
Javas sudah sedikit berubah. Hanya sedikit. Biasanya pulang tengah malam, tapi semenjak "Kina Day", dia selalu sampai rumah pada pukul 9 malam. Hanya terpaut 2-3 jam. Tapi lumayanlah, daripada tidak ada perubahan sama sekali.
Ujian kesabaran untuk Kinara sebentar lagi akan berakhir. Seminggu lagi, waktu yang dia berikan untuk Javas akan berakhir. Dan, Kina tentunya akan mengambil waktu nya kembali. Haknya, sebagai seorang istri Javas Perdana. Semoga, tidak terlambat.
"Nanti malem, pulang jam berapa?",
"Belum tau sayang..",
"Nggak bisa ya mas, ikut makan malem bersama?",
"Iya, liat nanti ya sayang..",
Kina mengirup nafasnya panjang. Selalu saja seperti itu.
"Diusahakan ya..",
"Lihat nanti..",
"Belum tau, sayang..",
Selalu saja seperti itu. Kina hafal dan sampai bosan.
Kina saja sampai kuat bertahan sampai 23 hari, masih tersisa 7 hari dan dia pasti bisa.
"Selesai...", Kina memasangkan dasi pada kemeja kerja suaminya.
Tidak lagi mendapatkan sindiran super pedas dari Sharen. Kakak iparnya sepertinya sudah mengerti dan enggan untuk terus memperingatinya lagi. Sharen sudah tahu jika Kina ini bebal.
Selama ini, Kinara menumpahkan kekecewaannya dengan berbelanja. Membeli kebutuhannya yang memang sangat ia butuhkan atau sekedar membayar barang dan akhirnya menjadi barang yang menumpuk di kamarnya. Daripada stress memikirkan suaminya, lebih baik seperti itu kan? Entah berapa ratus juta uang yang harus Javas keluarkan bulan depan, saat membayar Credit card yang Kinara pegang. Kinara tidak peduli. Kesehatan mentalnya harus tetap waras saat ini. Toh, Javas juga tahu jika selama ini Kinara pergi berbelanja.
"Nggak apa-apa kalo kamu seneng...",
Itulah kata-kata Javas ketika Kinara setiap kali meminta izin untuk berbelanja ke mall. Benar kata orang, jika uang itu bisa dicari. Tapi, kebahagiaan tidak bisa dibeli. Kinara hanya memerlukan waktu Javas, bukan yang lain.
"Na.., hari ini mau kemana?",
"Mau ke mall lagi mom..",
"Kemarin kan udah, kemarinnya lagi juga udah...",
"Kinara boros ya mom..?",
"Ya..nggak gitu maksud mommy. Emangnya mau ngapain lagi? tiap hari ke mall..",
"Ya liat orang-orang belanja. Kalo ada barang yang Na suka, dibeli..",
Sharen yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia tahu, adik iparnya bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Tapi, karena kelakuan gila adiknya, yang membuat Kinara seperti itu.
"Ikut mommy ke tempatnya Tante Fafa yuk? Ketemu sama Oma.., kemarin kamu ditanyain sama Oma, katanya udah lama nggak liat kamu. Kangen katanya..",
Satu hal yang membuat Kinara takut jika bertemu dengan Oma adalah tentang pertanyaan Oma. Ya, sebenarnya itu adalah pertanyaan yang sangat wajar.
"Kapan mom?",
"Ini mommy udah siap. Tinggal nunggu kamu aja, kalo kamu mau..",
"Ya udah, Kina ikut. Mau ganti baju dulu mom..",
"Iya, mommy tunggu sini ya..",
Sementara Kina kembali ke kamarnya. Sharen pamit kepada mommy untuk pergi bekerja.
"Sha pamit mommy...",
"Iya..Hmmmm gimana sama tawaran mommy? kapan kamu mau ketemu sama Satria?",
"Yah..mommy..., itu lagi..",
"Ayolah.., ketemu aja dulu, siapa tau cocok..",
"Belum minat...",
"Satria nggak kalah ganteng sama Nathan loh kak..",
"Udah ah, Sharen mau ke butik. Bye mommy..",
Mommy mencoba untuk mengenalkan putra dari kolega Daddy Rendra. Namun, sayangnya Sharen tetap menolak. Padahal, Mommy sudah berusaha terus-terusan merayu Sharen. Tapi, belum ada hasilnya.
Sebelum Mommy dan Kinara menuju ke rumah Tante Fafa, mereka berdua mampir ke sebuah toko roti yang searah. Rasanya kurang lengkap jika pergi mengunjungi orang tua, tapi tidak membawakan buah tangan untuknya.
"Roti itu 3, kesukaan Oma tuh Na. Yang itu 2 aja sayang..",
"Udah mom..?"
"Udah..,ini yang mommy pegang buat Tante Fafa..",
__ADS_1
Sampai di rumah Tante Fafa. Kebetulan disana juga bertemu dengan Chelsea yang berkunjung.
"Pagi Oma..",
"Pagi cucu menantu..
Oma kangen...",
"Kina juga kangen...
Oma sehat?",
"Sehat sayang..",
"Alhamdulillah...",
Lama mengobrol. Oma yang sudah tua, tapi belum pikun. Memang selalu menceritakan masa muda Mom dan Dad. Oma juga bercerita tentang masa kecil Sha dan Javas kepada Kinara.
"Ma.., dibuatin Aira jus ya..., diminum dulu..", ucap Aira.
Kinara melihat betapa sayangnya ibu mertua dan menantu itu. Kinara jadi tahu, mengapa selama ini ibu mertuanya juga terlihat sangat menyayanginya. Ini karena didikan Oma.
Meninggalkan Oma dan Mommy Aira, Kinara menghampiri Chelsea yang sedang asyik ngemil.
"Kak Kina..enak deh..", ucapnya dengan menawarkan biskuit untuknya.
"Makasih Chels...",
"Wah udah keliatan ya baby bumpnya..",
"Hehe iya kak...",
"Aduh....", ucap Kinara yang tiba-tiba mengaduh karena kakinya diinjak oleh Sea.
"Biar cepet ketularan kak, kata orang tua sih gitu..",
"Iya makasih ya..
Kamu disini Chels?",
"Iya kak, Kai lagi di luar kota.., jadi aku dititipin disini dulu.."
"Sayang banget ya, Kai sama kamu..",
"Iya sayang, kan ke istri. Kak Javas juga sayang kan sama kak Kina..",
"Walaupun tuaan Sea, tapi Kai dewasa kak.., selalu ngemong, nggak pernah marah, selalu manjain Sea..",
"Beruntung banget...",
"Alhamdulillah..,
Kakak juga gitu kan..?",
"Mas Javas terlalu sibuk Chels..",
"Sabar kak, Sea udah tau ceritanya..",
"Makasih ya..",
Tidak ingin terlalu mengumbar permasalahan rumah tangganya. Kinara mengakhiri pembahasan mengenai suaminya. Mereka berdua lanjut menonton drama Korea bersama.
Mengobrol, menonton drama bersama Chelsea, membuat kue bersama Mom dan Tante Fafa, serta sedikit membantu kegiatan rutin Oma. Judul kegiatan Kinara hari ini adalah berkumpul bersama keluarga.
Tidak ingin menunggu kepulangan suaminya, Kinara lebih memilih untuk tidur. Karena percuma, ditunggu pun diam peka.
Kinara bergegas mencari ponselnya ketika benda persegi itu terdengar berbunyi. Rupanya, panggilan dari Tante Tia.
"Halo Na...",
"Tante.., ada apa?",
"Nenek sakit Na..",
"Ya Allah Tante..sakit apa?",
"Demam tinggi Na, ini Tante bawa ke rumah sakit..Tante ngabarin kamu aja...",
"Na pulang Tan.., malam ini juga..",
"Nggak usah, besok aja Na, sekarang udah malam...",
"Na pulang Tan...,
Nenek udah dapet kamar, belum?",
__ADS_1
"Udah...., barusan aja masuk..",
"Kenapa baru ngabarin sih Tan?",
"Maaf.., Tante panik Na..",
"Jaga nenek baik-baik Tan, Na pulang sekarang. Mau siap-siap dulu ya..",
"Iya hati-hati..",
Orang pertama yang Kinara hubungi adalah Javas. Namun, hingga beberapa kali panggilan, suaminya itu tidak menunjukkan responnya. Tidak ada waktu untuk marah, Kinara yang masih berpikir jernih langsung menelepon sopir yang biasanya mengantarnya.
"Mang..bisa nganterin saya pulang malam ini? Nenek sakit mang..",
"Baik non, 15 menit lagi mobil siap Non..",
"Oke makasih..",
Kinara memberanikan diri mengetuk pintu kamar kedua mertuanya, bermaksud untuk pamit meminta izin. Kebetulan, Daddy yang membukanya.
"Dad.., maaf malam-malam ganggu..",
"Ada apa Na..?",
"Nenek sakit Dad, Na mau pamit pulang..",
"Kenapa mas..?", tanya Aira yang tiba-tiba muncul.
"Na.., ada apa malam-malam gini? kok bawa koper segala?",
"Mommy, Na mau pamit. Nenek masuk rumah sakit..",
"Astagfirullah.., sakit apa?",
"Demam mom...",
"Udah dapet kamar belum?",tanya Daddy.
"Udah dad..",
"Hati-hati..kalo perlu bantuan bilang sama Daddy..",
"Makasih Dad.., mom...",
"Dianter Javas kan Na..?", tanya mommy.
Kinara menggeleng.
"Mas Javas nggak angkat telepon Kina mom.., Na dianter sama mamang. Mobilnya kayaknya udah siap di depan..",
"Keterlaluan anak itu..., Mommy sama Dad antar sampe depan kalo gitu..",
Kinara pamit kepada kedua mertuanya. Meskipun, suaminya belum bisa dihubungi. Setidaknya kedua mertuanya memberikan bentuk perhatian kepadanya.
"Hati-hati ya sayang..", ucap Mommy sambil melambaikan tangannya.
Kinara duduk melamun. Pikirannya kosong. Namun, segera disadarkan oleh keberadaan suaminya yang sedang di rumah sakit menemani perempuan lain. Kinara akhirnya mencoba menghubungi Javas sekali lagi. Ajaib, teleponnya langsung direspon.
"Mas susul ya, tapi besok pagi Mas ada meeting sama Dad.., jadi nggak bisa ikut nginep..",
"Nggak usah, mas di rumah aja. Besok aja nyusul, itu pun kalo ada waktu..",
"Kamu marah..?",
"Nggak...",
"Mas susul sayang..",
"Nggak perlu, mas kan ada meeting kan..",
"Maaf ya..",
"Iya.., dimaafin..,
Ya udah, mas hati-hati nyetirnya..",
"Iya sayang..
Hati-hati...
I love you..",
Kinara tidak menjawabnya dan memilih untuk menutup teleponnya. Marah? kenapa harus ditanya? seharusnya Javas peka.
__ADS_1
Mengabaikan sikap Javas, satu hal yang Kina ingin adalah segera sampai dan mengetahui keadaan neneknya. Itu lebih penting daripada memikirkan kesalahan Javas yang dilakukan berulang-ulang.