MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
OM GANTENG


__ADS_3

Bima ke luar dari bandara menuju mobilnya, cepat Bima melajukan mobil menuju rumah. Tubuhnya sangat lelah setelah satu bulan, harus mengurus bisnis di luar negeri.


Di persimpangan lampu merah, Bima melihat Reva yang sedang bersama seorang pria di dalam mobil. Kening Bima berkerut, nampak wajah Reva yang cengengesan.


"Perempuan labil, sukanya tebar pesona." Bima melajukan mobilnya.


Sampai di rumah Bima melihat sepatu seseorang, di rumah ini hanya ada dirinya dan asisten rumah tangga yang hanya pergi pagi pulang sore. Sampai di dalam Bima melihat wajah yang sangat dia kenali.


"Bisma!" Bima kaget melihat adik kembarnya yang datang berkunjung.


Bisma hanya tersenyum sinis melihat Bima yang sangat giat bekerja, Bima yang tidak pernah punya waktu mengurus Keluarganya sendiri. Sibuk mengurus keluarga orang lain.


"Kau belum berubah, masih menjadi babu keluarga Prasetya." Bisma melangkah pergi ke luar rumah dengan tatapan sinis. Tangannya langsung menyambar kunci mobil Bima.


Bima menarik nafas dalam, dan menghembuskannya. Tubuhnya yang lelah ditambah lagi sifat Bisma yang seperti seorang gangster. Bima melangkah ke kamarnya dan beristirahat, karena besok dia akan kembali ke LOVER untuk rapat pemegang saham.


***


Bima duduk terdiam di ruangannya, masih teringat bayangan pertemuannya dan Viana yang tidak sengaja. Bima bersyukur bisa melihat Viana yang sudah akur dengan suaminya.


handphone Bima berdering, nomor yang tidak dia kenali. Berkali-kali Bima mengabaikannya dan akhirnya menyerah. Bima mendengar suara teriakan wanita yang meminta tolong, dan mengirimkan alamatnya untuk menjemput. Bima yang binggung membuka lokasi restoran yang dikirim, dia bahkan tidak mengenali penelepon.


Karena sudah waktunya makan siang, Bima melangkah pergi menuju lokasi restoran. Bima baru saja keluar dari dalam mobilnya, seorang wanita dengan rambut acak-acakan menangis memeluknya.


"Reva sayang! dengerin aku, dia hanya mantan kita tidak punya hubungan apapun, aku hanya mencintai kamu." Haris menarik lengan Reva yang memeluk Bima tapi langsung ditahan oleh Bima.


Tatapan mata dua pria bertemu, Haris mencoba memukul Bima tapi langsung ditahan, Bima memutar tangan Haris.


"kalian semua belum punya pendirian dalam hubungan, ikatan yang kalian bilang sepasang kekasih, menghadirkan hubungan lain karena kalian belum puas dalam pencarian. Pergilah!" Bima mendorong Haris yang berlalu pergi meninggalkan Bima dan Reva.


Dengan kesal Reva melepaskan pelukannya, dan masuk ke dalam mobil kursi penumpang. Bima dibuat garuk-garuk kepala mengurusi anak ABG labil yang tidak jelas sifatnya.

__ADS_1


Bima membiarkan Reva di dalam mobil, dia masuk ke restoran dan makan siang. Bima mendengar pembicaraan beberapa mahasiswi, yang membicarakan Reva gadis miskin yang suka nya mencari pacar banyak duit, agar bisa mengubah perekonomian keluarga. Kesal yang Bima rasakan, walaupun dia tidak mengenali Reva dengan baik.


Bima membungkus makanan untuk Reva, Bima membuka mobilnya. Reva masih terlelap tidur dengan rambutnya yang berantakan, Bima tidak tahu harus menghubungi siapa. Dengan harapan terakhir, Bima menghubungi Rama dan menceritakan seorang wanita yang membutuhkan bantuan, karena baju dan penampilan berantakan. karena istri Rama seorang desainer dan wanita satu-satunya yang dia percaya.


Mobil Bima melaju ke arah rumah Rama, Viana dan Rama menunggu di depan rumah sambil tersenyum bermanja-manja. Mobil masuk Reva membuka matanya dan merapikan rambutnya.


"Om!" Reva memegang pundak Bima.


"Astaghfirullah, saya kaget rambut kamu sudah seperti singa."


"Om nasib Reva sial banget, kemarin di cakar tante-tante tapi dia ternyata wanita baik, karena liburan bareng Reva kemarin di puncak. Dan sekarang Reva dituduh merebut pacar orang." Reva dengan wajah manyun.


Viana yang melihat Bima lama keluar langsung membuka pintu, wajahnya kaget melihat wanita berantakan sambil cemberut.


"Reva!"


"Kak Vi!"


Bima binggung melihat Viana dan Reva saling kenal, Reva langsung keluar. Rama kaget melihat Reva yang kacau, mata Reva berkaca-kaca.


"Reva! mau berapa kali gue bilang cari lelaki yang tulus. Berhentilah untuk gonta-ganti pacar." Rama membawa Reva duduk di depan rumahnya.


"gue berhenti pacaran tapi satu syarat!" Reva bicara sambil berbisik.


"Kenapa gue yang harus memenuhi syarat?" Rama menatap Reva yang senyum-senyum.


"Lo kenal dekat Om Bima, jodohkan gue ke om Bima." Reva bicara berbisik membuat Viana dan Rama teriak kaget.


"gue setuju! Reva kak Vi dukung, semangat." Viana lompat kegirangan.


Bima dan Rama saling pandang, Bima yang tidak mengetahui pembicaraan mereka kebingungan. Rama nyegir mengaruk kepala, Reva dan Viana lompat sambil saling berpelukan.

__ADS_1


Reva sudah lupa dengan luka dan penampilan yang acak-acakan, Bima menggelengkan kepalanya melihat dua wanita yang aneh, mirip seperti orang gila.


"Om, ayo kita pulang Reva mau mandi." Reva menarik tangan Bima yang masih binggung, Rama hanya melambaikan tangannya.


Rama dan Viana tersenyum, Rama sangat yakin ketenangan Bima akan segera berakhir, Reva akan mengejar apa yang menjadi keinginannya.


"sabar kak Bima, Rama mendukung jika Reva suka kakak. Daripada Reva gonta-ganti pacar." Rama dan Viana masuk ke dalam rumah.


***


Bima mengantar Reva pulang, sepanjang jalan Reva tersenyum sambil memakan makanan yang Bima beli di restoran.


"Om! sudah lama kenal Rama, Reva sahabatnya dengan Rama om, kita best friend." Reva bicara dengan mulutnya yang masih penuh.


"kunyah dulu makanan kamu, baru bicara. Jorok!" Bima kesal melihat Reva yang kekanak-kanakan.


"Om makin ganteng kalau lagi kesal, Reva semakin suka."


Bima mengaruk kepalanya, menyesal Bima membawa Reva ketemu Rama yang ternyata satu sekolah. Bima juga heran, Kenapa Reva mau bersahabat dengan wanita aneh.


Reva semakin yakin bisa menaklukkan hati Bima, dengan dukungan Rama dan Viana. Reva juga sudah memutuskan untuk berkerja, disalah satu bisnis Viana dan mendapatkan jaminan dari Vi untuk kuliah.


Reva melihat Bima yang fokus menyetir, dari arah samping Reva bisa melihat pria dewasa yang sangat tampan. Hidung mancung, lesung pipi, tubuh atletis Reva membayangkan hal konyol melihat ketampanan Bima yang berwajah indo bule.


"berhenti memandangi saya!" Bima melihat Reva yang senyum-senyum.


"Om ganteng banget, jomblo kan om. Kalau Reva suka om boleh ya?"


"Kamu bukan tipe saya, kekanakan, berisik, jorok."


"Om, jangan melihat dari luarnya om, lihatlah hati Reva yang tulus dan suci. Reva hanya terlihat dari luar saja yang kurang om."

__ADS_1


"luar kurang waras, dalam kurang bersih. Otak kamu juga tidak beres." Bima binggung melihat dirinya yang bisa beradu mulut dengan wanita. Sudah lama dia tidak berbicara panjang.


Reva memukuli lengan Bima, sambil tertawa. Bima hanya tersenyum di dalam hati melihat gadis kecil yang setiap bertemu dengannya membuat masalah.


__ADS_2