
Tok..tok..tok..
Seseorang mengetuk pintu kamar Sharen.
"Masuk aja..",
Kinara masuk, sudah cantik dengan make up naturalnya. Terlihat sangat cantik mengenakan dress rancangan Sharen. Sederhana sesuai dengan permintaan Kinara. Dress brokat berwarna coral dengan panjang di bawah lutut, dengan sedikit taburan Payet dibagian kerah serta lingkaran lengan tangan.
"Cantik banget...",
"Makasih mbak..
Mbak belum selesai dandannya?"
"Kurang bentar lagi Na.."
"Udah ditungguin Tama, di bawah mbak.."
"Oh.., udah sampe? suruh nunggu dulu deh Na..",
"Baik mbak..
Kina sama mas Javas berangkat dulu ya mbak...",
"Iya Na.., tolong bilangin ke Tama, aku bentar lagi turun..",
"Iya mbak, Na permisi..",
Malam ini adalah acara pertunangan Bian dan Gladys. Benar kata Sharen, Mommy, Dad dan Jaz sudah sejak siang tadi sudah berada di rumah Budhe Sof. Kina dan Javas berangkat berdua dan beruntungnya, Sharen mempunyai ide cemerlang untuk mengajak Tama menjadi pasangan sementaranya.
"Tam.., maaf jadi nungguin...",
"Nggak apa-apa..
cantik banget malam ini Sha..",
"Makasih Tam.., kamu juga ganteng pake batik..",
"Hmmm..makasih kirimannya. Berangkat sekarang Sha..?",
"Ayo...",
Malam itu Sharen mengenakan dress brukat yang polanya sama persis dengan kepunyaan Kina, hanya saja berbeda warna. Milik Shareen bewarna tosca, terlihat serasi dengan kemeja batik yang dipakai oleh Tama, malam itu.
"Sha.., kenapa ngajak aku?",
"Iya nggak apa-apa.., lucu kali ya kalo pada ngiranya kamu tuh pacar baru aku..",
"Aku yang minder Sha..",
"Kenapa minder? kamu ganteng..aku cantik. Serasi. ."
"Alah Sha..., kamu tuh emang makin kesini makin kesana. Kamu galau, aku yang jadi korban..",
"Korban apaan..?",
"Ngelantur..., udah cepetan pasang seat beltnya. Kita pergi sekarang.."
"Iya....cerewet..",
Sharen memasang seat belt bersamaan dengan Tama yang melajukan kendaraannya.
Sebenarnya, Tama sudah tahu dengan tujuan Sharen untuk menemaninya ke acara pertunangan Bian. Apa? Sebagai orang yang bisa Sharen ajak diskusi.
"Tam, nanti kalo aku ketemu dia, aku harus gimana?",
Tuh kan benar dugaan Tama. Tapi, tidak masalah baginya. Sharen dan Nathan adalah orang yang sama-sama berjasa dalam kehidupan Tama saat ini. Nathan sang dewa penolong dan Sharen sang Dewi penyambung hidupnya.
"Ya gimana? kamu pengen pura-pura nggak tau, apa langsung mau tanya ke dia?",
"Kalo aku langsung tanya ke dia? Gimana sama kamu?",
"Nggak masalah Sha, kalopun Nathan tanya, aku pasti jawab jujur. Kalo kamu tau dari WhatsApp web.., kalo dia marah ya udah resiko..",
"Tapi, aku belum siap Tam...",
"Jadi, pengen pura-pura kalo kamu masih belum tau apa-apa?",
"Iya..", angguk Sharen.
"Ya udah, kalo gitu bersikap biasa aja.., seperti sebelum-sebelumnya. Anggap aja nggak ada apa-apa..",
"Kalo aku nanti canggung, gimana?",
"Kok canggung? kenapa? ",
"Rasanya aneh Tam, aku sama dia biasa bro-sist, dibesarin sama-sama dari kecil tapi ternyata dia mendam perasaan sama aku. Kayak risih-risih gitu, aneh...",
"Perasaan kamu ke dia, gimana?",
Sharen menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu jawabannya, atau memang dia yang enggan untuk menjawab.
"Anggap aja bukan Nathan orangnya.., tenang masih ada aku.., kalo kamu nervous nanti pegangan sama aku ya..",
"Itu sih modus...",
"Ya kapan lagi sih Sha.., kan sambil menyelam minum air..,
Terus, Javas udah tau belum kalo Nathan udah balik..",
"Oh iya, astaga aku sampe lupa. Hmmm, emangnya keluarganya Nathan ikut acara nanti..?",
"Kayaknya sih nggak.., Nathan pulang sendiri..",
"Berarti cuma mau ikut acaranya kak Bian aja? abis itu balik Aussie lagi? ",
"Kenapa? kamu pengen dia tetep disini..?",
"Nggak gitu maksudnya.."
"Kayaknya sih, dia stay disini..mungkin agak lama.."
"Oh..oke.."
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah Gladys. Tama menurunkan Sharen tepat di depan rumah Gladys. Namun, Sharen tidak kunjung masuk ke dalam, dia masih menunggu Tama yang memarkirkan mobilnya.
"Lho..masih disini Sha..?",
__ADS_1
"Hmmm.., ayo masuk..."
Saat masuk ke dalam rumah, ternyata sudah banyak keluarga yang berdatangan. Seperti dugaannya, kedatangan Sharen dan Tama seperti pasangan kekasih, yang membuat sanak saudaranya memusatkan perhatian pada Tama.
"Sha.., ini pacar baru..?",
"Nggak kalah gantengnya sama kak Bian kan nte?",
"Iya, ganteng juga..."
"Maaf Tante saya ini....."
"Tante.., Sharen ke sana dulu ya..",
Venue acara Gladys ternyata berada di halaman belakang rumahnya. Sharen mencari-cari keberadaan orang tua serta adik-adiknya.
"Mommy...",
"Udah sampe? anak mommy cantik banget..",
"Iya dong..,
Oh ya acaranya mulai jam berapa?",
"Setengah jam lagi mungkin. Keluarga Bian udah otw kesini..",
"Hmmm gitu...,
Sharen mau nyamperin kak Gladys, mau ngasih hadiahnya, dia dimana?",
"Masih dikamarnya sayang..",
"Tam.., kamu disini aja, aku mau nyamperin kak Gladys dulu ya..",
"Oke boss..",
Sharen naik ke lantai 2 menuju kamar Gladys untuk memberikan hadiah kepada kakak sepupunya. Namun, saat hendak naik ditengah jalan dia bertemu Vano, mantan Gladys.
"Kak..mau kemana?",
"Mau nyamperin kak Gladys, kenapa?",
"Nitip.., nih buat dia..", ucap Vano memberikan paper bag kecil kepada Sharen.
"Kenapa nggak kamu aja yang ngasih sendiri?",
"Takut baper.., nanti dia nggak jadi tunangan. Kasian..",
"Halah.., bisa aja.., ya udah kakak ke atas dulu ya..",
Tanpa perlu mengetuk pintu, karena ternyata pintu kamar Gladys tidak ditutup.
"Halo kak..", ucap Sharen menyapa Gladys yang sedang di make up.
"Halo Sha.., kata nte Aira kamu lagi nggak enak badan. Kakak kira kamu nggak dateng..",
"Iya.., Sharen nggak enak badan karena kecapekan, bukan karena mantan Sharen mau tunangan sama kakak..", ucapnya. Entah menyindir atau bercanda. Tapi, Sharen juga tidak butuh tanggapan dari Gladys.
"Kak.., ini ada hadiah kecil buat kakak..",
"Wah, makasih Sha..",
"Sampein makasih buat dia ya.."
"Iya kak.., semoga lancar sampai hari H ya..,semoga bahagia terus sama kak Bian.."
"Aamiin makasih..",
"Keluarga Calon mempelai laki-lakinya , udah masuk komplek.., mbak Gladys udah siap kan?", tanya kru EO yang menangani acara Gladys.
"Iya udah..",
"Kak.., Sharen permisi dulu ya kak..",
"Iya Sha.., sekali lagi, makasih..",
Sharen tersenyum manis. Dia lantas turun untuk bergabung bersama anggota keluarganya yang lain.
Dan, inilah yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Rombongan keluarga Bian akhirnya tiba di kediaman orang tua Gladys. Acara ini pertunangan yang bisa disebut oleh orang awam sebagai acara lamaran.
Keluarga Gladys diikuti dengan sanak saudaranya menyambut kedatangan keluarga Bian beserta rombongan.
Untuk pertama kalinya, Sharen dan Nathan akhirnya dipertemukan. Nathan ikut dalam rombongan keluarga Bian, tentunya juga sebagai calon menantu pak Fahmi, ayah Luna. Tidak bisa bertegur sapa, keduanya hanya bisa memandang dari jarak jauh.
Bukan hanya Sharen yang dibuat canggung oleh kehadiran Nathan, tetapi juga Javas. Dia tidak menyangka jika kakak dari mantan pacarnya ikut hadir dalam acara ini. Javas menatap Nathan dengan pandangan yang sulit diartikan. Kinara menoleh ke arah suaminya, ketika remasan kuat Javas yang menggenggam tangannya. Dan, Kinara juga baru menyadari jika ada Nathan di antara tamu tersebut.
"Apa ada mbak Mine..?", ucapnya dalam hati.
Acara pertunangan akhirnya dimulai.
Keluarga Gladys dan Bian duduk berhadap-hadapan. Berada di kursi paling depan, Gladys didampingi oleh kedua orang tuanya. Begitupun dengan Bian . Di belakangnya menyusul keluarga yang lain.
Nathan yang notabene adalah pacar Luna duduk di deretan kursi nomor dua dikelompok kursi keluarga Bian. Begitupun dengan Sharen yang duduk di kursi nomor dua, tapi dibarisan keluarga Gladys.
Sharen yang terlihat sangat cantik malam itu, menarik perhatian Nathan yang beberapa kali terlihat mencuri-curi pandang.
"Cantik banget kamu malam ini, Sha.." ucap Nathan dalam hati. Dia lupa bahkan disampingnya saat ini adalah Luna, kekasihnya.
Nathan memperhatikan Sharen yang duduk memangku clutch bagnya. Kedua tangan Sharen berada dalam pangkuan, namun ada hal yang membuat Nathan tertarik. Yaitu, tangan Sharen yang saling menggenggam erat, seperti menahan sesuatu.
Kasian kamu Sha, pasti sakit liat orang yang kamu sayang, akhirnya bersanding bersama perempuan lain. Dan, perempuan lain itu kakak sepupumu sendiri. Tapi, jangan khawatir. Aku akan selalu buat kamu bahagia, bagaimanpun caranya. Bersama atau tetap seperti ini, yang jelas aku akan tetap sayang sama kamu.
Perasaan Sharen memang belum sepenuhnya lepas dari Bian meskipun Sharen menerima takdirnya. Hanya membutuhkan waktu sedikit lagi untuk melupakan Bian sepenuhnya.
"Bian bukan laki-laki yang baik buat kamu..", bisik Tama yang duduk bersebelahan dengan Sharen.
"Sama kamu aja ya Tam..",
"Hmmm..ini kan udah sama aku.."
"Bukan gitu maksudnya.."
"Sshhuuuut.. udah kita ikutin acaranya..", ucap Tama. Celetukan seperti itu memang sudah terbiasa Tama dengar. Tapi, dia juga tidak akan mungkin untuk bersanding bersama Sharen. Kedekatannya bersama Sharen saat ini murni antara bos dan bawahan, antara sahabat dengan sahabat.
Acara berjalan dengan lancar. Bian dan Gladys sudah resmi menjadi sepasang, calon suami dan istri. Saat ini mereka sedang melakukan sesi foto, sedangkan keluarga yang lainnya dipersilahkan untuk menikmati hidangan.
Nathan terlihat berjalan hendak menghampiri keluarga Rendra.
__ADS_1
"Ada Nathan sayang, jangan ngomong apa-apa .Nggak perlu tanya atau cari tau kabar kedua orang tuanya, apalagi kabar Mine. Inget, ada Kinara menantu kamu. Jaga perasaanya ya..", pesan Dad Rendra untuk istrinya Mommy Aira.
"Iya mas..",
Nathan langsung menyalami Rendra dengan mencium punggung tangannya.
"Om...",
"Masih inget rumah kamu?", tepuknya pada punggung Nathan.
"Masih lah om...,
Tante..", ucapnya dengan menyalami Aira dengan cara yang sama.
"Nath.., apa kabar?",
"Baik Tante..",
Aira tersenyum meskipun sebenarnya masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Tapi, sepertinya sudah tidak perlu untuk menggalinya lebih dalam. Toh putra kesayangannya, sekarang sudah hidup bahagia bersama istrinya. Dan, satu lagi. Nathan adalah orang yang berjasa membuatnya kembali bangun setelah membawa Jaz kehadapannya saat dia sakit dulu.
"Halo kak Nath....",
"Hei..halo...,
oh mau digendong ya..", ucapnya dengan membungkuk lalu mengangkat tubuh Jaz.
Sharen memperhatikan Nathan yang tidak pernah berubah. Dia selalu memperlakukan Jaz seperti adiknya sendiri.
"Kak Nath, kapan pulangnya?",
"Kemarin lusa..",
"Kok nggak kerumah? tumben?",
"Iya.., kakak sibuk di Cafe..", ucapnya.
Nathan menghampiri Javas dan Kinara, dengan menggendong Jaz.
"Vas.., selamat atas pernikahan kalian.., semoga bahagia selalu..", ucapnya menyalami Javas.
"Makasih Nath..",
"Selamat ya dok..", gilirannya mengucapkan selamat pada Kinara.
"Makasih mas Nathan...",
"Aku sama istriku permisi dulu ya Nath. Ayo sayang, katanya mau makan..", Javas menggandeng Kinara menjauh dari Nathan dan keluarganya yang lain. Wajar jika Javas bersikap demikian, terkesan menghindar dari Nathan. Dan, Nathan memakluminya. Javas memang tidak mau lagi untuk menoleh ke belakang. Lukanya sudah sembuh, dan tidak perlu mengoreknya kembali.
Terakhir, Nathan menghampiri Sharen yang berdiri didampingi oleh Tama. Nathan dan Sharen berhadapan.
"Apa kabar Sha..?",
Kamu pasti udah tau kan, aku lagi nggak enak badan.
"Baik Nath..
Kapan kamu pulang..?"
"Kemarin lusa..",
"Oh..tumben nggak ngasih kabar..",
"Iya maaf...",
Hanya sekedar obrolan basa-basi. Memang komunikasi mereka tidak selancar dulu. Ditambah, Sharen yang sudah mengetahui jika selama ini Nathan memata-matai nya meskipun dia sedang berada di tempat yang jauh.
"Jaz makan dulu ya.., tuh sama sus Sri ya nak.., ayo turun. Kasian kak Nathan kalo gendong kamu terus.."
"Iya mommy. Kak Nath, ayo turunin Jaz.."
"Oke..",
"Kak Nath, kapan-kapan kerumah ya. Kita maen bareng lagi.."
"Iya Jaz.., kapan-kapan kak Nath maen kerumah..",
"Jaz makan dulu kak..bye...",
Kini, hanya tinggal mereka bertiga. Sharen, Nathan dan Tama. Dan, benar-benar Tama penyelamat suasana saat itu.
"Kalian nggak laper..?",
"Laper Tam.."
"Ayo makan..",
"Kamu mau aku ambilin aja Sha? mau nunggu disini..?", tanya Nathan pada Sharen.
"Nggak Nath, aku ambil sendiri aja, makasih.."
"Ya udah, yok..",
Sharen yang hendak melangkahkan kakinya mendadak berhenti.
"Eh.....yah..talinya copot..", ucapnya. Sharen yang hendak berjongkok, justru malah mematung karena laki-laki yang berada disampingnya sudah lebih dahulu mengambil inisiatif.
"Nath..nggak usah Nath, jangan.."
"Copot ya..", ucapnya dengan memasangkan kembali tali heels yang dipakai oleh Sharen.
Sharen mengedarkan pandangan ke sekeliling, takut jika Luna melihatnya. Dan, Tama langsung menggelengkan kepalanya sambil melenggang pergi meninggalkan Sharen dan Nathan.
"Makasih ya Nath..",
"Iya sama-sama..",
Spoiler lagi....
"Ya udah, kamu sama aku aja pulangnya. Aku anterin Sha..",
"Nggak usah Nath, makasih...",
"Terus kamu pulangnya gimana?"
"Aku bisa minta tolong sopirnya kak Gladys.."
"Udah, aku anterin aja..",
__ADS_1
"Terus, Luna gimana?",