
Windy terbangun dari tidurnya, merasakan tubuhnya rembuk sakit semua. Mengigat kembali malam panjang yang Windy habiskan dengan suaminya, lelaki yang dia sangat cintai.
Mata Windy terbuka, melihat tangan kecil yang melingkar di pinggangnya, satu lagi tangan kecil di wajahnya.
Steven keluar dari kamar mandi, menatap Windy yang kebingungan melihat empat anak kecil sedang tidur di sampingnya.
"Mandi dulu sayang, kita sholat bersama." Steven menyambut tangan Windy yang turun dari atas ranjang perlahan.
"Aduh, sakit." Windy meringis.
Steven langsung menggendong Windy masuk ke dalam kamar mandi, memintanya mandi mensucikan diri.
"Ay kenapa mereka bisa ada di kamar?" Windy bicara sangat pelan melepaskan bajunya.
"Dari tengah malam mereka menggedor pintu, mungkin selesai sholat subuh datang lagi."
"Tujuannya mereka apa?"
"Tidur di atas mawar merah." Stev tersenyum menunggu Windy di luar.
Windy menggelengkan kepalanya, berharap keempat anak nakal akan merasakan kegagalan di malam pertama mereka nanti.
Selesai mandi Windy sholat bersama Steven, menatap keempat anak yang tidur dengan nyenyak.
Windy langsung meletakkan kepalanya di paha Steven, menggenggam jari jemari tangan istrinya.
"Ay, nanti anak kita nakal seperti mereka?"
"Tidak masalah, mereka bukan nakal hanya saja rasa penasarannya sangat tinggi."
Steven mencium tangan Windy, memejamkan matanya merasakan kebahagiaan bisa bersama wanita yang sangat dicintainya.
"Om Stev, boleh Windy bertanya?"
"Tanyakan apapun yang kamu ingin ketahui." Steven menatap mata Windy yang sangat indah.
"Kapan Ay mulai mencintai Windy?"
Steven tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Windy langsung duduk berhadapan dengan Steven.
Kapan jatuh cinta, mungkin banyak orang yang tidak mengetahui kapan cinta datang, kapan cinta hadir. Steven juga sama tidak menyadari kapan jatuh cinta kepada Putri lelaki yang dia panggil kakak, lelaki yang dia anggap penyelamatnya.
Takut, perasaan yang pernah Steven rasakan saat mulai khawatir, takut kehilangan, juga rasa tidak ingin berpisah.
Rasa hormatnya kepada Papi Windy menjadi alasan terkuat bagi Stev jika dia tidak pantas mencintai wanita muda yang terpaut usia cukup jauh.
Windy gadis kecil yang dulunya dia lihat dari bayi, bertemu kembali saat Windy remaja tidak pernah Steven sangka jika jodohnya bayi kecil yang hanya Stev pandang dari kejauhan.
"Windy, menghindari rasa cinta karena merasa tidak pantas menjadi penghalang hati, kamu terlalu sempurna untuk aku miliki."
__ADS_1
"Ay tahu jika cinta bisa memilih bukan karena hanya kata cinta, tapi rasa aman dan nyaman."
"Kenapa kamu mencintai Om?"
"Karena Windy membutuhkan lelaki dewasa, saat kita di pantai Windy melihat Om menolong seorang nenek, memberikan uang di dalam kantong, tanpa memberitahu nenek itu."
"Om tidak mengingatnya."
"Windy mencintai kebaikan Om, mencintai ketulusan hati pemuda tampan yang murah senyum. Tidak peduli orang mengatakan Om playboy, lelaki brengsek karena mereka hanya melihat yang umum, tapi tidak tahu dari sudut lain." Windy mengusap air matanya, memeluk Stev.
"Sayang, orang baik di dunia ini banyak. Hanya saja kita yang belum bertemu dengan mereka. Kak Stevie pernah berkata, kamu tidak harus terlihat baik, tapi jadilah seseorang yang bisa meringankan kesulitan orang lain, karena sedikit uluran tangan kamu bisa menyelamatkan satu keluarga." Steven menghapus air mata bahagia yang keluar dari kedua matanya.
"Emh, Windy melihat kebaikan dari sisi lain. Windy jatuh cinta sejak pandangan pertama, karena Windy yakin Om Stev bisa membimbing Windy dan anak-anak kita. Teruslah menjadi orang baik." Windy tersenyum mencium pipi Stev.
Pelukan kebahagiaan Windy dan Steven rasakan, menjadi satu untuk berjalan bersama.
Windy tersenyum melihat wajah Winda yang sangat mirip Papinya Bima, Windy meletakan dagunya di pinggir ranjang, mengusap wajah adiknya.
"Adikku tercinta, terimakasih sudah hadir dalam hidup Mami dan Papi Windy tidak akan pernah melupakan kebaikan kedua orang tua kamu, tidak akan pernah bisa membayar cinta dan kasih sayang mereka. Terima kasih Winda kelahiran kamu menjadi kebahagiaan terbesar Papi dan Mami." Windy mencium pipi Winda.
Steven memeluk Windy yang menangis langsung memeluk Steven erat. Windy tidak ingin cinta dan waktu Maminya hanya terfokus kepada dirinya, Winda yang paling membutuhkan cinta Mami dan Papi.
"Ay, sejak kecil Winda sangat dewasa tidak pernah iri soal kasih sayang."
"Aku tahu, Mami sangat memprioritaskan kamu, Winda pernah membanting piring karena seharian Mami lupa menyiapkan dia makan."
"Dia juga pernah marah melarikan diri ke rumah Mommy, mengatakan jika dia bukan anak Mami."
"Windy sangat takut merampas kebahagiaan Winda."
"Kenapa bicara seperti itu sayang? Winda dan Wildan sangat menyayangi kamu."
"Windy tahu, bahkan dulu Winda mengatakan jika dia rela membagi apapun asalkan aku selalu bersama mereka."
Steven mengusap kepala Winda, gadis kecil yang nakalnya terlewat batas.
Windy menatap Bella, Billa dan Vira yang tidur berpelukan. Tangan Winda menggenggam mukenah Windy.
"Selamat tidur adikku sayang, kamu harus selalu bahagia. Terus tersenyum Winda, kak Win akan selalu bersama kamu."
Tangan Steven mengusap kepala Windy, mencium kening istrinya.
"Buka ya sayang?"
"Masih sakit Ay." Windy cemberut.
"Astaghfirullah Al azim, mukenah yang dibuka." Steven tersenyum mencubit hidung Windy gemes.
"Maaf, Windy pikir minta lagi."
__ADS_1
"Kamu memiliki banyak kelebihan, tapi yang paling menonjol sikap mesum kamu." Steven langsung berdiri menahan tawanya.
"Tidak, Windy tidak mesum." Windy melangkah mengikuti Steven.
"Hmzz, mesum." Vira menatap Windy dan Stev keluar.
"Bella mesum itu apa?" Vira tidur lagi memeluk Bella.
Windy keluar kamar, melihat Mami, Mommy, Bunda ada di depan kamar.
"Ada apa ramai sekali?"
"Di mana mereka?" Reva menepuk jidat.
"Masih tidur Mami, biarkan saja mereka menikmati bunga mawar." Steven tersenyum menutup pintu perlahan.
"Gagal malam pertama kalian?" Jum menatap Windy dan Steven.
"Bunda kepo." Windy dan Steven tertawa.
"Kepo banget Jum." Reva mendorong Jum.
"Mbak Reva lebih kepo lagi, kak Vi dari tadi bahas terus."
"Sudah-sudah jangan saling menyalahkan, doakan saja segera hadir cucu pertama." Steven tertawa melangkah pergi.
Windy menundukkan kepalanya, berjalan bersama Stev untuk sarapan.
"Tunggu, Mami menjadi nenek." Reva masuk lift bersama yang lainnya.
"Memangnya kamu ingin menjadi apa?" Stev menggelengkan kepalanya.
"Nenek Reva." Viana langsung tertawa.
Windy tersenyum memeluk Maminya yang tidak ingin dipanggil nenek, uban juga belum tumbuh sudah menjadi nenek.
"Ay, Bima. Reva jadi nenek."
Bima mengerutkan keningnya, menatap istrinya yang seperti anak kecil terus merengek.
"Mereka baru menikah Reva, setidaknya tahun depan baru kamu menjadi nenek." Bima memeluk istrinya yang sangat manja.
"Tidak bisa diganti yang lebih keren lagi?"
"Nenek." Bisma meneriaki Reva.
Suara teriakan Reva terdengar, Windy tersenyum melihat Winda versi tua.
"Tidak heran Winda dan Mami tidak akur, dia jiplakan Mami hanya wajahnya saja mirip Papi."
__ADS_1
"Ay Stev benar, lelaki hebat yang bisa menaklukan hati Winda Bramasta, karena harus memiliki mental sabar berkali-kali lipat.
***