
Nathan tau apa yang harus dia perbuat. Tanpa membuang waktunya, dia langsung bertolak dari Cafe menuju ke Apartment untuk mengambil pasport miliknya. Menaruh beberapa baju ke dalam kopernya. Lalu menghubungi sahabatnya, Tama.
"Tam.., dimana..?",
"Baru aja sampe di kantor, ada apa..?",
"Anterin gue ke Bandara, sekarang...",
"Ngapain? mau minggat lagi? nggak perlu. Sharen kan udah nggak nyari lu..",
"Gue mau nyusul dia..",
"Kemana..?",
"Singapore.., dia disana kan..?",
"Hmmm mana gue tau..",
"Cepetan ke sini Tam..",
"Iya..iya..lima belas menit lagi nyampe..",
"Cepatan....!!!",
Tama sampai lebih cepat 2 menit dari perkiraannya. Kemejanya sampai basah, dia berkeringat, karena berlari.
"Dari mana tau kalo Sharen ada di Singapore..?",
"Udah deh, mau ditutupin kayak gimanapun, gue pasti tau. Tuhan sayang gue, Sharen emang jodoh gue...",
"Udah pesen tiket emangnya..?",
"Udah..2 jam lagi flight..makanya ayo cepatan..",
"Iya..., Iya..ayo...",
Tama tidak mengiyakan, juga tidak membantah tentang keberadaan Sharen. Dia menuruti permintaan Nathan untuk mengantarnya ke bandara.
"Udah siap ngadepin om Rendra..?",
"Udah.., siap lahir batin..mau diapain juga pasrah...,
nggak mungkin dibunuh juga kan? paling parah palingan dipukul sampe masuk rumah sakit.., kalo nggak kaki ya tangan yang patah..",
"Kayaknya nggak mungkin sampe segitunya.
apalagi sekarang ada an.........", hampir saja Tama keceplosan tentang kehamilan Sharen.
"An.....apaan..?",
"Nggak....., salah ngomong gue..",
"Yang gue pikirin justru bukan cara ngadepin Daddy...",
"Terus apa..?",
"Sharen sakit ya Tam...?",
"Iya..kan abis sakit dia..",
"Nggak parah kan..?",
"Sakit karena mikirin Lu..",
"Tadi, aku liat dia..kayak nggak seger gitu. Polos tanpa make up.., dia kenapa Tam..?",
Sharen lagi hamil Nath...
"Nggak tau.., coba nanti tanya kalo ketemu...",
"Kira-kira, gimana reaksi dia kalo ketemu gue..?",
"Palingan menghindar, dia nggak mau..",
"Iya.., gue juga punya feeling gitu...",
"Nath..Nath.., lu kemarin-kemarin kenapa sih?",
"Ya gue khilaf, nggak bisa berpikir jernih..",
"Kalo gue jadi lu, gue bakalan anteng aja deh. Udah jadi mantu kebanggaan Om Rendra, lu nya malah banyak tingkah. Ibarat kata nih, lu modal burung doang aja, nggak jadi masalah. Asalkan anaknya bahagia sama lu..",
"Enak aja lu ngomong kayak gitu..
Gue punya usaha di luar Prime.., gue kerja di Prime juga buat gantiin istri gue. Tiap bulan gue tetep ngasih nafkah lahir ke Sharen.., jumlahnya nggak banyak, tapi cukup buat ngidupin dia, istri gue nggak pernah kekurangan. Mau beli baju, tas mahal, gue bisa beliin tanpa campur tangan orang tuanya..",
"Iya tau..
kan gue udah bilang..ibarat kata..
dalemnya kayak apa, itu kan rumah tangga lu..",
"Sharen emang nggak ada duanya Tam, dia nggak pernah nuntut apa-apa dari gue..",
"Rasain lu, baru tau rasa kan..",
"Udah nggak sabar ketemu dia..",
"Kalo dia nggak mau ketemu, jangan dipaksa.., kasian. Dia abis keluar dari Rumah Sakit..",
"Iya.., gue nggak maksa, tapi tetep berusaha..",
"Emangnya lu yakin, kalo Sharen emang di Singapore..?",
"Yakin...",
"Tepatnya..",
"Nggak usah tanya tepatnya dimana. Gue bahkan udah tau mereka nginep di hotel mana..",
"Kok bisa..?",
"Hotel yang biasa mereka singgahi, kalo di Singapore...",
"Emang sih, lu kayaknya emang udah di takdirin sama Tuhan buat jadi suaminya Sharen, mantunya Om Rendra. Kamu udah kenal sama mereka..",
"Hmmmn..,gue paham bener sama mereka.",
__ADS_1
"Tapi, kenapa kamu bisa bodo* banget ninggalin Sharen.."?,
"Gue khilaf, gue butuh ketenangan..",
"Seenggaknya lu pamit..",
"Iya..tau Tam..nggak usah diulang-ulang terus...",
"Gue sedih liat kalian kayak gini.., gimanapun juga gue saksi hidup sama perjalanan cinta kalian berdua...",
"Heemmm..makasih Tam..",
"Gue doain yang terbaik buat kalian. Semoga Sharen bisa maafin lu..",
"Mudah-mudahan..
Gue turun dulu..",
"Perlu diantar sampe dalem nggak?",
"Nggak usah..,
makasih..",
Tama pantas disebut sahabat sejati Nathan dan Sharen, karena dia selalu ada untuk mereka. Terlebih, Tama selalu bersikap netral dan tidak memihak. Ya.., mungkin terlihat plin plan, tapi Tama berusaha menjadi sahabat dan teman yang baik untuk mereka berdua.
"Lama amat Tam..,
udah dapat tanda tangannya Nathan, belum..?",
"Udah..",
"Kenapa lama banget..? temu kangen? Reuni?",
"Lah..tadi sampe kantor Vas.., tapi disuruh balik sama Nathan lagi..",
"Balik? disuruh kemana?",
"Disuruh balik ke Apartemennya. Disuruh nganter dia ke Airport...",
"Mau kemana lagi? kemarin umroh, sekarang mau haji..?",
"Mau ke Singapore.., nyusul Sharen..",
"Brengsek ya lu Tam..",
"Eisttt sabar bos.., bukan gue yang ngasih tau.., dia tau sendiri..nggak tau dari mana..",
"Alah...boong aja lu..",
"Sumpah demi apapun Vas, gue nggak tau...",
"Kak Sharen baru sembuh Tam, kasian..",
"Bukan gue Vas yang ngasih tau...",
"Ya kalo dipikir-pikir sih, nggak heran juga Nathan tau. Dia kayak Daddy, udah kayak FBI aja..
Kerjaan gue udah kelar kan? udah nggak ada meeting sama klien lagi..?",
"Nggak ada, terakhir hari ini..",
"Oke...",
"Lu ikut juga..
Prime udah ada Om Revan sama Kai...",
"Oke bos...",
"Kita berangkat sekarang..",
"Siap boss..",
"Lu nggak punya kemeja lagi Tam? kusut banget.., malu-maluin..",
"Ada di mobil boss.., tenang aja..",
Wajah Daddy berubah menjadi gelisah ketika beliau baru saja membaca pesan dari Javas.
"Ra...",
"Iya mas..",
"Cek Queen, sekarang lagi dimana..?",
"Masih di Cafe mas..",
"Suruh balik ke hotel sekarang, kita juga..
udah nggak ada yang mau di beli kan?",
"Nggak ada..
mamah udah semua mah..?", tanyanya kepada mama mertuanya.
"Udah Ra..", jawab Oma.
"Kenapa sih mas..?",
"Nathan lagi otw ke sini..", bisiknya pada istrinya.
"Kesini..? kok bisa tau..?",
"Nggak usah dicari tau, Nathan kan muridnya mas..",
"Iya sih..,
terus Sharen gimana mas..?",
"Nanti kita tanya baik-baik sama dia ya.., maunya gimana..?",
"Kalian ngomongin apa sih Ren..", tanya Oma.
"Nggak apa-apa Mah..",
Mereka memang sengaja merahasiakan permasalahan Sharen dan Nathan.
__ADS_1
"Gimana mas..?", tanya Aira yang gelisah. Hanya Sharen dan cucu yang masih di dalam kandungannya yang Aira terus pikirkan.
"Kita pulang aja..?",
"Nggak bisa mas, Mamah kan kontrol 2 hari lagi..",
"Ya udah, kamu tenang.., Kalo kita nggak keluar-keluar pasti Nathan juga nggak bisa ketemu sama kita kok..",
"Masa iya kita nggak keluar-keluar kamar sih Mas..?",
"Kita pindah hotel aja..",
"Nggak mas, ini hotel yang paling deket sama Rumah sakit..",
"Oke kalo gitu.., nggak perlu ada yang dikhawatirin. Semua tergantung Sharen..",
"Aira cuma khawatir sama keadaan Sharen mas, itu aja...",
"Javas besok nyusul, jadi kamu nggak perlu was-was..",
"Bagus deh kalo gitu..
Aira ke kamar Sharen ya mas..?",
"Iya sayang.., kalo dia mau pindah hotel, nggak apa-apa.., apapun yang Sharen mau, kita turutin..",
"Kalo mau ketemu Nathan, gimana?",
"Kayaknya nggak..",
"Iya deh..
Aira ke kamarnya dulu ya..",
Aira menuju ke kamar Sharen untuk berbicara dengan putrinya. Ini dilakukan agar Sharen tidak syok ketika tiba-tiba nanti dia bertemu dengan Nathan.
"Gimana jalan-jalannya sayang..?",
"Seru Mom..,
besok lagi ya..",
"Boleh..asal kamu happy. Tapi, nggak boleh capek-capek ya..",
Sharen mengangguk.
"Sha..mommy mau ngobrol sama kamu..",
"Iya mom, kenapa..?
nggak usah khawatir, Sharen baik-baik aja kok. Baby juga nggak rewel hari ini..",
"Nathan nyusul kesini...",
Sharen membulatkan matanya. Jujur, Sharen belum siap kembali bertemu dengan suaminya. Hingga saat ini, Sharen masih trauma dengan kepergian Nathan yang tidak pernah dia sangka.
"Dad sama Mommy yang ngasih tau..?",
"Nggak Sha..,
mommy atau Daddy sama sekali nggak pernah kasih tau dia. Nomornya aja masih Mommy blok..
Kata Daddy, nggak usah dicari tau kenapa dia bisa tau. Nathan itu duplikatnya Daddy...",
"Sharen nggak mau ketemu Mom..",
"Itu yang mau mommy tanya. Kamu belum siap?"
Sharen menggeleng.
"Nggak apa-apa..,
Mommy ngerti kok.., apapun yang kamu mau. Daddy sama Mommy turutin Sha..",
"Sharen nggak mau sakit hati lagi Mom
Apalagi kalo sampe Nathan tau kalo Sharen hamil, dan anak ini nggak diakui sama dia..",
"Masih ada Mommy Daddy sayang..",
"Sharen nggak mau ketemu Mom..",
"Iya ngerti sayang..
kamu pindah hotel aja ya..? Besok Javas sama anak istrinya nyusul kesini, biar mereka yang nemenin kamu..
mommy sama Daddy nggak bisa pindah hotel, ini yang paling deket sama Rumah Sakit. Kasian Oma..",
"Iya Mom, nggak apa-apa..,
Sharen pindah hotelnya, kapan..?",
"Besok ya, kamu nungguin Javas aja...",
"Iya Mom..",
"Cantiknya anak mommy..
Sha.., mommy sama Daddy nggak ngelarang kalo kamu mau ketemu sama Nathan. Dia suami kamu, ayah dari cucu Mommy. Tapi, Mommy Daddy cuma nggak mau kamu kayak kemarin lagi. Kamu down.., itu yang kami nggak mau sayang..",
"Sha nggak mau ketemu Nathan Mom..",
"Oke.., kalo itu keputusan kamu.., kalo butuh apa-apa, bilang ya...",
"Iya mommy..",
"Mommy balik ke kamar dulu ya. Kamu baik-baik disini. Makan malam nanti, Mommy pesenin aja..",
"Iya mom..makasih..",
Nathan sudah tiba di Changi airport. Sedikit bingung dengan tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Entah kenapa, tapi seperti ada sesuatu yang hendak memaksa keluar dari perutnya. Nathan ke toilet dan kembali muntah.
"Dari kecil sampe udah punya istri, baru kali ini naik pesawat tapi muntah. Nath..Nath, kampungan banget. Padahal, duduk di bisnis class...", ucapnya dengan dirinya sendiri.
Dengan menggunakan Taxi, Nathan tiba di hotel yang sama dengan hotel tempat singgah Sharen dan keluarganya. Nathan mendongakkan kepalanya ke atas, menjangkau sisi tertinggi gedung bertingkat tersebut.
"Mas datang sayang..
__ADS_1
mas kangen sama kamu..", ucapnya.