
Reva masih dalam kebinggungan mengurus Thea, menolongnya atau menyerahkan kepada Bima. Jika Reva tahu Steven menjadi tanggungan Bima tidak mungkin dia menyelamatkan Thea dari kejaran polisi, tapi melihat keadaan Thea yang hampir stres Reva lebih tidak tega lagi. Adiknya sudah gila, ditambah lagi kakaknya, bisa gila semua keluarganya.
"Sudahlah serahkan saja daripada ambil resiko, Bima pasti bisa mengurus semuanya." Reva langsung menghubungi Bima, menceritakan semuanya yang dia lakukan.
Awalnya Bima kaget, tapi memaklumi keputusan Reva. Bima juga menceritakan jika Steven sudah lima tahun menjadi tanggungan Bima, karena Stevie sahabatnya jadi Steven seperti adiknya sendiri. Pertemuan mereka di pantai bukan tanpa sengaja karena Steven penasaran dengan sosok Reva.
Akhirnya Reva bernafas lega, Steven aman, Stevie juga, Thea, Brit. Reva hanya perlu fokus untuk pernikahannya.
Ponsel Reva berbunyi, suara teriak Viana terdengar membuat Reva menjauhkan ponselnya. Vi mengabarkan jika Jum sudah kembali, sekarang berada di dekat rumah Viana. Dengan senyuman manis, Reva putar arah.
Mendengar suara Jum menjadi obat stres karena Jum sangat polos, jika sudah bertemu hanya tawa yang terdengar. Selama seminggu full tidak bertemu akhirnya tri istri bertemu tapi sayang hanya Reva yang belum memiliki suami.
Mobil Reva tiba langsung melangkah masuk bersama Viana, mereka berdiri di depan pintu sambil berpikir.
"Kak Vi, punya hutang apa dengan Stevie?" Reva mendadak memikirkan soal keinginan Viana bertemu Stevie.
"Permintaan maaf, aku pernah menuduh dan menyakiti Stevie karena rasa cemburu. Tapi ternyata yang merebut Bima bukan Stevie tapi Brit."
"Astaga kak, Reva pikir suatu yang penting. Reva pikir juga Stevie orang yang berbahaya tapi ternyata hanya ucapan maaf."
"ambil pelajarannya Reva, kak Vi hanya memberikan teka-teki juga peringatan agar kamu lebih berhati-hati dari orang baik yang ternyata pura-pura baik. Sosok Stevie mengajari aku untuk mencari bukti dulu baru menuduh, musuh di samping tidak terlihat dan menyalahkan orang jauh."
Reva tersenyum lalu menggagukan kepalanya, langkah kaki keduanya memasuki rumah baru Jum dan Bisma.
Perlahan Reva menaiki tangga, mencari kamar Jum dari sekian banyaknya kamar. Tidak ada suara ataupun sosok Jum dan Bisma.
Pintu terbuka, Reva mengintip matanya langsung melotot, mulutnya menganga. Baju berhamburan di lantai, Jum masih tidur dengan di balut selimut tebal, pelan Reva melangkah mendekati ranjang mencubit pelan pipi Jum.
"Mas! Jum masih capek. Jangan ganggu."
Reva berkali-kali mencubit Jum, sampai matanya terbuka dan langsung melotot ke arah Reva, membuat Reva tertawa terbahak-bahak.
"Reva!" Jum duduk sambil bersandar di ranjang. Tubuhnya masih dibalut selimut tebal.
"Ayo cepat bangun kak Jum. Ada yang harus Reva dan kak Vi bicarakan."
Jum menghela nafasnya, Jum turun langsung terdiam menahan sakit. Bahkan seluruh badannya sakit, rintihan Jum tertahan tidak mau Reva kepo.
Jum memungut bajunya dan berjalan menggunakan selimut ke arah kamar mandi, Reva langsung melangkah keluar tapi terhenti saat melihat bercak darah di sprai putih atas ranjang.
__ADS_1
Reva langsung berlari membanting pintu membuat Jum kaget mendengar suara pintu, Reva menarik tangan Viana keluar yang baru saja ingin naik ke tangga atas.
"Reva! kamu kerasukan ya?!" Viana melepaskan tangannya yang digandeng Reva.
"Kita datang di waktu yang tidak tepat kak Vi."
"Ya alasannya."
"Kak Jum, baru malam pertama!" Reva langsung melangkah masuk ke mobilnya, Vi juga menyusul masuk."
Reva menjalankan mobilnya, dia masih mengingat teguran Bima soal dirinya yang suka bicara sembarangan, sekarang bukan cuman bicara sembarangan tapi melihat darah perawan secara langsung.
"Kamu melihat darah perawan Jum?" Viana masih belum percaya, satu minggu baru bisa masuk.
"Iya dulu melihat kak Vi Rama sekarang Jum Bisma." Reva geleng-geleng kepala.
"Darah haid!"
"Masa iya darah haid baju berhamburan, Jum juga berjalan mirip kak Vi dulu." Viana langsung menjitak kepala Reva kuat membuatnya meringis.
"Reva kamu masih perawan, tidak heran Bima sering marah dengan mulut kamu yang tidak ada rem nya."
"lagian Reva tidak sengaja, pagi ini pikiran Reva lagi normal tapi langsung kotor ulah Jum yang malam pertama."
"Kak Vi, darah perawan tidak seperti yang orang katakan bisa bercak di seprai, Reva pikir setidaknya sebanyak haid."
"Yang kamu lihat tadi!"
"sedikit, palingan seperti bekas kita luka terus bercaknya terkena di seprai.
"dosa Reva memikirkannya, nanti kamu bisa tahu sendiri."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju VCLO, Reva dan Viana akan mengadakan rapat peluncuran produk terbaru Reva.
Di rumah Jum keluar mencari Reva tapi tidak terlihat, hanya ada beberapa makanan sarapan dari Viana yang dia bawa dari rumah.
Suara Bisma tertawa bersama seseorang yang Jum sangat kenal. Tian berlari masuk ke dalam pelukan Jum sambil menggendong tas ranselnya.
"anak kesayangan Bunda pulang, hari ini kita belanja keperluan kamu ya nak."
__ADS_1
Tian hanya menggagukan kepalanya, berlari melihat seisi rumah. Bisma menyerahkan kantong sarapan mereka bertiga.
"Sayang ini ada juga sarapan dari kak Vi, tadi Reva juga datang."
"Dari mana kamu tahu dari Vi?"
"ini tulisan Ravi,"
"tidak masalah sisanya bisa-bisa kamu, aku mandi dulu." Bisma mencium bibir Jum sekilas lalu berlalu pergi.
Jum membawa makanan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ketiganya sarapan bersama, Jum sudah membuat daftar untuk kepergian mereka hari ini. Kamar Tian sudah disiapkan, Bisma memanggil khusus orang berpengalaman untuk mendesain kamar Tian agar dia nyaman. Soal isinya dan keperluan Tian diserahkan kepada Jumi.
***
Mobil Reva memasuki gedung VCLO, seluruh karyawan yang mengetahuinya langsung cepat merapikan segala hal, jangan sampai Reva teriak. Reva dan Viana melangkah masuk, Vi berada di depan diikuti oleh Reva membuat banyak orang menudukan kepalanya, Reva menatap beberapa tempat yang membuatnya terlihat dingin. Viana masih sama seperti dahulu yang dingin dan arogan jika memasuki VCLO Tapi Wajah Reva jauh lebih menakutkan dari Viana membuat banyak orang melakukan pekerjaan semaksimal mungkin. Jika ada kesalahan, Reva tidak pernah memberi ampun, beda dengan Vi yang cuek dan hanya serius soal kerja.
"Va! karyawan kita lebih takut kamu daripada aku?"
"karena mereka tidak mengenal kita, jika tidak melakukan Kesalahan tidak perlu takut. Bos juga manusia yang ada salahnya, Reva ingin karyawan kita mandiri dan kerjasama bukan saling mengabaikan. Jika salah tegur termasuk bos."
Viana melihat wajah Reva dari pantulan pintu lift, wajah yang berbeda jauh dari sifat centil dan bocornya. Reva terlihat seperti wanita kejam, VCLO berada di tangan wanita tangguh dan kuat.
"Reva! saat kamu menikah, carilah penerus VCLO." Viana bicara penuh kewibawaan dan tegas.
"Siap kak, pemimpin VCLO selanjutnya wanita arogan dan kuat. Dia akan memperkuat VCLO lebih dari sekarang."
"Setelah kamu menikah, keluarga akan menjadi pekerjaan terindah, bangun melihat suami, cepat mengurus anak, melihat suami lagi, makan bersama, menyambut anak pulang, menyambut suami pulang, bercerita, bercanda sampai larut malam dan mengulangi hari yang sama. Semuanya indah Reva, kak Vi yakin kamu juga akan bahagia. Jangan buat pekerjaan kamu menjadi prioritas, buatlah keluarga menjadi yang utama."
"Pasti kak Vi, cinta Reva berawal dari taruhan, cinta masa kecil dan akhirnya sekarang pernikahan di depan mata."
"Ingatlah VCLO berdiri dengan keringat kamu, dan darah Viana Arsen dan Reva Pratiwi mengalir di sini. Suatu hari akan ada generasi penerus untuk menjaga VCLO."
Reva dan Viana tersenyum melangkah masuk dengan wibawa masing-masing, Sisi sudah menyambut kedua pimpinan VCLO untuk memutuskan rapat.
Rapat berjalan dengan lancar, tidak ada lemparan handphone, tidak ada juga teriakan Reva. Rapat diakhiri dengan senyum dan nafas lega, karena usulan semuanya di terima.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***