
Banyak orang yang melihat penampilan Ar menggunakan rambut warna pink, tapi memperlihatkan ketampanan dirinya.
Ar sudah mulai terbiasa dengan rambutnya yang berubah warna setiap bulannya, ini menjadi keempat kalinya Ar mengganti warna rambut ulah istrinya.
Pertama berwarna biru, merah, hijau dan sekarang berwarna pink. bergonta-ganti warna rambut tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya, bahkan Ar semakin bersinar.
Banyak wanita yang terpesona dengan gaya pemimpin perusahaan berbeda dari yang lain, penampilan boleh berbeda, tapi sikap dinginnya tidak tertandingi.
"Wow, aku rasa jatuh cinta kepada pak bos, rela menjadi simpanannya."
"Jangan macam-macam, istrinya galak. Sekarang sedang hamil besar."
"Biasanya lelaki yang istrinya hamil membutuhkan belaian."
"Sudah jangan dibicarakan lagi, kamu dan istrinya bagaikan langit dan bumi."
Ar berdiam diri di ruangannya, sejak pergi dari rumah perasaan tidak enak. Langsung menghubungi Winda yang tersenyum dengan penampilan yang sangat cantik meskipun masih di dalam rumah.
[Sayang, hari ini perasaan aku tidak enak.]
[Kenapa? pulang saja Abi.]
Ar menganggukkan kepalanya, dia setuju untuk pulang menemui istrinya. Perasaan Ar ingin bersama istrinya sangat besar.
"Ya Allah lindungilah keluarga kami dari segala marabahaya, semoga ini hanya pikiran aku saja." Tatapan Ar sayu langsung berlari ke arah mobilnya.
Senyuman seseorang menatap Ar yang terlihat sangat tampan, bahkan rambut mereka warnanya sama.
Mobil Ar melaju menuju kediaman mereka, Ar berhenti di tempat basket melihat istrinya yang perutnya besar, sedang jalan santai menemani anak-anak bermain.
"Kenapa Ar pulang Win? dia baru saja pergi." Vira mengusap perutnya, melihat Ar berjalan ke arah Winda.
"Entahlah, dia mengatakan perasaannya tidak enak." Winda langsung melangkah memeluk suaminya, mengusap punggung suaminya.
Tatapan tajam melihat keduanya, apalagi melihat perut besar Winda, rasa benci semakin besar melihat kebahagiaan Winda.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia Winda? ingin tahu rasanya koma, akan aku berikan, sekalian akan aku buat anak kalian tidak akan lahir ke dunia ini.
"Ayo pulang Abi, kita istirahat di rumah."
"Vira kami pulang dulu ya."
__ADS_1
"Ikut." Vira berjalan mengejar Ar dan Winda.
Tangan Vira dan Winda saling genggam, Ar merangkul istrinya untuk menuju mobil yang ada di seberang jalan.
"Mati saja kalian berdua." Mobil digas dengan kecepatan sangat tinggi, Ar melihat laju mobil mengarahkan kepada mereka bertiga.
"Awas sayang." Demi menyelamatkan Winda dan Vira, Ar mendorong keduanya ke pinggir jalan sampai terlempar sedangkan Ar menyingkir ke tengah jalan.
Kaki Ar keseleo membuatnya kesulitan untuk bangkit, Vira dan Winda melihat ke tengah jalan.
Mobil putar arah mengarah kepada Ar, Winda langsung ingin berlari menemui suaminya, tapi Vira menahannya sekuat tenaga.
"Abi minggir, awas. Tidak." Winda teriak kuat.
Kasih, Binar melihat jelas kejadian. Anak-anak juga melihatnya. Wira langsung berlari keluar, Kasih juga berlari meminta Wira berhenti.
Asih, Ning, Raka, Elang terdiam melihat mobil berwarna hitam mengarahkan kepada Ar yang sudah bangkit berdiri.
Tatapan tajam melihat seseorang yang ada di dalam mobil, Ar menggelengkan kepalanya meminta berhenti, bentakan Ar tidak dipedulikan.
"Mati saja kamu Ar, aku benci kamu."
Ar sudah pasrah hanya berdoa di dalam hatinya, jika memang takdirnya harus menutup mata, izinkan dirinya melihat anaknya lahir meskipun hanya dalam mimpi.
"Abi Abi." Winda langsung melihat suaminya jauh terlempar. Darah mengalir di jalanan, mata Ar masih melihat istrinya yang juga tergeletak.
"Jaga anak kita Win, maafkan aku." Penglihatan Ar gelap.
Kasih langsung berlari mendekati Winda, hanya hitungan menit kecelakaan yang disengaja menimpa Winda.
"Di mana keamanan tempat ini?" Kasih teriak kuat memanggil suaminya.
Wira melihat Ar yang sudah tidak sadarkan diri, darah mengalir dari kepalanya bahkan tubuhnya penuh luka.
"Uncle, kenapa tidur di situ? ayo bangun Uncle." Wira membenarkan kaki tangan Ar.
Vira langsung ke arah mobil, seorang wanita keluar sambil bertepuk tangan. Dia lompat-lompat bahagia.
Lupa sudah Vira melihat kondisinya yang hamil besar, melihat sahabatnya pendarahan di depan matanya, langsung membuat Vira lupa diri.
Melayangkan pukulan, tendangan kuat. Masih ada perlawanan kedua menjadi satu, Vira yang menggila membenturkan kepala mereka beradu, kaca mobil pecah.
__ADS_1
Kepala wanita yang menabrak Winda, langsung dimasukan ke dalam jendela mobil. Vira mencari sesuatu untuk mematahkan tulang belulangnya.
Binar langsung memeluk Vira, memintanya menyadari keadaan dirinya yang juga sedang hamil besar.
"Dia hampir mati Vira, selamatkan dulu anak kamu Vir, lihat kaki kamu darah semua. Sadar Vira."
Puluhan orang berlarian, Wira meminta dipanggilnya ambulan, dengan alat medis yang lengkap.
Wira mengikat beberapa bagian tubuh Ar yang sudah remuk, tulangnya banyak patah. Tidak butuh waktu lama ambulans tiba.
"Tolong kepala, bagian kepala luka parah." Kepala Ar dipasang alat.
"Tubuhnya banyak luka, nafasnya sudah tidak ada, lakukan bantuan pernafasan. Cepat pergi ada dokter yang akan menunggu kalian." Wira mengusap air matanya.
Mobil Kasih tiba, Winda langsung dibawa ke dalam mobil dalam keadaan tidak sadar juga pendarahan hebat.
Vira juga di bawa masuk karena mengalami pendarahan juga, karena keadaan Vira tidak stabil dia menggunakan mobil lain bersama Binar.
"Uncle, Aunty." Asih menangis, mengikuti kakaknya pulang ke rumah sambil dikawal.
Wira mengambil ponsel Kasih menghubungi Billa mengatakan jika Ar kecelakaan, meminta dokter terbaik bersiap, menjelaskan semua cendera, Wira juga mengatakan kemungkinan buruk meninggalkan di perjalanan.
Winda mengalami pendarahan hebat, meminta dokter kandungan bersiap, bukan hanya Winda, tapi Vira juga yang terlibat kecelakaan.
Tubuh Wira langsung lemas, dia baru saja membaca sial dunia medis, tapi kecelakaan terjadi di depan matanya.
Pesan juga dikirimkan ke dalam grup keluarga, membuat heboh dan panik. Bella juga langsung histeris ingin pergi, tapi anak-anaknya, sedangkan sahabat-sahabat sedang berjuang.
Di rumah sakit, Billa langsung terduduk lemas. Rasanya langit runtuh mendengar penjelasan Wira soal keadaan Ar.
Erik yang sudah mendapatkan kabar merangkul istrinya, memintanya untuk kuat. Billa meneteskan air matanya membayangkan keadaan Winda jika terjadi sesuatu kepada Ar, karena Winda sangat bahagia dengan rumah tangganya.
Mobil ambulan tiba, Billa langsung melangkah mundur melihat kondisi Ar. Erik meminta dibawa ke dalam, bahkan Erik sendiri tidak berani masuk, dilihat dari luar saja harapan kecil.
Untuk pertama kalinya Erik akan mengatakan kegagalannya, Billa Meneteskan air matanya menatap suaminya yang sudah bisa membaca pikirannya.
"Kak, selamatkan Ar. Bagaimana keadaan Baby dan Winda jika terjadi sesuatu kepada suaminya. Bahkan Ar sangat menantikan anak-anaknya."
Erik tidak merespon Billa, langsung melangkah pergi.
****
__ADS_1
belum revisi 5