
Windy mondar-mandir depan kamar Steven, bibirnya monyong kesal dengan Steven yang hampir satu minggu tidak bertemu dengannya. Steven pergi pagi, pulang subuh, terkadang juga tidak pulang.
Jarang berbicara dengan Windy, dihubungi juga sulit. Vero yang keluar kamar, tutup kamar lagi, menunggu kakaknya akan diamuk oleh Windy, setiap hari Windy mengomel tidak bertemu Stev.
Pintu kamar Steven diketuk, Stev sudah tahu pasti Windy karena melihat Windy mondar-mandir di depan kamarnya melalui CCTV. Steven mempersilahkan masuk, menenangkan dirinya yang akan terkena amukan macan betina.
Windy masuk menatap Steven tajam, pintu ditutup kuat membuat jantung Steven berdegup, tapi masih berusaha tenang, memasang kancing kemejanya.
"Mau ke mana Om? ini hari libur masih alasan kerja." Windy duduk di sofa, tangan dilipatkan di dada.
"Iya Win, masih ada hal yang harus Om selidiki." Steven menatap Windy sambil tersenyum.
Windy tersenyum menatap Steven tajam, Steven melihat mata Windy yang menatap kecewa, langkah kaki Steven duduk di samping Windy melihat wajah gadis cantik juga dewasa di sampingnya.
"Om menghindari Windy, jika Windy salah Om bicara, jangan diam seakan-akan Windy tidak dibutuhkan. Windy tahu tidak bisa membantu masalah, mungkin Windy hanya menambah beban." Windy menarik nafas mengendalikan dirinya agar tidak emosi.
Steven menggenggam tangan Windy, menciumnya lama. Sejujurnya Stev juga sangat merindukan Windy, ingin segera hubungan keduanya jelas, meminta restu Papi Windy, tidak menjalin hubungan sembunyi-sembunyi, tapi permintaan Bima untuk sementara hindari Windy agar dia tidak terlibat.
"Maafkan Om Win, bukan menghindari kamu. Keadaan memang sedang menguras waktu Om, setelah ini Om janji akan meluangkan waktu untuk kamu." Stev menyentuh wajah Windy.
"Aku bukan putri kamu! Stev pernah tidak kamu menganggap aku kekasih kamu, bukan aku menuduh kamu bersama wanita lain, mungkin kamu boleh menganggap aku masih kecil, tapi yang Windy tahu pasangan bukan hanya memberikan waktu, tapi juga berbagi cerita, agar tidak salah paham, tidak ada Perdebatan dan pertengkaran. Aku mengerti kamu memiliki privasi yang tidak bisa kamu bagi, tapi setidaknya hargai aku yang mencoba menjaga hubungan kita. Jika kamu berpikir demi kebaikan, aku tidak mengerti baiknya di mana, jika kamu memilih menghindar. Percuma jika aku berjuang seorang diri, jangan salahkan aku yang meragukan cinta kamu." Windy langsung melepaskan tangan Steven melangkah keluar kamar Stev, membanting pintu.
Steven memegang jantungnya, Vero yang sedang menguping langsung terjatuh kaget, juga takut melihat wajah Windy. Tatapan mata Windy tertuju padanya, Windy meminta Vero membawa mobil, dia ingin keluar, jika membawa mobil sendiri, takutnya melukai orang lain.
Vero tanpa banyak protes langsung berlari ke lantai satu, Steven keluar kamar mengejar Windy.
"Windy, tunggu." Steven menahan tangan Windy langsung memeluknya.
"Maafkan Om."
__ADS_1
"Iya aku maafkan, lanjutkan perkejaan kamu. Saat pekerjaan kamu selesai, saat itu juga kamu kehilangan segalanya."
"Win, tolong mengerti. Aku paham kamu meminta kita saling terbuka, sekali ini saja, berikan Om sedikit lagi waktu." Steven menahan tubuh Windy agar tetap dalam pelukannya.
Windy tidak lagi memberontak, memeluk erat Steven. Hati merasakan kecurigaan, pikirannya mencoba berpikir positif, tapi tindakan sulit Windy kendalikan.
"Maaf ya sayang. Om egois tidak memikirkan perasaan kamu, aku mencintai kamu Windy, kamu jangan pernah meragukan kesetiaan yang aku miliki." Steven tidak mempedulikan lagi jika dia menjadi tontonan para Maid yang melihat pertengkaran mereka.
"Windy juga minta maaf Om, sudah terbawa emosi. Windy akan memberikan Om waktu, Windy pergi ke butik dulu, jangan lupa makan, dan istirahat." Windy melangkah pergi, meninggalkan Steven yang masih memangil namanya.
Vero menunggu di mobil, sudah mendengarkan permintaan Steven untuk dirinya menjadi saksi, mejelaskan apa yang dia lihat saat Angela memberikan perintah, juga menceritakan Angela yang membunuh Ibu dan Ayahnya.
Windy masuk, menutup pintu mobil kuat. Vero menjalankan mobilnya, keduanya tidak ada yang berbicara fokus kepada masalah masing-masing.
Mobil melaju tanpa tujuan, Vero tidak berani bertanya melihat wajah Windy yang marah. Dasbor mobil ditendang kuat, Vero mengelus dada bersyukur bukan mobil kesayangannya, cukup sekali membawa mobil dengan Windy, sekarang terulang lagi, lebih marah lagi.
Vero menyadari emosi Windy labil, mungkin usianya yang masih muda. Windy juga cukup dewasa menahan diri tidak mengumpat Steven, atau mengamuk sampai memukul, sikap diam wanita menakutkan.
"Win, kamu jangan keluar. Mereka hanya menginginkan aku, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kasus kak Stev." Vero meminta Windy mengunci pintu.
Vero keluar, puluhan orang juga keluar, membawa pentungan. Windy tersenyum lucu mengambil ponselnya melakukan siaran langsung di akun sosial yang memiliki jutaan pengikut.
Wajah sangar mulai mendekati Vero, tatapan Vero masih tenang, ingin tahu keinginan mereka.
Tanpa memberikan jawaban, Vero langsung di serang. Berkelahi bukan sesuatu yang sulit bagi Vero, dia sejak kecil sudah terlatih karena Ayahnya mengajari Vero cara membela diri.
Windy hanya menonton cantik, melihat banyaknya komentar, bahkan Maminya juga menonton, adik-adiknya yang super heboh menonton pertarungan Vero dengan puluhan orang.
Melihat Vero yang sudah berdarah, dipukul mengunakan besi, Windy membaca komentar Wildan untuk Windy membantu, Ravi, Tian Erik juga meminta Windy turun.
__ADS_1
Dengan santai Windy membalas dia sedang dalam emosi yang tidak terkendali, takutnya mereka semua babak belur.
Windy juga tersenyum melihat para adik perempuan yang meminta Windy berfoto dengan para preman.
Maminya juga meminta Windy membantu Vero, jika tidak Vero bisa saja terluka patah tulang, Windy tahu yang menulis Papinya, komentar mencapai ribuan.
Saka melihat sosial media Windy dari pacar barunya yang sedang menonton, meminta Steven juga melihat jika Vero diserang.
Saka menghubungi pihak keamanan untuk menuju lokasi, Saka yakin lawan mereka mulai mencurigai Vero.
Steven sangat kaget melihat adiknya yang babak belur, bahkan Vero masih menahan pukulan, masih bisa memukul dan membalas serangan.
Stev langsung berlari menuju mobilnya, langkah Steven terhenti saat tubuh Vero terangkat dan di lemparkan ke bawah jurang.
"Vero!" Stev langsung masuk mobil, bukan hanya Vero yang dikhawatirkan tapi Windy juga ada
di sana.
Mobil Steven melaju dengan cepat menuju lokasi, meminta Saka mengirimkan bantuan, Vero di lempar ke bawah jembatan yang memiliki arus cukup deras.
Steven memukul setir mobilnya, Bagus yang sedang ingin menghubungi Steven langsung berlari, di saat yang bersamaan Vero diserang, Angela dan Mikel datang.
Nyawa Vero dan Windy jauh lebih penting, Steven tidak perduli soal Angela.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***