
Mata Vero melihat seekor ular berada di pundaknya, tersenyum menatap semua. Bisma meminta Jum memanggil keamanan untuk melihat sekitar perumahan.
"Semuanya tenang, ini hanya ular jinak, dia juga hewan peliharaan." Vero tersenyum santai.
"Uncle, di perumahan ini tidak ada yang memelihara ular, tapi kucing namanya ular." Vira menggelengkan kepalanya.
"Ular itu kucing, jadi ini siapa?" Vero menunjuk ular di pundaknya.
"Ular asli." Tawa Vira, Winda, Bella dan Billa terdengar.
"Kak Stev, Vero datang ke sini bukan ingin mencari mati." Vero cemberut, menahan air matanya.
Steven menggelengkan kepalanya, mendekati Vero, memegang kepala ular yang langsung melilit tangannya.
"Hati-hati Stev, langsung bawa keluar rumah saja." Bima meminta anak-anak menyingkir.
Ular dimasukkan ke dalam karung, diikat kuat agar tidak lolos lagi, bodohnya Vero, ikut-ikutan naik ke pohon, sedangkan Erik, Ravi, Tian tidak berani turun karena ada ular, Vero dengan bangganya ikutan naik.
Viana sampai melempar sepatunya untuk menghentikan Vero, tapi ular sudah lebih dulu merayap ke arah pundak.
Keamanan datang, langsung mengambil ular. Beberapa orang juga berkeliling untuk mengecek seluruh rumah yang memungkinkan bisa di masuki oleh hewan yang berbahaya.
"Kak Stev, seandainya ada harimau datang. Nanti tolong ditangkap, Winda ingin mempunyai harimau." Winda menatap Steven dengan wajah memelas.
"Kak Stev Vira juga suka gajah, tangkapin juga ya?" Vira meminta digendong.
Steven menggendong Vira dan Winda, dua wanita cerewet yang sangat cantik.
"Bella juga mau Kak Stev, tapi Bel dinosaurus yang besar." Bella meminta Stev menunduk, langsung naik ke punggungnya untuk minta gendong.
Stev, menatap Billa yang hanya tersenyum, senang melihat ke tiga kakaknya berada dalam gendongan.
"Kamu menginginkan apa gadis cantik? maafkan Om tidak bisa menggendong kamu?" Stev menatap Billa yang tersenyum cantik.
"Iya Om, Billa tidak ingin apapun, cukup melihat harimau Winda, gajah Vira, sekalian dinosaurus. Bil juga sudah besar, berat, kata Bunda anak pintar tidak boleh gendong lagi." Bil tersenyum mengelilingi tiga Kakak perempuannya sambil tertawa.
Steven kagum melihat Billa, dia wanita yang suka mengalah, tidak memiliki rasa iri. Stev masuk membawa tiga gadis dalam gendongan.
"Vira, kamu sudah besar, tapi masih manja?"
__ADS_1
"Vira anak bungsu, jadi wajar saja manja." Vira meminta diturunkan, langsung berlari ke dalam.
Winda memeluk leher Steven, menguap lebar menahan ngantuk.
"Berapa usia kamu Winda?"
"Delapan tahun kak, sama seperti Billa dan Bella, hanya Vira yang sembilan tahun." Mata Winda mulai sayu, memejamkan matanya langsung tidur dalam pelukan Stev.
Di dalam rumah Stev melihat kesibukan keluarga menyiapkan makanan, Vira sudah duduk bersama Billa, Bella juga turun langsung duduk.
"Reva, anak kamu tidur." Stev mendekati Reva yang sedang menyiapkan makan.
"Maaf ya Stev, Winda terbiasa tidur dalam gendongan." Reva langsung mengambil putrinya, memindahkan ke dalam kamar.
Steven tersenyum melangkah untuk menemui Bima, langkah kakinya terhenti saat melihat Wildan duduk dipojokan, bersembunyi sibuk memainkan tabletnya.
Stev duduk di samping Wil, diam melihat Wil mengotak Atik server yang entah tersembunyi di mana, tapi Stev yakin Wildan memiliki server yang dikendalikan.
"Wil, pernah mendengar nama Mikel tidak?"
"Pengusaha yang cukup terkenal, tapi dia kalah hebat dari Papi, mereka pembisnis yang selalu ingin mengincar perusahaan Papi, ingin menghancurkan perusahaan." Wildan menatap Steven yang terdiam.
"Om, Stev sedang menyelidiki apa? kembali secara mendadak." Wildan mematikan tabletnya menatap Stev.
Setelah berbicara dengan Wildan, Steven menemui Bima yang sedang mengobrol soal bisnis bersama Rama.
"Hai Stev, apa kabar kamu?"
"Baik Ram, kamu juga pasti baik memiliki satu anak laki-laki yang mulai remaja, anak perempuan yang cantik." Steven bersalaman dengan Rama.
"Pintar kamu memuji, secepatnya menyusul menikah lebih menyenangkan daripada pacaran."
"Doakan semoga bisa secepatnya, tapi kali ini seperti tidak mudah." Stev tersenyum.
"Jangan menyerah sebelum mencoba Stev, kamu akan tahu hasil dan jawaban setelah mencoba menaklukannya." Rama tersenyum melihat Steven yang tertawa.
"Kamu seperti orang yang memiliki banyak pengalaman Ram, pacaran saja tidak pernah, bisa kamu ceramah."
"Pengalaman aku lebih dari kamu Stev, setidaknya aku memiliki pacar halal, setelah membutuhkan waktu bertahun-tahun bisa bersama, tidak rela sedikitpun berpisah."
__ADS_1
"Aku juga ingin memiliki kekasih halal, saling takut kehilangan, melengkapi. Doakan aku semoga bisa segera memiliki restu orangtuanya." Steve mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu tidak mendapatkan restu Stev? Bima menatap Steven yang tersenyum.
"Tidak tahu kak Bim, tapi dari ibunya tidak merestui, Stev yakin Ibunya punya alasan yang kuat." Steven menatap Bima yang mengangguk kepalanya.
"Stev, apapun keputusan orangtuanya, kamu tunjukkan ketulusan kamu, restu kedua orangtuanya juga restu Allah." Bima mengusap punggung Steven.
Steven tersenyum seandainya Bima tahu, jika wanita yang dia cintai, wanita ingin dia jadikan istri, putri kecilnya.
"Ya Allah kapan aku bisa mengatakannya, jujur meminta restu kak Bim sangat menakutkan." Batin Steven.
Pundak Steven ditepuk oleh Bima, wajah kaget Steven terlihat langsung tersenyum.
"Kamu melamun, ada masalah apa Stev?"
"Tidak ada kak, Stev hanya sedang memikirkan dia, meminta restu menakutkan, apalagi Steven tidak memiliki keluarga."
"Kak Bim kakak kamu, masalah kamu akan menjadi masalah kak Bima, jangan merasa kamu sendiri Stev, apapun yang kamu butuhkan akan kak Bim bantu. Sudah selalu kak Bim katakan status kamu sama dengan Bisma, adik." Bima menegaskan ucapannya.
"Bagaimana jika suatu hari Stev membenci kak Bim, atau sebaliknya?" Steven melihat Bima.
"Steven, aku mungkin melupakan kesalahan di masa lalu, tapi aku tidak akan lupa status kamu. Kita keluarga tidak ada permusuhan diantara kita."
Steven tersenyum, menghela nafasnya. Suara Reva memanggil Bima, langsung cepat Bima melangkah menemui istrinya.
Rama menatap tajam Steven, mata keduanya bertemu. Rama menghela nafas menatap mata Stev yang terlihat jelas.
"Kamu mencintai Windy Stev? jika dugaan aku benar sebaiknya jangan, kalian akan saling menyakiti." Rama menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Kamu benar Ram, wanita yang aku cintai dia, tapi mengapa kamu dan Reva sependapat untuk menentang, setidaknya berikan aku satu alasannya. Aku mengerti satu hal, kak Bim, kamu dan Reva mengetahui sesuatu tentang Windy. Kalian bertiga menyimpan kunci kecelakaan kak Stevie." Tatapan mata Steven tajam.
"Apa yang kamu ingat soal kecelakaan? tidak ada gunanya kamu mengungkap kembali." Rama meminum segelas air mengembalikan ekspresi.
"Bayi, ada seorang bayi bersamaku. Dia pasti Windy."
Rama kaget langsung menatap Steven yang mulai mengungkap masa lalu Bima.
"Bisa kamu berhenti sampai di sini Stev?"
__ADS_1
"Sekarang aku juga sedang melarikan diri agar melupakannya, tapi sulit."
***