
Sudah satu bulan Winda mengikuti suaminya untuk bekerja, negara terakhir yang mereka kunjungi membutuhkan waktu cukup lama.
"Sayang bangun, ikut tidak?" Ar mengusap wajah Winda yang lebih sering tidur, selesai sholat lanjut tidur lagi.
"Malas, Winda tinggal di hotel saja." Kancing kemeja terbuka, tatapan Ar binggung dia sudah siap bekerja tapi Winda meminta berhubung.
Sentuhan tangan Winda menyentuh bagian tubuh membuat suaminya memejamkan mata, langsung berciuman.
Rencana ke kantor langsung lenyap, baju yang rapi berantakan kembali. Ar memang tidak pernah menolak keinginan Winda yang setiap bangun tidur menginginkannya.
Sekretaris Ar sudah menunggu lebih dari tiga jam, tapi bosnya belum juga keluar dari kamar. Beberapa kali.bel ingin ditekan, tapi tidak berani.
Ar memang tidak pernah marah, tetapi ketegasannya cukup menakutkan, karena selalu ada di mode serius.
Mata Ar terbuka, langsung kaget karena melihat dirinya masih tidur sedangkan dirinya seharusnya sudah lama meeting.
Rencananya gagal total, Ar mengusap wajahnya mengambil ponsel mengirimkan foto pesan meminta sekretaris pribadi yang mengurus semuanya.
Tubuh Ar lemas ingin pergi lagi, merasakan pelukan dari belakang. Senyuman lembut Ar terlihat menatap istrinya beberapa hari ini terasa ada masalah.
Ar sudah menyiapkan kepulangan mereka, meskipun istrinya tidak pernah mengatakan tetap saja Ar mengerti istrinya sedang Rindu keluar.
Sudah empat bulan tidak bertemu, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali.
"Abi, besok kita pergi lagi?" Winda menatap dengan wajah lelahnya.
"Iya sayang, kamu capek?" Kedua tangan Ar mengusap wajah Winda yang tidak menggunakan apapun.
Kepala Winda menggeleng, dia tidak lelah jika terus bersama. Hanya saja tubuhnya yang mulai tidak mendukung, karena kelelahan.
***
Jadwal keberangkatan sudah ditetapkan, Winda mengunakan baju yang tertutup, kacamata hitam bahkan menggunakan topi.
Ar menggenggam tangan Winda, berjalan bersama memasuki bandara, keanehan terlihat seluruh karyawan Ar tidak mengikuti mereka lagi yang memilih berpisah.
"Tunggu, kalian kenapa tidak ikut?"
"Kita akan kembali ke Paris Nona."
"Kenapa? jika seperti itu Winda belum memberikan kalian oleh-oleh." Winda mengambil ponselnya, mendekati lebih dari sepuluh tim Ar yang bergabung.
"Nona ini terlalu banyak."
__ADS_1
"Terima kasih kerja kerasnya, gunakan uang ini untuk membeli oleh-oleh. Sesampainya di Paris berikan lebih banyak waktu bersama keluarga." Winda tersenyum.
"Maaf nona, saya belum berkeluarga." Sekretaris Ar binggung.
"Orangtua itu juga keluarga, atau sekalian kamu nikahi Agnes agar memiliki keluarga kecil. Kalian semua hati-hati di jalan." Winda langsung melangkah pergi mendekati Ar untuk masuk ke pesawat.
"Terima kasih nona tuan, hati-hati di jalan."
Ar tersenyum melihat Winda yang sangat baik, menghargai apapun milik orang juga tahu cara menghargai.
"Kita ke mana Abi?" Winda duduk di samping suaminya, tersenyum manis.
"Emhh ... Indonesia."
Winda langsung teriak, bertepuk tangan sangat bahagia. Akhirnya dia bisa kembali, setelah berbulan-bulan berkelana mengikuti suaminya yang sangat sibuk.
Ciuman Winda mendarat ke segala tempat, tidak memperdulikan keberadaan banyak orang di dalam pesawat.
Senyuman para petugas terlihat, baru pertama kalinya Ar menunjukkan keromantisan di depan umum. Mengenal Ar sejak usia muda, sampai menjadi millionaire yang menikahi putri raja bisnis.
Sepanjang perjalanan Senyuman Winda terus terlihat, biasanya dia tidur tapi saat tahu kembali ke Indonesia tidak bisa tidur sama sekali.
Air mata Winda bahkan menetes, karena tidak sabar lagi untuk bertemu. Ar tersenyum mengusap kepala istrinya yang sangat bahagia.
"Kenapa menangis sayang?" Ar menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik istrinya.
Berpisah dari seluruh keluarga selama beberapa bulan membuat Winda sangat sedih, karena menahan rindu.
Melakukan panggilan tidak bisa mengobati rasa rindunya, tapi semakin bertambah rindu.
"Abi, terima kasih. Winda rindu." Air mata semakin deras mengalir, kecupan mendarat di kening membuat Winda tersenyum.
"Ayo tidur dulu, tidak mengantuk." Ar menepuk dadanya yang biasanya menjadi tempat Winda bersandar.
"Winda tidak ingin tidur, ingin peluk semuanya. Papi, Mami Winda pulang. Pengen peluk Papi, Winda rindu." Air mata Winda semakin menetes, Ar langsung memeluk merasa bersalah melihat istrinya yang sangat merindukan kedua orangtuanya.
"Maafkan Abi ya Win, tidak mengerti perasaan kamu." Ar mengusap punggung Winda yang masih terisak-isak.
"Tidak Abi, jangan merasa bersalah. Abi lelaki yang sangat pengertian, sabar, lembut juga sangat penyayang. Papi tidak salah memilih calon suami yang pantas untuk Winda." Senyuman Winda terlihat, mengecup bibir yang sudah menjadi candu baginya.
Senyum Ar terlihat, memeluk erat penuh kelembutan dan rasa cinta. Perasaan cinta Ar semakin besar, dia sangat mengagumi sosok wanita mandiri juga baik hati seperti istrinya.
"Abi."
__ADS_1
"Iya Win, jangan minta ehem-ehem di sini." Ar tertawa melihat bibir Winda yang cemberut.
Suara tawa Winda terdengar, memikul dada suaminya yang sekarang mulai cair, tidak kaku seperti awal mereka bertemu.
"Abi." Winda tersenyum malu-malu.
"Iya Winda istriku, kenapa?" suara Ar tertawa sangat lepas, bersama Winda membuat kehidupan sangat bahagia, jika dulu Ar hanya sibuk bekerja tanpa banyak bicara, memiliki istri cerewet membuat dunianya yang tenang langsung jungkir balik.
Ar merasa masuk ke dunia yang berbeda, tapi entah kenapa hatinya sangat bahagia, selalu tertawa dan tersenyum lepas tanpa banyak beban pikiran.
"Abi, Abi ... Abi Ar." Winda tertawa, melihat tawa Ar yang bisa tersenyum lepas membuat Winda sangat bahagia.
Dulu Winda yang menghacurkan mimpi Ar, mempermalukan harga dirinya, merusak kebahagiaannya. Sekarang Winda ingin menjadi orang yang mengembalikan kebahagiaan itu.
"Winda, aku lelah tertawa. Aku sangat bahagia, setiap hari rasa cinta ini semakin besar bahkan terus bertambah." Ar mencium tangan istrinya.
"Winda juga."
Ar langsung terdiam, melihat mata Winda yang sangat serius. Ar seperti salah pendengaran, pengakuan Winda membuatkan sedikit terkejut.
"Aku mencintai kamu Ar, Winda jatuh cinta kepada suami sendiri."
Tatapan Ar bertemu dengan mata Winda, Ar seakan-akan tidak percaya mendengar ucapan Winda berusaha untuk menyimak.
"Abi Ar, kenapa diam?"
"Kamu mengatakan mencintai aku, tidak salah dengarkan Win?" Ar menutup matanya, air matanya keluar, kata-kata yang sudah lama Ar tunggu.
Tangan Winda mengusap pelan wajah suaminya, Winda sangat bahagia memiliki lelaki sebaik suaminya.
"Boleh mendengarnya satu kali lagi." Tangan Ar dingin, jantungnya berdegup kencang.
Winda mendekati telinga suaminya, mendarat kecupan di leher.
"Abi, I love you. Aku sangat mencintai kamu Ar, mungkin ini terlambat, tapi rasa cinta ini sudah lama tumbuh. Aku jatuh cinta, karena ketulusan cinta kamu. Winda sayang Ar, juga cinta Ar. Terima kasih sudah menjadi suami terbaik, jangan pernah tinggalkan Winda, apalagi berpaling kecuali jika kamu memiliki putri, Winda rela berbagi sedikit saja. Ingat hanya sedikit." Senyuman Winda terlihat.
Ar langsung memeluk Winda, sangat bahagia mendengarnya.
"Aku juga sangat mencintai kamu Win." Air mata Ar menetes menangis bahagia, karena kembali membawa cinta Winda.
***
MAAF UNTUK TYPE, SAMPAI AKHIR BULAN AKU GK REVISI, KARENA ADA KESIBUKAN.
__ADS_1
UNTUK GIVE AWAY TETAP YA. JANGAN LUPA FOLLOW IG.
***