MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Bima terdiam mendengar Steven menyebut nama Windy, berusaha untuk tidak menanggapi. Bima menepuk pundak Steven yang berusaha untuk tenang.


"Stev, tolong jaga Windy. Dia masih terlalu belia, batasi pergaulan dia dengan lelaki manapun, dia hanya perlu fokus kuliah dan karir." Bima tersenyum melihat Steven mengagukan kepalanya.


Steven sudah mendapatkan jawaban dari ucapan Bima, Windy dilarang berpacaran. Dia hanya harus fokus sekolah, Steven setuju dengan keputusan Bima.


Keduanya berjalan beriringan, Steven tersenyum melihat pesona seorang Bima tidak berkurang, masih banyak orang yang mengagumi ketampanannya.


Bima yang mengendarai mobil, Steven melihat laptopnya yang memiliki banyak bukti kejahatan orang yang mencelakainya. Steven binggung langsung menatap Bima yang masih fokus menyetir.


"Kak, siapa yang memainkan laptop Stev?" Steven menunjukkan laptopnya.


"Wildan, dia bilang sudah minta izin dalam hati." Bima langsung tertawa, dia tidak menyimak ucapan putranya, Bima langsung meminta maaf karena Wildan lancang.


"Kak Bim, Wildan anak yang jenius. Dia membobol sistem sebuah perusahaan, seluruh bukti kejahatan ada di sini. Bukti uang keluar dan masuk, bukti korupsi mencapai milyaran semuanya detail dan sudah diperinci." Steven kaget, bocah kecil yang baru duduk di bangku dasar sudah luar biasa cerdasnya.


Bima menghela nafas, dari mana Wildan tahu. Kecerdasan Wildan harus dalam pengawasan ketat, Bima takut Wildan salah jalan, juga terlalu sombong dalam menanggapi kecerdasannya.


"Wildan harus dalam pengawasan kak Bima, dia tidak boleh menunjukkan kecerdasannya." Steven mematikan laptopnya.


"Kamu benar, Wildan tumbuh tidak sesuai usianya. Bisa dibilang dia anak luar biasa, seperti kakeknya, juga Bisma."


"Uncle Bisma bisa meretas komputer?" Steven kaget dengan keluarga jenius Bramasta.


"Iya, dia pernah menyembunyikan Viana, hanya Bisma satu-satunya orang yang tidak bisa aku temukan keberadaannya. Dia juga pernah kabur saat masih muda, bertahun-tahun dicari tapi tidak ada yang bisa menemukannya."


Steven tersenyum, tidak heran Wildan jenius, Papinya sendiri bukan orang sembarangan. Seorang Bima hanya terkenal sebagai seorang pembisnis, tapi sebenarnya dia orang yang menciptakan banyak teknologi canggih, hanya digunakan oleh perusahaannya sendiri.


Bima bisa mengontrol perusahaan satu dengan yang lainya, hanya dengan satu server, kekayaan Bima tidak terhitung, dia membagi seluruh kekayaan, tanpa ada yang tahu.


Steven juga tahu, Bima memiliki banyak orang kepercayaan, kekuasaan Bima yang menolong banyak orang membuatnya dihormati. Bima memiliki banyak orang kuat bukan karena kekejamannya, tapi karena kepintarannya.


Satu hal yang membuat Steven kagum, sehebat apapun sosok Bima dia tetap seorang Ayah dari ketiga anaknya, suami dari wanita cerewet di dunia, hidup merakyat, selalu rukun dan berkelompok.

__ADS_1


Tidak mudah orang mendekati seorang Bima, tidak heran jika keturunannya juga luar biasa.


Mobil berhenti di parkiran, Bima langsung keluar bersama Steven melangkah masuk ke apartemen. Beberapa orang juga masuk bersama mereka melalui lift, seorang pembersih di larang masuk karena melebihi muatan.


Steven langsung menahan lift melangkah keluar, mempersilahkan masuk, Bima juga ikut keluar tersenyum menatap Steven.


Senyum Steven terlihat mendengar ucapan terima kasih, Bima melihat Steven sepertinya mengenal seluruh orang yang keluar masuk daerah Apartemennya.


"Stev, ini apartemen milik kamu bukan sewa, pantas saja harga apartemen Windy murah, tempat paling nyaman luas dan rapi." Bima tersenyum merangkul Steven.


"Maaf kak Bim, Stev tidak bermaksud menyembunyikan apapun. Bangunan apartemen ini impian kak Stevie, dia ingin sekali membangun apartemen, bisa menyewakan dengan harga murah, membantu perekonomian kelas bawah."


"Stevie memang wanita baik, sangat baik."


Steven menatap Bima mengigat ucapan Windy jika dirinya bukan anak kandung Bima, tapi Steven tidak ingin bertanya bukan hak dirinya.


Sesampainya di lantai atas, Steven membuka apartemennya, Bima langsung menoleh belum sempat mengetuk pintu suara anak istrinya ada di apartemen Steven.


"Sayang kenapa ada di sini?" Bima langsung mendekati Reva, Windy langsung mencium tangan Papinya.


"Wildan bosan di apartemen Windy, jadinya kita ke sini, karena Wildan akan memiliki nyawa jika melihat buku, sedangkan Winda hidup jika melihat ikan, dia ompong karena mengejar Ikan di kolam." Windy tertawa.


Steven melihat ke atas, melihat Wildan yang fokus membaca. Wildan menepuk tangannya, rak buku terbelah, Steven kaget Wildan bisa mengetahui jika ada ruang rahasia.


"Mami Papi, lihat ada kamar rahasia tempat kak Bule pacaran. Seperti ularnya kak Ravi pacaran di kamar." Winda berlari menunjukkan ruangan rahasia Steven.


Bima tersenyum, berusaha menarik lemari agar tertutup. Sekuat apapun Bima tidak bisa menutup lemari, Steven masih diam mematung, Winda sudah berlari masuk, Wildan juga sudah turun melangkah masuk.


"Stev, maafkan anak-anak kak Bim. Bagaimana menutupnya, ini otomatis." Bima sudah menepuk tangannya, tapi tidak bisa menutup.


Reva hanya bisa menelan ludah, Windy tersenyum tidak enak hati. Steven juga tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Hebat, kamu memang hebat Wildan." Steven bertepuk tangan, ruang rahasia langsung berubah menjadi sebuah rumah yang canggih.

__ADS_1


"Berapa kamar apartemen ini Uncle?" Wildan bersuara.


"Sebenarnya ini rumah jadi satu, saat tahu Windy ingin kuliah di sini, Uncle memberikan dua ruang untuknya, sekalian menjaga keamanan Windy." sebenarnya Windy dan Steve tinggal satu rumah, tapi Steven membuatnya terpisah.


"Wildan menyukai tempat ini, tidak mudah orang memasukinya. Uncle cukup hebat, kenapa bisa kecelakaan, pasti tidak konsentrasi." Wildan menggelengkan kepalanya.


Steven tersenyum, langsung keluar menemui Papi yang tidak nyaman melihat kedua anaknya. Steven mengatakan tidak masalah, Wildan terlalu jenius.


Mendengar keributan di dapur, Steven langsung melihat tersenyum melihat dapurnya sudah hancur. Ternyata Mami dan Windy tidak bisa masak.


"Membuat apa Va?"


"Cake."


Steven tertawa melihat kue Reva keras tidak mengembang, Windy mengomel jika Maminya salah, Steven mengambil peralatan adonan.


Reva senyum melihat Steven gerakannya cepat, mengajari beberapa cara agar kue mengembang dengan baik, Windy hanya mengagukan saja sambil menghias kue keras.


"Windy kue yang masih panas, tidak bisa kamu langsung hias, dia akan meleleh." Steven tersenyum melihat Windy sudah menumpahkan coklat bubuk menghilangkan seluruh kue.


"Kamu pintar memasak Stev?" Bima duduk mencium bau wangi.


"Iya kak Bim, soalnya Stev tidak suka makan di luar, jadi apapun yang ingin dimakan masak sendiri."


"Hebat, lelaki mandiri. Kamu bukan hanya tampan, mapan, bisa jadi babu juga." Reva sama Windy langsung tertawa kuat."


Steven langsung cemberut, baru saja dipuji, sudah langsung dihempaskan. Mulut Reva memang tidak punya rem.


"Maaf ya Stev, soalnya kamu aneh. Rumah seluas ini kamu membersikan sendiri, tidak ada satu orangpun yang pernah membersihkan."


"Iya Va, aku tidak mempercayai siapapun."


***

__ADS_1


__ADS_2