
Sharen belum bisa tidur, karena suaminya belum kunjung pulang. Selain khawatir dengan keadaan Nathan, Sharen juga sangat takut jika di luar sana, suaminya melakukan hal yang diluar kendali. Minum, mabok, tidur dengan perempuan lain. Ahhh..., membayangkan saja Sharen tidak kuat, apalagi jika itu benar terjadi.
"Sha.., kalian ada masalah apa? Nathan ada di sini, kayak orang linglung..",
"Tolong anterin pulang ya Tam, aku takut..",
"Kalian berantem..?",
"Iya..
Nathan marah sama aku...",
"Nanti aku bujuk biar dia pulang...",
"Tolong ikutin dia dari belakang ya Tam nanti, aku takut dia kenapa-napa..",
"Oke cantik...",
Sharen sedikit bernafas lega. Rupanya, Nathan pergi ke tempat Tama. Dan, itu membuatnya tenang. Setidaknya Nathan tidak mencari hiburan di luar sana.
Tama sepertinya tidak berhasil membujuk Nathan. Buktinya sudah lebih dari tengah malam, Nathan belum kunjung pulang. Sharen sampai terkantuk-kantuk di Sofa menunggu Nathan.
Menjelang subuh, Nathan baru kembali ke Apartement.
"Yank....",
"Hmmmm...", jawab Nathan singkat.
"Kemana aja sih? kenapa baru pulang..?",
"Ke tempat Tama, udah tau kan? pasti tadi dia laporan. Tenang aja, aku nggak akan macem-macem Sha..",
"Kamu kenapa sih Nath?
segitu marahnya kamu sama aku..?",
"Kamu masih bisa tanya kayak gitu ya Sha..?",
"Aku tau...aku salah dan aku udah minta maaf sama kamu. Bahkan, di depan keluarga besar kita, aku juga udah ngaku salah, aku udah mohon-mohon sama kamu buat dimaafin. Tapi, kenapa? kamu masih kayak gini? harus dengan cara apa lagi aku minta maaf sama kamu???",
"Aku benci dibohongi Sha.., aku benci...",
"Aku udah minta maaf sama kamu Nath.., terus aku harus gimana lagi..? aku lakuin itu semua cuma demi kamu Nath, nggak ada maksud lain..",
"Tapi, bukan dengan menutupi hasil tes sebenarnya Sha.., kamu mau jadi pahlawan? iya..? mau aku jadi kerdil di mata keluarga kamu? aku tau kamu lebih kaya, punya kekuasaan, punya segalanya, tapi kamu tetep istri aku Sha.., aku suami kamu.., jangan rendahin aku kayak gini...",
"Ini yang buat aku nutupin hasil itu dari kamu..!!! aku tau kamu insecure..., kamu nyalahin diri kamu sendiri.., kamu merasa rendah. Padahal, keluarga-ku nggak pernah sekalipun permasalahin harta yang kamu punya. Daddy juga selalu bela kamu, dibandingkan aku. Emangnya pernah keluarga aku ngucilin kamu atau keluarga kamu Nath..?",
"Kamu nggak denger kata Javas? dia nyuruh kamu pisah dari aku, karena aku nggak bisa punya anak.., seharusnya kamu ninggalin aku..",
"Javas bilang gitu karena dia tau, aku terlalu cinta sama kamu. Aku dianggap bodoh karena aku lakuin ini semua cuma demi kamu Nath.., kamu ngerti nggak sih..?",
"Sekarang mau kamu apa sih Sha..?",
"Aku nggak mau apa-apa, cuma mau kamu maafin aku.., udah itu aja..",
"Pasti.., tapi nggak sekarang...",
__ADS_1
"Oke.., dan aku udah capek sama kamu Nath..,
kamu mau tau....apa mau aku kan? pergi lagi aja Nath.., nggak usah pulang sekalian..., biar kamu liat gimana nanti hancurnya aku. Nggak usah nampakin batang hidung kamu lagi.., biar kamu tau rasanya gimana rindunya kamu sama aku nantinya, biar kamu sadar kalo bukan aku aja yang butuh. Tapi, kamu juga butuh aku....!!!kamu juga nggak bisa tanpa aku...!!!! pergi Nath...pergi....pergi yang jauh.....!!!!",
Sharen melempari Nathan dengan bantal di sofa. Emosinya memuncak, Sharen sudah lelah batin, ditambah lelah fisik karena semenjak bermasalah, Sharen terkena insomnia. Sharen sudah tidak mempedulikan Nathan, Sharen masuk ke dalam kamar mereka. Terserah Nathan, mau pergi atau tetap stay di Apartement yang mereka tinggali.
Sudah seminggu, semenjak pertengkaran mereka subuh itu. Nathan sama sekali tidak bisa dihubungi. Sepertinya, ponselnya dalam keadaan mati atau non aktif. IT Prime grup tidak bisa mendeteksi dimana Nathan berada.
"Udahlah kak..Javas kan udah bilang...",
"Apa..?kamu mau bilang? nyuruh Kakak pisah sama dia..?",ucap Sharen dengan nada bicara lesu.
"Ya dia udah ninggalin kakak, gimana? seharusnya kakak kan yang ninggalin Nathan.., bukan sebaliknya..",
"Kakak kesini bukan pengen denger kamu ngomong kayak gitu Vas. Kakak cuma pengen tau Nathan dimana.., kalo nggak bisa dilacak ya udah..",
"Kenapa nggak minta bantuan Dad aja..? kali aja Dad tau dimana suami kakak..",
Sharen menggeleng.
"Kakak takut Daddy nanti jadi tambah marah sama Nathan..",
"Ya biarin Dad tau gimana kelakuan menantu laki-laki satu-satunya. Menantu kesayangan kan itu...",
"Udah deh nggak usah ngomong kayak gitu..
Nathan pergi karena Kakak juga yang ngusir dia..",
"Pulang yuk kak..? mendingan di rumah. Ada Zee.., ada Tuyul. Tiap hari nggak bakalan sedih kalo liat tingkah mereka..., pulang ya..?",
"Nggak Vas.., kakak tetep di Apartement...",
"Kakak susah tidur Vas...",
"Mikirin Nathan? diluar sana bahkan kakak nggak tau dia nangisin kakak atau nggak...",
Sharen tersenyum. Hampir saja air matanya tumpah di depan Javas. Untungnya, Javas mendapatkan panggilan telepon, buru-buru Sharen menghapus air matanya.
"Oke.., saya periksa email dulu.
Kalo oke, langsung saya ACC, kalo belum berarti perlu di revisi kembali..",
Javas menutup teleponnya dan kembali berbincang dengan kakaknya. Javas rupanya masih berusaha membujuk kakaknya agar mau pulang dengannya.
"Ayo pulang kak..,
Mom sama Dad, pasti seneng kalo kakak pulang...",
"Enggak...",
"Mommy marah-marah waktu tau Nathan pergi....",
Benar kata Javas, karena Mommy langsung mengunjunginya ke Apartement setelah tau Nathan pergi. Mommy mengajaknya pulang tapi Sharen menolak. Mommy tau kepergian Nathan. Itupun, karena Mama Farah yang memberitahukan ke orang tua Sharen. Mama Farah dan Papa Aldo memang datang secara langsung ke kediaman Rendra Perdana untuk meminta maaf.
"Ini di luar kendali kami Ren.., maafin kelakuan Nathan yang ternyata belum dewasa..", ucap Papa Aldo kala itu.
"Aku juga nggak bisa nyalahin kalian. Nathan sudah menjadi seorang suami, dan dia tau resikonya seperti apa. Sudah berulang kali bilang sama Nathan "kembalikan Sharen kalo dia udah nggak cinta", eh malah dia pergi gitu aja..",
__ADS_1
Ekspresi datar dari Daddy Rendra, menyiratkan jika beliau memendam amarahnya. Percuma menumpahkan kekesalannya untuk saat ini. Toh, yang bersangkutan juga tidak tahu rimbanya.
Sampai sekarang pun, Sharen belum juga bertemu ataupun sengaja menemui Daddynya. Sharen takut jika Daddy melihat kesedihannya secara langsung, akan membuat Daddy bertambah murka pada Nathan. Sharen tidak ingin itu terjadi. Nathan tetap suaminya, bagaimanapun kedepannya nanti. Sharen tidak ingin berpisah dengan Nathan.
"Atau kakak mau apa..? Nathan traktir..
Oh ya, mau shoping kak? kemarin Kinara ngerengek minta dibeliin tas branded keluaran terbaru, kakak mau juga? Javas beliin deh.., biar kembaran sama istri Javas..",
"Kakak cuma mau Nathan pulang...",
"Kalo nggak pulang..?",
"Kakak tetep nunggu...",
"Susah deh kalo kayak gitu...
Kak.., Nathan mau meeting. Bentar aja kok, cuma ngasih arahan aja. Kakak mau disini..?",
"Huum...",
"Ya udah, kalo butuh apa-apa.., minta tolong sama Tama aja ya.., dia di depan...",
"Iya makasih...",
Javas pergi, dan Sharen tetap berada di ruang kerjanya. Javas memang sangat mengkhawatirkan kondisi kakaknya. Wajahnya pucat, tidak segar. Tubuhnya juga seperti mengecil alias bertambah kurus.
Javas kembali ke ruangannya setelah lima belas menit meninggalkan kakaknya seorang diri. Javas melihat kakaknya yang tertidur dengan kaki yang tidak di taruh di atas sofa.
"Kasian..sampe tidur kayak gini...",
Javas mengangkat kedua kaki kakaknya.
"Kenapa tidur disini sih kak...",
Javas sadar, ada sesuatu yang aneh dengan kakaknya. Javas menepuk-nepuk pipi Sharen.
"Kak..bangun...,jangan tidur disini...",
Sharen masih memejamkan matanya.
"Kak.., bangun...., Kak Sha....kak....", ucapnya dengan nada bicara naik satu oktaf.
"Kak... Sha...kak Sha...bangun....
Kak Sharen pingsan....",
Javas membopong kakaknya, dan dia langsung berteriak memanggil asistennya.
"Tam...Tama....Tam....sini cepat!!!!!!!!", teriaknya. Tidak membutuhkan waktu lama, Tama datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ya bos..
Sharen kenapa..?", tanyanya ketika melihat Javas mengangkat tubuh Sharen.
"Kak Sha pingsan...",
"Kita bawa ke rumah sakit Vas..",
__ADS_1
"Siapin mobil Tam...",
"Oke....",