
Kina shock ditinggal oleh Nenek dengan cepat seperti ini. Masih menangis di samping nenek yang sudah terbujur kaku. Justru, yang terlihat tegar adalah Tante Tya, anak kandungnya. Tante yang mengurus administrasi rumah sakit, untuk kepulangan Jenazah nenek. Kina tidak bisa diajak bicara, dia terus-terusan diam.
Sharen menjadi anggota keluarga pertama yang mendapat kabar duka meninggalnya nenek Kina. Sudah memberikan kabar kepada mom Daddy nya via telepon. Dari rumah kakek, Sharen langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui adik iparnya.
"Sabar ya.., nenek udah tenang..",
Kina menganggukkan kepalanya. Dan, tangis Kina akhirnya pecah dalam pelukan Sharen.
"Nenek udah nggak ada mbak.., nenek ninggalin Kina..., Kina nggak punya siapa-siapa lagi...",
"Ada kakak disini.., kakak temenin ya..",
"Kina sedih mbak.., tapi hati kina sakit banget....", ucapnya.
Sharen tidak perlu mempertegas kenapa adik iparnya berucap seperti itu. Tanpa, dijelaskan pun Sharen paham. Nyatanya, Javas belum sekalipun menjenguk, sampai nenek meninggal.
Lalu, bagaimana dengan Javas? apakah dia sudah tahu kabar duka ini? Yang jelas, Kina tidak sekalipun memberikan kabar kepada suaminya. Lebih baik Kina memberi tahu orang-orang yang benar peduli kepadanya.
Mereka menunggu jenazah nenek untuk disucikan di rumah sakit. Sharen terus memberikan dukungan kepada adik iparnya. Menggandengnya, memapahnya, memeluknya hingga rela memegang sebotol air mineral untuk minum Kina. Sharen memang belum pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Kina. Yang dia tahu, ini pasti berat.
Hingga akhirnya, rombongan keluarganya datang. Termasuk om Revan, Tante Fafa dan tak terkecuali Javas yang datang bersama kedua orang tuanya.
"Sayang...", ucapnya memeluk Kina.
Tidak ada penolakan, tapi juga tidak ada sambutan. Kina diam dalam dekapan Javas.
"Tegar ya...", ucapnya mengelus kepala istrinya. Lagi-lagi Kinara tidak memberikan respon kepada suaminya.
Jenazah nenek sudah disucikan dan siap untuk dibawa pulang untuk disemayamkan dan dikebumikan.
"Naik mobil mas aja ya..",
Kinara menggeleng.
"Biar Kina sama kakak..", ucap Sharen. Ini adalah kali pertamanya Sharen mau berbicara kepada adik laki-lakinya. Itu pun, karena terpaksa.
"Biar sama Javas kak..",
"Nggak usah.., yang ada Kina makan hati. Kamu cucu menantu macam apa sih Vas, nenek dari kemarin sakit tapi kamu nggak jenguk. Bi*adap kamu...", ucap Sharen kasar.
"Mbak...", ucap Kina yang langsung menggandeng Sharen untuk menjauh dari Javas.
Mereka beriringan menuju ke rumah Kina. Sesampainya di rumah, tetangga sudah memenuhi rumah Nenek untuk mengiring dan mengantarkan nenek ke peristirahatan terakhirnya. Kali ini prosesi pemakaman di bantu dan dipersiapkan oleh orang dari Prime grup. Entah perintah dari Javas atau Dad Rendra. Siapapun itu, tidak penting.
Sebelum diberangkatkan ke pemakaman, sanak saudara beserta tetangga di berikan kesempatan untuk melantunkan doa untuk nenek.
Lagi-lagi Kina memilih untuk satu mobil dengan Sharen. Javas juga tidak bisa melarangnya. Pikirnya, istrinya memang membutuhkan ketenangan.
Tangis Kina kembali pecah ketika jenazah nenek dimasukkan ke liang lahat. Ini adalah kali kedua dia harus merelakan orang yang disayanginya pergi. Kina diapit oleh kakak ipar juga tantenya yang mencoba menenangkan Kina yang terlihat sangat terpukul.
Mata Kinara sembab, kulit putih wajahnya memerah, ketika melihat jenazah nenek sudah ditutupi oleh tanah. Apalagi, ketika melihat gundukan tanah disamping pusara Nenek. Tangis Kinara sampai sesenggukkan ketika melihat ibu dan neneknya kini sudah bersama. Rumah mereka berdampingan.
"Pulang yuk..",
Kinara menggeleng.
"Na..pulang yuk.., kamu belum makan kan? kakak suapin ya nanti. Kita pulang sekarang..",
Kinara belum mau beranjak. Dia masih memegangi batu Nisan milik ibu dan nenek.
__ADS_1
"Sayang.., pulang yuk. Udah siang. Kamu nanti sakit..",
Kinara menoleh ke samping. Dia melihat Javas dengan sinis.
"Maafin mas..", ucapnya kemudian.
Sebenarnya belum waktunya untuk Kina untuk meluapkan emosinya. Namun, Kina juga tak kuasa menahannya. Akhirnya dia memilih mengutarakan, walaupun dengan cara yang masih terdengar halus.
"Minta maaf sama orang hidup itu gampang, tapi nggak sama orang yang udah meninggal..", ucapnya menohok.
Kinara beranjak, dia lalu meninggalkan Javas dan juga kakak iparnya.
"Punya o*tak kan? mikir makanya Vas..", ucap Sharen yang langsung ngacir, untuk menyusul Kinara.
Javas menyesal karena belum sempat menengok nenek Kinara. Tapi, semuanya sudah terlambat. Sudah tidak ada gunanya lagi dia menyesalinya. Semuanya sudah terjadi.
Keluarga Perdana, masih berada di rumah Kina. Oma yang sudah tua pun, menyempatkan diri datang, meskipun dalam keadaan jenazah yang sudah dikuburkan.
"Sabar ya..., nenek udah nggak sakit lagi.."
"Makasih Oma...",
"Kak Kina.., sekarang udah nggak ada yang bisa buatin Jaz kerupuk nasi ya..", ucap Jaz yang ikut hadir bersama berbarengan dengan Oma.
"Iya..nenek udah nggak ada Jaz...",
Kedua ipar itu berpelukan. Dan, lagi-lagi Kina menangis.
"Kak Kina kok nangis..? udah ya..,
cup cup cup.....",
"Kak Kina udah nggak punya nenek sekarang Jaz...",
"Punya.., kan masih ada Oma.., masih ada kakek juga. Itu kan nenek kakek kak Kina juga kan? jangan sedih ya.., nanti cantiknya ilang lho..",
"Kak Kina sedih...",
"Jangan sedih.., Jaz temenin. Oke..? Jaz mau liburan ke rumah kakek, jadi tiap hari Jaz bisa kesini main sama kak Kina..",
"Makasih ganteng..",
"Sama-sama cantik. Makan yuk.., Jaz sama Oma tadi udah beliin kak Kina makan..",
Kinara terlihat hangat kepada Jaz, tapi tidak dengan sikapnya kepada Javas yang terlihat sangat dingin.
Javas terlihat bersalah kepada istrinya. Bukan hanya sedih dengan kepergian nenek yang selama ini sangat baik kepadanya. Tapi, Javas juga takut dengan sikap Kina yang sangat acuh kepadanya. Istrinya itu berkali-kali menghindar setiap kali dia dekati.
"Na..mas laper..", ucapnya kepada Kina ketika rumahnya sudah sepi dari pelayat. Keluarganya juga sudah pergi ke rumah kakak, dan akan kembali lagi nanti malam saat tahlil bersama.
Kinara diam, namun merespon. Dia langsung meletakkan sepiring makanan untuk suaminya, tanpa berucap sepatah katapun. Kinara juga terlihat membuatkan suaminya minuman hangat sebagai pelengkapnya. Selesai memenuhi kewajibannya, Kinara keluar kembali menemui orang yang baru saja datang bertamu melayat ke rumah nya.
Javas bukannya tidak sadar dengan perubahan sikap Kina.
"Mas minta maaf...", ucapnya dengan memeluk istrinya.
"Mas salah apa?",
"Mas tau kamu marah, karena mas nggak sempet nengok Nenek..",
__ADS_1
"Bukan nggak sempet tapi nggak mau meluangkan waktu..",
"Jangan gitu sayang..",
"Udah deh, mas.. nenek baru aja dimakamkan. Kita bahas hubungan kita sehabis 7 harian nenek..",
"Hubungan apa? kita suami istri kan? selamanya juga suami istri nggak akan berubah..",
"Na keluar dulu mau nyalamin orang-orang yang dateng pengajian.., baju Koko nya udah Na siapin..", ucapnya.
Malam ini Javas menginap. Entah karena kesadaran dirinya, atau bentuk formalitasnya semata. Yang jelas, kuping Kina terganggu dengan suara ponsel Javas yang terus saja berdering.
Tapi, Javas masih tahu diri. Dia langsung menonaktifkan ponselnya ketika Kinara meliriknya tajam. Mereka berdua tidur sekamar, seranjang, tapi dengan sekat guling yang sengaja Kina pasang.
Sudah 2 malam Javas bermalam. Dan, ini hari ketiga dia berada di rumah Kinara. Sikap Kinara sendiri masih dingin. Dia masih enggan untuk berbicara serius dengan suaminya mengenai masalah yang mereka hadapi kini.
Keluarganya sendiri, setiap hari datang untuk mengikuti pengajian tahlil untuk Alm. Nenek. Tapi, Mommy sebelumnya meminta izin kepada Kinara hanya bisa mengikuti pengajian sampai hari ketiga, karena harus menemani Daddy yang kebetulan harus bertugas ke luar kota. Sebagai gantiny, Mommy meminta Sharen dan Jaz sebagai perwakilan keluarga.
"Na..malam ini mas minta izin untuk balik. Besok ke sini lagi..",
"Ada apa? karena dia lagi..?",
"Besok mas janji kesini lagi sayang..untuk malam ini aja, mas mau jenguk dia. Keadaannya udah lemah...",
"Mas takut dia kenapa-napa?",
Javas mengangguk.
"Hati mas dimana sih? dimana mas waktu nenek sakit mas..? dimana? mas nggak ada waktu kan buat jenguk nenek..padahal nenek pengen banget ketemu sama mas, tapi mas nggak dateng...",
"Na..tolong ngertiin posisi mas..",
"Posisi yang mana sih mas? posisi kalo mas ini udah mantannya? atau posisi kalo Na ini istri mas yang nggak dianggap lagi..?"
"Jangan gitu sayang...
mas minta izin sama kamu, ya..?",
"Kalo Na nggak ngizinin, mas tetep pergi kan..?",
"Sayang...",
"Stop mas..stop..Na udah capek mas..",
"Sayang..tunggu sebentar lagi, sabar....."
"Na cuma selama ini cuma istri pura-puranya mas aja kan? mas anggep istri kalo Na ada dihadapan mas. Tapi, orang asing saat mas jauh dari Na.., Na udah capek mas.., mending kita pisah aja..",
"Astagfirullah sayang, inget. Kamu ini istri mas.., nggak ada kata pisah..",
"Na capek mas..capek...",
"Mas janji, besok pagi mas balik kesini lagi sayang. Keadaan Mine udah nggak memungkinkan lagi...",
"Kalo mas sampai keluar dari rumah ini, Kina anggap mas lebih pilih dia, dibandingkan Na..",
"Maaf sayang, tapi mas harus pergi..", ucapnya dengan mengecup kening Kina. Javas lalu keluar terburu-buru, diiringi oleh suara ponselnya yang terus saja berdering.
Ingin berteriak, tapi rasanya sudah tidak sanggup. Hanya air mata deras yang mengalir dipipinya. Javas lebih memilih perempuan lain dibandingkan dirinya. Dan, Kinara harus rela melepas kepergian suaminya.
__ADS_1
"Ini yang terakhir mas.., ini yang terakhir.., kina capek. Kina nggak sanggup lagi...", tangisnya.