
Hari ini jadwal menjemput Ammar keluar dari rumah sakit, Viana, Rama , Reva, Bima, Jum, juga Bisma bersemangat menjemput setelah berbulan-bulan dalam masa pemulihan.
Saat pintu di buka perlahan, semuanya terdiam melihat adegan ciuman Ammar dengan seorang wanita yang tidak terlihat karena tubuhnya di tutup oleh tingginya tubuh Ammar. Rama langsung melangkah keluar, Bima juga ikut mundur bersama dengan Jum. Masih tersisa Reva, Viana dan Bisma yang senyum menikmati keromantisan di depan mereka.
Reva mengigit bibir bawahnya memukul pelan Viana yang juga sudah senyum-senyum sendiri, hanya Bisma yang terdiam menunggu Ammar menyelesaikan adegannya.
"Wooyy, lama banget jangan bilang lanjut adegan meremas terus tiduran di ranjang, ingat ini rumah sakit."
Ucapan Bisma menghentikan Ammar yang langsung menoleh kearah suara, Viana dan Reva hanya menahan tawa penasaran dengan sosok wanita di balik tubuh Ammar.
Tanpa pikir panjang Viana mendekati Ammar dan menyingkirkan tubuh Ammar. Viana melotot melihat sosok yang sangat dia kenali. Reva lebih terkejut lagi sahabatnya main api dengan Om-om.
"Septi!" Viana dan Reva teriak bersamaan.
"Jadi kalian berdua menjalin hubungan," Reva langsung menghubungi Ivan soal Septi yang ternyata Ivan sudah lebih dulu tahu hubungan dengan Ammar hanya Rama dan Reva yang belum tahu.
Reva menarik tangan Septi menjauhi Ammar, Rama dan Bima juga Jum yang di luar juga ikut masuk.
"Kualat Lo ya Sep, suka menghina gue suka Om-om, Lo pikir Ammar bocah." Reva kesal karena dia telat tahu hubungan Septi.
"Ya maaf Rev, gue belum punya waktu yang tepat."
Reva kesal melihat Ammar juga Septi yang berciuman, dia juga yang berjuang selama 5tahun belum bisa merasakan ciuman, baru nyentuh bibir sudah di bilang tidak punya harga diri.
"Om Bima, Septi sama Ammar juga ciuman biasa saja, enak-enak, kenapa Reva di bilang murahan." Reva memukul dada Bima kesal.
Rama langsung menutup mulut Reva agar diam tidak bicara sembarangan, jadi perempuan jangan terlalu bocor.
"Jaga mulut kamu Reva, setiap orang punya cara sendiri. Dan kamu Septi kenapa tidak pernah memberitahu kita."
"Belum ada waktu! keadaan om Ammar juga baru pulih, dan maaf soal tadi."
"Kalian para perempuan aneh, Viana pengen pacaran dan bertengkar, Reva gila pengen merasakan ciuman, Septi pacaran diam-diam hanya satu wanita yang normal. Jum memang yang terbaik."
"Siapa bilang Jum tidak aneh," Viana dan Reva saling tatap dan tersenyum, Jum menatap heran.
"Kenapa Jum!?"
Reva berpikir keras mencari keburukan Jum, Viana apalagi berusaha mencari kejelekan Jum karena selama ini Jum memang polos dan terlihat tenang tidak banyak tingkah.
"Kak Jum cemburu dalam diam, kemarin bertemu Septi lagi berantem sama salah satu teman barunya mami kak Vi, yang bilang om Bisma lebih cocok dengan mami Sisil, Jum tidak terima terjadilah jambak-menjambak. Kalau tidak percaya tanya ke Mami.
Viana dan Reva terdiam tidak percaya seorang Jum bertengkar karena lelaki, padahal penggemarnya banyak dan terlihat cuek.
__ADS_1
"Jum hanya mempertahankan yang sudah menjadi milik Jum." Jum pergi meninggalkan ruangan menahan malu melihat wajah Bisma yang sudah tersenyum.
"Maksudnya jadi milik!" Viana menatap Bisma, Reva juga binggung dan cepat mengejar Jum yang sudah lari ke luar.
***
Tatapan kepo dari Reva dan Viana mengintrogasi Jum dan Septi. Kalau soal Jum Reva sudah bisa memprediksi dari jauh hari soal keseriusan Bisma, tapi Septi dan Ammar tidak biasannya Reva menjadi orang terakhir yang tahu.
"Sejak kapan Sep?" Reva menatap tajam.
"Sudah lama! sejak putus terakhir yang aku curhat."
"Kenapa tidak pernah cerita, kamu tahu siapa Ammar?"
"Tapi aku mencintai dia Reva! seperti kamu yang mencintai Bima."
"Tau ahhh!" Reva kesal melihat sahabatnya yang tertutup.
Karena melihat keraguan Reva Viana menjelaskan soal Ammar saat pertama bertemu dengannya, karena membalas kebaikan Viana, Ammar menerima tawaran untuk menjadi anggota kepolisian. Setelah bertahun-tahun Ammar mendapatkan gelar dan menjalankan banyak misi, tapi dari kejauhan Ammar selalu memantau viana. Dan tetap setia kepada Viana dan Rama.
"Tapi dia playboy!" Reva menatap Vi.
"Kamu benar Va, Ammar sering berhubungan dengan banyak wanita."
"Bisma hanya gonta-ganti pacar tapi tidak berhubungan, sedangkan Ammar."
"Reva benar Septi, satu hal yang tidak bisa dihentikan dari Ammar mencari kepuasan birahi."
"Tapi aku cinta!"
"Cinta bisa menggubah segalanya, jika kak Ammar memang mencintai Septi dia akan meninggalkan kebiasaannya, tapi kak Septi juga harus menerima masa lalu Ammar." Jum tersenyum membuat yang menatapnya.
"Jum ada benarnya Reva! tidak salah memberikan Ammar kesempatan."
Reva hanya dia menghubungi Ivan dan memarahinya soal Septi, Ivan hanya tertawa mengatakan jika Ammar tulus mencintai Septi. Jika soal gonta-ganti teman tidur itu hanya kebohongan, Ammar pernah dijebak temannya tidur dengan wanita malam tapi karena marah Ammar terus merusak namanya.
"Dasar laki-laki memang gila!" Reva memukul handphonenya.
"Berarti Vi salah menilai Ammar selama ini, Reva yang tadinya mancing menyudutkan Ammar."
"Mana Reva tahu! yang publik katakan seperti itu. Reva ikut saja."
"Va maaf ya!"
__ADS_1
"Selama kamu bahagia, aku juga bahagia Sep, tapi kalau ada masalah harus cerita. Jangan diam dan dipendam sendiri."
Reva dan Septi berpelukan, semoga saja benar soal Ammar yang hanya rumor. Jika kenyataannya benar, Septi harus menyiapkan hati yang kuat.
"Sekarang kamu Jum, ayo jawab."
"Tidak ada yang perlu Jum jawab, tanya Bisma saja ya. Jum binggung."
Reva dan Viana hanya menghela nafas, jika Jum sudah diam tidak punya cara meminta bicara.
***
Semua pria sedang memperhatikan Rama yang sibuk bicara dengan dokter soal kemungkinan Viana hamil, saat melihat Vi Rama langsung mengajaknya periksa dan yang lainnya menunggu.
"Rama hamil Ayy?" Reva mendekati Bima yang sedang membaca email.
"Viana Reva! dari mana Rama mau mengeluarkan bayi." Bima menggelengkan sedangkan Reva sudah cekikikan tertawa.
Lama mereka semua menunggu, sampai bibir Reva hampir jatuh karena cemberut dan banyak mengeluh.
Wajah lelah menunggu terlihat dari tatapan ke-tiga wanita yang sedari tadi, berada di depan ruangan menunggu dengan rasa penasaran.
"Hasilnya kak Vi." Jum tersenyum penuh harap.
"Kamu jawab dulu pertanyaan kami tadi Jum,"
"Iya! mas Bisma pergi ke kampung menemui ibu sama bapak dan meminta izin serius ke Jum. Keluarga Jum setuju, masih menunggu keputusan Jum. Baru kami akan menikah di desa."
Bima menatap Bisma, yang hanya tersenyum menatapnya. Bisma punya hutang penjelasan kepada kakaknya.
Semuanya diam tidak menyangka langkah Bisma lebih cepat dari Bima. Viana juga mengatakan jika dia positif, Jum memeluk Vi dan mengucap selamat, Septi juga memeluk Rama yang langsung di Jambak oleh Vi, padahal Septi hanya bercanda. Reva dengan nada lemas memberikan selamat ke Rama dan Vi.
"Reva! menikah bukan karena siapa yang cepat! Allah sudah menentukan semuanya. Sabar menunggu kak Bima, dia juga sudah bicara ke orangtua kamu. Kak Bima juga Resign karena mau fokus ke bisnisnya dan berumahtangga." Rama memberikan Reva semangat.
Reva langsung tersenyum, dia tahu Rama tidak pernah bohong berarti dia juga akan segera menikah dengan om Duren.
Bima menatap Reva yang masih terlihat sedih, karena Jum dan Bisma mendahuluinya. Bima hanya bisa menghela nafas dan berusaha mempercepat persidangan dengan Brit agar mendapatkan hak asuh Windy.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
__ADS_1