MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
CINTA PANDANGAN PERTAMA


__ADS_3

Menyambut kebahagiaan Rama, Bima dengan terpaksa harus ikut serta liburan ke pantai. Sebenarnya Bima ingin menghabiskan waktunya bersama putrinya, tapi Windy sedang asik bermain bersama temannya yang dikawal oleh bibi yang membantu membersihkan rumah Bima.


Suara garasi mobil terbuka, Bima melihat motornya yang sudah lama tidak dia gunakan. Sebenarnya motor ini akan dia hadiahkan ke Bisma tapi tidak pernah tersampaikan. Suara motor besar keluaran terbaru masuk ke parkiran, Bisma dengan senyum manis memamerkan motor barunya.


"Gimana keren tidak?" Bisma dengan senyum-senyum mengejek motor Bima.


"kamu menggunakan uangku untuk membeli motor yang seharga mobil." Bima menatap adiknya dengan kesal.


"Tentu! mana mau gue pakai motor butut Lo. Lihatlah perbedaannya!" Bisma membandingkan kedua motor yang berbeda modelnya.


"Motor ini juga dulunya mahal." Bima mengigat motor Ninja putih yang dia beli dengan mengumpulkan uang.


"mahal dan keren pada masa dulu, kalau sekarang sudah tidak tren lagi." Bisma menghidupkan motornya pergi ke rumah Rama.


Bima menghela nafas, dia bisa mengecek harga motor Bisma yang fantastis. Cari uang pergi pagi pulang malam, mengumpulkan uang bisa puluhan tahun tapi dengan mudahnya Bisma membeli sesuatu yang tidak penting.


***


Reva dan para sahabatnya tiba di rumah Rama, dengan tatapan malas Reva duduk sambil tatapan matanya kosong. Viana menyapa Reva tapi hanya melihat senyum tipis.


"Si Reva kenapa? apa pekerjaan di kantor membuatnya stres."


"tidak Vi, dia sangat hebat dan profesional." Sisi melihat kearah Reva yang memang terlihat lebih pendiam.


"Septi! Reva kerasukan sepertinya."


"Mungkin kak! dia depresi mengejar cinta Om Duren nya." Tawa Septi dan yang lainnya terdengar.


Rama melihat Reva yang diam, perlahan mendekati nya. Reva melirik Rama dan tersenyum manis.


"jika ada Malasah jangan dibawa keluar, selesaikan pada tempatnya. Ingat Reva kamu tidak sendiri, jika perlu bantuan hubungi aku." Rama memandangi Reva yang diam saja.


Ivan yang juga memperhatikan sifat Reva menghela nafas, dilihatnya cacing yang keluar dari tanah karena panas matahari. Ivan mengambil cacing dan mendekati Reva, meminta tangan Reva yang langsung memberikan telapak tangannya.


Mata Reva melotot, melihat cacing di telapak tangannya merayap. Rama sudah mundur, Ivan juga melangkah pergi. Reva berdiri perlahan dengan wajah kesal dan geli.

__ADS_1


"Tolong!" Reva memasang mimik wajah ingin menangis mendekati Septi yang langsung lompat berlari, Viana tidak kalah cepat larinya ke dalam pelukan Rama. Sisi dan Clara sudah berhamburan, tawa Ivan dan yang lainnya menggema melihat Reva yang tidak berani menjatuhkan cacing dari tangannya.


Ivan mendekati Reva dan mengambil cacing lalu membuangnya, Reva langsung bergerak memukuli Ivan membabi-buta membuat yang lainnya tertawa. Ivan dan Reva seperti kucing dan tikus.


"gue sumpah Lo jadi bujang tua, percintaan Lo selalu gagal." Reva kesal, Ivan menarik Reva dalam pelukannya sambil mengelus kepala Reva dan mengacak nya.


Semua yang terjadi tidak lepas dari pandangan Bima, dia melihat Ivan yang sangat menyayangi Reva, pria yang memeluk Reva di derasnya hujan.


Seketika tawa Reva kembali, canda dan tawa mulai terasa, ditambah kepolosan Viana dan Jum yang juga ikut serta. Reva yang melihat Bima langsung ingin satu motor dengannya.


"Kak Jum! hati-hati dengan kembaran Om Bima, dia memiliki banyak pacar. Jangan mau kalau dia minta dipeluk pinggangnya." Reva membisikan sesuatu ke Jum.


"memangnya ada apa di pinggangnya, kenapa harus dipeluk." Jum menatap Reva binggung.


"Ya kak, takutnya nanti kakak disuruh memegang lemak perutnya takut jatuh."


"maksud kamu lemak seperti orang hamil itu." Jum melihat kearah tukang bersih-bersih kebun yang bajunya terangkat dan terlihat lemaknya.


Reva sekarang kebinggungan, niatnya baik biar Jum tidak jadi korban PHP, karena Reva berapa kali melihat Bisma dengan banyak perempuan.


"aneh sekali ya, bukannya yang hamil perempuan, kenapa laki-laki juga bisa punyak lemak." Jum melihat perut Bisma yang diikuti oleh Reva, Septi dan Viana.


***


Selama diperjalanan Reva cekikikan menertawakan Jum bersama Bisma, motor Bisma yang jika mengerem langsung membuat Jum memeluknya. Tawa Reva tidak bisa tertahankan, melihat tangan Jum yang berpegangan di belakang motor.


"tadi kamu murung, sekarang kamu mirip seperti orang gila. Sudah mirip kuntilanak!" Bima menyindir Reva yang langsung meletakkan kepalanya di atas bahu Bima.


"Kenapa om? merasa terabaikan ya!" Reva memeluk pinggang Bima tapi langsung dilepaskan Bima, tangan Reva pindah ke leher Bima dan dia berdiri.


"Awas! nanti kamu jatuh." Bima menahan tangan Reva yang berada di bahunya.


Reva tersenyum bahagia melihat tangan Bima yang satu berada di gas motor dan satunya berada di tangannya. Benar kata orang pacaran yang paling menyenangkan saat menggunakan motor.


"Om!" Reva duduk meletakkan tangannya di pinggang dan meletakan kepalanya kembali di bahu Bima.

__ADS_1


Bima hanya diam saja, Reva teringat dengan kejadian pagi tadi saat dia ingin menjemput Windy bertemu Papi, tapi Windy sudah tidak ada dan rumah sudah kosong.


"Apa salah anak lahir ke dunia ini om, mereka suci tanpa dosa." Reva bicara pelan membuat Bima memelankan laju motornya.


"tidak ada yang salah, karena mereka hadir sebagai hadiah, rezeki, juga ujian." Bima juga bicara dengan lembut.


"9bulan seorang ibu mengandung, melahirkan mempertaruhkan nyawa. Tapi mengapa om, dia tega meninggalkan buah hatinya, dia tega membuat mata indah mengeluarkan air mata. Ibu seperti apa yang tidak punya hati." Reva memeluk erat Bima dan menenggelamkan wajahnya di leher Bima sambil menangis, tangan Bima menepuk pelan tangan Reva yang yang memeluknya.


"makanya kamu jangan melihat betapa malangnya nasibku, tapi betapa beruntungnya diriku. Kamu memiliki keluarga yang mendukung dan mencintai kamu dengan tulus. Jangan angkat kepala untuk melihat yang di atas, tapi lihatlah yang di bawah agar kita tidak pernah lupa diri." Bima mengelus kepala Reva yang masih menagis.


"Reva sayang Om!" Reva melihat wajah Bima yang sangat tenang dan membuatnya nyaman..


Bima terdiam, jantungnya berdegup. Dia sangat menyadari tatapan mata Reva, tapi Bima tidak akan pernah bisa membuka hatinya. Bima hanya ingin fokus membesarkan putrinya, masa lalu dan statusnya dan Reva tidak pantas diperjuangkan. Bima berharap Reva menemukan laki-laki yang sangat baik dan dewasa. Reva dari luar saja terlihat kekanak-kanakan, tapi hatinya sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Om! Reva cinta Om. Tidak perduli status kita, Reva akan membuat Om jatuh cinta ke Reva."


"jaga ucapan kamu Reva, saya tidak nyaman dengan ucapan kamu."


"Om! cinta terbagi tiga! cinta pandangan pertama, cinta karena terbiasa dan cinta karena memperjuangkan sampai akhir. Reva berada di nomor tiga, dan om berada di nomor dua, tanpa kita berdua sadari sebenarnya kita berada di nomor pertama.


Bima hanya tersenyum mendengarnya celotehan Reva, yang maha tahu soal Cinta. Mata Rama, Viana, Bisma, Jum dan yang lainnya tersenyum aneh melihat Bima dan Reva yang tersenyum dengan bermotor pelan.


"Bima lama banget bermotornya, Lo pasti kemakan hasutan Reva, atau tangan Lo keram tidak bisa ngegas lagi efek tua.


"Reva! kenapa kamu memeluk Bima, lemak om Bima mau jatuh ya?" Jum dengan polosnya membuat Reva melotot dan Bima melihat perutnya, yang lainnya sudah tertawa ngakak.


"mulut Lo Jum, pengen gue kasih cabe. Perut om Bima rata tau enak kalau dipeluk." Reva menguatkan pelukannya, sedangkan Bima berusaha melepaskan pelukan Reva.


Semuanya melihat kesal ke Reva dan melanjutkan perjalanan.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT.


***


__ADS_2