Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Go To Aussie


__ADS_3

"Mah...",


"Kok sendiri, Sharen mana..?",


"Emang sengaja nggak Nathan ajak,


Nathan mau ngomong.., sama Papa juga...",


"Ada apa..? ",


"Kenapa Nath..?", tanya Papa Aldo.


"Mama sama Papa udah pengen cucu..?", tanya Nathan.


"Sharen hamil ya Nath..?", tanya Mama Farah dengan sumringah.


"Nggak mah.., justru Nathan mau bilang..


tolong Mama sama Papa sedikit bersabar...",


"Kenapa..? kalian KB selama ini? emang sengaja nunda?",


"Enggak Mah..


Nathan sama Sharen abis periksa kesehatan...


dan kata dokter Nathan sama Sharen sulit punya anak..?",


"Astagfirullah...",ucap Papa.


"Yang bermasalah siapa? kamu atau Sharen..?",


"Tolong Mama sama Papa jangan pernah berpikiran untuk meminta Nathan menikah lagi. Karena itu nggak akan mungkin.., gimanapun keadaan rumah tangga Nathan, Sharen tetap istri Nathan, satu-satunya dan sampai kapanpun..",


"Jadi Sharen yang bermasalah Nath..?",


"Mamah barusan denger kata-kata Nathan kan..?",


"Gimana sama keturunan Papa sama Mama Nath..?",


"Sabar Mah, semuanya butuh proses. Nathan sama Sharen pasti usaha, tapi semuanya juga butuh waktu..,


kalopun usaha Nathan sama Sharen gagal, mamah juga pasti bakalan punya cucu, tapi bukan dari rahim Sharen. Nathan sama Sha bisa adopsi..",


"Nath..",


"Kenapa? Mamah mau minta Nathan buat cari istri lagi..? itu nggak akan mungkin Mah..",


"Tapi, kamu anak Mama Papa satu-satunya..",


"Jasmine dikemanain? adik Nathan emang udah meninggal, tapi dia tetap anak Mama Papa kan?",


"Keputusan kamu udah bener Nath...", ucap Papa.


"Besok Nathan sama Sharen mau ke Aussie, untuk sementara kami mau tinggal disana..terserah mau dianter ke Bandara atau nggak.., yang jelas Nathan udah pamit..,


Nathan permisi Pah..Mah..",


Nathan pergi begitu saja setelah penjelasan singkatnya pada kedua orang tuanya. Ini, membuat Mama Farah geram.


"Liat tuh Pah anak kamu. Makin lama makin kurang ajar. Bener kan kata Mamah? dia terlalu didoktrin sama istrinya, mungkin Sam keluarganya juga..",


"Kurang ajar gimana? keputusan Nathan udah bener...",


"Gimana sama kita Pah? keturunan kita gimana Al..?",


"Semua udah digariskan Mah.., kita kan tinggal jalanin aja...",.


Sharen memutuskan menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Mungkin terlalu cinta, takut kehilangan atau memang dia belum siap dengan reaksi Nathan dengan kenyataan?Tapi, Sharen tetap menerima keadaan suaminya.


"Gimana sama Mamah yank, pasti kecewa ya..?"


"Ya..kamu tau sendiri Mama kayak gimana..


nggak kaget kan..?",


"Semoga Mama bisa berlapang dada ya.."


"Mau gimana pun respon Mama, aku nggak peduli..., kamu sama aku tetep sama-sama..",

__ADS_1


"Makasih Nath...",


"Udah packing sayang..? ",


"Udah.., tapi punya kamu juga masih sebagian. Aku nggak tau kamu mau bawa baju yang mana aja.., sepatu yang apa..",


"Kita packing bareng ya..",


Sharen mengangguk dengan tersenyum.


Mereka semua mengantar sampai ke bandara, termasuk si kecil Zee. Memang, hanya tinggal sementara di Aussie, tapi kemungkinan besar mereka akan stay lama disana. Tergantung Nathan nanti.


"Udah nggak ada yang ketinggalan kan..?",


"Nggak ada mom...",


"Vitamin yang mom kasih kemarin, udah dibawa kan? jangan sampe kalian sakit disana ya..",


"Iya mom..


udah dibawa Sharen semua...",


"Keponakanmu tuh kayaknya tau kalo kamu mau pergi lama. Tuh, nempel banget...",


Sharen memang sedang memangku Zee. Keponakan tampannya itu mengantuk, dan menggunakan dada Sharen sebagai sandaran.


"Ganteng banget dia Mom..",


"Iya..persis waktu Javas masih kecil..


Kamu cuma kebagian hamil aja Na..",


"Hehe iya Mom.., nggak usah tes DNa juga udah yakin ya kalo ini anak mas Javas..",


"Husst ngomong apa sih kamu...",


"Bercanda mom...",


Jaz mendadak menghampiri mereka. Ceritanya, Jaz ini sedang ngambek dengan Sharen karena kakaknya itu harus pergi. Jaz berniat untuk ikut, tapi tidak mungkin mengingat Jaz harus sekolah.


Jaz marah, dia saja tidak mau melihat kakaknya yang duduk disamping mommy.


"Mom..., mau beli es krim..",


"Sama mommy aja.., nggak mau sama sus..",


"Sama kak Javas deh..",


"Nggak mau...",


Jaz menarik-narik tangan Mommy.


"Ya udah mom, turutin aja. Daripada tambah ngambek. Sha juga masih lama kok flightnya..",


Mommy akhirnya pergi untuk menemani putranya.


"Mbak..., udah pantes loh punya baby...",


Sharen hanya tersenyum.


"Mbak.., Kina mau cerita..",


"Apa Na..?",


Kina meraih tangan Sharen, lalu meletakkannya di perut. Sharen menoleh melihat wajah Kinara.


"Kamu isi lagi..?",


Kinara mengangguk.


"Iya mbak...",


Wajah Sharen berubah menjadi sendu.


"Kakak nggak tau harus seneng atau sedih.


Kakak seneng kamu sama Javas dikasih kepercayaan lagi. Tapi, kakak sedih. Kenapa nggak kakak aja yang hamil..?",


"Kina ngasih tau mbak Sharen, bukan mau pamer. Tapi, Kina cuma pengen mbak Sharen jadi semangat. Dan, berterus terang sama mas Nathan. Bilang keadaan sesungguhnya mbak..",

__ADS_1


"Kakak belum bisa Na...",


"Lebih cepat lebih baik mbak..


biar akar permasalahannya segera ditangani..",


"Iya Na..kamu bener..


Kakak pasti akan cerita yang sebenernya suatu saat nanti..",


"Jangan lama-lama ya mbak..",


"Iya Na..",


Nathan dan Sharen, tidak menyangka jika Papa Aldo dan Mama Farah akan datang, meskipun di detik-detik terakhir mereka sebelum masuk ke dalam ruang tunggu.


"Mah..", ucap Sharen menyapa ibu mertuanya.


"Hati-hati ya Sha..",


"Makasih mah..,


mamah sehat terus ya mah.."


Farah mengangguk.


Mereka melepas kepergian Nathan dan Sharen dengan sedikit berat. Apalagi, mereka tau masalah yang dihadapi oleh keduanya. Seharusnya dukungan keluarga yang mereka butuhkan. Tapi, Nathan dan Sharen memilih untuk menghadapinya berdua.


"Far.., kamu udah tau..?",


"Udah Ra...",


"Kenapa ini terjadi sama aku Ra...?", mamah Farah akhirnya menangis.


Mommy Aira memeluk Mama Farah.


"Kita pasti bisa laluin ini bersama-sama Far...",


"Gimana sama keturunanku Ra..",


"Semua pasti ada jalannya Far...


Tolong, jangan meminta Nathan untuk menikah lagi Far, kasian anakku...", ucap Mommy Aira. Dan akhirnya mereka menangis bersama-sama.


Dengan tiba-tiba, Mommy Aira melepas pelukannya lalu menyeka air mata Mamah Farah.


"Far..., aku ada ide...,


tanpa menyakiti perasaan kedua anak kita..",


"Apa Ra...?", tanya Mama Farah antusias.


"Gimana kalo kamu program hamil aja...?",


"Hah...?????",


"Kamu belum manopouse kan..? Kamu sama Aldo, masih rajin...ehemmmmm kan..?",


"Ya masih lah.., tapi masa iya aku punya bayi lagi Ra.., aku udah tua. Kamu aja udah punya cucu...",


"Santai..


aku sama mas Rendra juga udah nggak muda lagi, tapi masih ada Jaz...",


Farah sepertinya bimbang, dan mulai memikirkan ide Aira.


"Udah kepala 4 mau kepala 5 Ra..,


nanti apa kata orang..?",


"Nggak usah peduliin..,


emangnya kamu makan sama duit mereka? nggak kan?",


"Ckkkk.., nggak ada ide lain ya Ra..?"


Aira menggeleng.


Dari kejauhan, Rendra dan Aldo sampai heran melihat istri mereka. Sebentar menangis, tapi setelah itu mereka mengobrol serius.

__ADS_1


"Mereka kenapa Al? tadi kayak Teletubbies, habis itu udah kayak Upin Ipin ngobrol serius..",


"Nggak tau Ren.., mereka kan emang random sejak dulu...", jawab Aldo.


__ADS_2