MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
SULIT UNTUK KOMITMEN


__ADS_3

Rapat dimulai, banyak pebisnis yang bicara basa-basi membuat Reva risih. Matanya lebih pilih fokus ke berkasnya untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan dari negara luar, Reva tidak tertarik dengan aki tua banyak bicara.


"Saya sangat menyukai pebisnis muda seperti Reva, walaupun dia seorang wanita tapi sangat hebat bisa mengalahkan laki-laki, karena terinspirasi dari sosok Reva saya mengirimkan putri saya Ririn." Ucap pemimpin perusahaan yang cukup terpandang.


"Tapi saya tidak menyukai orang yang banyak bicara, perusahaan putri anda menyentuh perusahaan saya. Jika ingin bersaing saya menyambut dengan tangan terbuka, tapi jika ingin menjatuhkan, saya mempersilahkan, tapi tanggung sendiri akibatnya." Reva tersenyum sinis sambil tetap fokus melihat ke arah tabletnya.


"Saya bukan ingin menjatuhkan Reva, kemarin salah paham, kesalahan yang dilakukan oleh pihak VCLO tidak bisa ditoleransi, sehingga saya harus mengambil tindakan dengan menyingkirkan mereka." Ririn tersenyum melihat kearah Reva yang sudah menggakat kepalanya melihat kearah Ririn.


"OHH ya! jika pihak VCLO salah dan pantas dieliminasi, mengapa anda membeli saham dari investor VCLO bukannya itu namanya mencuri, atau menghasut, atau menjilat, menjijikan." Reva tersenyum manis membuat wajah Ririn langsung berubah tapi tetap tersenyum.


Keadaan yang mulai panas, para pemimpin yang mengenal Reva tidak ada yang berani menjawab atau menghentikannya. Bima mengambil alih membahas masalah lainnya, Reva hanya diam sampai rapat selesai. Semua orang memberikan hormat tapi tidak dengan Reva yang masih sibuk dengan ponselnya. Setiap pimpinan VCLO memang terkenal arogan, dingin dan mengerikan jadi semuanya memahami jika Reva salah satunya.


"Reva, aku ingin bicara!" Bima menghentikan Reva yang ingin melangkah keluar, Reva menyerahkan berkasnya ke Sisi yang melangkah keluar. Rama dan Ivan juga saling pandang dan memutuskan untuk keluar juga.


"Ram, VCLO seperti ada kutukan, Reva mengerikan. Setiap pemimpin VCLO pasti kejam, bisa rusak lama-lama perusahaan"


"Tenang saja Van, Reva dijaga ketat oleh Om Bima dalam menjaga VCLO, tidak mudah orang menjatuhkannya."


"Om Bima banyak sekali urusannya!" Ivan keheranan melihat pria dewasa yang super sibuk sampai tidak punya waktu untuk jatuh cinta.


"Kak Bim pebisnis hebat sejak umur belasan tahun, dia lebih kaya dari aku Van, cuman gaya sederhana memperlihatkan dirinya seperti orang biasa, Kak Bim sosok pria setia dalam hal apa pun."


"Wooohhh! enak juga jadi Reva kalau sampai nikah sama Om Bima, kaya tujuh turunan." Ivan tertawa ngakak yang hanya dibalas senyuman oleh Rama.


***


Di dalam ruangan rapat, Reva hanya diam memainkan handphone, Bima juga masih diam memperhatikan Reva yang nampak lebih cuek dan dingin.


"Masalah pribadi, jangan dibawa ke dalam pekerjaan." Bima memulai pembicaraan mereka yang private.

__ADS_1


"Maksudnya pak Bima apa?" Reva masih santai tanpa melihat wajah Bima yang berada di depannya.


"Masalah kamu apa? Reva jangan merusak image perusahaan." Bima bicara sambil melangkah mendekati Reva dan mengambil ponselnya.


Mata Reva melotot melihat Bima yang sudah duduk kembali, dengan menyita ponselnya. Bima melihat kemarahan, kesedihan, kecewa di dalam mata Reva.


Reva bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati pintu keluar, Bima menahan tangan Reva dan berdiri di depan pintu.


"VCLO akan baik-baik saja, kamu tidak perlu harus menantang para petinggi, dan kamu juga masih muda Reva, kamu bukan Viana yang mempunyai kekuasaan yang bisa bergerak dari kejauhan."


"Viana ya Viana, Reva ya Reva. Kami berdua tidak sama Bima, saya pemimpin dari VCLO bukan Viana. Semua keputusan ada pada saya, anda orang luar tidak perlu ikut campur." Reva menatap tajam Bima yang binggung melihat Reva semakin marah.


"Kamu ada masalah pribadi, meluapkan kekecewaan dalam pekerjaan." Bima menahan Reva yang memaksa keluar.


"Ya saya punya masalah pribadi dengan anda tuan Bima Bramasta, anda belum bisa melupakan Viana, coba menyamakan saya dan Vi."


Bima mengerutkan keningnya, Reva sangat kekanak-kanakan di mata Bima. Dirinya mengkhawatirkan cara bicara Reva yang dingin kepada rekan bisnisnya tapi disalah artikan, Viana yang sudah punya suami masih membuatnya cemburu.


"Mantan istri!" Bima kebinggungan dengan ucapan Reva yang tidak jelas.


Reva langsung mendorong Bima dan membuka pintu keluar sambil teriak kuat, membuat Bima menutup telinganya.


"Dasar Bima oon, Reva sumpah benar-benar jadi oon, berlaga polos padahal licik, sok alim." Reva terus ngedumel tidak jelas, Bima juga masuk ke lift menuju lantai dasar.


"Reva!"


"Diam!" dengan tatapan kemarahan Reva keluar, semua orang memberikan hormat kepada Reva dan Bima yang ke luar kantor dengan buru-buru.


Reva berhenti dan menggakat panggilan di ponselnya, tidak beberapa lama datang seorang pria bule menemui Reva dan langsung memeluknya, Reva tersenyum dan membalas pelukannya. Bima memandangi mereka dengan tatapan dingin, Reva hanya menyunggingkan senyum ingin melihat reaksi Bima. Bule membukanya Reva pintu untuk masuk ke dalam mencari mobilnya, baru saja Reva ingin masuk tapi lengannya sudah ditarik.

__ADS_1


Bima bicara menggunakan bahasa Inggris, Reva sekarang sudah mengerti dengan pembicaraan mereka, ingin sekali Reva tertawa tapi tetap ingin bersandiwara, Bima melangkah pergi dengan menggandeng tangan Reva masuk ke dalam mobilnya, Reva hanya diam tidak bergerak, Bima mendekat dan memasangkan seat belt baru menjalankan mobilnya. Ingin sekali Reva mencium wajah Om Bima yang tenang dan dingin tapi mengemaskan.


"Va, di mana kamu melihat aku dan Brit, restoran." Bima melirik sebentar dan fokus kembali ke depan.


"Hotel!" Reva bicara santai dengan memainkan ponselnya yang lain, Sedangkan satunya sudah disita Bima.


"Tidak mungkin, saya tidak pernah ke hotel atau ke rumah membawa sembarangan wanita, aku hanya bertemu Brit di restoran."


"Ya sudah tidak usah ditanya lagi!" Reva masih bicara dingin.


"Kamu melihat seorang anak kecil."


"Tidak! aku hanya melihat sepasang kekasih sedang tertawa bahagia." Reva membuang pandangannya, kesal dengan kebohongannya sendiri.


"Sepertinya kamu salah orang," Bima menggelengkan kepalanya, melihat Reva yang bicara ngelantur.


Reva melihat kearah Bima dan memukulinya, Bima menangkis dan cepat memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Bima menahan tangan Reva yang memukuli dengan membabi-buta.


"Apa yang kamu lakukan, bahaya Reva!"


"Biar! Reva mau meluapkan emosi Reva sama Om, jika Reva mau mungkin saat ini juga Reva sudah bisa menikah, tapi Reva menanti Om yang tidak punya kepastian.


Bima hanya diam, dia sangat menyadari kehadiran Reva penting. Bahkan Bima selalu menemui Reva dan mengawasinya dari kejauhan, tapi cukup melihat saja Bima tidak punya keberanian lebih untuk berharap balasan. Bukan tidak siap membuka hati, terlalu panjang jalan yang harus Bima lewati untuk bisa bersatu dan berkomitmen, biar waktu yang menjawab semuanya.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


__ADS_2