MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MIMPI


__ADS_3

Sudah tengah malam, Steven belum bisa tidur. Merasakan sakit kakinya yang masih pincang. Winda yang tidur di atas tempat tidur kecil bersama yang lainnya tidak bisa menutup matanya.


Melangkah keluar melihat Stev mengusap kakinya, Winda meniup kaki Steven agar cepat sembuh.


"Winda kenapa belum tidur sayang?"


"Winda mengkhawatirkan Mami, Papi kak Windy juga." Winda tersenyum menatap Steven.


Steven mengusap kepala Winda, memeluk meminta Winda tidur. Besok saat matahari terbit langsung pulang.


"Kak Stev sakit sekali kakinya?"


"Lumayan, tapi tidak begitu sakit Win."


"Obatnya apa kak Stev?"


"Kak Stev juga tidak tahu, mungkin obat tradisional."


Winda memeluk Steven, tidur dalam pelukan Stev. Wildan juga bangun menggunakan punggung Steven tempat dia bersandar.


Steven hanya tersenyum melihat dua anak kembar yang sedang terlelap, Steven meletakan kepala Winda di pahanya, membantu Wildan agar tidur juga di sebelah pahanya.


Steven bersandar memejamkan matanya, Can bangun menyelimuti Winda dan Wildan, Steven mengucapkan terima kasih sambil mengusap kepala dua anak.


Suara Bella terdengar, langsung meletakan kepalanya di samping Winda, tidak lama Billa juga datang memeluk kakaknya.


"Sebentar lagi datang satunya." Can menahan tawa.


"Tenang saja, Vira jika tidur sulit bangun." Steven meminta Can untuk tidur.


Steven memejamkan matanya, membiarkan empat bocah tidur bersamanya.


Suara teriakan Vira membangunkan Steven, Vira memukuli Bella Billa dan Winda yang teganya meninggalkannya sendirian.


Mou dan Mei tertawa melihat Vira mengamuk, Winda yang bangunnya dikejutkan langsung memukul balik.


Wildan menghentikan aksi pukulan, Steven berteriak meminta semuanya berhenti.


"Kalian jahat!" Vira langsung melangkah keluar membuang handphone karena habis baterai.


"Memang anaknya Viana, suka ngamuk." Steven memeluk Billa yang menangis mendapatkan pukulan dari Vira.


Winda dan Bella langsung berlari mengejar Vira, ketiganya bertarung membuat Wildan dan Mou kewalahan.


Can juga teriak meminta berhenti, tidak ada yang memperdulikan teriakan Can, bahkan Stev juga memanggil Vira, Winda dan Bella tapi tetap saja.


"Winda, ikan kamu di sungai habis di makan maung." Can teriak kuat.


Winda langsung berhenti, berlari ke arah sungai dengan cepat. Wildan teriak menghentikan Winda.


"Winda, Can tolong hentikan Winda, nanti dia memukuli maung."


"Benar saja dia bisa memukul buaya?" Can terkejut.


"Maung itu buaya, astaghfirullah Al azim." Steven menggunakan tongkat berjalan.

__ADS_1


Winda sampai di pinggir sungai, mengambil kayu besar ingin memukul maung. Mouza langsung menahan tangan Winda.


"Maung!" Winda teriak marah.


Maung langsung mendekat, berjalan ke arah mereka. Mouza menahan tawa melihat Winda berdiri tidak menunjukkan rasa takutnya.


Can langsung berlari ke sungai, menyentuh kepala Maung memintanya untuk tenang, Winda juga turun ke sungai langsung mencari ikan.


"Winda kamu tidak takut sama Maung?"


"Takut, tapi ada aunty." Winda tersenyum langsung mandi berenang.


Suara teriakan Bella dan Vira terdengar langsung menceburkan diri, teriakan dua bocah membuat Maung mundur.


Can tertawa terbahak-bahak melihat tingkah tiga bocah yang mengemaskan, tidak ada tempat takutnya.


Baru saja bertengkar mereka sudah akur lagi, bermain dan tertawa bersama. Winda menyelam menyapa ikannya.


"Winda, Bella, Vira kalian main air pulangnya pakai apa?" Wildan teriak kesal.


Winda menatap dua sahabatnya, senyum Vira dan Bella terlihat langsung naik ke atas mengeringkan baju mereka.


"Maaf aunty tidak punya baju untuk kalian." Can melihat Winda menggigil.


"Ini semua salah Vira,"


"Salah kalian bertiga meninggalkan Vira."


***


Mei naik ke punggung Mou berjalan sambil berlari, Winda menatap Mei yang mirip seseorang.


"Wajah Mei mirip kak Stev 2?" Winda menatap Wildan.


Semuanya berjalan perlahan karena keadaan Steven yang tidak bisa berjalan normal, di tengah perjalanan tidak terdengar keluhan hanya suara canda dan tawa juga ocehan yang terdengar.


Wildan berjalan mengiringi Steven, Stev tersenyum melihat Wildan yang memperhatikan langka Stev.


"Kak Stev jika lelah kita istirahat dulu." Wildan melihat Steven memucat.


"Apa yang kamu rasakan Stev?" Can melihat kaki Steven yang kembali berdarah.


Wildan juga melihat kaki Steven memintanya untuk duduk, membersikan darahnya yang menetes keluar.


"Aku baik-baik saja, kita harus cepat pulang." Stev tersenyum.


Wildan mengikat kaki Steven, meminta Steven merangkulnya. Mou juga menurunkan Mei langsung membantu Steven berjalan.


"Maafkan Om Stev yang menyusahkan kamu Mou, Om tidak tahu cara membalas kebaikan kamu." Steven merangkul Mou dan Wildan.


"Berjanjilah Om Stev akan bahagia." Mou tersenyum.


"Naik punggung Mou saja, nanti Mou gendong. Om Stev kurus jadinya ringan."


"Om Stev masih mampu berjalan Mou."

__ADS_1


Sudah tengah hari perjalanan mereka lewati, beristirahat di tengah hutan. Can membawa bekal untuk makan siang.


Senyum Can terlihat menatap semuanya makan dengan lahap, walaupun makanan mereka hanya ubi-ubian hutan.


Suara hewan buas terdengar, Can meminta semuanya tenang. Dia melihat sepasang harimau mendekat, Can mengusap kepala dua harimau yang dia besarkan sejak kecil.


Perjalanan di lanjutkan dengan ditemani harimau, Winda berjalan mendekati Can melihat harimau lebih dekat.


"Kak Ravi pasti senang sekali melihat dia?"


"Namanya Clori dan Clover."


"Wow namanya bangus, Vira menyukainya."


Semuanya melewati perbatasan hutan, banyak orang menemukan mereka dari Tim pencari. Beberapa orang menyiapkan senjata, Can berdiri di depan dua harimau meminta semua orang menurunkan senjata.


Can mengusap kepala Clori, Winda mengusap kepala Clover. Wildan juga berdiri ke depan mengatakan jika mereka nyasar.


"Orang tua kami pasti sedang melakukan pencarian, Wildan, Vira, Bella dan Billa." Vira juga maju ke depan.


"Kenapa Winda tidak disebut?" bibir Winda monyong.


"Tolong bantu paman ini, dia sudah kelelahan berjalan." Mou meminta bantuan.


"Minggir." Saka berdiri tersenyum melihat anak-anak yang baik-baik saja.


Mata Saka melihat Steven yang sangat kurus, mendekatinya seakan-akan tidak percaya.


"Stev, Steven." Saka langsung memeluknya erat, air mata Saka menetes tidak bisa menahan kebahagiaannya.


"Ini benar kamu Stev?"


"Iya, ini aku Saka." Steven tersenyum.


"Ayo kita ketemu keluarga, mereka sedang panik menunggu." Saka membantu Stev berjalan.


"Mami, Papi. Anak kalian pulang." Winda tertawa sambil berlari melihat Maminya, tatapan tajam Reva mengurungkan niat Winda untuk minta dipeluk.


"Mommy, Vira ...."


Bella dan Billa tidak berani berbicara, melihat tatapan Bunda mereka yang tidak bersahabat. Reva langsung berlari memeluk anaknya, Viana lebih lagi menangis memeluk Vira, tangisan Jum lebih besar memeluk kedua anak kembarnya.


Bima tidak hentinya menciumi wajah Winda memeluk Wildan, Rama juga sampai meneteskan air matanya. Bisma mengendong anaknya.


Tian langsung menggendong Bella, mencium kening adiknya yang akhirnya di temukan.


Windy juga menangis dalam pelukan Maminya, saling berpelukan melepaskan rindu.


Di saat semuanya sedang menangis haru, semua tatapan tertuju pada satu orang yang membuat air mata menetes tidak beralasan.


Antara mimpi dan nyata bisa melihat Stev tepat di mata mereka. Steven tersenyum melihat Windy yang melangkah perlahan mendekatinya.


"Ini mimpi, jangan bangunkan Windy dari mimpi indah ini. Ay kenapa baru datang sekarang? Windy rindu." Windy menyentuh wajah Stev, mimpi yang selalu Windy tunggu.


***

__ADS_1


__ADS_2