Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Kina Cemburu?


__ADS_3

"Sampai....",


"Ini barber shopnya mas?",


"Huum.., kenapa?",


"Baru pertama kali cukur disini?",


"Nggak.., udah langganan...",


Sedikit kaget, karena ternyata Javas membawa Kinara untuk menemaninya ke tukang cukur rambut Madura. Letaknya dipinggir jalan, tempatnya pun sederhana, jauh dari kata mewah.


"Emang nggak selalu ke sini sih, karena lumayan jauh jaraknya dari rumah. Tapi, kan kita mau ke bengkel, jadi mas ngajakin kamu kesini aja.., nyaman nggak?",


"Harganya pasti murah ya mas?",


"Paling 20 ribu, kenapa?",


"Mahalan perawatan Kina dong..",


"Iya.., terus?",


"Ya mas kan yang kerja, tapi Kina yang ngabisin.."


"Iya emang gitu kodratnya kan laki-laki yang ngasih nafkah ke istrinya..",


"Kina jadi nggak enak..",


"Nanti malem juga enak kok..",


"Ih...", Kina mencubit perut suaminya.


"Sakit sayang..",


"Hehe iya..maaf mas..",


"Awas aja ya kalo nanti ditanya, ini siapanya mas Javas? tapi kamu bilangnya dokter gizi lagi..",


"Kenapa?",


"Nggak ada ampun buat nanti malem..",


"Kina mau diapain?",


Javas tersenyum licik sambil menaik-naikkan alisnya.


"Emangnya kenapa sih mas?",


"Seharusnya mas yang tanya, kenapa? kamu malu punya suami ganteng kayak mas?",


"Nggak gitu mas..",


"Ya udah, berarti nanti kalo ada yang tanya, jawab kalo kamu ini siapa?",


"Emangnya bakalan ditanya?",


"Jelas lah, kamu ini siapa?",


"Istri mas Javas..",


"Nah.., gitu pinter..,


ayo turun..",


"Kina tuh takut di banding-bandingin sama mbak Mine..", ucapnya spontan.


Javas yang hendak membuka pintu mobilnya, mendadak berhenti. Dia membalikkan badannya dan mendapati istrinya yang tertunduk dengan mata terpejam.


"Kamu tuh ngomong apa sih sayang..?",


"Mas pengen tau alasannya kan?",


"Kamu takut dibandingin sama mantan mas? kamu insecure?",


"Dia cantik..",


"Kamu nggak kalah cantik.."


"Dia baik, pinter..",


"Kamu lebih dari itu.., mas nggak suka kalo kamu kayak gini Na. Jadi ini alasan kamu nggak mau kalo pernikahan kita dirayain, kamu nggak mau orang-orang tau kalo kamu ini istri mas? iya? karena ini?",


"Tapi dia yang bertaun-taun nemenin mas, saat mommy sakit, mas berantem sama Daddy, mas kabur dari rumah, dia yang ada, bukan Na..",


"Nggak penting, kamu istri mas.., bukan dia..",


Sepertinya kata-kata istri menjadi senjata ampuh bagi Javas untuk menenangkan istrinya. Terbukti, Kinara langsung diam.


"Udah ya, nggak usah gitu lagi. Mas nggak suka.., mas nggak mau kita berantem gara-gara ini.., sekarang kita turun ya..", ucapnya. Tapi, sebelum itu dia meraih kepala istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya.


Javas membukakan pintu mobil untuk Kinara, lalu memberikan telapak tangannya untuk digenggam.


"Selamat siang pak..", sapa Javas ketika mereka masuk ke dalam tempat cukur rambut yang kira-kira hanya berukuran 3x3 meter ini. Memang hanya tempat sederhana yang berada dipinggir jalan besar.


"Wah.., mas Javas..baru keliatan...",

__ADS_1


"Iya pak, saya sibuk..., mau ngerapiin rambut pak..",


"Oke, sebentar tunggu dulu, ini sudah mau selesai..", jawab bapak tukang cukur paruh baya, jika dilihat mungkin umurnya sepantaran dengan Daddy Rendra.


"Duduk dulu Na..", ucapnya pada Kina.


Bapak itu melihat Javas dan Kinara dari balik kaca. Memang, merasa sedikit berbeda karena biasanya bukan perempuan ini yang diajak untuk menemani Javas.


"Ayo mas..",


Rambut Javas segera dieksekusi. Namanya juga sudah lumayan lama tidak bertemu, Javas dan bapak tukang cukur itu ngobrol kesana kemari. Sampai akhirnya lima belas menit kemudian, rambut Javas selesai di rapikan.


"Makasih ya pak..", Javas menyodorkan 5 lembar uang bergambar pahlawan revolusi.


"Kok banyak banget mas..",


"Iya kan saya udah lama nggak kesini.


Ayo Na...", ucapnya pada Kinara yang seketika itu langsung berdiri dari duduknya.


"Mbak ini, kakaknya mas Javas yang model itu ya..", tanya bapak itu.


"Bukan pak.., ayo jawab, kamu siapa?", godanya pada Kinara.


"Saya Kina pak, istri mas Javas...",


"Lho.., mas Javas udah nikah..?",


"Udah pak..",


"Kok nggak ngabarin?",


"Nikahnya sederhana pak, yang penting sah, mommy Daddy dateng, iya kan?",


"Iya mas.., wah Alhamdulillah saya doakan semoga segera diberikan momongan...",


"Aamiin.., makasih doanya pak.., kami permisi dulu..",


"Iya mas hati-hati..",


"Permisi pak.." pamit Kinara.


Merasa puas karena ternyata Kinara menurut padanya, saat di dalam mobil Javas lalu memuji istrinya.


"Kamu nurut banget ya sama suami..",


"Iya.., kan harus nurut kan..",


"Pinter.., kamu mau apa aja, mas turutin. Mau beli apa?",


"Mau ke bengkel mas..",


"Pengen ke bengkel aja, mas kenapa sih? kayaknya nggak suka kalo Kina ngajakin ke bengkel? ada apa disana? Kina jadi curiga..",


"Nggak ada apa-apa sayang...",


"Ya udah, kita kesana sekarang..",


Bukan tanpa tujuan, tapi ada udang dibalik bakwan. Kina memang ingin memastikan satu hal. Apa itu?


Lima belas menit berkendara, akhirnya mereka tiba di bengkel milik Javas. Sebuah bengkel mobil yang sudah lumayan besar memang. Lucunya lagi, bengkel miliknya adalah kompetitor bengkel milik Daddy Rendra paling membahayakan. Pernah ditawari untuk dimerger, tapi Javas menolak. Javas merintis bengkel miliknya dengan modal sendiri. Dari uang hasil balapan, saat dulu dia masih bergabung dengan club motor. Dari situlah, dia mengembangkan bisnis kecilnya hingga menjadi besar seperti sekarang.


"Ini bengkelnya?",


"Iya.., ini salah satu tempat yang buat mas jadi kaya..",


"Ya Allah sombongnya mas..",


"Itu kenyataan sayang..",


"Masih ada yang lain yang diatasnya mas..",


"Salah.., di atas mas.., ada kamu.., masa yang lain..?",


"Tuh kan mulai mesumnya..",


"Mau turun atau nggak?",


"Iya mas.., ayo..",


Keadaan bengkel lumayan ramai. Tidak bisa dihitung menggunakan jari tangan mobil yang saat itu sudah terparkir untuk mengantri. Selain tempat yang strategis, bengkel Javas memang dijadikan pilihan karena dikerjakan dengan teknologi masa kini, dengan keahlian montirnya yang patut diacungi jempol.


"Yang kerja, cowok semua..?",


"Ada ceweknya, tuh.. bagain reservasi..",


"Oh..."


Kinara menghampiri mbak-mbak berambut pirang yang menjadi satu-satunya karyawan perempuan disana.


"Pagi mbak..",


"Pagi Bu Javas..",


"Bu Javas..?",

__ADS_1


"Iya.., istri pak Javas kan? atau saya panggil mbak aja?",


"Kok tau saya istrinya? ",


"Tau mbak.., dari pak Javas..",


"Mbak perempuan satu-satunya disini?",


"Nggak mbak, ada office girl disini..",


Ternyata Kinara salah.


"Oh.., mbak kan bagian reservasi, emang ngerti soal mobil?",


"Ngerti mbak, waktu sebelum masuk sini kan ada tesnya dulu..",


"Gitu ya mbak.., silahkan di lanjut lagi.."


Javas memang membiarkan istrinya itu melihat keadaan bengkel miliknya. Entah apa tujuannya, Javas pun tidak mengerti. Kinara tumben minta untuk berkunjung kemari.


"Ruangan mas, sebelah mana?",


"Apa sayang..?", tanya Javas yang memang sedang berada di depan mobil yang sedang ditangani oleh anak buahnya. Suaranya bising, jadi Javas kurang mendengar.


"Ruangan mas dimana?",


"Di atas.., mau kesana?",


"Iya...",


"Mau ngapain?",


"Nggak boleh..?",


"Boleh.., ayo..",


Kinara berjalan terlebih dahulu, lalu menaiki tangga untuk menuju ruangan Javas. Disinilah tujuannya akan berakhir.


"Ini mas?",


"Iya...",


Kinara mencoba membuka ruangan milik suaminya, tapi sayangnya tidak bisa.


"Kok nggak bisa dibuka mas..?",


"Bisa.., emang agak susah bukanya..",


Javas membuka handle pintu, dengan sedikit dihentakkan, akhirnya dia berhasil membuka ruangannya.


"Kamu mau liat apa sih disini?",


Kina tidak menjawab, dia justru langsung masuk ke dalam ruangan suaminya.


Mengamati satu demi satu, pajangan yang ada disana. Banyak terdapat miniatur mobil, dari terkecil hingga sedang, dari mobil jaman dulu hingga sekarang. Dan, terdapat satu buah foto keluarga lengkap, termasuk si tuyul Jaz.


"Hmmm.., ada Jaz disini..., ini kapan fotonya? kok Kina nggak tau..",


"Waktu mommy udah balik ke rumah.., fotonya di rumahnya Om Revan..",


"Cuma ini aja fotonya? nggak ada yang lain..? Kina cari-cari kok nggak ada..?",


"Kamu cari fotonya siapa?"


"Perlu Kina jelasin..?",


"Mas ngerti maksudnya..",


"Iya.., siapa tau aja kan, kayak yang diapartement..",


"Kamu ngajakin mas berantem? kalo iya..., mending kita pulang sekarang.."


"Berantem di rumah?",


"Iya.., tapi di kamar, itu lebih asyik dibandingkan kamu cari - cari masalah kayak gini..",


"Nggak cari masalah, tapi Kina cuma mau mastiin aja..",


"Udah deh Na.., nggak usah bikin mas kesel..",


"Mas marah.., ya udah deh.., kina keluar dari sini...",


Kina yang hendak keluar dari Javas, langsung dicegah oleh suaminya. Javas memeluk Kinara dari belakang dengan erat.


"Jangan buat mas bingung dengan sikap kamu. Mas nggak mau kita berantem.., dia masa lalu, sekarang ada kamu, istri mas...", bisik Javas pada telinga Kina.


Dada Kina naik turun dengan jelas.


"Salah nggak kalo Kina kayak gini mas..?",


"Kamu cemburu? wajar.., tapi jangan terus-terusan bawa dia dalam kehidupan kita.., seperti kata kamu. Mas nggak bisa menghapus masa lalu, tapi setidaknya mas sudah melupakan..., udah ya sayang..",


Kina mengangguk pelan. Dia melepas pelukan tangan Javas, lalu membalikkan badannya.


"Kinara minta maaf..", ucapnya dengan meraih tangan Javas lalu menciumnya.

__ADS_1


"Udah ya, jangan curiga terus sama mas..",


Kinara mengangguk, disusul dengan kecupan yang Javas sematkan pada kening istrinya. Bukan hanya sebuah kecupan biasa, namun Javas melakukannya dengan dalam dan lama.


__ADS_2