MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TANGISAN REVA


__ADS_3

Suara teriakan Reva menggelegar sampai terdengar ke luar rumah, air mata Reva menetes menatap Bima yang menarik nafas panjang.


"Kenapa kamu membiarkan Windy pergi ke sana?" Reva melemparkan ponselnya menghantam meja.


Wildan dan Winda keluar, Bima meminta Wildan membawa adiknya ke rumah Uncle Bisma yang tidak jauh dari rumah mereka.


"Reva, jika kamu marah kita bicarakan berdua, jangan didengar anak-anak." Bima berjalan mendekati Reva ingin memeluknya, tapi Reva mundur tidak ingin disentuh.


Wildan dan Winda keluar, melihat aunty Jum dan Viana sudah ada di depan rumah mereka. Jum langsung menggendong Winda yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi Wildan? Papi Mami kamu tidak pernah bertengkar hebat." Viana memeluk Wildan menenangkannya.


"Papi, membiarkan kak Windy kembali kepada keluarga kerajaan, Mami marah dengan keputusan Papi, apalagi tanpa meminta pendapat Mami."


"Kerajaan? Windy pergi ke dunia dongeng, atau dunia perang?" Jum kebingungan.


"Windy keturunan kerajaan, dia Putri seorang Raja." Rama keluar meminta Wildan ke rumahnya membawa Winda.


"Kenapa kak Bima tidak meminta pendapat, membiarkan Windy pergi, keterlaluan." Bisma yang baru datang langsung melangkah masuk.


"Kak Vi, Windy anak raja apa? bukannya kerajaan sudah tidak ada lagi, jangan bilang Windy sudah berusia ratusan tahun, tapi dia awet muda."


"Jum jangan konyol, kamu kebanyakan nonton film fantastis. Kerajaan masih ada di luar negeri, juga kehidupan mereka sama seperti kita, tapi negara tersebut dipimpin oleh Raja."


"Mereka masih menggunakan baju besi? membangun candi seperti Tangkuban perahu."


Viana menatap sinis, Jum langsung tersenyum berlari ke dalam mengikuti suaminya.


Rama dan Bisma menatap Bima yang diam saja, mendengarkan caci maki Reva, membiarkan Reva marah besar.


"Bagaimana jika Windy seperti ibunya? kenapa ingkar janji, katakan tidak akan membiarkan Windy pergi?" Reva menangis sesenggukan, bibirnya bergetar.


"Reva Windy baik-baik saja, besok kamu bisa berbicara dengannya. Aku percaya putriku bisa melawan kemarahannya." Bima berbicara tegas.


"Putriku, ya dia memang anak kamu. Bima aku menikahi kamu bukan hanya karena aku mencintai kamu, tapi aku mencintai putrimu. Reva bahagia saat kamu selalu berbagi soal Windy, bercerita cara kita berdua membesarkan dia. Jangan karena dia putri kamu sehingga tidak membutuhkan aku lagi."


"Reva kamu jangan berpikir seperti itu, aku pastikan Windy baik-baik saja, dia akan kembali ke keluarga Bramasta."


"Sejak aku tinggal bersama kalian, Windy selalu menghubungi aku, menceritakan segala kegiatannya, tapi sekarang dia hampir 3 hari tidak memberikan kabar, tidak bercerita lagi, saat aku tahu dia sudah berada di kerajaan. Kalian berdua sungguh membuat Reva kecewa."

__ADS_1


"Kenapa Windy bisa di kerajaan?" Bisma menatap Bima.


"Dia ingin menghentikan kekacauan di kerajaan."


"Dengan siapa?"


"Steven, ada kakaknya juga, Ayahnya, juga neneknya."


"Windy pergi, kamu tidak memberitahu kita kak Bim, kita keluarga kak, bagaimana bisa kita tidak ada yang tahu."


"Aku percaya Windy bisa mengatasinya, ada saatnya kita tidak ikut campur, ini masalah keluarga kandung Windy, tugas aku melindungi dia."


"Bagaimana keadaan Windy sekarang?" Rama duduk di samping Bima.


"Dia baik-baik saja, masalah di sana sudah selesai, tapi aku belum bisa menghubungi Windy."


Bima melihat ponselnya, panggilan dari Steven, Bima langsung menghidupkan layar besar di ruang tamu, menjawab panggilan video.


Terlihat semua orang berkumpul melambaikan tangannya, Windy terlihat sangat bahagia, memeluk neneknya.


Windy mengatakan jika dia baru selesai makan, ternyata masakan di kerajaan Cana sangat enak, berbeda dengan masakan di manapun.


Bima tersenyum melihat Windy, menyapa Raja Hanz. Windy langsung mencari Maminya.


[Kamu bahagia?] Reva meneteskan air matanya.


[Windy sangat bahagia, wajah Windy juga sangat mirip Bunda, bahagianya Windy tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasanya beban di dalam hati Windy langsung lepas.] Windy tersenyum manis, tapi senyum langsung hilang saat melihat Maminya menangis sesenggukan.


[Bagus jika kamu bahagia, sekarang kamu sudah bisa mandiri, tidak membutuhkan Mami lagi, kamu sudah bisa melangkah sendiri.] Reva langsung melangkah pergi, menghapus air matanya, membanting pintu kamarnya sangat kuat.


[Windy masih butuh Mami, kenapa Mami berbicara seperti itu?] Windy langsung menangis.


Viana menatap Windy memintanya jangan menangis, seorang ibu tidak akan pernah bisa tidur tenang jika anaknya tidak berkabar.


Vi beberapa kali menatap Reva yang lebih banyak diam, selalu melihat ponselnya, menuggu kabar dari Windy.


[Win, Mommy tahu kamu sangat menyayangi Mami, Mommy juga tahu kamu sudah dewasa, tapi hati seorang ibu, sekalipun kamu sudah menikah akan terus mengkhawatirkan putrinya, sesibuk apa kamu, setidaknya kirimkan pesan, katakan jika kamu baik-baik saja.] Viana langsung melangkah menaiki tangga.


[Windy harus bahagia, nanti hubungi Mami.] Jum langsung berlari mengejar Viana.

__ADS_1


Bima meminta Windy jangan banyak pikiran, selesaikan masalah di sana.


[Papi, Windy sangat menyayangi Mami. Windy salah tidak memberikan kabar, beberapa kali Mami juga menghubungi Windy, tapi tidak sempat menjawab, maafkan Windy.]


[Windy tidak salah, semua ini kesalahan Papi.]


[Win, kami tahu siapa kamu, tapi jangan lupakan kami di sini, terutama Mami kamu.]


[Tidak Uncle, Mami nyawa Windy, tidak ingin berpisah dari Mami, Windy akan segera pulang.]


[Jangan sayang, Papi yang akan menjemput kamu ke sana, maafkan aku Raja Hanz, dia putriku, selamanya akan menjadi putriku.]


[Kami menunggu kedatangan kalian Bima, kalian keluarga besar harus datang untuk menyaksikan penobatan Raja baru, juga kamu punya hak sepenuhnya atas Windy.] Raja Hanz tersenyum.


Bima tersenyum mengucapkan terima kasih sudah di undang, Bima pasti akan datang.


[Tuan Bima, istrimu terlihat sangat mencintai Windy, melebihi seorang ibu kandung.]


[Iya, dia lebih mencintai Windy dari pada aku.] Bima tersenyum melambaikan tangannya.


Bima duduk bersama Rama dan Bisma, Windy memang terlihat bahagia, tapi sekarang perasaan pasti sedang gelisah karena Maminya.


"Reva marah besar, sulit untuk membujuknya." Rama tersenyum menatap Bima.


"Emhhh, Reva bahkan mengatakan ingin berpisah, membawa kedua anakku."


Bisma langsung tertawa, Bima memang lelaki hebat yang bisa sangat sabar menghadapi Reva, mengakui kesalahannya dan meminta maaf beribu kali.


"Kak, coba sekali saja marah dengan Reva."


"Kamu coba sekali saja marah dengan Jum." Bima tersenyum menantang balik.


"Tidak berani, Jum jika marah sangat dingin."


"Rama kamu ingin mencoba."


"Tidak, Rama takut kehilangan. Jika mengalah bisa membuat kita bahagia kenapa harus memaksa menang."


"Kenapa aku tidak bisa membentak Reva? hati aku sakit saat melihat air matanya, seperti hari ini dia menangis sampai memegang dadanya, aku pasti sangat menyakitinya." Bima menyentuh dadanya, memukulnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Reva, aku sangat mencintai kamu, tapi hari ini aku membuat kamu menangis." Batin Bima dalam hati.


***


__ADS_2