MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KUE ULTAH


__ADS_3

Di dalam kerajaan terdengar canda dan tawa, Stev berdiri melihat lapangan yang luas di depan matanya.


"Kak, sebaiknya beristirahat belum begitu pulih, jangan banyak pikiran." Vero menatap Stev, tidak mengerti pikiran kakaknya saat diam.


Steven hanya tersenyum, menepuk pundak Vero melangkah pergi meninggalkan Vero. Sesuatu hal yang tidak Vero sukai dari Stev yang sangat tertutup.


Bima menegur Vero, tidak ada yang memahami karakter Steven, dia diam saat misi selesai, tidak ada yang tahu rencanannya, tidak ada yang mengerti kapan dia bersedih bahkan bahagia. Bima sudah lama mengawasi Steven, tapi masih tidak memahaminya.


"Kak Stev ada masalah apa lagi?"


"Biarkan Stev sendiri, nanti dia akan baik-baik saja."


Reva mendengar pembicaraan Bima dan Vero, langsung melangkah pergi mencari Steven. Reva tersenyum melihat Steven berada di tengah lapangan, melihat ke arah langit.


"Apa lagi rencana kamu sekarang? bertindak sesuka hati kamu, mengambil resiko, menanggungnya sendiri." Reva melipat kedua tangannya di dada, melihat Steven yang hanya tersenyum.


"Va, aku merasa langkah aku sangat berat juga memiliki banyak beban, padahal semuanya sudah berakhir."


"Stev, kamu hidup berdampingan jangan membebani diri sendiri, jika kemarin ada masalah, hari ini selesai, besok ada lagi, lalu kapan bahagia?" Reva tersenyum melihat Stev.


"Kapan bahagia? pertanyaan yang ingin aku pertanyakan." Stev tersenyum melihat langit yang cerah.


"Jangan meminta nasihat, kamu sudah tua, pintar, berpendidikan, memiliki status di hukum, kamu juga seorang pengusaha. Bedanya kita berdua kamu lelaki singel, sedangkan aku ibu dari tiga anak."


Steven tertawa mendengar ucapan Reva, wanita pemarah yang dia temukan juga menjadi ibu dari wanita yang dicintainya.


Reva tersenyum dia mengerti isi hati Stev, banyak beban yang sedang ada di dalam hati kecilnya, bukan hanya sekedar mencintai, tapi cara memberikan kebahagiaan.


"Stev, kapan kamu akan melamar? atau kamu ingin menundanya?"


"Va, pantas tidak aku menikahi gadis belia?"


"Belia? Winda juga tidak belia lagi. Windy hanya gadis kecil yang memaksa diri untuk dewasa. Jika kamu berpikir pernikahan bukan sekedar aku mencintai kamu, atau aku ingin hidup bersama kamu, aku setuju Stev."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Tanyakan pada hati kamu."


Stev menyentuh dadanya, melihat Windy berjalan mendekat. Senyuman Windy membuat Stev yakin dia sangat mencintai Windy begitupun sebaliknya, Stev siap melangkah bersama dalam bahtera rumah tangga.


"Mami, kenapa berjemur?" Windy memeluk Reva, tangannya menggenggam tangan Stev, satu tangannya lagi memeluk pinggang Reva.


Raja Hanz menetes air matanya, melihat ke atas langit. Sekarang Ratu Sinta bisa beristirahat dengan tenang, putrinya hidup bersama orang yang sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun putri kecilku." Raja Hanz menyentuh dadanya, ingin sekali Raja Hanz melihat putrinya meniup lilin.


"Putri Anna berusia 17 tahun hari ini?" Bima tersenyum melihat Raja Hanz yang langsung menghapus air matanya.


"Maafkan Bima, sungguh aku tidak bermaksud apapun. Aku tahu dia putrimu, hanya saja aku merindukan Ratu Sinta yang wajahnya mirip Windy."


"Rindu terberat, saat kita merindukan orang yang sudah tiada."


Bima mengizinkan Raja merayakan ulang tahun putrinya Anna, agar Windy tahu jika hari ini tepat 17 tahun yang lalu kerajaan menyambut kehadiran seorang Putri.


***


Wilona melihat kue bertuliskan 17 tahun, Atha juga tersenyum juga menahan kesedihan. Sudah 17 tahun berlalu, belum ada hari bahagia untuknya, juga merasakan sedih karena Anna merayakan ulang tahun pertama dan terakhir kalinya.


"Kenapa putri tidak tinggal di istana?"


"Wil dia bukan Anna, namanya Windy Bramasta, putri keluarga besar Bramasta, memintanya kembali akan menghancurkan hati Windy, juga membuat peperangan dengan keluarga Bramasta."


Wilo menatap sedih ke arah wajah Atha, mengusap punggungnya. Atha tersenyum mengusap kepala Wilo, langsung melepaskan tangannya saat neneknya datang.


"Kita merayakan pertama dan terakhir kalinya, juga sebagai pesta perpisahan dengan Putri Anna." Nenek meneteskan air matanya melihat kue yang ada mahkotanya.


"Anna sudah bahagia nenek." Atha menundukkan kepalanya, nenek Arum memeluk erat Atha.


"Nenek jangan berbicara seperti itu, nenek harus panjang umur." Atha mengusap air mata neneknya.


"Carilah wanita pilihan kamu, setelah kamu naik tahta segeralah menikah. Jangan sampai kejadian masa lalu terulang kembali, kalian para pangeran berhak memilih Ratu sendiri, tapi nenek tetap ingin menilainya pantas tidak dia menjadi Ratu selanjutnya."


"Nenek, Atha belum memikirkannya."


"Kamu yakin, lalu apa hubungan kamu dan Wilona?"


"Wilo sahabat Atha nenek, tidak ada hubungan apapun."


"Benarkah, Wilo nenek dengar pelayan Bib akan membawa kamu keluar dari istana, kamu juga akan dia nikahkan dengan putra sahabatnya." Nenek tersenyum melihat Wilo tersenyum menggaruk kepalanya.


"Menikah? kamu tidak diizinkan keluar dari istana." Atha menaikan nadanya, langsung melangkah pergi.


Nenek Arum dan Wilona tertawa, Atha marah tidak jelas. Nenek melangkah pergi bersama Wilona untuk melihat persiapan makan, sekaligus acara ulang tahun Putri Anna.


Empat kepala melihat dengan tatapan heran, langsung duduk berbaris, memikirkan ucapan orang dewasa.


"Vira, nanti kamu mau tidak dijodohkan seperti pangeran ganteng tadi?" Winda nyengir.

__ADS_1


"Mau, tapi pangerannya harus Wildan. Dia tampan sekali." Vira tersenyum malu-malu.


"Bella juga mau, tapi pangerannya kak Tian."


"Dia kakak kamu tidak boleh." Vira menatap sinis.


"Billa sama siapa?" Bil memonyongkan bibirnya.


"Kak Erik." Vira dan Bella menjawab serentak.


"Winda sama siapa?"


"Winda masih kecil, belum boleh pacaran." Vira tersenyum mengusap kepala Winda.


"Winda nanti delapan tahun, kita hanya beda satu tahun, kak Bil Bel juga hanya beda berapa jam."


"Sudahlah Winda, kamu masih kecil. Katanya kak Ravi kamu jomblo." Bella tertawa kecil melihat Winda yang cemberut.


Semuanya berdiri mendekati kue ulang tahun, menatapnya serius. Vira mencicipi kue yang berwarna merah, Winda warna kuning, Bella biru hanya Billa yang diam saja.


"Kalian tidak boleh memakan sesuatu yang bukan milik kita." Billa menggelengkan kepalanya.


Winda mengambil tisu membersikan bibirnya, Vira tersenyum mengusap bekas kue. Bella baru saja ingin menambah langsung berhenti.


"Kita hanya mencicipi saja." Winda melangkah pergi.


"Iya, Vira juga."


Langkah kaki berlari terdengar, langkah terhenti saat melihat ruangan yang sedikit terbuka. Sikap jahil keempatnya kumat, mengintip pertengkaran pangeran dan pengawal.


"Kita memang berada di kerajaan, pangeran jatuh cinta kepada pelayan." Winda tersenyum lucu.


"Iya, seperti cerita dongeng." Bella menatap tajam.


"Wow, apa yang mereka lakukan." Vira tersenyum tidak mengedipkan matanya.


"Ayah sering cium Bunda di bibir, tapi tidak lama seperti pangeran." Billa mengingat kedua orang tuanya, Ayahnya selalu mencuri ciuman.


Mata Vira dan Winda di tutup, Bella Billa tubuhnya sudah dibalik. Steven mengarahkan empat bocah pandangannya ke dinding. Stev mengetuk pintu.


"Kalian berdua jika ingin berciuman tutup pintu, banyak anak-anak." Stev menutup pintu meminta empat bocah melangkah mengikutinya.


***

__ADS_1


__ADS_2