Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Mukjizat 2 ( Tulang Rusuk )


__ADS_3

Nathan terkejut, bahagia, terharu semuanya jadi satu. Usahanya untuk mempertemukan Eljaz ternyata membuahkan hasil dalam waktu yang terbilang cukup singkat.


Membiarkan Sharen pergi ke rumah sakit seorang diri. Sebenarnya dia ingin sekali mendampingi Sharen. Namun, mengingat baru saja terjadi perdebatan kecil antara dia dan Sharen, Nathan mengurungkan niatnya.


"Nath.., Aira bangun..?",


"Iya Pa.., tapi Nathan belum tau pasti..",


"Tumben, Sharen nggak ngajak kamu..",


"Abis marah pa..",


"Makanya kalo kerja itu yang bener..


Nanti sore kita ke rumah sakit jenguk Tante Aira..",


"Iya Pa.."


Nathan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun, bunyi ponselnya menganggu konsentrasinya.


"Javas..,


Huh.., pasti Sharen udah cerita kalo aku diem-diem bawa Jaz ketemu Tante..",


Tidak ada pilihan selain menghadapi Javas. Resikonya, dipikir nanti.


"Halo Vas..",


"Aku nggak tau apa yang kamu perbuat. Tapi, kamu ke rumah sakit sekarang juga Nath.., mommy nyebut nama kamu..",


"Tante Aira?",


"Cepet kesini..",


"Oke-oke.., aku ke sana sekarang..",


Tanpa membuang waktunya, Nathan langsung bergegas pergi menuju rumah sakit. Namun, sebelumnya Nathan pergi ke sekolah Jaz untuk menjemput dan membawanya ke rumah sakit. Aira menyebut nama Nathan bukan tanpa alasan. Aira tahu jika Nathanlah satu-satunya orang yang mau dan berinisiatif mempertemukannya dengan Jaz. Aira pasti ingin bertemu dengan putra bungsunya.


"Kak.., Jaz kan belum waktunya pulang..",


"Mau ketemu sama mommy nggak?",


"Mau..mau...",


"Oke.., sekarang kita ke rumah sakit.., Mommy Aira bangun Jaz..",


"Mommy bangun? Mommy buka mata? mommy bisa liat Jaz ya kak?",


"Bisa.., Jaz seneng?",


"Jaz happy kak.."


Nathan membawa Jaz yang terlihat sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Aira. Dengan menggendong Jaz, dengan berlari sekuat tenaga. Nathan menuju ke ruang rawat Aira yang terlihat ramai tidak seperti biasa.


" Tante Aira..",ucapnya saat dia masuk dengan menggendong Jaz.


Rendra, Sharen serta Javas kompak menoleh. Mereka bertiga terkejut dengan kedatangan Nathan yang membawa Jaz.


"Jaz..", ucap Sharen.


Aira mengembangkan senyumnya. Meskipun sudah sadar, tapi ruang geraknya terbatas. Aira juga belum mampu berbicara banyak.


"Mommy.....", teriak Jaz yang turun dari gendongan Nathan lalu menghampiri Aira.


Jaz memeluk mommynya. Postur tubuhnya yang pendek membuatnya kesulitan. Jaz mendongakkan kepalanya.


"Tolong...", ucapnya meminta kepada Javas untuk menaikkannya ke atas ranjang. Spontan, Javas lalu mengangkat tubuh Jaz.


"Jaz awas.., mommy masih sakit..", ucap Rendra.


"Jaz tau.. tapi sebentar lagi, mommy juga sembuh kan?",


"Ja-z....", ucap Aira lirih.


" Mom, I finally hear your voice...",

__ADS_1


Lagi-lagi Aira hanya tersenyum, memeluk sang putra diiringi dengan air matanya yang mengalir deras.


"Mommy.., don't cry. Im here..",ucapnya mengusap airmata yang membasahi pipi Aira.


"Ja-z....",


"Jaz sayang banget sama mommy.. Mom, sebentar lagi sembuh kan? kita pulang kan mom?",


"I-ya..",


" Jaz tidur disini bareng mommy, boleh..?",


Aira mengangguk.


"Jaz.., mommy masih sakit..",


"Jaz mau disini Dad...",


"Jaz tidur dikamar sebelah, oke... mom masih perlu istirahat..",


"Hmmm, gitu ya..


Jangan sedih mommy. Jaz nanti temenin mom, tapi nggak boleh tidur disini. Jaz di kamar sebelah. Nggak apa-apa kan mom? Jaz pasti jagain mommy..", ucap Jaz dengan logat khas anak kecilnya.


"I-ya..",


"I love you so much mom..",


Jaz terlihat sangat manja dengan Aira. Seperti sudah terbiasa berkomunikasi. Padahal hanya empat kali Jaz dibawa Nathan bertemu dengan Aira. Itupun dengan durasi yang terbilang singkat. Inikah yang dinamakan ikatan batin seorang ibu dengan anaknya?


"Kamu yang ngelakuin ini?", bisik Javas kepada Nathan yang hanya dibalas dengan anggukan kecil.


"Aku mau denger cerita dari kamu, Nath..",


Rendra, Sharen serta Javas terpaksa menunda luapan kerinduan mereka kepada Aira. Mereka disingkarkan oleh kehadiran Jaz yang nampaknya sangat diinginkan oleh Aira. Untuk sementara waktu, mereka mengalah.


"Itu mommy tidur lagi ya Dad..


Vas.., panggil dokter sekarang...", ucap Sharen yang khawatir jika Mommynya kembali mengalami koma.


"Kasian Jaz..", gumam Sharen.


"Vas.., cepet panggil dokter..",


Dokter memastikan jika Aira memang tidur. Istirahat, seperti normalnya. Bukan koma yang beberapa tahun ini dia alami. Merasa lega, akhirnya mereka berempat keluar untuk berbicara. Sekaligus mendengarkan cerita Nathan yang memberanikan diri membawa Jaz menjenguk Aira.


"Nathan minta maaf om, mungkin tindakan Nathan sudah di luar batas..", ucapnya yang memang sengaja menyindir Sharen.


"Tapi, hati Nathan tergerak untuk membawa Jaz menemui Tante Aira. Karena dia berhak tau yang sebenarnya..",


"Om, Sharen, Javas dan yang lainnya nggak bermaksud menyembunyikan Aira. Tapi, kami mempertimbangkan psikis Jaz.., kamu pasti tau apa yang om maksud..",


"Iya om.., Nathan tau..",


"Berapa kali kamu bawa Jaz ketemu sama mommynya?",


"Empat kali om.., itupun Jaz yang memaksa..",


"Om sangat berterima kasih sama kamu.., kalo ini adalah cara untuk menyembuhkan Aira. Mungkin, om akan lakukan sejak dulu Nath..",


"Yang penting Tante Aira udah bangun om..",


"Sekali lagi, terima kasih Nath..",


"Sama-sama om..",


Sharen hanya diam. Dia memang masih menyimpan amarah kepada Nathan. Rasa gengsinya yang begitu besar membuatnya tetap mempertahankan sikapnya.


"Dad.., kita ketemu dokter sekarang..,


Vas.., kamu jagain mommy dulu ya...",


Rendra dan Sharen pergi, menuju ke ruang dokter yang menangani Aira. Untuk berkonsultasi mengenai keadaan Aira dan serta menyampaikan rencana untuk membawa Aira berobat keluar negeri.


"Bener kata Dad, kalo tau kayak gini. Aku bakalan lakuin dari dulu..",

__ADS_1


"Aku udah pernah bilang ke kalian, tapi mental. Nggak ada yang dengerin, terutama kamu yang keliatan benci sama Jaz..",


"Karena dia yang buat mommy tidur bertaun-taun..",


"Tapi.., karena Jaz juga mommy kamu bangun..",


"Aku bukan benci sama Jaz.., gimanapun juga dia adik aku. Tapi, tiap kali aku liat Jaz.., aku jadi inget mommy. Kamu liat sendiri kan? diantara aku, Queen sama Jaz. Tuyul itu yang paling mirip sama mommy..",


"Iya sih...",


"Nath, aku mau nyusul Dad sama Queen.., aku titip mom sama Jaz ya..",


"Oke.., tinggal aja..",


Sayangnya terlambat. Rendra dan Sharen sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan. Mereka berdua sudah selesai berkonsultasi dan dokter.


"Gimana kak? kita bisa bawa mommy berobat kemana? Spore atau Jerman..?",


"Nanti dulu Vas.., dokter mau liat keadaan mommy secara keseluruhan..",


"Oh.., oke..",


" Satu Ginjal mom udah rusak Vas.., kita butuh donor ginjal..",


"Manusia bisa hidup dengan satu ginjal kan? ambil punya Javas kak..",


"Nggak semudah itu.., ada tahapan tesnya.., cocok atau nggaknya..",


"Oke kak.., kita cari sampai dapat. Cuma cari ginjal, gampang. Kita cari yang mau jual ginjalnya..",


"Jangan ngawur kalo ngomong..",


"Kita bisa bertahan selama bertahun-tahun. Sabar nungguin mommy bangun. Apalagi cuma cari ginjal yang cocok buat mommy? itu perkara mudah kak.. ",


"Iya.., kita bisa. Mommy pasti sembuh..",


Rendra memang terlihat banyak diam. Hubungannya dengan Javas masih belum membaik. Meskipun tidak tegang seperti sebelumnya, namun terasa kaku jika harus bercakap.


Keluarga Rendra Perdana bermalam di rumah sakit. Menemani dan menunggu Aira yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.


Sharen, Javas dan Jaz menggunakan kamar sebelah yang disulap seperti kamar hotel. Khusus dibuat untuk dipergunakan jika mereka bermalam di rumah sakit, seperti sekarang ini. Hanya Rendra yang nampak menemani Aira di ruangannya.


Aira bangun. Nampak suaminya yang tertidur di atas kursi dengan posisi kepalanya di atas ranjang. Aira mengelus kepala suaminya perlahan. Meskipun dilakukan dengan gerakan lembut, namun masih bisa Rendra rasakan.


"Sayang.., kamu bangun..",


Aira mengangguk tersenyum.


"Kamu butuh sesuatu?",


"No..",


"Jangan tinggalin mas lagi Ra..",


Ucapan Rendra membuat Aira kembali meneteskan air matanya.


"Jangan nangis sayang.., mas disini...",


Air matanya terus saja mengalir.


"Kamu tau? mas begitu hancur.., mas udah kehilangan, dunia mas terasa mati. Mas nggak semangat buat hidup lagi...",ucap Rendra menggenggam tangan Aira erat, lalu mengelusnya, menaruhnya di dekat pipinya. Telapak tangan Aira menyentuh pipi Rendra.


Aira memang belum mampu banyak bicara. Bibirnya kelu dan kaku.


"Sebentar lagi kamu pasti sembuh.., ada mas.., ada Sharen, Javas.., ada Jaz si bungsu anak kita...",


Aira memejamkan mata, namun tangisannya belum juga berhenti.


"Mi-ss you.., ma-s..",


Kali ini, Rendra yang tidak kuat membendung air mata yang sudah sejak tadi dia tahan. Rendra menangis, mendengar ucapan istrinya yang juga merindukannya.


"I Miss you so bad, mas merindukan masa-masa ini sayang..", ucapnya lalu memeluk erat Aira.


Keduanya berpelukan erat dan menangis bersama. Kerinduan yang bertahun-tahun di pendam kali ini mereka tuntaskan. Tulang rusuk Rendra akhirnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2