MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 EMAS


__ADS_3

Steven menatap tajam kearah Atha, merangkul Windy untuk duduk. Mata Steven terpejam menenangkan dirinya. Windy melihat Stev yang duduk menyendiri, menghirup udara dingin.


"Win, Om tunggu di mobil." Steven langsung melangkah pergi, membayar makanan yang Windy pesan.


Windy langsung cepat menyantap makanan, langsung meminta Vero dan Wilo bersiap untuk pulang, Atha akan diantar ke hotel untuk beristirahat.


Di dalam mobil Stev, menghubungi Bima jika dia bertemu dengan seorang pemuda yang usianya tidak jauh dari Windy, kemungkinan besar dugaan Steven soal pangeran yang disembunyikan sekarang keluar.


Stev meminta saran bagaimana dia menghadapi kakak tiri Windy atau kandung, tidak ada yang tahu.


Bima hanya meminta Stev menjadikan musuh sebagai teman, panggilan mati. Steven mengacak rambutnya, hafalan saja belum selesai sekarang sudah muncul orang yang tidak diundang.


Stev menatap Atha dari kaca mobil, dia terlihat polos, anak yang belum tersentuh. Wilo mengandeng Atha untuk melewati jalanan, tidak terlihat tatapan kekejaman hanya tatapan luka, menatap mata Atha memberikan rasa kesedihan yang teramat dalam.


Windy membuka pintu, Stev memasangkan jaket tebal, musim sudah berganti, saatnya baju hangat keluar.


Stev memberikan kepada Wilo dan Vero, Atha memeluk tubuhnya yang merasakan dingin, hidungnya langsung merah.


Wilo membuka jaketnya memberikan kepada Atha, Vero memeluk Wilo bersamanya agar tidak dingin.


Mobil melaju pergi, Steven melihat Atha yang terlihat seperti orang bodoh, atau pura-pura bodoh.


"Kalian tahu tidak pengkhianat bukan orang jauh?"


"Pengkhianatan pastinya orang dekat, dia yang mengenal banyak hal soal kita, tapi penyelamatan juga orang terdekat." Windy tersenyum melihat Stev.


"Win, kamu takut tidak jika orang terdekat kami berkhianat?"


"Tidak, Windy suka jika pengkhianatan ada di dekat Windy, dia harus tahu jika kita kuat, tidak mudah dikalahkan, sehingga pengkhianatan dia bisa berubah menjadi pengorbanan."


"Tidak salah Win, tidak semua orang memiliki hati seperti kamu."


"Terserah, Windy tidak peduli. Intinya bukan siapa yang dekat dengan kita, mau baik buruk, biarkan saja, dia akan menjadi cerita dalam hidup. Ingat Vero sebaik apapun kita tetap saja ada yang tidak suka."


"Iya Win santai jangan pakai emosi."


Windy langsung tertawa kuat, Steven tidak konsentrasi menatap Atha yang terlihat norak, cupu, mustahil dia keturunan kerajaan.


"Atha kamu datang ke sini membawa uang tidak?" Steven memelankan laju mobilnya.


Windy, Vero dan Wilona menatap Atha yang mengeluarkan kepingan emas, semuanya terkejut menatap koin emas.


"Asli ini emas." Vero mengigit kuat, tapi ternyata asli.


"Kamu membayar pesawat menggunakan ini?" Vero menunjukkan emas ditangannya, satu tangannya lagi diam-diam ingin mencuri satu koin emas.

__ADS_1


"Iya, semuanya aku bayar dengan emas."


"Emas siapa ini?" Wilona tahu Atha tidak memiliki harta.


"Mencuri milik raja."


Windy dan Wilona kaget, bisa-bisanya Atha masih sempat mencuri. Steven menggaruk tengkuknya melihat Atha pemuda tampan yang baru menetas.


"Sekarang kamu ingin ke hotel membayar dengan emas? setelah emas habis kamu harus bekerja untuk bertahan hidup." Steven tersenyum, Atha memikirkan ucapan Steven.


"Kedatangan aku hanya sebentar, hanya untuk membawa putri kembali."


"Hei bocah, sebelum kamu pergi seharunya pikirkan dulu matang-matang, sama saja kamu sedang mengantarkan nyawa, syukurnya ada Wilo jika tidak kamu bisa menjadi pangeran kodok di sini." Steven memarkiran mobilnya di toko baju.


"Saya tidak peduli."


"Sialan."


"Kak Stev jangan berbicara seperti itu, ucapakan kata-kata baik, astagfirullah. Sekarang lagi menghafal jus." Vero tertawa langsung cepat keluar, dia ingin membeli baju baru.


Steven tertawa Vero kurang ajar selalu membahas soal jus, padahal dia juga tidak paham.


"Tinggalkan emas kamu, kembalikan baju mantel Wilo."


Atha tersenyum mengikuti Steven memasuki pusat perbelanjaan terbesar, buka selama 24 jam, satu tangan Steven menggandeng Windy, merapikan bajunya agar tidak dingin.


"Iya sayang." Steven menatap wajah Windy.


"Apa yang harus kita lakukan soal Atha?"


"Biarkan saja, satu persatu semuanya akan aku selesai, mungkin akan ada hari raja yang akan berdiri dihadapan kita." Steven merangkul pundak Windy untuk masuk.


Di dalam toko Vero sudah heboh, Wilona yang awalnya heboh menjadi pendiam, Steven meminta Wilo kembali seperti dirinya yang dulu, ceria berisik, juga tidak punya malu.


Wilo yang mendapatkan izin langsung membantu Atha memilih baju, berkali-kali Vero mengganggu meminta perhatian.


Windy dan Steven hanya duduk, kepala Windy bersandar di dada Steven, satu tangan Stev merangkul Windy.


Keduanya seperti sepasang suami istri yang menunggu anak-anak belanja.


Kepala Steven dipukul menggunakan tas, Windy langsung teriak kaget, caci maki terdengar mengumpat Steven, langsung melangkah pergi.


"Siapa lagi Om?" Windy menghentakkan kakinya.


"Pacarnya Saka, pasti ada Saka di sini." Steven merapikan rambutnya.

__ADS_1


Suara tawa Saka terdengar, dia sedang bersama Bagus mengintai, tapi melihat Steven yang asik pacaran.


"Apa yang kalian lakukan?" Steven ingin melempar Saka.


"Kak Stev sabar, ingat sedang menghafal jus."


Steven memukuli Vero, Windy tertawa, Vero berlindung dibalik tubuh Windy. Steven kesal melihatnya membahas jus terus.


"Jus apa Vero?" Bagus duduk menatap Vero.


"Kak Stev boleh menikah jika dia sudah bisa menghafal 30 jus, kata Windy menghafalnya bisa membuat tenang hati, tapi kak Stev bicaranya kurang ajar terus."


"Wow syarat yang mudah."


"Mudah darimana?" Steven ingin menonjok Saka.


"Jus apel, anggur, semangka, alpukat, pisang, kiwi, wortel, kentang, ayam, ikan, telur, cabai ... sudah berapa itu, banyak jenis jus." Saka menghitung jarinya.


Windy dan Wilona tidak bisa menahan tawa, manusia bodoh sudah bermunculan. Steven ingin sekali, menyobek lebar mulut Saka.


Bagus sudah melaporkan tugasnya, akhirnya bisa bebas tugas, bersantai dan bersenang-senang.


Saka dan Bagus saling tatap melihat Athala, menatap Stev melihat anak muda yang hanya diam tidak mengerti candaan mereka.


Wilona memperkenalkan Atha sebagai sahabatnya, dia akan tinggal sementara.


"Bukannya kamu putra raja, aku pikir kamu sudah mati, tapi ternyata masih hidup." Bagus tersenyum.


Steven dan yang lainnya kaget, dari mana Bagus tahu soal pangeran, dia tidak pernah muncul di publik.


"Bagaimana kamu bisa tahu Gus?"


"Saat putri Anna menghilang, dia dan ibunya datang, tanda lahir ditangan sebagai pertanda."


Bagus tersenyum, dia memang menyelidiki soal pangeran bersama Steven dan Ghina, tapi tidak ada sedikitpun jejak, berita soal pangeran tidak pernah diungkap raja, tapi banyak saksi mata melihat pangeran datang bersama Ratu sekarang.


"Tenyata masih ada yang mengenalku, aku pikir akan mati tanpa nama." Atha bersalaman dengan Bagus dan Saka.


"Dia terlihat sangat tampan, tapi matanya menunjukkan kesedihan. Steven aku ingin bergabung bersama kamu untuk menyelidiki mereka."


"Sorry Saka anggota kita sudah full." Bagus tersenyum.


"Jika tidak diizinkan, aku akan membongkar satu rahasia Steven."


"Bongkar saja." Steven menendang Saka yang meringis.

__ADS_1


***


__ADS_2