MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 TIDUR BERDUA


__ADS_3

Acara ijab kabul sudah selesai, Ar menahan kedua tangan Winda menariknya ke kamar pengantin mereka yang sudah dihias sangat indah.


Tatapan mata Winda tajam, melihat suaminya yang mengunci pintu. Ar melihat ponselnya langsung menerima panggilan membuat Winda menatap sinis.


"Win, selesai acara malam ini mungkin besok terakhir kita di sini. Aku harus pergi ke Paris, karena banyak hal yang harus aku kerjakan." Ar mengerutkan keningnya melihat jadwal kerjanya yang semakin padat.


"Kamu pergi lebih dulu, nanti aku menyusul." Winda menatap tajam, mengabaikan Ar yang menolak keputusan Winda.


Dia sudah berbicara dengan Papi dan mami, bahkan dengan Rama dan Viana. Ar ingin Winda ikut dengannya.


"Jika kamu ingin pergi seharusnya izin dengan aku, bukan dengan Mami Papi. Pokoknya Winda tidak bisa pergi." Mata Winda menatap sinis, Ar menarik nafas panjang langsung duduk di samping istrinya.


Senyuman Ar terlihat, dia menerima keputusan Winda yang menolak untuk pergi. Mungkin mereka akan menjalin hubungan jarak jauh, karena Winda yang banyak protes.


Ar langsung melangkah ke kamar mandi, menyegarkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak sebelum acara ijab kabul dimulai.


Winda dengan santainya memainkan handphone Ar, melihat pesan dari uminya jika dia berada di Paris.


Senyuman Winda terlihat, dia tidak tahu pasti yang menghubungi Ar uminya atau orang lain, tapi yang pasti Winda akan menangkap wanita yang membuatkannya memiliki beban hidup.


Winda sengaja menyadap ponsel Ar, menghapus pesan dari nomor baru yang baru saja masuk.


Suara pintu kamar mandi terbuka, Winda langsung cepat meletakan ponsel Ar.


"Winda, tolong ambilkan handuk."


"Ambil saja sendiri, punya tangan punya kaki, jangan menyusahkan orang. Sudah tahu ingin mandi, tapi tidak membawa handuk." Winda mengabaikan Ar yang terdiam mendengar omelan Winda.


Ar menggunakan kembali bajunya, langsung mengambil baju ganti dan kembali lagi ke kamar mandi. Winda tidak menghormatinya sama sekali.


Winda langsung mengambil ponselnya, mengotak-atik mencari tahu hubungan Ar dan uminya, tapi tidak ada hubungan sama sekali, bahkan tidak pernah ada komunikasi.


Selesai mandi Ar mengambil ponselnya, melihat keanehan. Senyuman Ar terlihat dia tahu jika Winda sudah menyadap ponselnya, tapi Ar membiarkan saja, karena tidak ada rahasia antara suami dan istri.


Jika Ar menginginkannya, dia juga bisa menyadap ponsel Winda, tanpa harus menyentuh ponselnya.


Mata Winda terpejam dia atas bunga mawar merah, Ar duduk di pinggir ranjang ingin menyentuh wajah Winda, tapi mengurungkan niatnya.


"Winda, aku tidak tahu apa alasan kamu membenci aku, tapi aku akan mempertahankan kamu." Senyuman Ar terlihat, langsung naik perlahan ke atas ranjang, memejamkan mata tidur di samping istrinya.

__ADS_1


Acara malam akan berlangsung cukup lama, sehingga mereka membutuhkan waktu istirahat sebelum acara dimulai.


Winda yang tidurnya tidak bisa diam, langsung memeluk Ar dijadikan guling hangat. Mata Ar terbuka, memberikan jarak antara mereka berdua.


Bukannya semakin menjauh, Winda sudah meletakan kepalanya di dada suaminya. Ar merasakan sedikit canggung, karena dia tidak terbiasa bersentuhan dengan lawan jenis.


Mata Ar tidak bisa terpejam, menatap wajah cantik Winda yang terlelap dengan tenangnya di dalam pelukan Ar.


Senyuman Ar terlihat, ada rasa bahagia melihat sekarang dia memiliki teman tidur yang menjadi belahan jiwanya.


"Apa aku jatuh cinta sejak pandangan pertama? apa cinta seindah ini?" Ar berbicara sendiri di dalam hatinya sampai akhirnya dia juga terlelap tidur.


Suara ketukan pintu tidak terdengar lagi, dua insan sedang tidur dengan nyenyak. Reva yang sudah kesal membawa kunci pengganti melihat putri dan menantunya tidur berpelukan.


Senyuman Reva terlihat, teringat saat dirinya baru menikah. Tidur di dalam pelukan lelaki tampan juga sangat sabar sungguh kebahagiaan terbesar, Reva bahkan sering sekali tidur di atas tubuh suaminya.


Bima tidak pernah protes dengan cara tidur Reva yang mirip ikan berenang, ternyata turun juga kepada putrinya.


"Winda, Ar bangun. Kalian berdua tidak ingin pesta?"


"Astaghfirullah Al azim." Ar langsung melepaskan Winda, terduduk di lantai.


Reva tertawa melihat Ar yang meminta maaf, wajah Ar mirip sekali Bima yang tidak tersentuh. Meskipun status Bima duda, tapi Reva wanita pertama yang tidur bersamanya.


"Mami, Ar keluar dulu untuk bersiap-siap."


"Iya, jangan lupa sholat Ar." Reva tersenyum menatap lucu menantunya.


Sekarang sisa mengurus putrinya yang tidur sangat sulit dibangunkan, Reva menarik tangan Winda, mendudukkan.


Pipi Winda dipukul pelan, tapi tidak membangunkannya sedikitpun. Kekesalan Reva akhirnya muncul, langsung melangkah ke kamar mandi menyiram Winda dengan air.


"Cepat make up sekarang, mandi dulu, baru sholat nanti Mami yang mendadani putri cantik Mami."


Winda protes dibangunkan paksa, langsung melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, sholat baru duduk di depan meja rias.


Reva secara langsung yang mendadani Winda, membantunya menggunakan gaun yang sangat indah rancangan Reva berkolaborasi dengan Karin.


"Cantiknya anak Mami."

__ADS_1


"Siapa yang berani menghina Winda jelek, cari mati dia." Tatapan tajam Winda terlihat.


Selesai makeup, Winda masih sempat berfoto. Windy datang meminta Winda turun, karena tamu undangan sudah penuh.


Wildan dan Vira juga sudah bersanding di pelaminan, menunggu Winda sangat lama.


Reva melangkah lebih dulu, meninggalkan Winda dengan Windy yang menatap adiknya.


"Kenapa terlihat sedih?"


"Kesal saja sekarang sudah menikah."


"Adikku sayang, kamu menjadi wanita yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk menikah cepat, kak Windy percaya Ar imam yang baik." Windy mengusap kepala Winda, membawanya ke tempat pesta pernikahan.


Di dalam lift, Windy menggenggam tangan adik kesayangannya. Menyemangati Winda untuk hidup bahagia.


"Winda, kak Windy mengerti kamu belum mengenal baik Ar. Jangan cari keburukan pasangan, tapi tutupi keburukannya dengan kelebihan kamu."


"Siap kak Win, nanti dia aku tutup dengan semua keburukan Winda." Suara tawa Winda terdengar, Windy juga tersenyum melihat adik kesayangannya yang sangat mudah menutupi kegelisahan, kesedihan bahkan lukanya.


Suara rusuh kembali terdengar, melihat Winda yang melangkah ke pelaminan. Ar menyambut tangan Winda, tersenyum menatap suaminya juga para tamu undangan.


"Apa yang kamu lihat? nanti aku colok mata kamu." Winda menatap Ar yang mengagumi kecantikannya.


"Maaf, hanya saja aku tidak rela melihat kamu yang menjadi pusat perhatian banyak orang."


Winda mengerutkan keningnya, lelaki aneh yang tidak pernah marah dengan ucapan kasarnya.


Senyuman Vira dan Winda terlihat, saling tatap dan tersenyum. Berulang tahun secara bersamaan, menikah juga bersamaan.


Ar merangkul Winda yang kelelahan, karena banyaknya tamu undangan. Dirinya pusing melihat banyak orang apalagi menggunakan gaun yang berat.


Ar sangat khawatir sampai akhirnya acara selesai, tamu mulai meninggalkan pesta.


"Kita ke kamar sekarang Winda."


Suara teriakan terdengar, seluruh keluarga langsung panik melihat Bening menangis kuat, diikuti oleh Embun. Rasih hanya terdiam langsung berlari mencari Daddy-nya.


"Astaghfirullah Al azim." Ar langsung berlari diikuti oleh Wildan.

__ADS_1


***


__ADS_2