
Reva menyandarkan kepalanya di kaca mobil sambil sesekali meneteskan air matanya, baru saja kabar bahagia datang. Tapi sekarang sudah mendapatkan pukulan lagi, sahabat terbaik Reva yang sudah seperti kakaknya menikah seorang wanita yang pernah menghancurkan rumah tangga Rama, menyebabkan Septi hampir diperkosa. Juga wanita yang membuat Reva kehilangan sahabatnya saat kecil yang memutuskan bunuh diri karena menjadi korban buli. Masih teringat kejadian di apartemen saat mengetahui keberadaan Chintya.
Reva juga berkeliling melihat isi kamar dan seluruh ruangan apartemen mewah Ivan.
Septi masuk ke dapur dan terdiam saat melihat seorang wanita, yang sangat dia kenal sedang memasak. Mata Septi memancarkan kemarahan ditariknya tangan dan didorong ke luar apartemen, Rama dan lainnya kaget. Ivan datang langsung menangkap tubuh wanita yang Septi dorong keluar sambil teriak.
Reva berlari mendekati pintu melihat tatapan Kemarahan Ivan, dan melihat Chintya berada dalam pelukan Ivan.
"Jangan sakiti istriku Sep,"
Septi terdiam dan menahan air matanya, mendengar ucapan Ivan yang pertama kalinya bicara kasar padanya. Septi melangkah masuk mengambil tasnya, Ivan membawa Tia masuk dan menutup pintu.
Melihat Septi yang siap keluar lagi, Ivan menahan tangan Septi, dia meminta maaf karena berteriak. Reva sama marahnya melihat Tia, apalagi menjadi istri Ivan.
"Septi maaf, aku tahu kamu benci Tia tapi sekarang dia sudah berubah, tidak salah kita mengubah seseorang menjadi lebih baik lagi."
Keributan dan perdebatan terjadi, Reva tidak pernah habis pikir Rama menerima Tya yang sudah membuatnya berpisah dengan Viana, Bima juga bisa-bisanya membela Tya.
Reva hanya tersenyum, mengambil tasnya melangkah pergi, Ivan menahan Septi dan Reva memohon jangan pergi.
"Lo benar Ivan nikahi dia agar memiliki keluarga, Rama juga benar dengan menyelamatkan Tya, mas Bima juga benar semua orang punya kesempatan. Semoga Lo bahagia dengan Pernikahan Lo, tapi maaf gue belum bisa memaafkan Tya. Maaf Ivan gue harap kita tidak pernah bertemu." Reva langsung keluar.
"Gue juga pergi, semoga bahagia Ivan, biarkan waktu yang menjawab tapi gue masih sakit" Septi juga melangkah pergi.
"Va! maaf ya, bukan maksud tidak mengerti perasaan kamu." Bima coba memelankan laju mobilnya, melihat Reva yang menghapus air matanya.
"Cinta itu apa Om? Reva tidak mengerti, semakin dewasa diri semakin tidak saling mengerti."
"Cinta sesuatu yang datang tanpa diundang, juga datang tanpa dipersilahkan. Kamu pernah bilang ada cinta pandangan pertama, cinta karena terbiasa dan cinta karena memperjuangkan. Ivan berada dalam cinta karena keihklasan seharusnya kamu bangga punya sahabat yang hatinya baik, ikhlas menerima kekurangan dan berusaha mengajari menjadi lebih baik."
Reva hanya diam, semua yang Bima katakan benar. Jika menikah dengan Tya membuat Ivan bahagia seharusnya Reva juga bahagia.
"Ayy, hari ini menjadi hari yang menyebalkan. Septi menjalin hubungan dengan Ammar, Ivan menikah dengan Tya."
"Namanya juga takdir Va, lagian Ammar pria baik."
"Dia playboy Ayy!"
"Masih playboy juga Bisma, Ammar sensitif dekat dengan wanita seksi."
"Bisma playboy hanya ganti pacar, Ammar playboy ganti teman tidur. Mana mungkin dia tidak suka wanita seksi."
__ADS_1
"Ammar tidak sembarang dekat dengan perempuan Va."
"Jadi Ayy tidak percaya! playboy ya tetap playboy." Suara Reva tinggi membuat Bima mengerutkan keningnya.
"Kenapa jadinya marah di aku, yang playboy mereka."
"Om yang belain mereka! jadinya kesel."
Bima menghela nafas, hanya karena playboy bicara sudah pakai urat. Bima heran Reva tidak pernah sadar diri dulunya dia seorang playgirl, setiap hari gonta-ganti pacar. Sekarang saja yang sudah tobat, bisa melihat keburukan orang tapi lupa dengan keburukan diri sendiri. Bima hanya tersenyum, jika bertanya sama saja membangunkan singa yang sedang diam.
"Ayy kenapa senyum?"
"Memangnya tidak boleh,"
"Boleh! tapi rasanya Ayy sedang mengejek Reva."
"Perasaan kamu saja," Bima menahan senyum, karena Reva menatapnya tajam.
"Kamu laper tidak?" Bima mengalihkan pembicaraan mereka sebelum Reva sensi lagi.
"Mau, tapi tempat yang romantis." Reva senyum, sudah lama tidak makan bersama.
"Apa ini ayy?"
"Makanan kesukaan kamu, martabak, bakso bakar."
"Ayy tahu, emmhhh makin cinta." Reva mendekati Bima ingin menciumnya tapi mundur lagi sambil nyengir.
"Reva kamu agresif sekali, biarkan lelaki yang memulai jangan nyosor duluan."
"Menunggu Ayy! sampai lebaran monyet." Reva tertawa dan memasang sabuk pengamannya.
Mobil melaju ke hotel yang sangat mewah, Reva binggung mengapa ke hotel membawa makanan pinggir jalan. Tapi jalur mobil Bima beda dengan jalur pengendara lain, mobil langsung masuk ke dalam gerbang khusus. Reva mengikuti Bima keluar mobil dan masuk ke dalam lift.
Selama naik Reva tidak bertanya, tidak mungkin Bima ingin mengajak tidur di hotel. Ini pertama kalinya Reva melewati lift belakang hotel, dan tujuan juga Reva tidak tahu.
"Tenang saja kita tidak masuk kamar, jangan berpikir macam-macam."
"Siapa yang mikir macam-macam!" Reva memukul lengan Bima yang hanya tertawa melihat Reva yang manyun.
Saat sampai Reva langsung berlari keluar, dari ketinggian Reva bisa melihat kota dengan jelas. Bima membawa Reva ke atas hotel yang memiliki lantai 50 dan termasuk hotel berbintang, Reva melihat pemandangan yang sangat indah dan langsung mendekati Bima yang sudah duduk santai di sofa sambil memakan martabak.
__ADS_1
"Hotel ini milik siapa? tidak ada orang yang bisa naik ke sini Ayy."
"Kamu laper tidak, makan sebelum dingin."
Akhirnya Reva duduk di samping Bima sambil memakan baksonya, sesekali Reva menyuapi Bima yang tidak menolak.
"Ayy!"
"Emhhh...."
"Berapa banyak kekayaan Ayy?" Reva menatap Bima yang sudah terdesak, langsung cepat Reva memberikan minum.
"buat apa kamu menghitung kekayaan,"
"Bima Bramasta! Ayy terkenal dalam dunia bisnis tapi identitas Ayy tidak bisa diketahui publik apalagi kekayaan."
"Reva, kalau mau menghitung berapa kaya aku. Masih banyak yang lebih kaya, dan tidak akan pernah ada habisnya."
"Hotel ini milik siapa? nama hotel ini BB sebagai hotel termewah di kota ini, tapi pemiliknya tidak diketahui." Reva mengecek ponselnya.
"Va jika aku tidak kaya, kamu akan meninggalkan aku." Bima menatap Reva yang sibuk mencari informasi kekayaan seorang Bima.
"Tidak akan pernah! mau kaya atau tidak Reva cinta Ayy."
"Jadi tidak perlu mencari tentang kekayaan, yang penting aku bukan pengaguran."
"Tapi Reva kepo! kalau kaya tujuh turunan berarti Reva bebas beli apapun." Reva tertawa sambil melihat Bima yang menggeleng.
"Ayy tidak melarang membeli apapun, tapi dalam hal wajar. Di luar kita banyak yang membutuhkan bantuan, dibalik harta yang kita miliki ada rezeki orang lain yang harus dikembalikan."
"Iya Ayy, tapi pemilik hotel ini mantan Reva Lo."
"Tidak mungkin! sejak kapan kita menjadi mantan."
Mendengar jawaban Bima Reva langsung tertawa, Bima mengaruk kepalanya. Reva selalu menemukan cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
__ADS_1