MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENCURI


__ADS_3

Sudah melewati bulan ke delapan, perut Reva semakin besar, untuk berjalan saja sulit. Bima sampai memindahkan kamar ke lantai bawah, agar Reva tidak naik turun tangga. Sejak masuk bulan ke delapan Bima tidak bekerja, memberikan kepercayaan kepada karyawan andalannya untuk menggantikannya sementara.


"Sayang, ayo ke mall?" Reva mendekati Bima yang baru selesai mandi.


"Mau apa sayang, kamu tidak capek jalannya."


"Cari kado untuk Vira, dia akan berulang tahun hari Minggu ini, Reva ingin memberikan kado tapi tidak tahu ingin membeli apa?"


"yakin sayang mampu berkeliling mall, kita pesan online saja."


"Pokoknya mau pergi, sekalian mencari baju baby."


"Perlengkapan bayi sudah dibelikan ibu satu bulan yang lalu,"


"Reva mau pergi Ayy, pengen ke Mall."


Dengan tersenyum Bima setuju, jika Reva menginginkan sesuatu tidak pernah bisa dibatalkan, Bima hanya bisa menuruti keinginan istri cantiknya yang sedang berbadan tiga.


***


Sampai di Mall sangat ramai karena sedang libur sekolah, Bima sengaja membawa tiga Asisten rumah untuk membantu Reva. Lama mereka berkeliling, Bima pusing melihat kesibukan para wanita, tangannya menggenggam erat tangan Reva yang tidak bisa diam.


"Jadi sekarang kita beli apa untuk Vira?"


"Emhhh, kita ke toko perhiasan saja Ayy."


"Kenapa dari tadi berkeliling, kalau tujuan hanya toko perhiasan." Batin Bima dalam hati.


Di toko perhiasan Reva memilih empat kalung, dengan gantungan bintang. Reva tersenyum melihat cantiknya kalung untuk Vira.


"Kenapa belinya empat sayang?"


"Vira, Winda, Bella dan Billa."


"Kalungnya cantik, pasti lucu sekali melihat keempatnya menggunakan kalung kembar."


Bima meminta di masukkan kotak untuk diberikan kepada Viana dan Jum, setelah membelikan perhiasan Bima menemani Reva makan. Bima mengeluarkan kotak membuat Reva mengerutkan keningnya, Reva langsung mengambil dan membukanya.


Reva tersenyum mengeluarkan kalung yang sangat cantik, Bima memang bisa memberikan segalanya untuk Reva dalam materi tapi Reva menolak untuk menghamburkan uang untuk membeli yang tidak dibutuhkan.


Kalung cantik bermatakan bulan purnama, terdapat juga inisial nama B. Reva tidak tahu kapan Bima memesan yang pasti kalung yang Bima berikan harganya sangat fantastis.


"Suka tidak sayang?"


"Apapun yang Ayy berikan, Reva pasti suka."

__ADS_1


"Mau aku bantu memakainya." Bima akhirnya mendekati Reva, menyingkirkan rambutnya memasangkan kalung membuat Reva tersenyum terus karena dia sangat bahagia.


Selesai memasangkan kalung, Bima menghisap leher Reva membuat Reva menutup mulutnya. Kini Reva mengerti mengapa Reva memilih ruangan privat karena ingin bisa bermesraan.


"Ayy, jangan dibuat merah Reva malu."


"Berarti kamu harus menggunakan hijab, karena leher kamu sudah memerah."


Reva terdiam memegang lehernya, keinginan Bima yang tidak dia katakan secara langsung tapi Reva mengerti maksud suaminya, berkali-kali Bima memancing Reva untuk mencoba hijab, selalu memuji saat menggunakan mukenah, menolak Reva menggunakan baju seksi walaupun hanya baju tidur.


"Va, aku mencintai kamu, sungguh aku tidak rela berbagi dengan banyaknya mata untuk memandangi kamu. Mengagumi kamu, melirik kamu, sebagai seorang suami aku ingin menjadi lelaki satu-satunya yang bisa melihat betapa cantiknya kamu." Bima mengambil tangan Reva, menciumnya dan menggenggamnya.


"Bisa kasih waktu Reva, bukan niat Reva menolak ataupun tidak yakin. Memperbaiki diri tidak ada kata terlambat."


"Iya sayang, yakinkan hati kamu agar suatu hari tidak rela memperlihatkan rambut kamu dihadapan lelaki lain."


Air mata Reva perlahan menetes, masuk ke dalam pelukan Bima. Saat kecil bapak Reva pernah menasehatinya, jika nanti telah dewasa pilihan lelaki yang menegur dengan kelembutan, lelaki yang membimbing lebih baik, lelaki yang tersenyum walaupun sedang marah.


Reva sangat takut saat mengatakan kepada orang tuanya mencintai seorang duda, tapi bapak tidak mengatakan apa-apa dia hanya tersenyum dan menerima Bima, ternyata alasan seorang ayah melepaskan putri kesayangannya kepada lelaki yang lebih lagi bisa menjaga, membimbing, memperbaiki diri.


"Ayy, waktu pertama bertemu bapak. Apa yang bapak pertanyakan?"


"Pertama bapak minta Ayy menjadi imam shalat,"


"Jika tiba saatnya, ada lelaki yang ingin mempersunting Windy, bagaimana tanggapan Ayy?"


"Kita harus menghitung dulu harta kekayaannya." Tawa Reva terdengar, Bima hanya mencium kening Reva yang sangat mengemaskan dengan pipi tembam.


"Yang paling utama akhlaknya, harta bisa di cari, ketampanan bisa memudar tapi ketaatan, kelembutan, akhlak yang baik sulit di temukan."


"Untuk lelaki yang akan mendekati Windy tidak akan mudah, Reva tidak akan melepaskan Windy dengan mudah."


Selesai makan Bima langsung membayar makanan mereka, Reva mengurai rambutnya untuk menutupi jejak merah di lehernya ulah Bima.


***


Acara pesta ulang tahun Vira dirayakan di kediaman Prasetya, keluarga besar Viana juga hadir. Manusia paling heboh Ravi Prasetya, keluarga sibuk berkumpul di rumah dia sibuk mencari Tian dan Erik untuk mencuri mangga di rumah Bima.


"Kenapa kita tidak meminta saja, Uncle pasti langsung memberikan semuanya." Tian mengaruk kepalanya melihat ke atas pagar pembatas Uncle Bima.


"Belum tahu rasanya hasil mencuri? jika penasaran ayo kita coba." Ravi langsung mengambil tangga dan naik.


"Rasanya pasti tetap rasa mangga, cuman moments yang berbeda." Erik juga ikut naik tangga.


Tian akhirnya menurut saja dan ikut menaiki tangga, dua bocah sudah duduk manis di pagar mencari sasaran buah yang akan mereka ambil.

__ADS_1


"Ya Allah ampunilah dosa kami." Tian menadahkan tangannya, Tian hanya cekikikan tertawa.


"Ular!" Ravi langsung teriak.


Tian dan Erik saling pandang, tanpa pikir panjang keduanya langsung lompat tanpa melewati tangga. Bunyi kuat suara jatuh membuat penjaga kediaman Bima langsung berlari dan melihat Tian dan Erik tersungkur. Sedangkan Ravi hanya melambaikan tangannya masih berdiri di atas pagar beton.


Bima yang berada dikediaman Rama mendapatkan panggilan dari penjaga rumah, tawa Bima terdengar membuat yang lainnya binggung.


"Ada apa kak Bim?"


"Di mana Ravi, Tian, dan Erik? Bima menatap ketiga orang yang juga tidak tahu keberadaan anaknya.


Langkah kaki tiga bocah dengan baju kotor, Tian dengkulnya luka, Erik keningnya memar sedangkan Ravi bajunya sobek karena nyangkut.


"Kalian berdua yang bodoh mengapa harus lompat?"


"Kamu juga teriak ular, kalau sampai dipatuk ular mati juga."


"Ular tidak mengigit dan mematuk, dia baik dan sangat mengemaskan."


"Mana ada ular yang mengemaskan, baru dipegang sudah melilit."


"Itu ular Ravi!" Ravi teriak dan menunjuk kucing yang baru dia adopsi, Tian dan Erik sudah sembunyi di belakang Ravi yang menggendong kucingnya.


Erik dan Tian saling pandang, menggelengkan kepalanya. Ravi memanggil kucing dengan sebutan ular.


Belum sempat Ravi masuk rumah, Viana sudah berdiri melipatkan kedua tangannya. Jum langsung berlari melihat dengkul Tian melihat Erik yang juga memar.


"Ravi, Ravi! kenapa kamu nakal sekali?" Viana teriak, Rama langsung mendekat dan mengelus kepala putranya.


"Kenapa kamu mengajak Tian dan Erik mencuri?"


"Untuk bersenang-senang," Viana menepuk jidat mendengar jawaban Ravi, meninggalkannya untuk menuju tempat acara pesta.


"Erik sakit kepalanya? kenapa kamu mengikuti keinginan Ravi, seharusnya kamu melarangnya." Septi melihat kening putranya yang sudah benjol.


"Erik hanya ingin bersenang-senang, lucu juga mencuri dan ketahuan. Tadi juga jatuh karena Ravi teriak ular bisa mengeong."


Bisma menatap Tian putranya, tapi Jum melototi Bisma lebih besar melarang untuk memarahi putranya.


"Sudahlah jangan di marah, mereka hanya bersenang-senang." Bima mengelus kepala tiga bocah yang tertawa langsung mengganti baju untuk berpesta lupa dengan rasa sakitnya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2