MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
WHAT IS YOUR NAME


__ADS_3

Sesampainya di pantai Bima memesan makanan dan minuman, semuanya berkumpul penuh canda dan tawa. Keusilan para bocah membuat Bima hanya tersenyum tipis, dan sedikit menjauh. Bima juga melihat Bisma yang sibuk menggoda para perempuan seksi di pinggir pantai.


Reva sibuk memeriksa tasnya, mencari kacamata yang dia siapkan untuk Selfi. Geng wanita sibuk foto-foto cantik dan tertawa riang.


Sedangkan yang laki-laki bermain gitar dan bernyanyi.


"Pinjam, pelit banget jadi orang. Kamu mau mati ditimpa kacamata." Teriak Viana berebut kacamata dengan Septi.


"Jangan kacamata Vi, mendingan mati ditimpa duit, yang ditinggalkan jadi punya uang pesangon." Ucap Sisi tertawa.


"Enak saja, Siapa suruh tidak membawa sendiri!" balas Septi kesal.


"Sudahlah, tinggal pakai bergiliran juga repot banget!" Ucap Clara yang mengambil kacamata dari tangan Viana.


"Kak Vi! pakai punya Reva saja." Ucap Reva menyerahkan kecamatan ke Viana.


"Ogah! itu kacamata orang buta." Teriak Viana yang membuat semua orang tertawa, dan Reva langsung cemberut melihat kacamata.


"Tapi Non Vi, itu kacamata seperti punya kakek Jum, kacamata rabun." Ucap Jum menimpali membuat gelak tawa semakin menjadi-jadi.


"Lagian Lo ngapain Rev bawa kacamata gituan," tanya Septi mengambil kacamata ditangan Reva dan memakainya.


"Gue tadi masukin kacamata gaul warna kaca biru, mana tahu malah kacamata rabun." Jawab Reva berpikir pasti ulah adiknya yang menukar kacamatanya.


"Liatin gue udah kayak nenek-nenek." Gaya Septi mempraktekkan jalan nenek-nenek menggunakan kayu sambil memakai kacamata Reva.


Semuanya tertawa melihat aktraksi Septi yang konyol.


....


Selesai sholat Zuhur berjamaah, dan hanya Viana yang membawa mukenah, jadi yang perempuan bergiliran sholatnya.


Mereka semua berkumpul untuk makan siang dengan menu khas laut, ada udang, cumi, kepiting, berbagai jenis ikan. Semua makan dengan lahap sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah dan rambut mereka.


"Hubby, Viana mau bawa motor ya," ucap Vi sambil menelan makanannya membuat Rama menghentikan makannya melihat kearah Vi.


"Kamu tidak bisa bawa motor Viana."


"Tapi Vi lancar membawa sepeda Hubby."


"Ram, mendingan Lo lempar istri Lo ke laut, kesel gue denger dia ngomong." Ucap Ivan.


Rama menyudahi makanya, menghadap kearah Viana, sambil memegang pipi Viana.

__ADS_1


"Viana sayang, sepeda dan motor beda cara pakainya, sepeda hanya di kincang, tapi motor harus memasukkan gigi juga ada gasnya.


"Serem sekali tuan muda, Mengapa kita harus memasukkan gigi tidak takut ompong." Ucap Jum membuat Rama menghela nafas sedangkan yang lainnya sudah guling-guling memegang perut tertawa.


"Asli kak Viana benar, otak Jum macet." Hahaha tawa Reva terdengar ngakak.


Jum binggung melihat semua orang tertawa, tatapan mata Viana sinis kearah Jum, kesal hatinya konyol sekali otak Jum, kalau pakai motor membuat ompong tidak ada yang mau membeli motor.


"Non Vi, jangan tatap Jum seperti itu. Seharusnya Non Vi bilang kalau mau bawa gas dari rumah, disini tidak ada jual gas Non."


Viana mengelus dadanya, sabar Viana nanti cepat tua, Jum manusia kampungan dari zaman purbakala, dari zaman kera atau zaman batu.


"Liburan kali ini kita olahraga wajah ya, lucu banget." Ucap Romi belum berhenti tertawa.


Rama tidak mau lagi menjelaskan soal motor, dia akan terlihat seperti guru konyol didepan Jum.


Kepolosan Jum selalu membuat tawa yang mengocok perut, mata Reva berkeliling mencari sosok prianya. Dari kejauhan Reva melihat Bisma bersama para wanita seksi. Reva langsung berjalan diikuti oleh Septi sambil kejar-kejaran. Bima melihat Reva yang asik bermain di pantai, dan menganggu Bisma yang sedang menggoda.


"Reva! Lo mau apa?" Bisma melotot.


"Om Bisma, jadi orang genit banget! anak sudah 5 istri cantik di rumah masih saja cari cemilan. Dasar laki-laki tidak setia." Reva melotot menantang Bisma.


Para wanita yang duduk bersama Bisma langsung berdiri dan melangkah pergi, Bisma juga berdiri siap menjitak kepala Reva yang mulutnya bicara sembarangan. Reva berlari kencang, sambil tertawa dan memeluk Jum yang sedang berjalan menyusulnya.


Bisma coba menarik Reva, tubuh Jum di putar membuatnya pusing. Reva mendorong Jum dalam pelukan Bisma dan berlari.


"Mana ada copot! ini masih ada pada tempatnya." Bisma memegang kepala Jum dan menatap wajahnya.


Reva melihat Bima yang asik bermain ponselnya, duduk di batu dekat bawah pohon. Bima kaget melihat handphone diambil dan wajah Reva tersenyum di hadapannya.


"Hayo chatting sama siapa? awas kalau berani selingkuh." Reva mengecek handphone Bima, dengan hembusan nafas kasar, Bima langsung memeluk Reva dari belakang dan mengambil ponselnya dan berlalu pergi.


"Bocah ABG lancang, saya chat siapa bukan urusan kamu." Bima memasukan ponselnya di dalam saku celana.


"tapi Reva cinta Om," Reva berjalan sambil mundur di hadapan Bima.


"tapi saya tidak cinta kamu." Bima membuang pandangannya.


"Sekarang! tapi nanti Om yang akan mengejar cinta Reva. Ingat Om mulut bisa berbohong tapi hati tidak." Reva bicara sambil menunjuk bibir dan dada Bima.


Bima berjalan melewati Reva, suara teriakan Reva yang terjatuh membuat Bima menoleh.


"Dasar buta!" Reva marah ke seorang pemuda bule.

__ADS_1


"Are you oke?"


"Yes! ehhhhh No mister." Reva mengaruk kepalanya, memikirkan bahasa Inggris untuk marah-marah.


"I am sorry!" pinta bule sambil memohon.


Reva diam dia sedang berpikir, pasti bule sedang meminta maaf. Reva ingin mencaci-maki tapi tidak tahu cara ngomongnya.


"You! buta bahasa Inggris apa? Reva menunju matanya dan diikuti si Bule.


Bima yang melihat interaksi keduanya, menahan tawa. Reva sangat konyol dan lucu di mata Bima.


"sorry, I am in a hurry, are you hurt?" (maaf, saya sedang buru-buru, apa kamu terluka?)


"Ngomong apa ini bule! gue kelihatan banget bodohnya."


Bima datang menghampiri Reva dan bule, Bima menjabat tangannya dan menerima permintaan maafnya. Mereka berdua bicara lancar berbahasa Inggris, Reva hanya celingak-celinguk melihat wajah Bima dan di Bule.


"Om tanya namanya om?" Reva bicara sambil berbisik.


"tanya sendiri," Bima balas berbisik.


"Ajarin Om!" Reva menatap Bima.


Bima menggagukan kepalanya, membisikan sesuatu yang membuat Reva tersenyum. Sedangkan Bima melangkah pergi sambil menahan tawa.


"I go first, my husband and child are waiting." Reva dengan bangganya berbicara, Bule hanya menggagukan kepalanya dan pergi meninggalkan Reva.


Dengan wajah binggung, Reva heran dia mengajak kenalan mengapa di tinggal pergi.


" I itu saya, go pergi, my juga saya, husband suami, child anak, waiting apa?" Reva coba mencerna ucapannya.


Reva mengambil ponselnya, membuka arti dari ucapannya, yang membuat Reva menendang batu sambil menghentakkan kakinya.


"Saya pergi dulu, suami dan anak saya sudah menunggu." Reva teriak kuat.


"'what is your name, siapa nama kamu. Om Bima buat malu Reva, makanya Reva sekolah belajar, jangan hanya tahu mencontek." Reva mencaci dirinya sendiri yang dikerjain Bima.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT


***


__ADS_2