suami..",


"Na.., selalu berusaha seperti itu mas..",


"Kalo gitu nurut kata aku ya..?",


"Iya mas..",


"Mulai dari sekarang.., janji..?",


"Janji...",


Mereka menautkan jari kelingking sebagai tanda dimulainya sebuah perjanjian.


"Na..",


"Selamat tidur mas..",


"Aku mau kamu.., malam ini...", ucapnya. Tanpa persetujuan atau jawaban dari Kinara, Javas langsung mencumbu istrinya. Dia mulai dengan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Kinara.


Tidak ada penolakan dari Kinara. Entah setuju dengan keinginan Javas, mencoba menepati janji yang barusan mereka buat, atau memang Kinara tidak mengerti ucapan Javas. Namun, yang jelas Kinara merespon dan membalas ciuman suaminya. Javas semakin menjadi, has*ratnya yang sudah seharian dia tahan, harus dia tumpahkan malam ini. Tangannya nakal, sudah bergerilya mencoba satu persatu membuka kancing piyama yang dikenakan oleh Kinara.


"Emmmmmhhh...", lenguh Kinara yang semakin membuat Javas tergila-gila.


Javas yang sudah berhasil membuka kancing hingga bawah, mengakhiri ciumannya. Beralih meminta izin untuk segera membuka sesuatu yang sebenarnya sudah sering dia lihat, tapi Javas ingin melihat, menyentuh dan menikmatinya secara langsung.


"Mas.., jangan sekarang..",


Tok...tok..tok..


"Katanya nurut..?", ucap Javas dengan suara beratnya.


"Mas nggak denger ada yang ngetuk? Bentar ya..",


Tok..tok..tok..


"Nggak usah, ini udah malem..",


"Bentar aja mas...",


"Hahhhhhh...", Javas menghempaskan tubuhnya. Padahal tinggal sebentar lagi, tapi ada saja halangannya.


Kinara memasang kembali kancing atasannya yang terlepas karena keuletan tangan suaminya.


"Bentar aja ya..",


"Iya mas..",


Kinara turun dari ranjangnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Oh..mbak Sharen..",


"Lama banget Na..,ganggu ya..",


"Nggak mbak..",


"Lain kali diperiksa dulu.., nih kancingnya pasangannya yang mana, dimasukin kemana..", ucap Sharen. Dia membantu iparnya membetulkan kancing Kinara.

__ADS_1


Kinara tersipu malu.


"Ada apa mbak?", tanyanya segera, mengalihkan pembicaraan Sharen.


"Ini mau ngasih ini..


mana bik..", ucapnya pada Maid yang membawa tiga buah paper bag.


Totalnya, Sharen memberikan lima buah paper bag pada Kinara. Hasil, belanjanya tadi pagi bersama mommy.


"Kok dikasih Kina mbak?",


"Kan emang buat kamu.., semoga suka ya. Tadi sih nggak mau milih sendiri..",


"Kan mbak Sharen yang belanja tadi...",


"Tas sama sepatunya dipake pas acaranya Kai ya.., kita kembaran..


"Iya mbak..makasih.."


"Makasihnya sama mommy, yang beliin mommy, hehehe..",


"Kina jadi nggak enak mbak.."


"Nggak apa-apa.., mommy uangnya banyak.. Ya udah, aku balik ke kamar ya, silahkan kalo mau lanjutin. Bikin keponakan yang lucu buat aku sama Jaz ya..",bisiknya.


Kinara hanya tersenyum. Sharen memang sering berbicara frontal seperti itu kepadanya. Meskipun hanya sebuah candaan, tapi tetap Kinara malu.


Kinara membawa paper bag yang berisi barang mahal ke dalam kamarnya. Melewati Javas yang masih menunggunya di atas ranjang.


Setelah menyimpan barangnya di walk in closet, Kinara kembali ke kamar.


"Habis belanja ya? banyak banget..",


"Iya mas, tapi bukan Kina yang beli. Tapi mommy..",


"Mommy..? jadi itu barangnya mommy? kok dibawa masuk ke kamar kita?",


"Itu barang buat Kina.., dari mommy..",


"Kamu dibeliin sama mommy?",


"Iya mas.., mbak Sharen yang barusan ngasih..",


"Kenapa nggak beli sendiri aja sih Na? Kenapa harus dibeliin sama mommy?",


"Kan Kina nggak tau mas.., kalo itu buat Kina. Yang milih kan mommy sama mbak Sharen sendiri...",


"Iya mas.., maaf..",


"Harusnya tadi kamu bayar pake uang kamu sendiri..",


"Uang Kina nggak ada sebanyak itu mas..", jujurnya.


"Emangnya berapa duit? sampe kamu nggak punya?",


"Nggak tau..berapa ratus juta..",


"Kamu kan punya uang semilyar, udah abis..?buat apa? ",


"Masih mas..",


"Ya kan bisa pake itu Na..",


"Mas.., tapi..",


"Pokoknya aku nggak suka ya Na kamu dibeliin barang-barang sama mommy.., harusnya kamu nolak..",


"Na boleh nolak pemberian dari mommy?",


"Terserah kamu..!!!!",


Moment yang seharusnya menjadi kenangan manis diantara mereka berakhir dengan sebuah perdebatan kecil. Javas yang tadi sudah menggebu sepertinya sudah tidak lagi bernaf*su. Javas keluar dari kamarnya, meninggalkan istri yang bingung dengan sikapnya.


Kinara, hanya diam melihat Javas. Membiarkan suaminya pergi.


Javas yang marah langsung keluar dari rumah. Di teras, ternyata ada Daddynya yang duduk seorang diri.


"Dad.., kenapa disini?",


"Nggak apa-apa, abis ngerokok.., kamu sendiri, ngapain? bukannya daritadi udah kepengen berduaan sama istri kamu..?",


"Javas marah Dad..",


"Mau cerita?",


"Javas nggak suka kalo Kinara dikasih barang-barang sama mommy..",


"Kenapa Son?",


"Tolong kasih tau mommy mom, nggak usah lagi beliin istri Javas, apapun itu. Javas masih mampu.."

__ADS_1


"Istri kamu memang menantu mommy, tapi.. mommy juga udah pasti anggap Kinara sebagai anaknya.."


"Mommy nggak kerja kan? kalo mommy beliin Kinara, otomatis itu pake uang Dad..., sama aja Dad yang memenuhi kebutuhan Kinara..",


"Rumus dari mana itu Vas..?", geleng Rendra yang tidak mengerti dengan jalan pikiran putranya.


"Bener kan Dad?",


"Son..", ucap Daddy Rendra menepuk bahu anak lelakinya.


"Dad mau cerita sedikit.


Kamu tau kan? mommy bertaun-taun sakit..? Selama itu pula nafkah yang Daddy kasih buat mommy hanya berupa nafkah lahir. Mommy tetap mendapatkan haknya dan Daddy tetap menjalankan kewajiban untuk menafkahi Mommy setiap bulannya. Dad tetap memberikan uang bulanan untuk mommy..",


Wajah Javas seperti tidak percaya mendengarkan cerita Daddynya.


"Kamu bayangkan, seberapa banyak uang mommy. Tiap bulan tetap dapat transferan, sementara nggak ada pengeluaran sama sekali karena semua kebutuhan rumah, kak Sharen yang pegang. Uang yang Dad berikan itu sudah menjadi hak Mommy, bukan uang Dad lagi. Termasuk uang yang mommy gunakan untuk beli barang yang dikasih buat istri kamu.., itu yang mommy bukan uang Dad..,


"Tapi tetep Javas nggak suka Dad, Kina kan bisa pake uangnya sendiri..",


"Mommy mau ngasih menantunya, apa salahnya?",


"Javas nggak suka..


" Mommy ngasih barang-barang, itu sesuatu yang sangat wajar. Mungkin pengen liat menantunya nggak terlihat biasa dimata orang lain. Biar cocok kalo bersanding sama mommy atau kakak kamu..",


"Maksudnya istri Javas itu terlihat terlalu sederhana Dad? nggak pantes kalo disandingin sama mommy atau Queen?",


"Jangan salah paham sama maksud Daddy. Mommy dan kak Sharen punya standard sendiri mengenai penampilan, termasuk barang yang mereka kenakan. Kamu percaya aja, Mommy sama kak Sha pasti ngasih yang terbaik buat istri kamu...",


"Harusnya mereka bilang sama Javas, biar Javas yang penuhi..",


"Son.., kamu tau? mommy juga dulu polos, tapi setelah masuk keluarga Perdana, mommy berubah, terutama gaya hidup. Mommy nggak berlebihan, tapi lingkungan kita yang menuntut seperti itu. Dulu, bahkan seisi lemari mommy, udah diisi sama Oma dan tante Vina dengan barang-barang mewah. Mommy tinggal pake...",


"Oke Dad., Javas coba terima itu. Tapi, yang Javas heran Kinara bilang kalo dia nggak punya uang buat bayar..",


"Son.., nafkah itu ada dua. Nafkah lahir dan nafkah batin.., keduanya harus seimbang.., emangnya berapa juta kamu ngasih Kinara tiap bulannya sampe-sampe dia bilang nggak punya uang?"


"Javas....",


"Oke.., nggak usah dijawab. Itu terlalu privacy. Kalo kamu udah ngasih buat Kina berarti itu sudah hak istri kamu. Mau diapain, mau dibuat apa, terserah Kina. Dad kasih contoh, uang mahar yang pernah kamu kasih buat Kina, itu udah jadi hak dia. Jangan kamu tanyakan lagi kemana uang itu, mau dikasih ke saudara atau dia gunakan untuk belanja, itu terserah dia.., kamu ngerti kan?",


"Iya Dad..",


"Selesaikan semua masalah dengan kepala dingin, jangan segan buat minta maaf kalo kamu memang salah. Dad masuk dulu, mommy pasti nggak bisa tidur kalo nggak ada dad..",


Javas selama ini ternyata melupakan satu hal yang sangat penting. Apa yang dikatakan Daddy, semuanya benar. Javas yang salah.


Buru-buru dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Istrinya terlihat sudah tidur, tapi sepertinya hanya berpura-pura.


"Na...", ucapnya lembut. Javas mendekati Kinara yang tidur memeluk sebuah guling dengan menenggelamkan wajahnya.


"Kamu udah tidur..?",


Tidak ada sahutan. Kinara sepertinya benar-benar tidur.


"Na..., bangun ya. Kita bicara sebentar..",


Tidak ada respon apapun dari Kinara.


Javas masih berusaha membangunkan Kinara, dengan melepas paksa guling yang tengah dipeluk erat oleh istrinya.


Javas berhasil, dan ternyata benar. Kinara belum tidur.


"Kamu nangis...?", ucapnya ketika melihat wajah istrinya sudah penuh dengan airmata. Bukannya mereda, air yang keluar dari mata Kinara justru semakin deras.


"Jangan nangis lagi..", Javas mengelus rambut Kinara.


"Please.., udahan ya nangisnya. Mas yang salah sayang...",


"Hiks..hiks..hiks..",


"Shuuuuttt...udah ya.., jangan nangis lagi..",


Javas memeluk Kinara yang menangis tersedu.


"Hiks..hiks..hiks..",


"Mas yang salah.., mas yang lalai sama kamu selama ini. Mas nggak pernah kasih nafkah kamu tiap bulan, maaf....",ucapnya semakin mempererat pelukannya.


"Uang Kinara masih, tapi Kina udah simpen jadi deposito..",


"Iya..iya.., itu hak kamu. Itu uang kamu. Maaf sayang.., udah ya nangisnya. Mas yang salah.., mas lalai. Maaf...",


Kinara akhirnya berhenti menangis.


"Gini kan cantik..,tidur sekarang.." ucapnya dengan mencium rambut Kinara, tanpa melepas pelukannya.


Javas memeluk tubuh istrinya. Seketika has*ratnya kembali muncul. Tapi, tidak mungkin dia salurkan malam ini. Baru saja dia menyakiti hati Kinara, dan tidak mungkin dia akan kembali menyakiti istrinya dengan cara yang lain. Javas memilih untuk menundanya.


"Masih ada hari esok Vas. Sabar.., ini semua juga gara-gara kebodohan kamu sendiri..", ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Wah...udah ada yang berubah...


__ADS_2