MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 NENEK ARUM


__ADS_3

Mariam langsung dibawa pergi, Windy ditarik ke dalam istana oleh Stev, satu tangan Windy masih sempat membawa pedang bersamanya.


Tidak ada yang berani mendekat, Saka juga bersembunyi dibalik tubuh Atha dan Raja Hanz. Jika Windy sudah marah, sulit untuk dihentikan, hanya Steven yang berani mendekatinya.


Vero yang baru datang terdiam duduk, dia terlempar karena amukan Windy. Ghina membantu Vero untuk bangun, melihat tubuhnya takutnya ada luka, tapi Vero mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Ghin, bukannya Windy masuk tadi masih membawa pedang." Vero menatap semua orang yang langsung berlari ke dalam istana.


Terdengar perdebatan Steven dan Windy, suara teriak Windy tinggi, Saka dan Vero hanya berani mengintip.


Raja Hanz mendekati Steven dan Windy, melihat putrinya yang menatap tajam penuh amarah.


"Windy, kamu sudah berjanji akan menahan diri, tidak terbawa emosi, kamu hampir saja membunuh orang Win." Steven berbicara pelan.


"Memangnya kenapa jika dia mati? dia juga membunuh ibu, lihat tangan Om luka sangat dalam." Tatapan Windy semakin tajam.


"Om kecewa jika kamu seperti ini, tujuan kita bukan membuat keributan, tapi membawa kedamaian, jika kamu melakukan sesuatu menggunakan emosi, apa bedanya kita dan mereka." Steven membuang pandangannya.


Windy menarik pedang di tangannya, menebas seluruh hiasan yang tertata rapi, Raja Hanz menahan pedang Windy yang hampir menjatuhkan foto Ratu Sinta.


Tetesan darah terlihat, Windy menjatuhkan pedangnya melangkah masuk kembali melihat neneknya yang melihat ke arah luar.


Ibu Suri melihat Windy duduk, terlihat kesedihan di mata Windy, langsung menutupnya dengan kacamata hitam.


"Kamu marah sayang, nenek juga sama marahnya melihat istana yang didirikan penuh cinta, tapi sekarang diujung kehancuran."


"Nenek tahu, sejak kecil Papi selalu mengatakan Windy tidak boleh kasar, tidak boleh dendam, menjadi wanita anggun, harus pintar mengontrol diri, setiap hari Windy menerima perlakuan pembulian di lingkungan sekolah, tidak diterima di sekitar Windy. Windy ingin menjadi anak baik." Windy tertawa mengingat dirinya.


"Semua ajaran baik Papi Windy terapkan, tapi saat bertemu Mami, Windy diajarkan cara membela diri, bertahan, juga melindungi diri, Windy menyimpulkan karakter Mami dan Papi yang sangat berbeda jauh, Papi yang sangat lembut dan penyabar, Mami yang keras juga pemarah. Windy akan menjadi orang baik jika tidak disakiti, tapi jika Windy tersakiti, bisa saja Windy lebih gila dan kejam."


"Kamu sangat mengagumi sosok Mami kamu?"


"Iya, jika Mami di sini, Windy pastikan wanita iblis akan mendapatkan pukulan Mami."

__ADS_1


"Papi tidak marah?" Nenek tersenyum mengusap kepala Windy.


"Marah pastinya Nek, tapi Papi marah tidak pernah bernada tinggi, apalagi mengangkat tangannya."


"Seperti apa Papi kamu marah?" Nenek tertawa bersama Windy, Windy lupa tentang kemarahan juga kesedihan.


"Papi selalu mengatakan, Reva sini ... Mami langsung duduk manja, menundukkan kepalanya, sebelum Papi berbicara Mami meminta maaf, katanya khilaf, tapi nanti diulangi lagi." Windy tertawa, rindu Maminya ingin sekali berada dalam pelukan Maminya.


"Mami kamu pasti orang yang lucu, juga sangat mencintai kamu."


"Sangat, Mami sangat mencintai Windy. Saat Windy kecil nenek harus tahu, Mami berkelahi dengan Bunda, orang tua murid, bahkan Mami pernah memukul guru Windy sampai dilaporkan ke polisi, tapi siapa yang bisa menangkap Reva Pratiwi istrinya Bima Bramasta." Windy mengambil ponselnya menunjukkan fotonya bersama Maminya, kedua adik kembarnya, foto keluarga, bahkan keluarga besar.


"Nek, Ayahanda menderita di sini, kak Athala juga bahkan nenek, sedangkan Windy bahagia di luar sana, maafkan Windy."


"Nenek bahagia Windy memiliki keluarga yang sangat menyayangi Windy, semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi, maafkan nenek sayang."


"Windy bahagia lahir dari seorang ibu yang rela mati demi kesetiaannya kepada Ayah juga cintanya kepada Windy, sejujurnya Windy juga bangga menjadi putri Ayah Hanz." Windy mengusap pipinya, mata Windy yang menangis tertutup oleh kacamata.


"Syukurlah, nenek juga lega melihat kamu menerima ibu dan ayah kamu."


"Kamu sangat cantik, lucu, kuat, mirip sekali dengan Mami kamu."


Windy membuka kacamata hitamnya, tersenyum melihat nenek, seluruh sikap Windy tidak ada yang mirip Ratu Sinta, tapi wajah mereka jiplakan, Hanz tidak mendapatkan bagian sedikitpun.


"Nama nenek siapa?"


"Sebenarnya nama nenek Ratu Arum."


"Nama yang cantik, nanti anak Windy jika perempuan namanya Sinta Arumi Pratiwi. Sinta nama ibu, Arum nenek, Pratiwi Mami." Windy tertawa melihat neneknya.


"Nama calon anak kamu juga cantik, kamu memberikan nama ibu kamu, nenek juga Mami kamu."


"Tentu Nek, dia akan sebaik Ratu Sinta, penyabar seperti nenek, juga kuat dan tangguh seperti Mami Reva."

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, Stev memanggil Windy ingin bertemu Wilona.


"Nek, langsung istirahat, nanti kita mengobrol lagi." Windy mencium pipi neneknya, langsung mendekati kaca, memperbaiki penampilannya.


Windy langsung melangkah keluar, suara high heels Windy terdengar melewati Steven tanpa menyapa. Raja Hanz berjalan di depan diikuti oleh Atha, Windy, Steven, dan yang lainnya.


"Windy, jalan ke penjara tidak rata, kamu bisa saja jatuh." Steven menegur Windy, tapi tidak dipedulikan.


Saka dan Vero menahan tawa, Steven yang super baik saja masih dimarah, apalagi mereka yang memang tidak pernah baik.


Windy memanggil Vero, langsung mengandeng lengan Vero, membantunya agar tidak jatuh. Steven hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan tingkah Windy, seharusnya Stev yang marah, tapi kenyataannya Windy yang marah.


"Wanita memang tidak pernah salah." Gumam Stev pelan, Windy bisa mendengarkannya.


Tatapan mata Windy tajam, Vero membisiki Windy jangan ambekan, sudah puluhan pelayan yang meleleh melihat Stev.


"Minta dicolok mata mereka semua." Windy teriak kuat, tahanan bawah tanah langsung mundur semua.


Steven menggelengkan kepalanya, mendengar teriakan Windy saja, semua orang sudah takut.


Athala melihat ke dalam penjara, Wilo duduk dilantai, lehernya dirantai, kaki tangannya juga, Windy melihat Wilo yang diperlakukan seperti hewan.


"Wilona aku datang, maafkan kau Wil." Atha membuka gerbang, langsung berlutut memeluk Wilo, Vero membuka rantai, sedih juga melihat keadaan Wilo, Vero menganggap Wilo seperti adiknya, tapi tersiksa di dalam penjara.


"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah datang." Wilo menutup matanya, Atha langsung menggendong membawa Wilo keluar.


Seluruh tahanan Raja Hanz bebaskan, menundukkan kepalanya meminta maaf, karena baru bisa membebaskan mereka semua.


Semua orang yang setia terhadap kerajaan dan Raja Hanz, satu persatu dibunuh dimasukan ke dalam penjara.


Steven langsung menggendong Windy, mata Windy melotot dibalik kacamata hitamnya.


"Sudah diperingatkan kamu tidak bisa berjalan di sini mengunakan high heels."

__ADS_1


***


__ADS_2