
Keduanya saling memagut. Ingin menumpahkan kerinduan Yang selama ini mereka rasakan. Namun, sepasang mata tak sengaja melihat aktivitas semi intim mereka. Jika tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin akan nenjadi kegiatan intim yang berlanjut ke dalam kamar. Apalagi, tangan Nathan yang terlihat sudah masuk ke dalam kemeja, menyentuh bagian sensitif tubuh Sharen.
"Nathan...!!!!
Sharen....!!!!!",
Namun, keduanya masih melanjutkan ciuman mereka. Baru, ketika menyadari pemilik suara tegas itu, Nathan menghentikan ciumannya. Sharen melotot.
"Daddy....", ucap Sharen kepada Nathan ,keduanya kompak menoleh ke sumber suara.
Antara malu bercampur takut, itulah perasaan Sharen saat ini. Nathan? entahlah. Pemuda itu terlihat sangat santai.
"Dad....", ucap Sharen menghampiri Daddy nya.
"Perbaiki kancing kemeja kamu...", jawab Daddy yang lalu di respon Sharen cepat dengan mengancingkan dua butir kancing atasnya yang terlepas dari lubangnya.
"Maaf Dad...", Sharen menunduk.
"Om.., Nathan minta maaf...",
"Kalian bener-bener ya. Kalo Daddy nggak pergoki kalian, mau dilanjut di atas kasur..?",
"Nggak Dad...", geleng Sharen.
"Sha sama Nathan udah biasa ngelakuin, tapi nggak pernah lebih dari itu..",
Nathan memejamkan matanya ketika kekasihnya malah membuat pengakuan seperti itu.
"Udah terbiasa..?",
Sharen menutup mulutnya, dia sepertinya memang salah berbicara, meskipun apa yang diucapkannya memang benar adanya.
Daddy menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"Nath.., kita selesaikan ini di dalam antara laki-laki dan laki-laki.
Kamu Sha.., tetep disini.., jangan masuk sebelum Daddy nyuruh kamu..",
"Daddy mau apain Nathan Dad..?
Jangan diapa-apain Dad, Sha sayang sama Nathan. Bukannya selama ini Daddy selalu jodohin Sha sama Nathan kan?",
Daddy tidak merespon apapun, beliau langsung masuk ke dalam Apartementnya. Diikuti oleh Nathan. Namun, langkah Nathan dicegat oleh Sharen.
"Nath, aku takut...",
"Nggak apa-apa sayang.., aku salah karena nggak bisa jaga kamu dengan baik. Aku terima apapun resiko dan konsekuensinya..",
"Kalo kamu dihajar sama Dad, gimana?",
"Nggak apa-apa, aku terima..,
kamu tunggu disini ya, atau masuk ke Apartemenku aja. Ini kuncinya..",
"Nath.....!!!", suara dari Daddy terdengar dari dalam.
"Iya om...
Udah ya.., percaya sama aku.
Aku bisa hadapin Daddy...", ucap Nathan menenangkan Sharen dengan senyuman manisnya.
Ya, Nathan memang tidak perlu risau. Apalagi takut. Dia mengenal baik Om Rendra dan dia tau cara bagaimana untuk menghadapi Daddy dari kekasihnya. Sebagai laki-laki sejati, Nathan juga harus mengakui jika apa yang dia lakukan adalah hal yang salah.
Sharen mencoba menguping, tapi tidak sepatah katapun dapat dia dengar. Lebih dari lima belas menit Nathan berada di dalam, tapi belum ada tanda-tanda kekasihnya keluar. Sharen cemas, dia takut jika didalam sana Daddynya menghajar Nathan. Kekasihnya tentu saja bisa membalasnya, namun Sharen yakin Nathan tidak akan melakukannya, mungkin hanya pasrah menerima pukulan dari Daddynya.
Sudah tiga puluh menit, Daddy dan Nathan berada di dalam, tapi belum juga keluar atau menyuruhnya untuk masuk. Justru, dari kejauhan dia melihat pemuda dan seorang perempuan yang berjalan ke arahnya.
"Kak.., ada apa sih? kok Daddy nyuruh Vano cepet-cepet pulang..? lagi pacaran juga..",
"Kakak kepergok...", jawabnya dengan membuat simbol dari tangannya.
"Kissing.. ?",
"Iya...", ucapnya malu.
"Kok bisa? ",
"Iyalah, kakak sama Nathan ngelakuinnya di lorong ini, di depan pintu. Lagian, dari kapan kamu sama Daddy sampai disini? Bukannya masih minggu depan..?",
"Udah sampai tadi pagi...",
"Kenapa nggak bilang sih No..",
"Ya buat apa bilang, toh kakak juga akhirnya tau kan..",
"No.., jagain pacar kakak ya, Daddy marah banget kayaknya..",
"Tenang aja kak, semarah-marahnya Daddy, nggak akan buat Nathan punya gelar Almarhum kok, paling bonyok doang..",
"No.., astaga..", Sharen mencubit Vano..
"Aduh..sakit...,
Daddy telepon nih..", Vano menjawab telepon dari Dad Rendra.
"Iya Dad.., ini Vano masuk.., udah didepan pintu..",
Vano masuk.
Raut wajah cemas masih tergambar jelas dari wajah Sharen. Sedangkan Icha, terlihat sangat bingung.
"Kak.., baru balik ya..?",
"Iya..,
kakak nggak tau kalo Daddy ke sini.., kamu kenapa juga nggak bilang sih Cha..",
"Icha juga nggak tau,
tadi tiba-tiba kak Vano udah sampe aja di Kost-an Icha. Katanya di Jepangnya urusan udah selesai.., jadi ke sininya juga maju..",
"Oh gitu..",
"Kak Sharen kayaknya capek banget..",
__ADS_1
"Bukan capek, aku shock..",
Icha hanya tersenyum. Membayangkan betapa lucunya wajah Sharen ketika kepergok oleh Daddy nya.
"Masuk dulu yuk Cha..",
"Apartementnya siapa ini kak?",
"Tempat tinggal Nathan..",
"Oh..hadap-hadapan kayak gini..?",
"Heem.., sengaja disewa biar deket sama aku, deket sama tempat kerja juga..",
"Sweet banget sih..",
"Lila apa kabar Cha..",
Icha memukul pelan lengan Sharen.
"Ih..kak Sharen bisa aja.., udah dong nggak usah diinget-inget..",
"Yuk masuk...
Eh tunggu deh.., aku kayak pernah liat orang ini..", ujar Sharen ketika melihat laki-laki yang dia merasa pernah lihat sebelumnya.
"Halo Sha..",
"Owh..mas...",jawabnya ketika laki-laki yang menyapanya adalah seorang fotografer yang tempo hari memotret pre-weddingnya dengan Nathan. Laki-laki yang berumur sekitar 35tahunan yang juga berasal dari Indonesia.
"Nathan di dalam sini ya..?",
"Iya.., ada apa?",
"Nggak apa-apa, aku masuk dulu ya..",
Sharen sedikit merasa lega. Setidaknya di dalam sana, ada orang yang berada di pihak Nathan.
"Kak Sha..minum dulu ya..", Icha memberikan segelas air putih yang di ambilnya dari dalam kulkas di Apartement Nathan.
"Aku takut Nathan diapa-apain Cha..",
"Nggak lah kak, paling di dalam sana juga lagi di selesain..",
"Iya, kan harusnya aku juga ikut Cha. Aku juga salah kan..?",
"Di dalam sana laki-laki semuanya kak, mungkin Daddy nya kak Sharen mau nyelesain dulu sama kak Nathan, baru nanti sama kakak..",
"Iya sih, tapi kan aku sama Nathan yang ngelakuin, harusnya 2-2 nya kan yang dinasehatin. Bukan Nathan aja..",
"Tenang kak..",
Pintu Apartement Nathan diketuk, secepat kilat Sharen langsung membukanya.
"Udah kak.., disuruh balik sama Daddy.
Icha mana..?",
"Di dalam..",
Sharen menyeret kopernya hendak menuju ke Apartementnya.
"Oke sama-sama Nath, aku balik dulu..",
"Iya mas.., hati-hati.., sekali lagi terima kasih..",
"Nath, kamu nggak apa-apa kan..?", ucap Sharen memegang wajah Nathan dengan kedua tangannya.
"Jaga diri baik-baik di Indo ya.., sampai ketemu disana, 10 hari lagi..",jawab Nathan.
"Maksudnya gimana Nath..? aku pulang? kita LDR lagi..?", tanyanya.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Aku disini aja Nath..",
"Kamu masuk ya..",
Nathan masuk ke dalam Apartementnya. Sharen yang hendak menyusul langsung dicegah oleh Vano.
"Masuk dulu kak, nanti Daddy marah...",
Daddy duduk di Sofa. Wajahnya terlihat lesu. Namun, Sharen tidak melihat kemarahan dalam ekspresinya.
Sharen mendekati Daddy, dan langsung memeluknya.
"Maafin Sha Dad..,
Daddy pasti kecewa kan? tapi, Sharen cinta sama Nathan Dad, jangan pisahin Sha sama dia..",
"Orang tua mana yang nggak kecewa Sha.., tapi kita bahas hubungan kalian setelah kita sampe di Indo..", ucap Dad dengan mengelus tangan putrinya.
"Tapi Dad, Sha mau disini..
sekolah Sha belum selesai..",
"Besok kita urus ke sekolah..
Lusa kita pulang ke Indo, biar Vano yang urus tiketnya..",
Sebelumnya sudah di ultimatum Daddy untuk tidak membahas hubunganya dengan Nathan, dan kali ini Sharen menurut.
Sharen dibantu Icha memasak untuk makan malam mereka.
"Ini masakan kamu..?", tanya Daddy.
"Iya Dad, dibantu Icha..",
"Asyik..kita makan..", ucap Vano.
"Dad, Sharen mau nganter makanan ini dulu, buat Nathan, boleh? ditemenin sama Icha..",
"Suruh aja Vano yang ngasih..", secara tidak langsung Daddy tidak keberatan Sharen memberikan makanan untuk Nathan ,tapi Daddy melarang Sharen untuk memberikan langsung pada Nathan.
"Ya udah, No..minta tolong anter buat Nathan, tapi tunggu dulu..",
__ADS_1
Sharen rupanya menuliskan notes untuk kekasihnya.
"Nathan sayang, selamat makan malam. Semoga kamu suka masakan aku..
I love you..",
Begitu isi pesan yang dia kirimkan untuk kekasihnya. Membuat Vano menggeleng ketika membacanya.
"Makasih ya No..",
"Iya sama-sama..",
Pagi sekali, Sharen sudah berkutat di daur untuk menyiapkan sarapan mereka Untuk Daddy, Vano, dirinya sendiri serta bekal untuk Nathan. Sebenarnya Daddy tidak pernah berbicara melarangnya untuk bertemu dengan Nathan. Tapi, Sharen tidak mau terjadi keributan antara Daddy dan dirinya. Alhasil, dia kembali meminta Vano untuk mengantarkan bekal untuk Nathan.
"Kasihin ya No..",
"Iya kak..
Nggak dikasih catatan lagi..?",
"Nggak..,
Nathan udah aku chat..",
Hari ini, Sharen dan Daddy pergi ke sekolah modelling untuk mengurus sisa pendidikannya. Beruntung, Sharen bisa menyelesaikannya dengan daring dan akan tetap mendapatkan surat kelulusan yang nanti akan dikirim ke Indo.
"Dad.., kita jadi pulang besok..?",
"Jadi, Vano udah urus tiketnya.
Udah kan No..?",
"Udah Dad.., udah beres..",
"Kenapa mendadak kayak gini Dad..? kenapa secepat ini..?",
"Ini kan karena ulah kamu sendiri.."
"Maaf Dad..",
"Sampai di Apartement nanti, mulai kemasi barang kamu..",
"Iya Dad..",
Semenjak kejadian itu, Sharen belum sekalipun bertatap muka dengan Nathan. Komunikasi mereka hanya melalui chat atau video call. Itupun, Sharen lakukan diam-diam di kamarnya tanpa sepengetahuan Daddynya. Hubungannya dengan Nathan masih mengambang, entah mendapatkan restu atau tidak sesampainya di Indo nanti.
Sedih rasanya meninggalkan kota Sydney yang hampir 3 bulan ini dia tinggali. Kota bersejarah dalam hidupnya, tempat dia dan Nathan mengikat janji untuk menjalani hubungan lebih serius.
Hari ini, Sharen beserta Daddy dan Vano bersiap pulang ke Indo. Semalaman Sharen menangis, karena dirinya yang harus kembali LDR dengan Nathan. Tapi, Nathan selalu meyakinkan, saat di Indo nanti kekasihnya itu akan menjamin hubungan mereka akan baik-baik saja.
Sharen senang saat keluar dari Apartementnya, Nathan sudah menunggu. Surprise, ternyata yang akan mengantarkan ke bandara adalah Nathan.
Nathan membawakan dua buah koper milik Sharen. Mereka berdua berjalan di belakang Daddy dan Vano.
"Kok bisa kamu yang nganterin..?",bisik Sharen.
"Ya bisa..",
"Atau kamu ikut pulang..?",
"Nggak bisa Sha..",
Sharen kembali menangis ketika berada di bandara dan dia harus mengucapkan salam perpisahan pada Nathan. Mereka pasti akan bertemu kembali, tapi bukan ini yang ada dalam bayangan Sharen. Padahal, Sharen sudah membayangkan mereka akan pulang bersama ke Indo.
"Kamu baik-baik disini ya..",
"Iya..,
take care..",
"Janji nggak boleh macem-macem..
Apalagi, ketemu sama Lila..",
"Ckckck..Lila lagi..",
"Janji kan..?",
"Iya..janji..,
udah waktunya masuk..",
Sharen memeluk Nathan, dengan erat di hadapan Daddy. Awalnya memperhatikan keduanya, tapi Daddy langsung membuang pandangannya ketika dua sejoli itu saling berpelukan.
"Baik-baik ya,
aku pasti kangen sama kamu..
tunggu aku disana..", Nathan menyematkan satu kecupan di kening Sharen yang langsung mendapatkan peringatan dari Daddy.
"Nath...!!",peringat Daddy.
"Iya Dad..",
Sharen melepaskan pelukannya ketika dia harus segera masuk.
"I love you....
Bye Nath..",
"I love you, too..
Sha..ini buat kamu ya..", ucap Nathan memberikan satu buah benda berbentuk persegi panjang kepadanya.
"ATM buat apa..?",
"Buat jajan kamu kalo disana..beli apa aja yang kamu mau..
PINnya tanggal lahir kamu..",
"Nggak usah Nath..",
"Bawa aja sayang..",
"Ya udah..,
__ADS_1
Bye..Nath...",
Nathan melambaikan tangannya melepaskan Sharen yang kembali ke Indonesia bersama Daddy dan Vano. Mereka berdua akan bertemu kembali 10 hari kedepan.