
Penyesalan memang datang di akhir. Itulah yang dialami Nathan saat ini. Saat itu, dia benar-benar membutuhkan ketenangan batin. Tapi, tidak seharusnya dia pergi begitu saja, meninggalkan istrinya tanpa kabar dan pesan.
"Sayang..maafin mas.., nggak seharusnya mas ninggalin kamu. Mas tau salah.., mas nyesel.., kamu buka blok nya ya.. kita perlu bicara.
Mas pergi, cari ketenangan ke tanah suci. Mas berdoa disana, meminta petunjuk. Dan, mas sudah ketemu sama jawabannya. Mas yang salah...,
Mungkin, kata maaf nggak mampu menebus apa yang selama ini mas perbuat ke kamu. Tapi, hanya itu yang mas punya untuk membuat kamu kembali.
Sha.., mas cinta sama kamu, mas khilaf sayang. Mas minta maaf...",
Nathan terus-terusan mengirim pesan untuk istrinya, meskipun dia tau jika pesannya tidak diterima. Nomornya sudah di blok oleh Sharen.
"Gimana..? udah siap kan..?",
"Udah Dad..",
"Sha.., ada yang ketinggalan nggak? vitamin kamu, udah..?",
"Udah semua Dad...",
Sharen berpenampilan feminim casual pagi itu. Memakai dress panjang di bawah lutut, dengan alas kaki sepatu cats. Wajahnya sudah terlihat segar, meskipun tanpa make up. Dia hanya menggunakan pewarna bibir, itu pun natural. Semenjak mengetahui jika hamil, Sharen memang menghindari kosmetik berlebihan.
Matahari baru saja menampakkan sinarnya. Namun, pagi itu kediaman Rendra Perdana sudah nampak aktivitas yang lebih sibuk dari biasanya.
Zee, yang biasanya masih tertidur juga pagi itu sudah tampan dengan setelan kaos dinosaurusnya. Zee memang ikut mengantarkan kepergian Ody Omy,Aunty, serta Unclenya ke Bandara.
"Zee ikut aja ya.., sama Omy...", ucap Mommy yang tampak gemas memandangi cucu pertamanya yang sudah ditumbuhi gigi. Pintarnya, Zee menanggapi dengan menggelengkan kepalanya bertanda jika dia menolak ajakan Omy nya.
"Kenapa ganteng?",
"Ehhh...eh...",
"Owh.., mau sama Mama Papa ya..",
"Nggak usah Mom.., Zee biar di rumah aja.
Zee.., nanti angkel beliin mainan aja ya.., oke..",
Zee mengangguk sambil tertekeh.
"Oke sip..
let's go..",
Zee dan Jaz memang terlihat pantas menjadi kakak dan adik. Bukan om dan keponakan. Ini karena jarak usia mereka berdekatan. Mereka bahkan mempunyai beberapa kaos couple. Biasanya Mommy yang membelikan untuk keduanya.
Mereka sekeluarga menuju ke Bandara mengendari satu mobil sprinter.
"Yul..kamu seharusnya nggak usah ikut aja..",
"Kenapa..?",
"Di rumah sama kak Javas sama kak Kina lah. .Nanti Zee sedih kalo kamu nggak ada..",
"Nggak..kan bisa video call-an...",
"Sekolah kamu, gimana? udah SD juga..",
"Biarin...
orang yang ngajakin Daddy..
iya kan dad..?",
"Emangnya kamu mau dititipin Jaz lama-lama..? orang kalian sering kayak tom and Jerry kok..", ucap Daddy.
"Ya kalo satu dua hari sih nggak apa-apa Dad..",
"Daddy disana sampe dua Minggu Vas..",
"Iya sih, lama juga ya..
ya udah, berarti bener Jaz ikut aja..",
Javas melirik kakaknya, yang berada di kursi bagian belakang. Sharen dari tadi diam, tidak ikut mengobrol.
Javas menghampiri kakaknya dengan duduk disampingnya.
"Queen.., kok ngelamun...?",
"Nggak..",
"Kenapa? dari tadi megangin ponsel. Mau unblok..? nggak apa-apa kalo mau..",
"Nggak Vas..",
"Nggak usah sedih..,
Disana harus seneng-seneng ya..
Nanti mungkin Javas bakalan nyusul sama Na sama Zee juga, kita seneng-seneng bareng disana ya..",
"Kapan nyusul?",
"Seminggu lagi mungkin..",
"Oke..
i'm waiting for you..",
"Kakak mual nggak..?",
"Nggak sih..,
cuma susah makan nasi aja..",
__ADS_1
"Jangan lupa minum vitaminnya..",
"Iya.., bawel...",
"Kakak udah keliatan cantik loh..",
"Emang biasanya gimana? jelek..?",
"Ya enggak.., kemarin pucet, keliatan kurus, kayak tinggal tulang aja..",
"Enak aja...",
"Tuh denger kan?
ini di dalam mobil cuma ada Jaz sama Zee aja, bisa rame kayak gini..", ucap Javas yang mendengar putranya sedang bercanda dengan Jaz.
"Itu ngapain mereka..",
"Biasa..Jaz kan emang suka nggelitikin Ze..,
mana Zee juga seneng banget. Bentar lagi ketambahan sama anak Javas yang kedua, sama anak kakak.
Kakak yang semangat ya, biar baby nya sehat..",
"Makasih..
kamu kenapa tiba-tiba manis gini sih sama kakak..",
"Dulu.., Kina kan juga kayak kakak. Hamil tapi suaminya nggak ada.
Kakak yang nolongin Kina waktu itu.., sekarang giliran Javas yang balas budi.
Kapanpun kakak butuh, Javas pasti selalu ada...",
"Itu kan emang udah kewajiban kakak nolong keponakan sama adik ipar..",
"Iya.., ini juga kewajiban Javas sebagai adik laki-laki buat ngelindungin keponakan sama kakak perempuannya.
Nggak boleh ada yang nyakitin kalian ya..",
"Makasih Vas..",
"Nggak boleh sedih-sedih lagi..
nanti kalo disana.., Javas pasti selalu telepon kakak..",
"Iya..",
Daddy sayang duduk di depan kedua putra-putrinya tersenyum tipis mendengar percakapan kedua anaknya. Daddy tau, Javas sangat menyayangi Sharen. Di balik sifatnya yang urakan dan bar-bar seperti Mommynya. Tapi, Javas adalah seorang yang sangat care.
"Sayang...selamat ya...", ucap Tante Fafa ketika mereka bertemu di bandara. Tante Fafa mengelus perut rata Sharen.
"Makasih Tante..",
"Iya nggak apa-apa..
Tante nggak ikut..?",
"Tante nggak bisa nemenin Oma,
Tante lagi siaga, karena Sea bentar lagi lahiran. Dia maunya normal...",
"Oh..maunya normal..?",
"Iya..,
kamu have fun ya disana..",
"Makasih Tante..",
"Tuh...,
Oma daritadi udah nanyain kamu. Katanya mau ngelus cicitnya yang ke 4..",
Sharen menghampiri Oma yang duduk di kursi roda.
"Oma...",
"Kamu juga pake kursi roda..?",
"Iya..kita samaan...,
Sharen nggak boleh jalan jauh-jauh Oma..",
"Cicit Oma mana..? ",
"Nih...",Sharen menuntun tangan Oma untuk menyentuh perutnya.
"Laki atau perempuan..?",
"Kan masih kecil Oma, belum ketauan...
Oma maunya cewek atau cowok..?",
"Cewek aja ya..
biar cantik sama kayak kamu..",
"Cantik kayak Oma juga ya..",
Jaz melambaikan tangannya ketika harus berpisah dengan Ze. Sedangkan Zee menangis ketika tau dia ditinggal oleh Unclenya.
"Cup..cup..sayang..
kita nanti nyusul ya.., nunggu kerjaanya Papa beres dulu...", Kinara menenangkan putranya.
__ADS_1
Sayangnya, Zee terus meronta membuat Kinara yang perutnya sudah mulai membuncit menjadi kewalahan.
"Zee..nggak boleh nakal, di perut mama ada adek.., sama Papa aja, ayo..", Javas mengambil alih Zee. Ajaibnya, bayi itu langsung diam dalam gendongan sang Papa.
"Kamu mau nyusul uncle..? sabar ya..",
Mereka langsung bertolak dari bandara ketika jet yang di tumpangi keluarga Rendra sudah take off.
"Om.., duluan ya...",pamit Javas pada Revan.
"Oke..hati-hati..",
"Tante.., Kinara balik dulu..",
"Iya.., dijaga ya kehamilannya Na..",
"Makasih Tante..",
Lelah menangis, akhirnya Zee tertidur di pangkuan baby sitternya.
"Mau kemana sayang?",
"Langsung pulang aja mas..",
"Nggak mau mampir kemana gitu..?",
"Nggak ah..
udah mulai capek mas..",
"Padahal masih kecil ya perutnya..",
"Iya.., Na sekarang gampang capeknya..",
"Ya udah, istirahat..",
Javas menuruti sang istri untuk langsung kembali ke rumah. Sampai di halaman rumah, mereka mendapati mobil yang tidak asing. Mobil Nathan yang sepertinya baru saja sampai.
"Itu mas Nathan mas..",
"Ngapain coba dia kesini..",
"Mas Javas, jangan macem-macem ya..",
"Nggak sayang, yuk turun..",
Javas turun dari mobil. Melihat Nathan yang juga turun dari mobilnya membuat Javas emosi.
"Na.., kamu ke dalam ya. Boboin Zee..",
"Mas..",
"Nggak apa-apa..",
"Sust, tolong bawa Zee ke kamar ya..",
Kinara tentu saja tidak mempercayai Javas. Kinara ingin memastikan suaminya tidak berbuat kasar pada kakak iparnya.
"Ngapain lu ke sini...",
Bughhhhh...,
Tanpa basa-basi, Javas menghampiri Nathan dan langsung melayangkan tinjunya pada wajah Nathan, membuat Kakak iparnya yang tidak siap, hanya pasrah.
"Vas....",
"Mas Javas........, stop mas...", Kinara memegangi tangan suaminya.
"Ngapain lu kesini..",
Nathan menyeka sudut mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Sakit kan..? itu nggak seberapa dibandingkan rasa sakit yang dirasa kak Sharen..",
"Aku nggak akan balas pukulan kamu Vas, ini pantas aku dapatkan..",
"Oh..,syukur kalo lu sadar...",
"Aku kesini mau ketemu Sharen, Vas...",
"Terlambat...!!!, Kak Sha udah di bawa Daddy pergi jauh.....",
"Pergi..? kemana Vas..?",
"Ke tempat dimana kamu nggak akan bisa nemuin dia..",
"Please Vas..,
katakan dimana Sharen. Aku pengen ketemu Daddy, aku perlu bicara..",
"Daddy sama Kak Sharen.., hari ini Daddy nganter kak Sharen buat buka lembaran baru tanpa kamu Nath. Biar kamu tau rasa...",
"Na.., suami kamu boong kan?",
Kinara menggeleng.
"Sharen dibawa pergi sama Daddy..?",
Kinara mengangguk.
"Iya mas..",
"Kita masuk sayang...", Javas menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Nathan yang terpukul mendengar kepergian istrinya yang dibawa oleh Ayah mertuanya.
"Maafin mas, sayang...",
__ADS_1