
Selesai sarapan Winda langsung pamit ke kamarnya, dadanya terasa sesak seakan-akan ada sesuatu yang akan terjadi kepada kakaknya.
Ar sudah pergi bekerja, karena banyak hal yang harus dia selesaikan sebelum meninggalkan perusahaan, menetap di Indonesia.
Ais melihat Winda pergi, senyuman liciknya terlihat. Ais ingin membalas perlakuan yang Winda perbuat.
Di dalam kamar tubuh Winda langsung kedinginan, bersembunyi di dalam selimut sambil memejamkan mata.
Cukup lama Winda berdiam diri sampai tertidur, Ais berhasil mematikan CCTV melangkah ke kamar Winda yang tidak terkunci, melihat wanita ular sedang tidur.
Aisyah mengambil tas Winda, digunting semua sampai baju Winda juga habis digunting. High heels Winda yang harganya fantastis juga habis lecet, jas tangan mahal pecah.
Selesai membuat masalah dengan barang kesayangan Winda, Aisyah langsung melangkah pergi dengan senyuman kemenangan.
Saat Winda bangun dia pasti teriak histeris, langsung menangis dan mengamuk.
Mami Liza melihat perbuatan Ais, hanya membiarkan saja karena tidak perduli dengan persaingan keduanya.
"Ke mana kamu Ais?"
"Aku ada urusan, tidak ingin menjadi burung yang terkurung di dalam sangkar."
"Kenapa kamu melepaskan jilbab? bagaimana jika Ar tahu?" Mami menatap tajam, menarik Ais untuk tidak pergi.
"Tante urus saja, jika Ar bertanya harus pintar membuat alasan. Seluruh jilbab sudah aku gunting, dan Tante harus menyalahkan Winda." Ais langsung melangkah pergi meninggalkan keadaan kamar yang berantakan.
Sudah jam makan siang Winda belum juga turun, suara teriakan juga tidak terdengar. Mami yang penasaran langsung melangkah masuk melihat Winda yang mengigau.
"Winda bangun?"
"Kakak, kakak, ayo bangun. Jangan tidur disitu, kakak." Air mata Winda menetes, Mami menyentuh tangan Winda yang panas tinggi, keningnya juga sangat panas sampai wajah Winda memerah.
"Kenapa ular berbisa satu ini? dia sakit. Di rumah ini tidak ada orang, kenapa sakit sekarang?" Mami binggung melihat kamar Winda berantakan, Winda juga mendadak sakit.
"Kakak."
"Kakak kamu kenapa? astaga ular betina satu ini bisa sakit juga."
__ADS_1
Mami langsung mencari nomor Ar, mengirimkan pesan mengatakan jika manusia ular sakit.
"Bagaimana ini?" Mami langsung berlari keluar mengambil air hangat.
Kain di lempar ke wajah Winda, membuatnya basah. Mami langsung mengangkat kembali.
"Bagaimana cara mengompres orang sakit? astaga dia ular bukan manusia." Cepat Mami mencari cara di gogeling.
"Untuk melakukannya, pertama-tama siapkan kain lembut dan baskom berisi air hangat, sudah siap ini. Jangan terlalu panas atau bahkan hingga mendidih, namanya juga air hangat tidak mungkin panas dasar gogeling bodoh. Kemudian, rendam kain tersebut di air hangat, sehingga bisa dijadikan kompres. Kamu bisa segera menempelkan di bagian tubuh yang diinginkan sampai suhunya turun. Bagaimana jika seluruh tubuhnya panas, tidak mungkin seluruh tubuh ditempel kain." Mami meletakkan kain di atas kepala Winda.
Cukup lama Mami menunggu Ar, tapi belum juga ada kabar. Kepala rasanya pusing melihat keadaan Winda, Mami sambil menunggu sesekali merapikan tas Winda, semua barang yang berhamburan.
"Kakak."
"Tidak ada kakak kamu di sini Winda, tunggu sebentar lagi suami kamu datang. Dia sudah di perjalanan." Melihat Winda yang menangis, Mami langsung menggenggam tangan Winda, rasanya ada kesedihan melihat Winda.
"Aku sangat mencintai anakku, menikah usia muda memiliki anak di usia delapan belas tahun, tapi saat dia baru bisa tertawa wanita sialan itu membunuhnya. Dia terjatuh dari lantai atas rumah, aku diceraikan karena lalai, tapi dihari penikahan kedua suamiku mengangkat anak dari wanita yang membunuh anakku, bagaimana aku tidak membenci Ar? juga aku sangat membenci kamu Winda." Mami mengusap air matanya.
Pintu kamar terbuka, Ar langsung masuk. Membangunkan Winda memeluknya dengan lembut.
"Kakak."
Ar langsung menghubungi Maminya, perasaan Ar juga mendadak tidak enak. Ikatan Winda dan Wildan sangat kuat, mereka bisa saling merasakan jika salah satu terluka.
[Assalamualaikum Mami, maaf Ar menganggu. Di sana pasti sudah malam, Winda demam selalu memanggil kakak.]
[Wildan kecelakaan Ar, sampai sekarang masih di dalam ruangan operasi.]
[Innalilahi wa innailaihi rojiun, astaghfirullah Al azim. Bagaimana keadaan Wildan Mami?]
[Masih belum tahu, kamu jaga Winda di sana. Jangan katakan apapun, biarkan Winda tidak mengetahuinya.]
[Malam ini juga kami pulang mam.]
[Jangan Ar, kamu jaga Winda saja. Mami akan selalu memberikan kabar kepada kamu, demam Winda biasanya tinggi kamu berikan penurun panas saja. Tolong ya nak, jaga Winda. Doakan Wildan juga agar keluar dari ruangan operasi dalam keadaan baik.] Mami tidak kuasa menahan air matanya.
Ar mematikan panggilan, meminta Winda bangun dan minum obat agar panasnya turun.
__ADS_1
"Ummi, tolong Ar untuk membuat bubur hangat."
Cepat Mami keluar membuat bubur, meskipun dia tidak tahu caranya.
"Cara membuat bubur, hidup sekarang enak sekali hanya mengetik keluar semua resep. 1/2 kaleng (susu) Beras, 1 sct santan kara, 1 Lbr Daun salam, 1/2 Sdt Garam, 4-5 gelas Air. Apa yang mereka tulis? kenapa memasak bubur menggunakan susu?" Mami menyiapkan semuanya.
Ar memeluk Winda yang panasnya turun, Winda hanya diam memeluk erat suaminya. Winda yakin pasti terjadi sesuatu dengan kakaknya, tapi jika keluarga tidak mengatakan apapun, maka Winda tidak akan bertanya.
"Alhamdulillah panasnya turun." Ar mengusap kepala Winda.
Mami masuk membawa bubur, Winda menatap tajam air susu yang ada dedaunan yang tidak Winda mengerti.
"Apa ini nenek sihir?"
"Bubur, ini bubur pertama buatan Mami." Senyuman Mami terlihat.
"Ar, Winda tidak ingin memakan ini, nanti Winda mati."
"Ular kurang ajar, kamu tidak menghargai saya."
"Mami, kenapa ada susu? ini daun apa?"
"Kamu lihat resep ini Ar 1/2 kaleng susu beras, berarti susu satu kaleng, tambahan daun salam, karena di rumah hanya ada daun bawang jadinya Mami ganti. Menggunakan santan, tapi tidak ada dilewatkan saja, garam, dan air jadilah seperti ini." Senyuman Mami terlihat bangga dengan karyanya.
"Bodohnya kamu nenek sihir, Winda juga tidak bisa masak, tapi tidak bodoh. Maksudnya kaleng susu untuk mengukur beras, bukan susu satu kaleng. Ini namanya bukan bubur, tapi susu garam daun bawang." Winda langsung menutup mulutnya menahan tawa.
Ar langsung tersenyum melangkah keluar, membawa susu untuk membuat yang baru. Winda langsung berdiri membuka lemarinya.
Seluruh barangnya keluar, tas baru Winda semua talinya putus, bajunya sudah digunting.
Tatapan Winda langsung tajam melihat Mami, tas yang baru dia beli bahkan belum pernah dicoba juga putus.
Mata Winda merah menahan marah melihat, jam tangannya pecah. Barang yang dia beli dengan harga tinggi semuanya rusak.
"Berani main-main dengan Winda, kalian tidak tahu jeleknya aku jika sudah gelap mata."
***
__ADS_1