
Malam yang gelap gulita Windy tertawa memasuki rumah hantu bergabung dengan puluhan mahasiswa, tangan Steven panas dingin ketakutan.
Windy terus tertawa ternyata Steven sangat penakut, suara teriak Stev membuat kesal banyak orang karena suaranya.
"Benar kata orang sebelum menikah terlihat keren, setelah menikah sungguh memalukan. Terlihat semua karakter buruknya." Windy tersenyum memeluk Stev.
"Ayo keluar saja sayang, nanti aku bisa ngompol di celana." Steven menarik tangan Windy.
Suara Windy tertawa sangat puas, keluar dari rumah hantu lanjut membeli gulali. Steven terpaksa memakannya, sejak menikah sulit sekali menjaga hidup sehat apalagi memiliki istri yang hobi makan.
"Naik itu Ay."
"Sayang jangan naik ketinggian, takut." Steven menghela nafasnya.
Steven tidak memiliki pilihan kecuali mengikuti keinginan istrinya, tidak mungkin membiarkan Windy bermain sendiri.
Sudah larut malam Steven dan Windy memutuskan untuk pulang, karena keesokan harinya mereka akan kembali ke Indonesia.
Berencana kembali bukannya istirahat, Windy ingin sekali bisa pergi ke tempat mereka pertama kali berciuman. Keromantisan dulu yang belum mereka sadari jika saling mencintai.
"Sayang ayo mandi." Stev menghidupkan air shower.
"Ay peluk."
Steven mengerutkan keningnya, langsung membalikan badannya menghela nafas. Semalaman mengikuti keinginan Windy untuk bermain, makan sembarang, sekarang dia ingin berhubungan di kamar mandi.
Tubuh Steven rasanya hampir remuk, lelah juga masih panikan jika mengingat permainan mereka.
Windy memeluk Stev, menelusuri seluruh lehernya, memberikan sentuhan yang memancing hasratnya.
"Windy besok kita pulang, yakin tidak bangun kesiangan." Stev menyentuh pinggang Windy.
Steven tidak mendengarkan jawaban, tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti keinginan istrinya.
Berhubungan di kamar mandi memang sudah biasa keduanya lakukan sebelum mandi, tapi beberapa minggu ini Windy terlalu berlebihan menginginkan selalu tanpa ada lelah.
"Sayang, kamu kenapa beberapa minggu ini terlalu berlebihan?" Stev menatap wajah Windy.
"Tidak tahu, rasanya ingin saja. Kenapa Ay bosan." Windy melepaskan tubuh Steven.
Senyuman Steven terlihat, mengangkat tubuh Windy ke atas wastafel memulai permainan panas mereka yang saling memuaskan.
Suara Windy yang terus terdengar lembut di telinga Stev, keringat mengalir di tubuh keduanya sampai menetes.
Suara panggilan ponsel Stev terdengar, Windy tidak mengizinkan Steven menghentikan permainan mereka.
__ADS_1
Tubuh Windy terkulai lemas, Stev menggendongnya untuk berendam air panas. Steven mempercepat mandinya mengambil air bersih meninggalkan Windy yang masih kurang.
Steven melihat ponselnya, langsung duduk di ranjang menatap kasus Lukas yang di penjara. Steven menyerahkan seluruhnya kepada pihak berwajib.
Windy keluar dari kamar mandi langsung tidur di atas tubuh Stev yang hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya.
Keduanya tertidur nyenyak, menunggu pagi karena penerbangan dijadwalkan pagi.
***
Steven terbangun, meminta Windy segera bangun juga karena mereka harus ke Indonesia.
Selesai sholat keduanya lanjut tidur lagi, Windy masih memeluk erat tubuh Stev tidak ingin melepaskannya.
"Sayang, ayo bangun." Steven langsung teriak melihat jam yang sudah pukul sebelas.
"Sabar Ay, jangan teriak. Sakit telinga Windy."
"Sayang kita berangkat jam berapa?"
"Tujuh, sekarang jam sebelas." Windy melotot melihat jam di handphonenya.
Windy tertawa melihat wajah Steven, Stev juga tersenyum mencium kening istrinya memintanya langsung mandi karena mereka akan tetap pergi.
"Maafkan Windy Ay, karena ketiduran." Windy menciumi seluruh wajah Stev.
Keberangkatan Steven yang dijadwalkan pagi berubah menjadi malam, mereka masih menyempatkan diri untuk menemui Saka yang sedang mempersiapkan pernikahannya.
Windy sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk Ghina, Stev juga memberikan satu rumah mewah sebagai hadiah pernikahan, juga rasa bersyukur Stev karena sudah banyak dibantu Ayahnya Saka.
"Pertengkaran memang selalu terjadi antara Ghina dan Saka, tapi Windy tidak heran lagi sudah bertahun-tahun mengenal keduanya yang memang mirip kucing dan tikus meskipun saling mencintai.
Pesta pernikahan keduanya juga diadakan di Indonesia khususnya wilayah Bali, karena Ayah Saka sudah pindah ke Bali mengikuti istri mudanya yang seumuran Saka.
Diusia Saka yang sudah dewasa memiliki seorang adik yang masih kecil, apalagi adik perempuan membuat Saka hampir gila menahan malu, tapi juga menyayangi bayi cantik dan lucu.
"Kalian tidak ikut pulang bersama?" Stev menatap Saka yang mengantarkan mereka ke bandara.
"Tidak bisa Stev, besok aku masih ada pekerjaan."
"Baiklah, hati-hati. Kita bertemu minggu depan."
Windy tertawa melihat foto adik kecil Saka yang mulai bisa berdiri, Ghina juga tersenyum gemas melihatnya.
"Ay, seandainya kita memiliki anak laki-laki, lalu anaknya Saka Ghina perempuan. Mereka terlibat cinta segitiga dengan adiknya Saka, judulnya apa Ay?" Windy tertawa.
__ADS_1
"Emh, anak kita pastinya memanggil Aunty, jadinya mencintai lelaki yang dicintai Aunty." Ghina tertawa.
Steven dan Saka hanya diam saja, tidak ada yang lucu bagi mereka.
"Aku tidak akan mengizinkan keturunan aku menjalin cinta dengan keturunan Steven, dia bisa menjadi Playboy." Saka mengerutkan keningnya.
"Tidak salah, kamu lupa siapa kamu Saka. Bisa jadi anak kamu playgirl." Windy tersenyum sinis.
"Playboy dan playgirl berarti judulnya memilih antara playgirl dan ...." Ghina berpikir karakter adiknya Saka.
"Sudah cukup, jangan mengarang cerita." Steven merangkul Windy untuk masuk bandara.
"Ay, bisa jadi mereka jodoh."
"Sayang, nanti saja membahas jodoh. Masih terlalu lama."
Steven melambaikan tangannya, Saka hanya tersenyum berharap tidak memiliki anak wanita, terlalu menakutkan karena masa lalu Saka yang dikelilingi banyak perempuan.
Pesawat akhirnya terbang, Windy tersenyum menatap anak kecil yang sangat cantik. Windy sangat menyukai gadis cantik, sampai membuat hatinya sangat bahagia.
Steven melihat ke arah pandangan Windy, melihat gadis kecil mengemaskan sedang meminum susu botol.
"Bismillah semoga cepat ada baby di sini." Windy tersenyum menatap Steven.
"Amin, semoga saja ya sayang."
Tatapan mata gadis kecil terus menatap Steven, tersenyum melepaskan susu botolnya langsung berjalan sempoyongan ke arah Stev.
"Daddy, I love you."
Stev kaget, seorang bule langsung datang mendekat, meminta putrinya mendekat langsung memeluknya.
"Maaf tuan Stev, saya dari belakang Mommy nya tertidur."
"Tidak masalah, putri kamu semakin cantik. Maaf aku tidak mengenal dia sebelumnya."
Steven menggenggam tangan Windy, menceritakan kasus terakhir yang dia tangani. Seorang baby sister yang memukuli anak kecil sehingga memiliki trauma.
Windy menatap sedih, gadis kecil tidak bersalah mendapatkan perlakuan tidak baik. Padahal bertapa mengemaskan dirinya, tidak mungkin tega menyakitinya.
"Ay Windy ingin merawat sendiri anak-anak kita."
"Iya, nanti kita rawat bersama, bismillah saja semoga Allah segera memberikan kita kepercayaan lagi untuk memiliki anak." Steven tersenyum mencium tangan Windy.
"Amin ya Allah, kamu menunggu rezeki yang tidak ternilai harganya." Windy tersenyum memeluk lengan Steven, sangat berharap segera diberikan buah cinta.
__ADS_1
***