MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 INGATAN KEMBALI


__ADS_3

Sudah tengah malam Stev masih belum bisa tidur, sekilas Stev melihat wajah Vero yang sudah mengorok. handphone Stev sudah diputar di meja menunggu seseorang menghubunginya.


Satu-persatu pesan masuk, Stev tidak langsung membacanya. Menunggu sesaat dan mengatur nafasnya agar tidak terlalu kaget.


Pesan dibuka, Bagus mengirimkan kasus soal kecelakaan yang sebenernya sudah disembunyikan, kepolisian yang mengurus meninggal saat dalam penyelidikan, barang bukti seluruhnya lenyap.


Steven terdiam jika Bima yang menyembunyikan kebenaran, tidak mungkin ada korban. Sebenarnya siapa yang membunuh.


Terlihat juga hasil laporan dari rumah sakit, 4 korban jiwa satu luka berat. Stev membuka keterangan tentang dirinya yang mengalami amnesia Retrograde, tidak bisa mengingat kejadian. Steven tidak bisa dijadikan saksi.


Korban yang meninggal sudah jelas tiga keluarga Steven, satu lagi bayi baru berusia 3 bulan. Tangan Steven gemetaran, dugaannya benar bayi yang meninggal Windy Bramasta.


Stev, menutup ponselnya langsung melangkah ke atas ranjang. Memikirkan soal Windy yang meninggal, jika Windy meninggal saat kecelakaan, lalu siapa wanita yang ada di sini.


Steven langsung melangkah keluar, Vero terbangun melihat kegelisahan Steven. Melihat kakaknya keluar kamar, Vero ingin mengejar, tapi tidak ingin ikut campur.


Langkah kaki Steven keluar dari rumah, pergi meninggalkan rumah, berjalan kaki keluar dari perumahan saat tengah malam.


"Aku ingin mengingat ingatan yang aku lupakan, agar aku dan Windy tidak memiliki beban lagi menjalani hubungan kami." Stev teriak kuat, melihat langit malam.


Stev duduk di bangku taman, menundukkan kepalanya memejamkan matanya. Cukup lama Stev berdiam, hujan turun dengan deras, tidak mengusik ketenangan Steven.


Bayangan keluarga Steven muncul, mobil melaju ingin ke bandara, terlihat kakaknya menggendong seorang bayi sambil tersenyum, Steven melihat bayi kecil yang duduk di depannya.


Tangan Steve menyentuh wajah mungilnya, Stev juga mengingat kakaknya menyebut nama Windy. Keponakan Steven bertanya jika Windy adiknya walaupun beda Ibu dan Ayah.


Terlihat juga kakak iparnya yang bahagia melihat Windy, Stevie mengatakan jika Windy putri sahabatnya.


"Stev, kamu jaga Windy saat besar nanti. Dia sudah terluka sejak kecil, Ibunya tidak menginginkannya, Ayah kandungnya orang yang berbahaya." Stevie menatap Steven.

__ADS_1


"Jadi dia tidak memiliki orang tua kak?"


"Ada Stev, dia sahabat kak Stevie, orang yang akan membesarkan Windy."


"Siapa kak?"


"Bima, dia pria baik dan penuh kasih sayang. Kamu harus berhubungan baik dengan Bima, dia sudah seperti kakak bagi kak Stevie. Kasus terakhir yang kakak hadapi perebutan hak asuh Windy, antara Bima dan Mikel. Dua orang hebat yang memiliki kekuasaan." Stevie mencium Windy.


"Siapa Mikel?" Steven menatap kakaknya yang tersenyum sinis.


"Ayah kandung Windy, dia lelaki yang menghamili Brit tapi tidak bertanggung jawab, Brit menikahi Bima dengan ancaman akan membunuh bayi dalam kandungannya, kebaikan Bima yang menentang keluarganya dibalas luka oleh Brit yang memilih meninggalkan Bima dan Windy karena harta. Dia menjual Windy kepada Mikel, melarikan diri dengan banyak uang, Bima yang menyembunyikan kekayaan dari Brit yang gila harta, terpaksa mengungkap dirinya demi harus melawan Mikel." Stevie menghela nafas.


Steven terdiam, menatap Windy kecil yang sedang tertidur cantik. Tangan Steven juga memeluk keponakannya yang sedang tidur.


Kepala Steven terangkat, air matanya mengalir melihat Vero memayunginya. Vero mengusap air mata Steven yang terus mengucapkan nama kakaknya dan Windy.


"Kak maaf jika Vero lancang. Jika kebenaran menyakitkan berhenti mengungkapnya kak. Vero takut keadaan semakin memburuk."


"Demi kenyamanan hubungan aku dan Windy, kebenaran harus diungkap."


"Vero tidak ingin kehilangan kak Stev, maafkan Vero jika egois, tapi tolong pentingkan juga keselamatan kak Stev."


"Baiklah, aku tidak akan terluka Vero, jangan terlalu khawatir." Stev menepuk lengan Vero.


"Kak bukan aku, Mami atau Papi yang menyebabkan kecelakaan kak Stevie. Saat aku mengakui penyebab kecelakaan semuanya bohong untuk mengecoh kak Steven, aku dibayar untuk mengalihkan pencarian kak Stev." Vero duduk di samping Steven sambil memegang payung.


"Apa yang kamu ingat soal kecelakaan kak Stevie?"


Vero menatap kakaknya, menceritakan dulu seorang wanita cantik dan seksi datang ke rumah, meminta Maminya untuk menyingkirkan Stevie, tapi Maminya menolak, meminta Stevie dan Steven dilepaskan, membiarkan keduanya hidup bahagia.

__ADS_1


Papi juga siap sebagai gantinya agar jangan ada yang menyakiti anaknya, Vero tidak mendengar jelas rencananya yang memang ingin membuat kecelakaan.


Vero yang baru berusia 5 tahun berlari dari rumah untuk menemui kedua kakaknya, meminta tolong menyelamatkan kedua orangtuanya.


Saat tiba di Mansion Stevie sekeluarga melaju pergi, Vero sudah mengejar mobil berteriak meminta berhenti, tapi sayang tidak ada yang mendengarnya. Vero kecil duduk di depan gerbang Mansion Stevero melipatkan kedua tangannya berdoa untuk keselamatan seluruh keluarganya.


Supir Stevie melaporkan kepada Stevie soal Vero, langsing meminta supir untuk mengantar Vero pulang. Di jalan pulang Vero melihat kecelakaan mobil yang mengakibatkan jalanan macet.


Vero berlari keluar, maju ke depan untuk melihat kecelakaan, mata Vero melihat kobaran api yang sangat besar, juga melihat kakaknya teriak kuat, melihat darah di tubuh Steven membuat kepala Stevero sakit, langsung jatuh pingsan bersama dengan Steven yang juga jatuh pingsan.


Saat sadar Vero memutuskan menjadi orang jahat, jika dia menjadi orang baik akan berdarah seperti kedua kakaknya. Kecelakaan Stevie bukan hanya merusak mental Steven, tapi Vero juga yang melihat banyaknya darah.


Vero menangis sesenggukan mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia bisa memutuskan menjadi penjahat.


"Maafkan Vero, seharusnya berlari lebih kencang, teriak lebih kuat, pasti kak Stevie baik-baik saja." Vero mengusap matanya, Steven merangkulnya erat.


"Bukan salah kamu Vero, maaf jika dulu kak Stev menuduh kamu yang menyebabkan kecelakaan, karena kehadiran kamu di Mansion."


"Maafkan Vero dan Mami yang sudah merusak kebahagiaan kak Steven, hidup Papi dan Mami ada ditangan seseorang sampai mereka meninggal, Vero tidak tahu siapa orang di belakang mereka."


"Vero kamu melihat bayi kecil yang terlempar bersama kak Steven."


"Bayi, hanya ada balutan kain bersama darah ...." Vero langsung menatap Steven, jadi darah yang mengalir bersama darah Steven milik bayi kecil.


Steven menghela nafasnya, jika Windy asli sudah meninggal, jadi siapa Windy yang dibesarkan oleh Bima.


Mikel menjadi kunci Steven untuk menemukan kebenaran bayi yang meninggal, mungkin berat bagi Windy menerima jika dia bukan Windy sebenarnya.


"Jika Windy asli meninggal, berarti Windy bukan anak Mikel dan Brit. Jadi dia anak siapa?" Batin Steven.

__ADS_1


Hujan semakin lebat, Vero meminta Steven pulang bersamanya. Jangan sampai keluarga Bima mengetahui jika mereka keluar rumah.


***


__ADS_2