MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TIDAK INGAT UMUR


__ADS_3

Keadaan Mansion Steven sedang sepi, Brit masuk membawa puluhan bodyguard, menghancurkan gerbang.


Mengambil balok besi memukul mobil sport yang tersusun di lapangan. Brit teriak kuat memanggil nama Steven, mengumpat kasar meminta untuk keluar.


"Steven!"


"Tuan tidak ada di rumah, dia sedang berada di luar negeri." Pelayan rumah melarang Brit masuk.


Pelayan rumah dipukuli, Brit melangkah masuk melihat ke dalam tersenyum melihat rumah Steven yang luar biasa mewahnya.


Di luar masih terjadi keributan, seluruh penjaga dipukuli, pelayan juga dipukul. Brit duduk santai di ruang tamu, melihat foto di dinding.


Brit tertawa melihat Stevie yang hidupnya sukses, Viana juga sukses, Bima sangat sukses hidup bahagia, sedangkan dirinya kehilangan warisan, bahkan rumah dan seluruh kekayaan hampir habis.


"Vie, seharusnya adik kamu tidak ikut campur, sehingga aku tidak perlu datang ke sini." Brit melempar foto Stevie sekeluarga dengan vas bunga.


Di perjalanan Steven membawa mobil dengan kecepatan tinggi bersama Windy, wajah Windy panik melihat Stev yang sangat dingin.


Masalah kedatangan Britania tidak lain pasti soal uang, sejak Ayah kandung Windy asli masuk penjara seluruh bisnisnya hancur, Brit pasti kehabisan uang, akhirnya dia tahu jika anaknya sudah meninggal.


Menyalahkan Steven yang menjadi penyebab bisnis hancur, sehingga Brit tidak memiliki pemasukan. Sejak hak asuh Windy jatuh kepada Bima, Brit mendapatkan uang dari Ayah kandung Windy, tapi beberapa bulan sudah tidak ada pemasukan, Brit memberontak saat tahu ternyata anaknya sudah meninggal 19 tahun yang lalu.


Mobil masuk ke pekarangan rumah, Stev kaget melihat karyawannya babak belur semua, bahkan yang wanita juga terluka.


Stev langsung melangkah masuk, Windy juga langsung masuk memanggil Stev mobil Vero hancur.


Windy yakin Vero pasti menangis, jika tahu mobil yang sudah dia buat semenarik mungkin, habis uang banyak memodifikasinya.


"Britania keluar." Steven teriak melihat sekitar rumahnya hancur.


Puluhan bodyguard keluar, Brit berdiri ditengah, menghamburkan baju Steven memintanya angkat kaki dari rumah, karena Stev harus ganti rugi atas banyaknya dia kehilangan uang.


"Perempuan sinting, tidak tahu malu. Aku pastikan kamu akan mendapatkan kamar terburuk di dalam penjara." Steven menatap tajam.

__ADS_1


Vero sampai langsung berlari bersama Saka, Ghina dan Bagus. Vero melangkah lemas melihat mobilnya yang sudah remuk, padahal dia sebentar lagi mengikuti balapan.


Mobilnya juga akan ikut serta perlombaan mobil keren yang paling fenomenal, tapi sekarang mobilnya hancur.


"Siapa yang menghancurkan mobil ini?" Vero berusaha tenang menatap puluhan orang di depannya.


"Aku, kamu mau apa?" Seorang bodyguard berbadan besar tertawa melihat Vero.


"Kalian hanya membanggakan otot, beraninya merusak mobil. Sial, mana lagi sedang lepas tugas, berarti aku tidak bisa membuat masalah." Saka mengumpat geram melihat wanita seksi di depannya.


"Keluar." Steven meminta semua orang keluar turun ke bawah, emosi Steven sudah tidak tahan lagi melihat wanita dipukuli.


"Windy menyingkir bersama Ghina dan Saka." Steven melangkah ke tengah lapangan meminta Windy menjauh.


Puluhan bodyguard langsung turun, berlari menyerang. Vero dan Bagus langsung maju ke depan bertarung, Windy juga langsung maju menyerang, Saka kebingungan jika dia ikut membuat masalah bisa kena skor, tapi tetap saja maju bertarung.


Steven melihat foto kakaknya dihamburkan, langsung berlari masuk ke dalam rumah. melihat foto keluarganya pecah semua.


Britania mendorong Steven yang memeluk foto kakaknya, langsung terjatuh di antara foto lainnya.


Steven langsung berdiri, menarik lengan Brit, mencengkeramnya kuat, mengangkat tangannya ingin menampar, tapi tangan Stev tertahan, dia sudah berjanji kepada kakaknya tidak akan pernah meletakan tangannya untuk menyakiti wanita.


"Seandainya kamu bukan wanita, sudah habis kamu."


"Kamu pecundang."


"Tante, jangan Tante pikir melakukan ini bisa membuat aku luluh, kamu wanita tidak tahu malu, seorang ibu yang tidak pantas menjadi ibu. Banyak calon ibu di luar sana yang menanti anak, tapi kamu membuang anak bahkan memperjual belikan. Kamu berhati iblis, datang ke sini hanya untuk mengecoh keamanan, sayangnya Tante berurusan dengan orang licik, sama seperti Tante. Kalian tidak akan pernah berhasil mendapatkan apapun." Steven menarik Brit, mendorongnya sampai terguling ke bawah.


"Seluruh bukti kejahatan tidak tersimpan di rumah ini, tidak juga di apartemen, dia ada ditempat lain, seluruh harta yang Tante cari sudah aku sumbangan ke 50 panti asuhan, 50 panti jompo, juga pembangunan masjid, tidak ada yang tersisa lagi." Steven tertawa melihat wanita licik yang gila harta.


Vero memukuli membabi buta, tidak terima mobilnya hancur, beberapa orang babak belur dipukuli. Saka lebih lagi sudah lama tidak bertarung membuatnya gatal ingin membanting orang.


Windy juga berhasil menjatuhkan beberapa orang berbadan besar, tersenyum melihat Steven yang tidak jadi memukul Brit.

__ADS_1


Britania berdiri masih berdebat dengan Steven, Vero mengambil pupuk tanaman, menyiramkan kepada Britania, memasukkan kepalanya ke dalam karung pupuk organik yang sudah habis.


"Kamu sama dengan kotoran, tapi sayang bukan membuat subur, tapi membuat busuk lingkungan." Vero mengacak kepala Brit.


Suara teriakan Britania terdengar, melepaskan karung langsung menampar Vero, tangan Vero balik menampar sampai Brit terjatuh.


"Aku bukan kak Stev yang tidak bisa memukul wanita, tidak peduli kamu tua, muda, sekalipun nenek-nenek aku bisa memukul." Vero meludah.


"Kamu jangan lupa siapa ibu kamu, dia orang yang menghancurkan kebahagiaan Steven, sekarang kamu juga menjadi beban Steven, anak sama ibu sama saja." Britania berdiri meludahi Vero.


Tangan Vero langsung mengangkat ingin melayangkan pukulan, Windy menahan meminta Vero mengabaikan, karena Vero tidak seperti yang dia katakan, Steven menyayangi Vero sebagai keluarga.


"Bunda, apa yang Bunda inginkan?" Windy menatap Brit yang sudah berantakan.


"Harta warisan, kenapa harus putriku yang mati, seharusnya kamu? Beraninya kamu hidup menggunakan nama dan status anakku." Brit mencengkram rahang Windy.


"Seharusnya Bunda malu dengan umur, taubatlah Bunda, sudahi dendam yang tidak berkesudahan. Windy sudah memaafkan Bunda, berharap Bunda bisa berubah setidaknya demi Tian."


"Tian, Bisma dan Jumi menguasai dia, tidak memberikan aku sedikitpun kesempatan untuk menemuinya."


"Bunda menemuinya dengan tujuan uang, uang dan uang." Windy memegang tangan Brit, cengkraman mulai menyakitkan.


"Lawan kamu bukan dia Brit, tapi aku." Reva muncul bersama Bima.


"Ohhh, ternyata kalian juga ada di sini. Menjual Windy tinggal bersama lelaki, ingin menambah kekayaan lagi.


Reva langsung melemparkan ponselnya, kepala Brit langsung berdarah. Steven menghela nafasnya megambil ponsel Reva yang sudah pecah lagi, padahal belum lama ganti handphone.


"Jaga mulut kamu, jika tidak ingin berdarah."


"Bima kamu harus bertanggung jawab atas kematian Windy."


"Kepergian Windy karena kecelakaan, bukan salah Steven ataupun Windy, juga masalah warisan kamu selesai dengan orang yang kamu buat perjanjian." Bima menggelengkan kepalanya melihat Britania yang sudah tua, tapi tidak ingat umur.

__ADS_1


***


__ADS_2