MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 TANGISAN BAHAGIA


__ADS_3

Pesawat tiba di bandara, Winda turun dengan penuh kebahagiaan. Bukan hanya Winda, tapi Ar juga sangat bahagia.


Keduanya melangkah keluar, mobil mewah Ar sudah menunggu. Mereka tiba masih subuh, sehingga tidak ada keluarga yang tahu.


Senyuman Winda tidak pernah hilang, dia sangat merindukan seluruh keluarga. Hari ini menjadi hari paling bahagia untuk Winda dan Ar


"Abi, Winda bahagia sekali."


"Aku juga Win, sangat sangat bahagia, kita harus banyak bersyukur." Ar menjalankan mobil sendiri, langsung menuju kediaman keluarga mereka.


Jalanan yang masih sepi, membuat Ar tidak kesulitan untuk mempercepat laju mobil mereka, pasti Papi dan Maminya sudah bangun untuk sholat.


Rasa rindu Winda membuatnya menangis, melihat area perumahan mereka sangat membuat Winda bahagia.


"Vira, Bella, Billa, semuanya Winda pulang." Winda tersenyum sambil menangis melihat rumah sahabat-sahabatnya yang masih tertutup.


Mobil tiba di depan rumah orangtuanya, Winda langsung turun berlari. Pintu masih tertutup, Winda langsung membuka sandi pintu membukanya lebar.


"Mami ... Papi ... Winda pulang." Suara Winda menggema di kediaman orangtuanya.


Bima yang sedang mengaji bersama Reva di ruangan sholat langsung melihat ke arah pintu. Reva langsung menangis, berjalan membuka pintu melihat putrinya sudah berdiri di depannya sambil banjir air mata.


"Winda, anak Mami pulang." Reva langsung melangkah keluar, memeluk erat putrinya tercinta. Reva dan Winda menangis bersama melepaskan rasa rindu.


Bima berdiri menatap putri kecilnya, air mata Bima juga menetes sangat bahagia melihat anaknya kembali.


"Papi." Winda langsung menangis, memeluk erat ayah yang sangat Winda cintai. Lelaki yang tidak akan pernah menyakitinya.


"Alhamdulillah kamu sehat nak, kita semua rindu kamu." Bima mencium kening, kedua pipi Winda, dagu dan menyatukan hidung mereka.


Winda mencium kening, pipi, dagu, mata dan menyatukan hidungnya. Pelukan Winda sangat erat karena merindukan Papinya.


Reva juga memeluk putri dan suaminya, mengusap rambut Winda.


"Mami cium dulu." Winda mencium kening, pipi, dagu, mata, bibir lalu menyatukan hidung mereka. Reva melakukan hal yang sama.


Ar masih berdiri, melihat kebahagiaan Winda yang bertemu kedua orangtuanya, saling melepaskan rindu.


"Ar, apa kabar kamu nak." Bima mendekati Ar, memeluknya.


"Alhamdulillah baik papi, kabar Papi?" Ar tersenyum mengusap punggung mertuanya.


"Alhamdulillah baik juga sehat, kalian pulang tanpa pemberitahuan."


"Iya Pi, pulangnya memang dadakan."

__ADS_1


"Aunty Winda pulang." Wira yang melihat Winda langsung berlari menuruni tangga.


Winda tersenyum langsung, langsung berjongkok merentangkan tangannya ingin menyambut Wira. Tatapan Winda langsung tajam, Wira berlari ke arah Ar membuat Bima dan Reva tertawa.


"Wira kamu mencari mati." Winda melotot ingin menelan Wira.


Suara tawa Winda terdengar, berlari lagi ke arah Winda langsung ingin memeluk, tapi berputar dulu membuat Winda berteriak.


"Aunty, siap-siap pesawat ingin memeluk." Wira langsung merentangkan tangannya.


"Wira."


"Sabar Aunty, harus berputar dulu."


Bibir Winda monyong, Wira langsung mendaratkan pelukan kepada Aunty yang selalu bertengkar dengannya.


"Apa kabar Aunty, Wira kangen." Pelukan Wira erat, Winda tersenyum mengusap punggung keponakan kesayangannya.


"Kamu pasti ingin bilang, tapi bohong."


"Tidak, Wira benar-benar kangen. Aunty tidak mengerti perasaan Wira, lihat foto Aunty jadinya sedih, biasanya kita selalu bertengkar, setiap hari rumah ini sepi. Rasanya dada Wira sesak menahan rindu, kenapa perginya lama sekali? Wira rindu Aunty, ini tulus Lo Aunty." Wira memeluk erat Winda, tidak ingin melepaskannya, air matanya juga menetes, karena tulus merasakan kerinduan.


Winda langsung menangis, ternyata keponakan kesayangan juga rindu, anak nakal yang selalu membuat masalah bisa berbicara tulus jika soal perasaan.


Windy tersenyum melihat Winda, Wira juga mencium pipi Winda.


"Alhamdulillah akhirnya kamu pulang, kita semua sangat merindukan kamu." Windy mengusap air mata adiknya.


"Iya kak, Winda juga sangat merindukan kalian semua."


"Wildan yang paling merindukan kamu, meskipun dia tidak pernah mengatakannya. Setiap pulang ke sini dia selalu melihat foto kamu, melihat album kalian saat kecil. Katanya kak Win kenapa Winda dan Wildan tidak mirip, padahal kita kembar?"


"Kita mirip, tampan dan cantik." Winda tertawa, dia juga sangat merindukan kakaknya.


Steven juga turun, Winda langsung memeluk Steven. Sosok kakak ipar yang paling dekat dengannya.


"Apo kabar Om bule? Winda selalu makan masakan suami Winda, masakannya enak, tapi masakan Om bule lebih enak. Boleh Winda minta merasakannya kembali?"


"Apa pernah kak Stev menolak keinginan kamu?"


"Tidak, kak Stev sangat menyayangi Winda." Pelukan Winda erat memeluk satu-persatu keluarganya.


"Ehh suami kesayangan terlupakan." Winda memeluk Ar, mencium bibirnya di depan banyak orang.


"Maaf Mami, Papi, kak Win juga kak Stev." Ar tidak enak menjadi pusat perhatian, Winda terbiasa langsung nyosor.

__ADS_1


Senyuman Winda terlihat, langsung memeluk Papinya ingin makan disuap oleh Papi. Bima menganggukkan kepalanya, mengusap kepala putrinya yang sangat dia rindukan.


Sesuai request Winda, Stev masak untuk sarapan mereka. Makanan sederhana juga sehat untuk sarapan pagi.


Winda tersenyum mencium bau masakan, Bima menyuapi Winda dan Wira yang tidak ingin kalah saing.


"Aunty Win di sana makan apa? seperti orang tidak pernah makan." Wira mengerutkan keningnya.


"Makan apapun yang halal, di sana jarang bertemu nasi, jadinya banyak makan roti, kentang dan kawan-kawan." Winda membuka mulutnya, menerima suapan Papinya.


"Ar, kalian pulang tidak sesuai jadwal."


"Iya Pi, pekerjaan sudah selesai. Ar memindahkan pusat perusahaan ke sini, langsung bekerja sama dengan perusahaan Ravi." Ar memakan masakan Stev yang memang enak.


"Alhamdulillah, berarti kalian akan menetap."


Winda langsung mengambil minum, mengigat sosok Josua langsung menatap Maminya.


"Mami, Winda punya rahasia Mami. Kita di Paris bertemu pengemar Mami."


"Siapa? Mami memiliki banyak penggemar."


"Om Josua, dia satu kampus dengan Mami. Dia pernah datang ke sini untuk melamar Mami, tapi sayang kalah cepat karena Mami sudah bersanding dengan Papi."


"Benarkah, Mami lupa. Di kepala Mami hanya ada Bima Bima Bima Bima, Om duren om duren om duren. Tidak mengenal pria lain." Reva tertawa.


"Syukurnya Mami sudah menikah, jika tidak nama Winda tidak ada." Windy tertawa.


"Jangan salah kak Windy, Winda akan tetap ada meskipun Maminya langsung berbeda." Winda tertawa, pukulan Reva kuat menghantam punggung Winda.


"Aduh Mami, kenapa hanya Winda yang dipukul, kak Windy juga." Winda memeluk Papinya.


"Reva, di sini ada Wira. Kenapa kasar sekali?"


"Winda yang bicaranya sembarang, Ay Bima milik Reva."


"Astaghfirullah Al azim Reva, anak sudah tiga, punya menantu, punya cucu masih kurang apa lagi. Aku milik kamu sampai mati." Bima menggelengkan kepalanya.


Bibir Reva monyong, Windy menahan tawa, Ar dan Stev hanya diam saja.


"Kakek sudah tua, tidak mungkin cari pacar lagi. Iyakan kek?" Wira tersenyum, langsung menghabiskan susunya.


***


MAAFKAN TYPE,

__ADS_1


MINTA IKUT GIVE AWAY FOLLOW IG VHIAAZAIRA, COMENT DI SETIAP EPS.


***


__ADS_2