MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Sudah satu semester Windy kuliah, dia memiliki banyak teman, juga sangat terbiasa menghabiskan waktunya bersama dengan Steven. Hubungan keduanya sangat dekat.


"Om, hari ini kita jalan-jalan ya. Windy ingin sekali masuk wahana rumah hantu, lagi viral Om. Teman Windy banyak yang pergi, tapi bersama pacarnya." Windy tersenyum, Steven juga tersenyum melihat senyum cantik Windy.


"Malam ini kita pergi."


Windy langsung lompat kesenangan, menghubungi orang tuanya untuk pergi ke wahana. Bima selalu mengiyakan, berbeda dengan Reva yang banyak tanya, harus berputar-putar.


Setelah mendapatkan izin, Windy mencari baju yang nyaman untuk pergi.


Malamnya Steven sudah menunggu di depan pintu, Windy langsung keluar dengan tas ranselnya melangkah pergi. Di perjalanan Windy tidak berhenti mengoceh, keduanya sangat nyambung membicarakan apapun.


"Om kenapa belum menikah?"


"Bukannya kamu pernah bilang ingin menikahi Om." Steven langsung tertawa, Windy berusaha berpura-pura sedang mengigat.


"Belum dapat yang tepat Win, beberapa tahun ini Om sibuk menyelesaikan banyak kasus, pacaran hanya sekedar happy saja. Mungkin jodoh belum mendekat."


"Wanita kriteria Om?"


"Dia harus satu keyakinan, jika non dia harus bersedia mengikuti keyakinan om."


"Hanya keyakinan Om?" Windy menelan ludah.


"Iya, sisanya kita adaptasi saja, jika nyaman lanjut, jika tidak mundur."


"Windy tahu Om memiliki banyak pacar, tidak capek Om koleksi banyak mantan."


"Capek, bahkan Om sering lupa nama mereka." Steven tersenyum, Windy menghela nafasnya.


"Kasihan keturunan Om, bisa terkena karma atau bisa jadi dia juga mengikuti Om jadi playboy." Windy mendadak kesal, Steven mengerutkan keningnya menatap Windy.


"Namanya juga proses mencari jodoh Win."


"Jika hanya ingin mencari jodoh, Om harus memperjuangan satu wanita. Jika sudah mantap langsung menikah, jangan menambah banyak koleksi."


"Windy, kamu tidak tahu pergaulan di sini. Kenapa Om sangat ketat, melarang kamu keluar malam, memilih teman yang baik. Pergaulan di sini bebas, berhubungan suami-istri sudah menjadi permainan." Mobil Steven masuk ke dalam gang, dia kesal mendengar ucapan polos Windy, sangat sulit bagi Steven mendapatkan wanita baik, Windy takut melihat mobil masuk lokasi tanpa penerangan.


"Om, kenapa kita ke sini?"


"Lihatlah dunia malam Win, lihat sekitar kita."

__ADS_1


Windy melihat pasangan yang sembarangan cium, tidak malu di depan banyak orang. Berpesta minuman keras, bahkan melakukan hubungan bebas.


"Om, ayo pergi. Windy tidak suka melihatnya."


Steven menggagukan kepalanya, langsung keluar menuju lokasi awal, tangan Windy menggenggam lengan Steven.


"Jangan takut, selama kamu tidak melanggar peraturan Om. Tidak akan pernah Om izinkan ada yang menyentuh kamu." Steven tersenyum mengelus kepala Windy.


Windy menatap Steven, rasa cintanya semakin besar. Walaupun larangan Steven sangat keras, Windy menyukainya.


Suasana mendadak hening, ponsel Steven berbunyi panggilan dari Sasha. Windy sangat membenci nama Sasha karena dia sampai pindah sekolah, bertengkar dengan Sasha.


Steven langsung menjawab, menghidupkan speaker. Windy bisa mendengar jelas panggilan sayang, rasanya Windy ingin muntah mendengarkannya.


[Sayang, aku tidak ingin kita putus. Hubungan aku sudah berakhir, kamu juga bebas melakukan dengan wanita manapun, tapi berjanjilah untuk kembali padaku.]


[Wanita gila, aku terlalu bermartabat Sa, tidak membutuhkan wanita yang sudah digilir banyak orang, banyak wanita yang siap mendampingi aku, kamu hanyalah sedikit hiburan untuk mengobati rasa bosan.] Steven langsung mematikan panggilan.


Windy menatap Steven yang mulutnya tidak ada baiknya, sesekali Steven melirik Windy yang hanya diam.


"Om, bisa tidak pacarannya dengan satu wanita saja, kasihan Om."


Mobil Steven berhenti di wahana bermain, pengunjung sangat ramai, Steven tidak mengerti apa yang menariknya bermain ke tempat berisik. Lebih tenang berada di tempat sepi yang tenang.


Windy langsung keluar kesenangan, menarik tangan Steven untuk melangkah masuk. Windy lompat-lompat bahagia, berbeda dengan Steven yang merasakan risih.


Berdempetan, sesak lampu yang tidak begitu terang. Banyak anak-anak yang sedang asik bermain. Windy melihat rumah hantu yang sangat besar, Steven merasakan panas dingin.


"Ayo Om masuk." Windy menunggu giliran untuk membeli tiket.


"Kamu masuk sendiri saja Win, Om tidak nyaman."


Bibir Windy langsung manyun, akhirnya memutuskan untuk masuk sendiri. Steven melangkah mundur menjauh, banyak pemuda yang menghimpit Windy, Steven memperhatikan tangan yang ingin menyentuh bagian bawah Windy.


Steven langsung menahan tangan pemuda yang tidak punya sopan santun, Steven memutuskan untuk ikut masuk takut Windy sendirian tidak ada yang menjaganya.


Tangan Steven melingkar di pinggang Windy, senyuman Windy terlihat. Keduanya akhirnya bisa selesai antri tiket.


Steven tarik nafas buang nafas, bersiap untuk masuk. Windy melangkah masuk diikuti oleh Steven, tangan keduanya saling menggenggam. Keadaan gelap, hanya ada lilin, Windy terus melangkah.


Arrrrrgggghhhhh, Steven teriak kuat, Windy menahan tawa mendengar suara Om bule sangat kuat. Badan saja yang besar tinggi, tapi takut hantu.

__ADS_1


Berkali-kali Steven teriak, tangannya terus memeluk Windy, bahkan tidak memberikan jarak.


"Om santai saja, ini sangat menyenangkan."


"Win, Om takut, ayo kita keluar. Om bisa kencing di celana." Steven terus memeluk Windy.


Windy tertawa lucu, sedangkan Steven hampir pingsan, hantu tiba-tiba muncul membuatnya teriak sangat kuat.


Sesekali saat lewat, melihat pasangan yang bermesraan. Teriakkan Steven bersama dengan pengunjung lainnya.


Tubuh Windy terpojok di dinding, banyak orang main dorong, Steven menahan tangannya di dinding, tangan Windy berada di leher. Keadaan semakin ramai, hantu penuh, sehingga teriakan histeris terus terdengar.


"kamu baik-baik saja Win?"


"Iya Om, tapi kita terkunci,"


Satu tangan menahan, agar Windy tidak di dorong, satu tangan Steven memeluk pinggang. Windy menatap Steven, wajahnya terlihat oleh lampu yang sesekali hidup.


"Waktu bisa tidak berhenti sebentar, ini terlalu romantis, beranda dalam pelukannya, melihat jelas wajah tampannya." Sungguh Windy ingin sekali melompat mengungkapkan betapa dia sangat bahagia.


"Om, sampai kapan kita berpelukan."


Steven menatap wajah Windy yang menunduk, Steven langsung meminta maaf, melepaskan tangannya yang menahan. Belum sempat Steven berbalik, tubuhnya langsung terdorong. Tubuh Windy langsung berada didinding, pelukan Windy erat di leher.


Bibir keduanya bersatu, Steven coba mendorong pria gemuk yang menahan tubuhnya. Di samping mereka juga penuh dengan orang yang terus berteriak, Windy hanya diam, memejamkan matanya. Kepala Steven pusing melihat kekacauan, tidak sengaja mengigit pelan bibir Windy yang langsung terbuka.


Steven lupa jika wanita yang dipeluknya Windy, Steven mengigat kekasihnya. Mata Windy terbuka, ciuman pertamanya dimiliki oleh om Bule.


Keadaan sudah kembali normal, perlahan pengunjung berjalan teratur. Tangga Steven sudah menangkup, wajah Windy, keduanya lupa jika masih di dalam wahana, gerakan Steven semakin kasar, Windy merasakan bibirnya perih.


Steven membuka matanya, spontan langsung melepaskan Windy. Steven melihat sekitar yang cuek saja melihat ciuman mereka.


Windy tertunduk menutup mulutnya, Steven mengacak rambutnya tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2