
Di restoran Reva duduk manis, memperhatikan Septi yang berjalan aneh. Mata Reva memicing mencari jawaban.
"Kenapa tiba-tiba ke sini?" Septi memberikan minuman kesukaan Reva.
"Kaki kamu kenapa? jalannya mengangkang."
"Jatuh tadi pagi, pinggang aku rada sakit. Jalan biasa aja." Septi berdiri berjalan mondar-mandir di depan Reva menunjukkan jalannya.
"Yakin bukan karena kelelahan bercinta!" Reva bicara dengan nada tinggi, membuat gebrakan pelanggan menoleh. Septi cepat menutup mulut Reva.
"Astaghfirullah Al azim Reva, mulut kamu tidak pernah disaring dulu dan lihat sekitar." Septi kesal sekali dengan pertanyaan bodoh Reva.
"Benarkan!” Reva masih nyolot.
"Gila kamu Va! syukurnya kita teman lama jika baru pasti aku sudah tersinggung. Aku akan menjaga kesucian hanya untuk suami, jadi hilangkan pikiran kotor kamu."
"Yakin!"
"Demi Allah Reva! hanya sekedar ciuman. Lagian enak kamu pasti belum pernah coba, kerjaan kamu hanya nonton." Septi menutup mulutnya sambil tertawa, bibir Reva langsung manyun.
"Mau ikut perawatan tidak, hari ini ada kak Vi sama Jum."
"Mau!"
Selesai berdebat soal jalan Septi yang nampak menahan sakit, akhirnya berangkat juga ke mall untuk lanjut mencari hiburan dengan bertemu para makhluk astral.
***
Saat tiba Reva dan Septi masih harus menunggu Viana yang masih diperjalanan karena baru pulang dari VCLO, Reva memang tidak datang ke kantor tanpa alasan. Dari kejauhan Viana dan Jum sudah terlihat dan langsung mendekati Reva dan Septi yang sudah tersenyum.
"Tumben Septi mau gabung, biasanya tiap hari bau bawang," tawa Viana mengejek Septi yang sudah cemberut.
"Jahat banget kak Vi! Septi bukan main bawang."
"Memang bukan bawang kak! tapi punyanya Ammar yang dia mainkan." Reva melangkah masuk menghindari pukulan Septi.
"Punya Ammar apa kak Vi, yang bisa Septi mainkan. Dia seorang koki Ammar polisi, satu main pisau satu main senjata" Jum masih berpikir keras.
"Lebih tajam dari pisau, tapi bisa bikin anak."
"Serem banget!" Jum mengikuti Viana masuk ke dalam mencari Reva dan Septi.
Mereka melakukan perawatan kecantikan seperti biasanya, masih terjadi perdebatan soal Jum yang penasaran dengan mainan Septi. Reva dan Viana hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Jum, tapi tidak ingin meladeninya kasihan nanti kepolosan Jum ternodai oleh otak gesrek Viana dan Reva. selesai perawatan lanjut makan.
Selama makan Viana dan Reva masih sering bertengkar, Septi hanya geleng-geleng pusing.
__ADS_1
"Kak Jum mereka berdua memang sering bertengkar soal makan."
"bukan bertengkar tapi rebutan, nanti anak mereka akan jadi geng kayak Mak nya mirip kucing dan tikus." Jum tersenyum, karena sudah biasa melihat perdebatan Reva dan Viana.
"Kucing, tikus kak Jum anjingnya!"
"Tidak mau!"
"Terus! masa iya kucing, tikus dan monyet." Septi tertawa Jum memang polos kebangetan.
"Rakus banget Lo ka Vi," Reva mengambil stick kentangnya langsung di sembunyikan.
"Wajar yang makan dua orang, jadi harus banyak, sabar ya nak aunty Reva memang pelit." Viana mengelus perutnya.
"Ya udah makan punya Jum kak Vi, ini rasanya juga enak." Jum menyerahkan sosis bakar.
"Tidak mau! gue pengen banget memegang kumis itu." Viana manyun menunjuk seorang bapak yang terlihat sangar memegang kumisnya yang lebat.
Septi mendelik ngeri, Reva menganga hanya Jum yang tersenyum dan melangkah mendekati pria yang berbadan besar.
Jum mengutarakan keinginan Viana karena sedang hamil, bapak itu memandang ke arah Vi dan menatap tajam.
"Kamu boleh pegang kumis saya, tapi boleh saya foto sama si cantik ini." Bapak memandangi Reva yang sibuk dengan ponselnya, pura-pura tidak mendengar.
Septi menendang kaki Reva, yang langsung melotot dan menatap Viana tajam marah dalam hati. Dengan terpaksa Reva berfoto manyun, Septi sibuk membuat video di kirimkan ke Rama, setelah Reva bapak juga ingin berfoto dengan Jum. Membuat Septi semakin sakit perut menahan tawa. Selesai foto Viana memegang kumis dan menariknya kuat membuat suara teriakan.
"Awwwwww Sakitt!" Kumisnya rontok karena kuatnya tarikan Vi.
Viana berlari keluar karena kaget, Reva juga lari langkah seribu begitu juga Jum yang langsung mundur menjauh. Septi tertawa terpingkal, ikut pergi meninggalkan pria yang masih meringis.
Septi terus tertawa sambil menonton ulang video konyol yang baru dia dapatkan, cepat Septi mengirimkan ke Rama, Bima juga Bisma
Masih mengigat pria kumis Reva merasa geli, Jum juga jadi takut dan panik, sedangkan Viana puas dengan melihat kumis di tangannya.
Mereka lanjut lagi, membeli beberapa makanan untuk cemilan, sekali cuci mata. Reva melihat Chintya tapi hanya memalingkan wajahnya.
"Tya, Lo ngapain? menyusahkan diri sendiri." Sapa Viana yang kasihan melihat Tya kesulitan membawa belanjaan.
"Mau di bantu tidak?"
"Tidak Vi, sebentar lagi selesai. Aku hanya sulit berjalan karena sering kesemutan sisanya aktivitas aku normal."
"Kesemutan mata Lo soek, lihat kaki kamu mulai merah dan gemetar, pasti kamu baru bisa berjalan seharunya di kursi roda tapi memaksakan diri." Ucap Reva ketus yang mendekati Vi.
"Maaf!" Tya menutupi kakinya dengan rok panjang yang dia gunakan.
__ADS_1
"Lo bisa tidak jangan menyusahkan sahabat gue Ivan, orang baik kenapa hidupnya sial harus merawat wanita cacat kayak Lo." Ketus Septi dengan menghela nafas.
Tya meneteskan air matanya mendengar ucapan Septi yang sepenuhnya benar. Tya meminta maaf dan berusaha berjalan mendorong keranjangnya.
Septi mengambil alih keranjang Tya dan mengantikanya untuk mencari kebutuhan, Jum dengan senang hati membantu Septi.
"Mbak Septi baik, walaupun sangat galak."
"Kak Ammar bilang, setiap orang punya kesempatan Jum. Mungkin sudah saatnya melupakan masa lalu dan memberikan Tya kesempatan."
"Subhanallah, mas Ammar memberikan contoh yang baik, dan hati mbak Septi juga memang baik.
"Kak Jum selain polos, juga bisa menjadi teman berbagi. Tidak heran Reva dan kak Vi nyaman bersama kak Jum.
Selesai belanja, semua belanjaan Chintya di masukan ke dalam mobil Septi yang membuat Tya binggung.
"Masuk mobil sekarang, gue antar pulang sekalian biar gue yang masak."
Viana dan Jum tersenyum, Reva juga menahan senyumnya. Dia bangga memiliki sahabat yang hatinya sangat baik, suatu hadiah indah memiliki Rama, Ivan, juga Septi sebagai sahabat sejatinya.
Dua mobil berjalan beriringan, memasuki kawasan apartemen elit milik Ivan hasil kerja kerasnya selama ini.
"Kak Vi, hati Septi sangat baik!"
"Iya Jum, salut gue sama persahabatan suami gue yang mempunyai teman setia."
"Iya kak, Jum juga beruntung dekat dengan kak Vi dan Reva walaupun tidak normal. Apalagi Reva yang otaknya tipis." Tawa Jum dan Vi terdengar mengigat moments konyol Reva yang selalu jadi buli.
"Jum, awal gue ketemu Reva hasil cakar-cakaran. baju gue sobek kayak gelandangan, rambutnya Reva sudah gimbal. Lucu banget kalau di ingat."
"Lucu sebagai kenangan ya kak Vi."
Di dalam mobil Reva hanya diam, Septi sibuk menjawab telpon dari Ammar setelah telponan langsung senyum manis.
"Maafkan aku Septi, dan maaf juga Reva hanya maaf yang bisa aku katakan."
"Ya, tapi berjanjilah akan setia mendampingi Ivan, dia seperti Kakak bagi aku dan Reva."
"Iya aku janji!"
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
***
__ADS_1