
Kepergian Mine, meninggalkan duka yang sangat dalam. Termasuk untuk keluarga Rendra Perdana. Terlepas dari konflik rumah tangga Javas-Kinara dan Mine adalah pemicunya. Namun, Rendra-Aldo, Aira-Farah tetaplah sahabat dekat layaknya keluarga. Mine sudah seperti anak sendiri untuk Rendra dan Aira, layaknya adik untuk Sharen dan kakak untuk Jaz.
Farah menangis ketika Aira datang ke rumah sakit. Dua sahabat itu saling berpelukan, dan Aira juga tak kuasa membendung air matanya.
"Sabar ya.., kamu kuat..., ikhlasin Mine..., dia udah nggak sakit lagi..",
"Anakku tinggal satu aja Ra.., udah nggak ada Mine disini...",
"Udah takdir.., kamu kuat..., kamu bisa tegar sampai detik ini. Kamu ibu yang hebat buat Mine....",
"Maafin kalo Mine ada salah ya Ra...",
"Mine anak baik.., banyak yang sayang sama dia.., kita antar dia sampai tempat peristirahatan terakhirnya ya...",
Javas memenuhi janjinya pada Mine untuk terus menemani gadis itu, namun dengan cara yang berbeda. Javas terus mendampingi jenazah Mine, dia bahkan ikut berada di dalam mobil Jenazah bersama Nathan.
Jenazah Mine disemayamkan di kediaman orang tuanya sebelum dimakamkan. Karangan bunga berjejer mewakili si pengirim untuk mengucapkan duka dan bela sungkawa atas perginya Jasmine. Tidak hanya sanak saudara, tapi karangan bunga dikirim oleh para kolega bahkan pejabat. Aldo yang notabene adalah petinggi Prime grup tentu mempunyai koneksi yang luas.
Sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, keluarga Aldo memberikan kesempatan bagi teman, keluarga, sanak saudara untuk mengaji mendoakan mendiang Jasmine.
Sharen dan Jaz datang sedikit terlambat, karena Sharen harus menjemput Jaz terlebih dahulu. Mereka berdua datang saat jenazah Jasmine sudah disucikan.
__ADS_1
Sharen mendekati jenazah Mine, dan membisikkan permintaan maaf ke telinganya. Sharen menitikkan air matanya. Sedangkan si kecil Jaz, hanya memandang sendu. Sharen mengaji di dekat jenazah Mine, sedangkan Jaz langsung keluar menghampiri Daddy nya.
Sharen memeluk Tante Farah, sebagai dukungannya. Kehilangan orang yang sangat dicintai sangat amatlah berat. Apalagi, Mine adalah putri satu-satunya.
"Yang sabar Tante...",
"Makasih Sha..
Maafin kalo Mine ada salah ya..",
"Iya Tante...",
"Turut berduka cita Nath...", ucapnya dengan menyalami Nathan.
Nathan menyambutnya, tapi tak hanya itu. Dia langsung memeluk tubuh Sharen.
"Aku butuh kamu..", ucapnya.
"Jangan pergi lagi Sha.., aku rindu kamu..",
Sebenarnya bukan waktu yang tepat Nathan mengungkapkan kerinduannya kepada Sharen. Tapi, mungkin inilah puncaknya dan Nathan tidak kuasa membendungnya lagi. Tak peduli, ada ratusan mata disana. Nathan, tetap memeluk Sharen, gadis yang sudah lama dia cintai.
__ADS_1
"Nath..lepasin...", ucap Sharen dengan lembut.
Tapi, Nathan justru menangis dalam pelukan Sharen. Nathan yang terlihat tegar dari Papa dan Mamanya, nyatanya menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Sharen.
"Aku pernah kehilangan kamu, dan aku tau rasanya. Aku hancur waktu itu. Tapi, aku bisa mengobati itu karena aku masih bisa liat kamu, meskipun dari jauh. Tapi, sekarang..lagi-lagi aku kehilangan perempuan yang sangat aku sayang Sha..Ini kali terakhir aku bisa liat dia. Nanti malam, besok, lusa seminggu , sebulan, bahkan setahun lagi ..aku udah nggak bisa liat Mine lagi.., sama hancurnya saat aku kehilangan kamu. Sha.., aku berharap aku nggak akan kehilangan kamu lagi....", ucapnya dengan lirih dan terbata.
Dada Sharen naik turun. Kehilangan Mine, kerinduan itu, sungguh Sharen merasakan hal yang sama. Sharen membalas nya dengan mempererat pelukannya.
"Mine udah tenang, dia udah nggak sakit lagi. Aku disini buat kamu Nath, aku nggak kemana-mana..", ucapnya.
Dua sejoli itu segera melepaskan pelukannya. Sharen langsung duduk dideretan pelayat perempuan, bergabung bersama Mommy dan Tantenya.
Melupakan sejenak masalah rumah tangganya. Hari ini, Javas fokus dengan acara pemakaman Mine. Jangan ditanya perasaanya saat ini. Hanya satu kata yang bisa mewakili, yaitu kehilangan. Dari kecil sudah tumbuh bersama, bertahun-tahun menjalin hubungan dengan gadis itu, hingga akhirnya putus. Dan, saat ini dia harus kembali kehilangan Mine untuk kedua kalinya, dan untuk selamanya. Tahu bagaimana rasanya kan?
Javas, menuntaskan janjinya. Dia bahkan ikut memikul keranda jenazah Mine, menuju ke liang lahat.
Isak tangis mewarnai acara prosesi pemakaman Mine ketika Jenazah gadis itu mulai ditutup oleh tanah. Tante Farah tak henti-hentinya menangis, bahkan pingsan saat batu nisan bertuliskan nama putrinya disematkan.
Kini, sudah tidak ada lagi Jasmine. Dia sudah istirahat dalam keabadian. Hanya nama dan perbuatan baik di masa hidupnya yang akan menjadi kenangan di hati orang yang mengenalnya. Selamat jalan, Mine sayang.
__ADS_1