MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 GARA-GARA AYAM


__ADS_3

Reva terus menangis memeluk Windy, menyalahkan dirinya sendiri tidak mengetahui keadaan putrinya. Suara tangisan Reva mengalahkan Winda.


Vero juga duduk menatap Windy, kesal melihat Windy yang tidak mengatakan apapun, Vero pikir Windy sangat kuat menyemangati dirinya selalu, tapi ternyata keadaan Windy jauh lebih buruk darinya.


Seluruh keluarga kumpul sambil menangis, marah dengan Windy yang tidak jujur, kesal dengan sikap Windy yang menyelesaikan masalah sendirian.


Windy tidak menyimak apapun nasihat yang orang katakan, dia sibuk tersenyum menggenggam tangan Stev.


"Ini bukan mimpi, Windy bahagia sekali." Windy meletakan tangan Steven dipipinya, berkali-kali menciumnya.


"Sampai kapan kamu menganggap ini mimpi?"


"Windy masih tidak percaya, boleh peluk Ay." Windy ingin mencium Steven.


Reva langsung menepuk jidat Windy, menariknya menjauhi Steven. Windy tertawa melihat Maminya, menciumi Reva berkali-kali.


"Windy bahagia Mami, I love you Mami." Windy berkali-kali mencium pipi Reva.


"Nanti kita periksa ke dokter, sepetinya putriku sudah gila." Reva menggaruk kepalanya.


"Mami, Windy tidak gila. Nanti bertemu dokter psikologi Windy, Ghina tahu semuanya."


Windy langsung memeluk Bima, meminta maaf berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Bima mencium kening Windy, senang melihat senyuman Windy.


"Papi?"


"Iya sayang."


"Kapan Windy menikah?" Windy tertawa melihat keterkejutan Papinya.


Bisma sampai menyemburkan air minumnya, kesal melihat tingkah Windy yang kumat seperti dulu.


"tanya Steven sayang."


"Malu, Windy perempuan."


"Jadi Papi yang mewakili?" Bima tersenyum.


"Tidak Papi, hanya kode saja biar peka." Windy tertawa langsung memeluk Bima, air mata Windy menetes karena bahagia.


"Kenapa menangis lagi?" Bima menghapus air mata putrinya.


"Windy bahagia Papi, sangat bahagia. Air mata ini sebagai ungkapan rasa syukur, haru juga tangisan bahagia. Windy sudah lama menunggu hari ini, berkumpul bersama kembali." Windy tersenyum menghapus air matanya.


Steven menundukkan kepalanya, air matanya juga menetes. Stev tidak tahu lagi ingin mengatakan apa, tapi yang pasti dia sangat bahagia, juga sedih dan merasa bersalah menggores luka di hati keluarga.


"Semuanya hanya kata maaf yang bisa Stev katakan, maaf sudah menyakiti banyak hati." Stev melipat kedua tangannya.


Reva memukul kepala Steven, menatap marah mendengar ucapan Stev.

__ADS_1


"Untuk apa kamu minta maaf, kepulangan kamu sesuatu yang paling kami nantikan Stev. Kamu keluarga kami, salah kami bersedih?"


"Tidak ada yang menginginkan musibah ini, banyak hal yang harus kita bicarakan. Kamu harus dirawat dulu, begitupun dengan Windy, kita memiliki banyak waktu untuk terus bersama. Perpisahan kita jadikan tali pengikat agar saat marah kita mengingat perjuangan panjang hingga sampai ke detik ini." Bima merangkul Windy tersenyum menatap Stev.


***


Di taman belakang Vira masih mengorok tidur di kursi, Winda menghela nafas mengusap perutnya. Bella dan Billa guling-guling di rumput melihat matahari.


"Demi Allah demi apapun Winda lapar." Winda meneguk air minum mengganjal lapar.


Mei melangkah mengejutkan Winda, bibir Winda langsung cemberut. Mei memegang Ayah goreng ditangannya.


"Dapat dari mana Mei?"


"Mama lagi masak."


Winda langsung berlari masuk, Bella dan Billa juga melangkah masuk meninggalkan Vira yang sedang tidur.


Mei mencium kan ayam goreng ke hidung Vira, tawa Mei terdengar cekikikan melihat hidung Vira yang mengendus.


"Ayam goreng." Vira langsung bangun berlari ke dalam.


Can sedang sibuk memaksa, melihat kesedihan seluruh keluarga melupakan masakan mereka yang masih berhamburan di dapur.


Rumah Stev sudah sepi, hanya memiliki tiga penjaga tanpa asisten rumah tangga. Can menggunakan semua bahan yang ada di kulkas untuk membuat makanan.


Hari sudah siang, masakan Can hampir selesai. Seluruh meja hampir terisi makanan yang super lezat, Can sangat pintar memasak sejak dia kecil.


Winda sudah meneteskan air liurnya, Bella Billa sudah menyiapkan sendok menunggu piring mereka berisi.


Wildan dan Mou juga ikut bergabung, Vira berlari bersama Mei. Can meminta Ravi Tian dan Erik makan juga mereka juga pasti kelaparan.


Semuanya makan dengan lahap, Mou tersenyum merasakan nikmatnya makanan kota. Wildan memberikan lebih banyak makanan, Mei juga kesenangan sambil menari.


"Winda lapar sekali, seperti seumur hidup belum makan." Memberikan piring minta tambah.


"Makanan pelan-pelan saja Win, nasi masih banyak." Can mengusap kepala Winda.


Bella menatap Vira yang makan sambil memejamkan matanya, melemparnya dengan tulang ayam. Suara anak-anak tertawa melihat Vira terbangun.


"Vira makan dulu baru tidur." Can membersihkan kepala Vira.


Di ruang tamu terasa hening, Viana melihat sekeliling mereka tidak ada anak-anak, menatap Jum yang juga langsung berdiri.


"Di mana anak-anak?" Jum langsung berlari ke kamar untuk mengecek.


"Mas Bella Billa sudah hilang lagi."


Semuanya langsung berdiri, hanya Stev yang kembali duduk kakinya kembali berdarah.

__ADS_1


Viana, Jum dan Reva berlari ke dapur melihat anak-anak sedang makan dengan lahap, Can juga duduk menyuapi putrinya makan.


"Maaf ya Can, kita lupa jika sedang masak."


"Tidak apa kak, maaf aku memaksa seadanya. Silahkan duduk untuk makan, sudah siang." Can mempersilahkan.


Reva memeluk Can, mengusap punggungnya. Reva mengucapakan terima kasih. Can bukan hanya menyelamatkan Steven, tapi putra putrinya.


Vero melihat ke dapur, Mei melihat Vero memegang ayamnya ingin menyuapi. Kaki Mei tergelincir di kursi, Vero langsung berlari menangkap Mei.


Kepala Vero terbentur kuat di meja makan, suara teriakan Can, Reva, Jum dan Vi mengagetkan semuanya.


"Mei, kamu baik-baik saja nak?" Vero mengusap kepalanya.


"Papa mau, ini enak sekali." Mei menyuapi Vero.


Vero kaget melihat di atas meja, makanan anak-anak berhamburan. Semua mata menatap Vero tajam.


"Ayamnya Vira hilang, jatuh di mana?" Vira turun dari kursi mencari ayamnya di bawa meja.


Winda mengambil tisu, ayamnya terlempar ke dalam air minum Bella. Mengambil kembali, mengeringkan ayamnya sambil cemberut.


Bella dan Billa melotot melihat tiga paha ayam di dalam piring Ravi, mereka berdua binggung punya mereka yang mana.


"Kira-kira Uncle, seharusnya nasi masuknya ke perut, ini keluar lagi lewat hidung." Erik menatap tajam.


"Iya uncel, terus ini mana ayam Ravi?" Ravi mengacak rambutnya melihat piring ada tiga paha ayam kembar.


Semuanya menatap Mou yang memeluk piring makan, ayamnya memang selamat tapi nasinya berhamburan di wajahnya.


Cantika tertawa cekikikan tidak bisa menahan diri, Viana dan Reva lebih lagi sudah duduk dilantai memegang perut mereka.


Jum tersenyum sambil megambil tisu, membersihan wajah putranya yang tersiram air. Baju Tian sampai basah.


Vero meminta maaf melihat anak-anak marah, makan mereka terganggu. Belum lagi melihat Vira berkeliling mencari ayamnya.


"Ayam Vira mana?" Vira teriak memanggil ayam.


"Sudah masuk perut mungkin Vira?" Viana tertawa melihat putrinya.


"Belum Mommy, baru ingin Vira gigit ayamnya langsung terbang." Vira menghentakkan kakinya.


Hanya Wildan yang diam melihat ayam Vira ada di dalam piringnya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2