MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KISAH VERO


__ADS_3

Steven emosi karena terkena macet, Bagus mengabari Windy langsung dibawa ke kantor polisi. Steven bernafas lega, langsung menuju kantor polisi.


Mobilnya melaju dengan cepat, emosinya masih belum reda, melihat Windy dan Vero berada dalam bahaya.


Sesampainya di kantor polisi, Vero langsung melihat Windy duduk bersama Vero. Stev langsung melangkah ke tempat sel, Bagus langsung berdiri mengejar Steven yang pastinya mengamuk.


Dugaan Bagus benar, Steven langsung melayang pukulan, masuk ke dalam sel menendang dan memukul, puluhan polisi menarik Steven keluar.


"Aku akan pastikan kalian membusuk, aku bongkar semua kejahatan kalian." Steven menendang jeruji besi.


"Stev, tenang!"


"Bagaimana bisa tenang Gus, adik dan wanita yang aku cintai diserang." Steven menarik kerah baju Bagus.


"Sebaiknya kamu temui mereka berdua, Vero juga harus periksa ke rumah sakit."


Steven langsung melangkah pergi melihat Windy yang langsung berdiri, Stev memeluk erat Windy, tangan Windy juga memeluk erat.


"Om, sesak nafas." Windy meringis, Stev melepaskan Windy menatap penuh rasa khawatir.


"Bagian mana yang sakit, kita ke rumah sakit sekarang."


"Lihat baju Windy sobek Om." Windy menunjukkan punggungnya yang terbuka.


Stev membuka kemejanya memasangkan kepada Windy, Stev menatap Vero yang bibirnya pecah, kepalanya juga berdarah.


"Bagaimana keadaan kamu Vero, kita ke rumah sakit sekarang?"


"Tidak Om, kita harus ke pemakaman sekarang, Windy ingin bertemu seseorang."


Windy melangkah keluar, Saka sampai langsung binggung, Bagus meminta mengikuti Windy, Stev dan Vero.


Bagus yang mengendarai mobil, menuju ke pemakaman tempat Angela dan Mikel berada. Windy menghubungi seseorang untuk berjaga, sahabat kepercayaan yang sejak Windy duduk di bangku SMA dia bersahabat antara murid dan guru.


"Win, Om tidak ingin kamu ikut campur." Stev menggenggam tangan Windy.


"Maafkan Windy Om, Windy mengerti ini demi kebaikan Windy, tapi nyawa Windy dan Vero terancam karena tidak mengetahui apapun." Windy memeluk lengan Stev.

__ADS_1


"Vero, bisa kamu ceritakan soal Angela?" Saka menatap Vero yang diam melihat ke arah luar mobil.


Saat kecil Vero hidup berkecukupan, Ayah Ibunya selalu ada waktu, tapi terjadi pertengkaran besar. Vero mengetahui memiliki saudara berbeda Ibu, tapi ternyata Ibunya tidak terima jika harus hidup bersama dengan madunya.


Vero juga mengetahui memiliki seorang kakak laki-laki dan perempuan, kakak perempuan sangat baik, beberapa kali mereka pernah bertemu, karena Vero dan putra kakaknya satu sekolah.


Seorang wanita muda datang menemui Stevie, mereka berbicara cukup lama, terlihat perdebatan, bahkan Stevie menampar kuat. Vero tidak mengerti arti kemarahan kakak tirinya dengan wanita cantik dihadapannya.


Seiring berjalannya waktu, wanita yang Vero temukan bersama Stevie berkunjung ke rumahnya, meminta kedua orangtuanya membunuh Stevie, menyingkirkan seorang bayi yang bisa menjadi penghalang warisan.


Ayahnya menolak karena Stevie putri kandungannya, Ibunya juga menolak, tidak berani karena status Stevie cukup kuat, juga ada bantuan pembisnis muda yang namanya cukup terkenal.


Angela teriak kuat akan membunuh mereka semua, dua hari dari kedatangan Angela, rumah ceri diserang, bersamaan dengan kecelakaan besar terjadi, kedatangan Vero meminta bantuan kakaknya, tapi kecelakaan yang dia lihat, Vero dan Steven dilarikan ke rumah sakit, karena sama-sama pingsan.


Saat pulang dari rumah sakit, keluarga Vero pindah, hidup tenang di Negara luar. Saat berusia 20 tahun Angela kembali muncul, kedatangannya untuk meminta Ayah Vero bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa satu keluarga karena Angela mabuk.


Keluarga Vero kembali menolak, kesalahan terbesar ibunya menerima uang ratusan milyaran dari Angela untuk melarikan diri, Angela menginginkan Vero untuk menjadi bawahannya.


Vero sedang sibuk sekolah, saat pulang kedua orang tuannya tergantung di atas rumah, puluhan orang tertawa menyaksikan kematian orangtuanya. Vero hanya bisa diam melihat Ibunya meminta Vero lari, tapi langkah Vero masuk menatap kedua orangtuanya yang menutup mata di hadapannya.


Mendengar cerita Vero, Stev merangkul mengusap punggung Vero, kepala Vero di sandaran di kaca mobil, suara tangisannya terdengar selama puluhan tahun, Vero berusaha menahan air matanya sejak kepergian orang tuanya, tapi kali ini Vero tidak bisa menahan lagi, air matanya mengalir deras, dadanya sesak.


"Vero, dengarkan kak Stev, kamu anak baik, kamu punya alasan menjadi orang baik." Steven meminta Vero menatapnya.


"Aku membantu Angela menjadi penjahat, membiarkan dia membunuh kedua orangtuaku kak, aku anak yang durhaka, seharusnya hari itu aku memilih mati, tapi bahkan aku tidak meneteskan air mata." Vero menangis dalam pelukan Steven.


"Kita ungkap kejahatan dia, sudah saatnya Angela bertanggung jawab."


"Mikel orang yang kuat, dia memberikan Angela kebebasan membunuh siapapun, kecuali kematian anaknya. Dia telah bersumpah akan membunuh keturunan Bima, setidaknya Bima harus merasakan kehilangan satu putra. Wildan sudah menjadi incaran mereka." Vero menghapus air matanya.


"Jangan mengkhawatirkan Wildan, Papi akan menjaganya dengan baik." Windy menghapus air matanya.


Saka juga menghapus air matanya melihat wajah Vero, awalnya Saka ingin sekali Vero masuk penjara bahkan membusuk karena dia orang yang membuat Saka kehilangan sahabatnya, juga wanita yang dia cintai dalam misi penyelamatan.


"Vero, aku turut sedih dengan cerita hidup kamu, tapi tetap saja kamu pembunuh, seharusnya kamu dihukum."


"Hukum aku jika kamu bisa Saka, jika kamu mencurigai aku akan kematian calon istri kamu, rekan kerja kamu, sayangnya kamu salah. Dia sekarang hidup bahagia menjadi istri ke tiga Mikel." Vero tersenyum sinis.

__ADS_1


"Apa maksud ucapan kamu?"


"Calon istri kamu sengaja berkhianat, dia yang menyembunyikan berton-ton obat terlarang agar kamu gagal, dia juga tidak yang membuat kamu tidak sadarkan diri bahkan hampir mati, sedangkan dia menghilang. Aku orang yang membersihkan semuanya."


"Bohong!"


"Terserah jika tidak percaya, kamu akan melihat dengan mata kamu sendiri."


"Saka Alasan kamu menjadi bajingan karena putus cinta?" Steven menatap wajah Saka.


"Masih mendingan Steven banyak pacar, belum menikah tapi tidak pernah patah hati, daripada kamu tidur dengan banyak wanita, menangis wanita yang kamu pikir mati, tapi berkhianat." Bagus tersenyum sinis.


"Diamlah!" Saka menatap tajam.


Steven tersenyum merangkul Windy, menggenggam tangannya. Jika tidak menepati janji kepada Reva mungkin Stev sudah lama menikah, mungkin juga banyak tidur dengan wanita, tapi perjanjian bodoh yang Reva ucapkan membuat Steven tidak boleh menikah dan berhubungan enak-enak.


Sekarang Steven mensyukuri karena belum menikah bisa bersama gadis kecil cantik, imut mengemaskan. Walaupun cinta beda usia, Stev tidak perduli akan tetap mempertahankan Windy.


"Sekarang sepertinya Steven sudah kehilangan gelar playboy, tapi bucin alias budak cinta." Saka menatap sinis.


"Om cinta Windy tidak?"


"Banget, banget, pakai banget."


"Pilih Vero atau Windy?"


"Vero adik, kamu calon istri, tapi jika dipaksa memilih Om pilih kamu, hubungan aku dan Vero sudah terikat darah, tapi kamu masih harus aku perjuangkan agar menjadi ikatan pernikahan."


"Najis kak." Vero langsung ingin muntah.


"Jijik Stev." Saka membuka jendela langsung meludah.


"Kamu memang playboy Stav, tapi kenapa menjijikan." Bagus menggelengkan kepalanya.


Windy sudah tersenyum melihat Steven yang bisa menggombal.


***

__ADS_1


__ADS_2