MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
LUPAKAN


__ADS_3

Sudah dua hari Reva belum sadar, Bima setiap hari datang mendampingi Reva. Setiap saat Bima selalu berdoa agar Reva segera sadar.


Reva sudah dipindahkan ke ruangan lain, dan masih menunggu kesadarannya. Dokter mengatakan Reva kemungkinan akan segera sadar, dan keluarga harus siap dengan apapun yang terjadi.


Semuanya berkumpul menunggu Reva yang sudah mulai membuka matanya, Reva diam melihat satu-persatu dengan binggung. Suara Reva tertahan, kepalanya masih sangat sakit, tapi dia mengenali orang disekitarnya tapi saat melihat Bima disisinya membuat Reva kesal mengigat video Bima di hotel.


"Reva gila! hilang ingatan dia," teriak Viana membuat semuanya mulai menunjukkan wajah panik.


Mendengar celetukan Viana, Reva mulai berulah, untuk memberikan pelajaran kepada Bima yang beraninya masih datang menjenguknya.


"Ibu, bapak," mata Reva berkaca-kaca melihat kedua orangtuanya yang langsung memeluk Reva sambil mengelus rambutnya.


"Viana jaga ucapan kamu, jangan buat suasana semakin kacau."


"Kamu yang kacau, mikirin si montok over bahenol."


"Ayo kita keluar," Rama menarik tangan Vi dan langsung ditepis.


"Keluar saja sendiri, aku tidak mau jadi nyamuk kamu dan pacar kamu."


"Viana!" nada Rama tinggi membuat Reva mengerutkan keningnya.


"Viana Rama kalian keluar saja, bertengkar di luar Reva masih sakit." Pinta Bima.


"Rama! siapa wanita kasar yang tidak punya sopan."


Ucapan Reva membuat Viana melihat melotot, yang lainnya juga langsung binggung dan menatap Reva aneh yang tidak mengenali Viana.


"Wahh, jadi kamu ingat yang lainnya dan lupa siapa orang yang menyelamatkan kamu dengan tetesan darah," mata Viana mencari jawaban di dalam mata Reva.


"Kamu siapa? dia juga siapa, anak kecil ini juga siapa?" Reva menunjuk Bima dan juga Windy.


"Mami! maafkan Windy."


"Mami! kapan Bu Reva menikah kenapa anak Reva sudah besar sekali dan mana suami Reva? Bukannya Reva masih sekolah Bu?"

__ADS_1


"Reva! jangan memikirkan apapun kamu baru kecelakaan ingat perlahan saja ya," Bima mengelus kepala Reva tapi langsung di tepis kasar.


"Om ini siapa? Reva tidak kenal jangan sok baik, Reva risih. Cinta Reva hanya untuk Rama jadi jangan menggoda Reva."


"Kurang ajar kamu Reva, aku menyelamatkan kamu dan beraninya kamu mencintai suamiku." Viana teriak dan langsung di tarik Rama keluar.


Reva memegang kepalanya, Bima hanya menghela nafas mendengarkan penjelasan dokter. Reva hanya shock sehingga melupakan kecelakaannya dan beberapa hal yang tidak ingin dia ingat.


"tidak masalah kamu melupakan aku, tapi aku akan tetap berada disisi kamu." Bima menatap Reva dengan penuh kesedihan.


"Mendingan Om keluar, melihat wajah Om bawaannya kesal. Apa Om ini sugar Daddy, berarti Reva. Astaghfirullah amit-amit."


"Va, kamu sangat mencintai Bima, beberapa hari yang lalu Bima datang ke rumah...." bapak kaget mendengar teriakkan Reva.


"Dia rentenir pak, berapa banyak hutang kita? Astaghfirullah Al azim pak Bu, biarpun kita orang susah mengapa harus meminjam uang dengan rentenir?" Reva menunduk lesu.


"Va, saya bukan rentenir!" Bima menatap Reva tajam, ibu dan bapak memalingkan wajah menahan tawa melihat keduanya.


"Pasti Om minta orangtua Reva untuk bayar hutang, dengan menjadikan Reva istri kesekian puluh." Reva menatap Bima penuh amarah.


Suara ketukan pintu terdengar, bapak dan ibu yang memeluk Windy, hanya menahan tawa. Adik-adik Reva datang. Mata Reva langsung melotot melihat tas branded nya digunakan Ratna, ingin sekali Reva membanting Ratna dan melemparnya dari gedung rumah sakit.


"Ratna, mengapa kamu menggunakan tas kak Reva? nanti dia marah!" ibu menjewer putrinya yang memang seperti kucing dan tikus bersama Reva tapi mereka saling menyayangi.


"Katanya kak Reva hilang ingatan, dia hanya ingat sampai dia sekolah, berarti kak Va lupa kalau dia seorang desainer dan mempunyai banyak barang branded. Ini kesempatan emas untuk Ratna Bu." Ratna tersenyum melihat Reva yang melongo.


Dalam hati Reva mencaci-maki Ratna, dia tidak akan membebaskan Ratna yang beraninya menggunakan tas limited edition, Reva sendiri belum pernah menggunakannya.


Bisma mengetuk pintu dan masuk memberikan tablet ke Bima, Reva penasaran sekali dengan yang dilihat Bima, pasti hal penting wajah Bima sangat serius.


"Lihat apa Om, pasti film dewasa!" Reva merampas tablet Bima dan melihat video pertengkaran Viana dan Ririn. Di dalam video Reva bisa mendengar ucapan Viana juga kemarahannya.


"Lama tidak bertarung Mitha, sampai saat ini kamu masih belum bisa menyakiti aku, masih belum bisa menggores sedikit saja tubuhku."


"Kamu bukanlah lawan yang seimbang, kamu sangat kecil," Vi menduduki Mitha dengan tangan Mitha berada dibelakang tubuhnya, Viana menampar berkali-kali.

__ADS_1


"Parrrrkk untuk Reva, parrrrkk untuk Reva yang terluka, parrrrkk untuk Reva yang kehilangan banyak darah, parkkk untuk Reva yang melupakan aku," Vi mencengkram kuat rahang Mitha memandangi nya penuh Kemarahan, Viana terluka saat pertama masuk keruangan Reva yang penuh luka, memberikan darah untuknya dan memandangi Reva berjuang, dan saat sadar dia melupakannya.


"Aku menganggap kamu seperti adikku tapi kamu berkhianat, teganya kamu menyakiti Reva."


"Hubby! hati Vi sakit melihat Reva melupakan Vi, seharusnya kepada Reva kita benturkan ke dinding biar bisa ingat kembali." Viana masuk ke dalam pelukan Rama.


Reva ingin sekali menangis tapi sandiwara bisa terbongkar, Reva membanting tab Bisma sambil bibirnya manyun.


"Tante ini serem banget, masa iya kepala Reva mau dibenturkan. Bisa pecah otak Reva."


Bima menghela nafas, bukannya ingat Reva semakin kesal. Bima harus mengumpulkan ekstrak sabar untuk menghadapi Reva yang sekarang.


Di dalam hati Reva tersenyum melihat Windy yang baik-baik saja, dia terlihat dekat dengan orangtua dan saudara Reva. Tapi Reva belum bisa memaafkan Bima, dia benar-benar kecewa melihat Bima di hotel bersama Brit. Ingin sekali Reva mencaci-maki Bima tapi dia tidak punya hak.


Satu hal yang membuat Reva penasaran soal Bima yang dekat dengan orangtuanya, Bima datang ke rumah. Buat apa Bima datang, melamar tapi dia tidak pernah membicarakan dengan Reva. Kalau menagih hutang tidak mungkin, Reva tidak punya hutang.


"Bu pak, Reva mau pulang!"


"Kamu belum sehat, harus dirawat dulu."


"Reva tidak bicara dengan om, lebih baik Om keluar risih banget Reva lihatnya." Suara bentakan Reva membuat Bima menunduk, hilang sudah wanita yang dulu mengejarnya.


"Biaya rumah sakit mahal Bu, Reva tidak mau kita semakin banyak hutang."


"Kamu harus dirawat Reva, saya akan keluar biar kamu bisa istirahat." Bima tersenyum mengelus kepala Reva tapi langsung ditepis, Bima keluar bersama Windy yang langsung berlari naik ke ranjang Reva dan mencium pipinya.


"Windy pulang ya mami, cepat sehat."


Kepergian Bima membuat Reva menghela nafas, matanya langsung tajam menatap Ratna.


"Kak Va, dulu tergila-gila sekarang benci. Cinta memang aneh!" Ratna menggeleng kepala dan langsung kaget melihat bantal melayang.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2