
Kedua tangan Can dilipatkan meminta maaf kepada seluruh orang karena kedatangan kedua orang tuanya sudah membuat keributan.
Bima mengerti rasa kecewanya Can, tapi yang namanya orang tua tidak boleh dilupakan, sempatkan waktu untuk berkunjung, memberikan kesan baik agar rasa benci, marah, tidak suka dibalikkan menjadi rasa sayang, cinta dan saling memaafkan.
Reva menatap sinis Bima, tapi ucapan Bima ada benarnya tidak semua hal buruk harus dibalas buruk, tapi untuk menunggu hal buruk menjadi baik sampai kapan menunggunya.
"Sabar, sabar dan sabar kunci agar kita hidup tenang."
"Bagaimana bisa sabar jika orang selalu menganggu? mereka akan terus melonjak Ay." Reva menghentakkan kakinya.
"Memberi untuk keluarga tidak mengurangi sedikitpun harta, jika menjadi kebiasaan tidak masalah karena selama untuk kebaikan."
"Bagaimana jika uangnya mereka gunakan untuk minum, atau gonta-ganti wanita, bisa lebih parah lagi uang mereka hamburan menghabiskan dalam sekejap, membeli hal tidak penting karena yakin akan dapat lagi jika minta?" Reva menatap Bima yang tersenyum.
Bima berjalan mendekati Reva, memeluknya lembut, mengusap hijab Reva berkata pelan kepada istrinya tercinta jika Bima percaya sejahat nya orang pasti di dalam lubuk hati terdalam ada kebaikan, Allah tidak pernah tidur, pasti akan menegur perlahan, apa yang mereka semai itu juga yang akan mereka petik, melakukan kejahatan bisa membalik ke diri sendiri.
Steven tersenyum dari lantai atas, Bima tidak pernah menaikkan sedikitpun nada bicaranya padahal Reva sudah teriak emosi.
"Pria idaman, tidak heran jika kak Rama murid terbaiknya sangat hebat bisa menaklukan seorang Tante seperti Viana Arsen." Stev tersenyum menatap Rama.
"Kak Bima bukan hanya seorang guru, tapi kakak, Ayah, ibu, sahabat terbaik juga banyak memberikan contoh baik. Bahkan sikap pemberontak di hati aku perlahan lenyap."
"Aku juga merasakannya, Reva beruntung dicintai oleh seorang Bima."
"Kamu juga harus sebaik kak Bim, Windy dibesarkan oleh sosok Ayah yang luar biasa baiknya, jangan pernah kamu meninggikan suara, memberikan perintah dengan kasar, selalu ucapakan kata tolong."
"Kak Rama, saat pertama menikahi seorang Tante kejam seperti Viana pernah tidak merasa menyesal."
"Siapa bilang Viana kejam, awalnya aku berpikir pernikahan kami sebuah bencana baru dalam hidup aku, tapi saat sah sikap konyol Viana muncul, banyak melakukan negosiasi, kesepakatan agar dia bebas, sehingga aku berpikir harus tegas."
"Kamu tidak takut jika dia memukul kamu?" Steven tertawa.
"Emhhh, Viana lucu, konyol, kekanakan, tidak dewasa sama sekali, membutuhkan banyak kasih sayang. Hal yang membuat aku stres pakaian juga make up-nya, tapi Alhamdulillah dia berubah dengan cepat juga menghormati aku sebagai suami, tidak sedikitpun meredakan status aku yang masih kuliah dan berusaha membangkitkan perusahaan."
"Hebat. Kak Bim, kak Bisma dan kamu juga inspirasi untuk aku agar bisa menjadi suami yang baik."
"Rumah tangga terbentuk bukan karena kamu terus berusaha menjadi yang terbaik, tapi ada komunikasi antara dua pihak, kalian bisa menyatukan pikiran agar bisa membentuk rumah tangga bahagia. Steven setiap orang memiliki jalan, juga cerita yang berbeda-beda. Setiap pasangan memiliki kelebihan dan kekurangan, kamu harus bisa melihat kekurangan Windy sehingga bisa menjadi kelebihan kamu." Rama menepuk pelan pundak Steven sambil tersenyum.
Rama melihat putrinya Vira yang minta digendong, Stev mengusap rambut Vira yang wajahnya mirip Rama, walaupun bule Viana ada di Vira juga.
***
Persiapan Steven untuk pulang ke Indonesia sudah dilakukan, sebelum pergi Stev berkunjung dulu ke perusahan bersama Vero, menyapa seluruh pemimpin devisi.
__ADS_1
Steven juga berkunjung ke kantor polisi bersama Saka, Bagus dan Vero untuk menemui seseorang.
Wajah kaget Brit terlihat saat menatap Stev akhirnya kembali, Steven meminta maaf jika ada salah di masa lalu, Stev berharap saat bebas Brit menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Steven juga mempercayainya dokter yang membebaskan Brit, juga wanita yang mengacaukan hubungan Vero dan Can.
"Berapa tahun dokter itu di penjara."
"Dia sudah meninggal bunuh diri." Saka menatap rintikan hujan.
"Bunuh diri, kenapa dibiarkan?"
"Dia meminum racun buatan dirinya sendiri, tidak ada yang tahu, setelah beberapa jam meninggal baru ketahuan."
"Baiklah, besok aku pergi. Kalian harus datang di pernikahan aku, tidak ada alasan bekerja." Steven tersenyum menatap sahabatnya.
"Pasti bro bahagianya kamu, juga bahagianya kita." Saka merangkul Steven sambil tersenyum.
"Sebaiknya kita makan siang." Vero menunjuk ke arah restoran di depan mereka.
Steven mengikuti Vero, Saka dan Bagus ke restoran yang belum pernah dia kunjungi. Stev terdiam saat melihat Windy makan dengan seorang pria.
Vero langsung menuju meja makan, sedangkan Stev masih berdiri menatap Windy tertawa bersama seorang pria gagah.
Windy mengatakan kebenarannya, dia sedang makan siang bersama temannya. Stev tersenyum meminta Windy melanjutkan makanannya.
"Ada apa kak tiba-tiba menghubungi Windy?"
"Tidak ada apa-apa." Stev tersenyum mengambil minumannya.
Steven tetap makan dengan santai, sesekali melihat ke arah Windy yang menggenggam tangan pria yang hanya terlihat punggungnya.
"Windy." Vero melihat arah pandangan Steven.
"Biarkan saja Vero, nanti akan aku pertanyakan di rumah." Stev meminta secepatnya mereka pergi.
Saka membawa makanannya ke meja Windy langsung memukul kepala pria yang duduk di samping Windy, Stev menghela nafas memijit pelipisnya.
"Sabar Stev, dia bukan pacar kamu yang seperti dulu bisa kamu akhiri begitu saja." Bagus menepuk pundak Stev.
"Emhhh, aku tidak suka suasana seperti ini."
Saka membisikkan sesuatu kepada Windy jika ada Steven, meminta Windy bersiap untuk Stev abaikan. Setiap kekasih Stev yang ketahuan berduaan dengan pria lain, langsung menjadi orang asing.
__ADS_1
Windy langsung berdiri mencari Steven yang sudah melangkah pergi, Steven membawa mobil menuju Mansion untuk beristirahat.
Windy teriak kuat panik, Vero tertawa bersama Saka menunduk Windy selingkuh.
"Bantuin aku Vero, Stev marahnya hanya diam."
"Kamu sudah ingin menikah makanannya dengan pria lain, tertawa bahagia lagi."
"Pria lain matamu, dia Jeni pegawai butik lama aku."
"Jeni," Vero dan Bagus melihat pria yang berdiri bersama Saka.
"Wow, kenapa dia lebih gagah dari aku?" Bagus mengusap perutnya yang mulai buncit.
"Sekarang siapa namanya?" Vero tersenyum melihat Jeni.
"Perkenalkan aku Jerry."
Vero dan Bagus langsung melangkah mundur, tubuh saja yang besar tinggi, tapi suaranya masih menjadi Jeni.
Windy langsung melangkah pergi untuk pulang, mengacak-acak rambutnya yang takut Steven salah paham.
Steven tiba di Mansion, langsung menyapa para bocah yang asik berdebat. Reva meminta Stev untuk makan siang bersama, tapi menolak karena sudah makan, langsung ingin beristirahat.
Windy juga datang mempertanyakan keberadaan Steven, Reva menjawab Stev ingin beristirahat.
"Mami, Om Stev melihat Windy makan bersama pria lain."
"Astaghfirullah Al azim, kamu ingin membatalkan pernikahan?"
"Mami! sejak kecil mengejar cinta Om bule, tiga tahun menunggu Om bule, tidak mungkin ingin putus."
"Mami kira, sudah santai saja. Stev tidak akan berani marah."
"Bagaimana jika Om bule minta putus?"
"Mami yang akan membunuhnya."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***