
Langkah Steven dan Windy meninggalkan bandara, Windy melihat seorang ibu kebinggungan menarik baju Stev untuk melihatnya. Steven menatap Windy langsung menemaninya menemui seorang Ibu yang ternyata tertinggal pesawat.
Air matanya menetes, kebinggungan cara untuk pulang sedangkan pesawat sudah terbang satu jam yang lalu.
Steven memperhatikan tiketnya, meminta ibu tersebut mengikutinya untuk membeli tiket yang baru, Windy merangkul pundak menyemangati.
"Ibu tenang saja, nanti kita bantu sampai pulang." Windy tersenyum cantik.
"Terima kasih cu, nenek takut sekali."
Steven membelikan tiket baru, bahkan memberikan pelayanan terbaik, Nenek juga Stev sewakan tempat beristirahat yang nyaman, sampai waktu penerbangan berikutnya.
Windy melambaikan tangannya, melihat seorang Nenek yang sudah aman. Nenek tua meneteskan air matanya, melihat wajah Windy mengingatkan kepada menantunya saat masih kecil, menikah karena perjodohan akhirnya kandas. Kehidupan putranya hancur, menantunya meninggal, cucunya juga meninggal.
"Wajah kalian mirip sekali, Rena dan Windy bagaikan jiplakan. Apa Windy Keluarga jauh Rena?" Nenek terus memikirkan menantunya yang dia anggap putri kandungnya.
Di mobil Windy terlihat sedih, meninggalkan nenek sendirian. Tega sekali kelurganya yang membiarkan seorang nenek tua berpergian sendiri.
"Win, kamu Om antar pulang sekarang? atau masih ingin mampir." Steven menatap Windy yang masih saja melamun.
Steven menepuk pelan pundak Windy, menyadarkannya dari lamunan. Windy langsung tersenyum menyentuh tangan Stev.
"Jangan melamun Win, nanti cepat tua."
"Windy masih muda om, tidak mungkin bisa langsung tua."
Steven tersenyum, masih fokus melihat jalannya, sesekali melirik Windy yang sedang mengamati gambarnya.
"Win, usia kamu sekarang sudah berapa?" Steven menatap Windy, dia sangat penasaran kenapa Windy dianggap gadis belia.
"Masuk sembilan belas tahun Om." Windy mulai mengambil pensil, memperbaiki gambarnya.
"Kamu sudah pintar membawa mobil, tapi kenapa masih dianggap gadis belia?"
"Sebenarnya Om ingin membicarakan apa? langsung saja om tidak perlu basa-basi." Windy tersenyum melihat Steven.
Mobil Steven berhenti di parkiran apartemen mereka, Windy menutup buku gambarnya menatap Steven.
Akhirnya Steven memberanikan diri untuk bertanya kenapa Windy bisa mengatakan jika dia bukan putrinya Bima. Windy dengan santainya hanya tersenyum menghadap Steven.
__ADS_1
Windy menceritakan jika dia putrinya Britania, bukan putri Ayahnya. Dia putri Brit dengan lelaki lain, Ayah kandungannya yang sebenarnya tidak tahu keberadaannya.
Steven menggigat kembali saat persidangan untuk mendapatkan hak asuh Windy, Stev memang mengetahui jika Windy bukan putri kandung Bima, tapi semuanya dilakukan untuk mengelabuhi Brit agar tidak meminta warisan Windy, Bima juga tidak mengizinkan Steven tahu lebih banyak soal kasus kemarin.
Sekarang Steven mengerti, semua bukti bukan Stev yang mendapatkannya, tapi Bima langsung. Steven hanya status saja pengacara Bima, tapi dia tidak mengerti masalah sebenarnya.
"Kamu tahu di mana Ayah dan Bunda kamu?"
"Tidak Om, Windy juga tidak ingin tahu. Cukup tahu jika orang tua Windy, Mami dan Papi." Windy membuka pintu mobil langsung melangkah masuk.
Steven juga keluar, langsung mengikuti Windy dari belakang.
"Kenapa Mami tidak mengizinkan kamu pacaran, tapi bisa mencintai Om." Steven berdiri di lift menatap wajah Windy.
"Memangnya Mami ada bertanya ya Om?" Windy balik bertanya.
"Iya, Mami mengatakan tidak akan setuju jika Om mencintai kamu, meminta Om mengajari kamu sakitnya patah hati."
"Hmmmzz, kenapa ya Om Mami juga tidak setuju? Windy sudah besar, apa karena Windy terlalu manja." Windy menatap Steven tajam.
"Apa kamu masih di bawah umur Win?"
Jika Papi tidak ingin memberitahukan sesuatu, Windy juga tidak ingin tahu. Karena Windy yakin, semua yang Papinya lakukan demi kebaikan Windy.
Windy juga pernah bertanya dalam hatinya, mungkinkah Britania bukan ibu kandungnya, siapa Ayah dan Ibunya. Windy menepis pikirannya, berusaha untuk melupakan.
Langkah Windy terhenti, Steven menahan pundaknya melarang Windy untuk masuk ke dalam apartemennya. Stev meminta Windy ke apartemen sendiri.
"Kenapa kita tidak tinggal satu rumah saja Om?" Windy mengerutkan keningnya.
"Karena bukan muhrim ...." Steven langsung berlari Windy sudah langsung masuk, membuka gerbang pembatas apartemen mereka, sambil tersenyum melihat Steven.
"Wildan yang memberitahu kamu?" Steven menghela nafas.
"Siapa lagi, Windy istirahat dulu ya Om?" Windy menutup gerbang.
"Ya Allah, sia-sia aku mengubah seluruh desain, jika orang melihat dari CCTV Windy dan aku tinggal bersama, padahal kenyataannya tidak." Steven mengaruk kepalanya.
Kehadiran Wildan membongkar seluruh rahasia Steven, tidak ada orang yang mengetahui ruang rahasia, anak kecil yang menggemaskan bisa tahu.
__ADS_1
Steven lebih kaget lagi, dia melihat seluruh ikan hiasnya mati. Stev pikir Winda hanya meminta maaf untuk satu ikan, tapi seluruh ikannya mati.
Tepaksa Steven harus menguras akuariumnya, menatap sedih sepuluh ikan yang harganya sangat mahal, harus mati.
"Ikan kecil yang malang, maafkan aku tidak menyembunyikan kalian." Stev meletakkan seluruh ikan di dalam plastik, langsung meninggalkan begitu saja.
Steven langsung melangkah masuk ke dalam ruang rahasianya, tiga pemuda sudah muncul di layar, baju Steven yang basah membuat tawa lucu.
"Stev, kamu bisa menggunakan maid untuk mencuci baju, bukan hanya bisa membersihkan rumah mewah kamu, tapi bisa memuaskan kamu setiap malam." Tegar menatap lucu Steven yang belum juga berubah.
"Semua ikan hias mati di tangan gadis kecil ompong yang cantik, ruang rahasia juga sudah terbongkar di tangan bocah kecil jenius yang tampan." Steven membuka bajunya.
"Wow, ikan puluhan juta. Ruangan rahasia yang sampai saat ini belum aku ketahui keberadaannya?" Saka menatap tajam Stev, sambil bertepuk tangan.
"Stev bagaimana dengan memori yang tersimpan di ikan hias?" Bagas mengerutkan keningnya.
"Memori sudah aku keluarkan sebelumnya, sebaiknya kalian cepat kembali aku hampir mati dalam kecelakaan, lebih sialnya lagi Vero juga muncul."
"Kita sudah ada di hotel Steven, seharusnya kita yang bertanya kamu mempunyai anak? kenapa seorang gadis cantik mengemaskan masuk rumah kamu" Saka menunjukkan foto Windy.
"Kamu tidak gila Stev, bermain dengan anak kecil."
"Kalian yang gila, dia putrinya kak Bim."
Bagas langsung teriak, putrinya Bima Bramasta diizinkan tinggal bersama seorang lelaki dewasa. Bima tidak mungkin hanya mempercayai Steven, pasti ada orang dalam yang mengawasi Windy.
Steven setuju dengan ucapan Bagas, beberapa kali Steven bertemu orang yang tidak dikenal, sulit membedakan dia orang jahat, atau orang yang melindungi Windy.
"Cepatlah keluar, kita bertemu malam ini. Secepatnya kita harus membongkar kejahatan mereka, aku harap kamu tidak menyelamatkan Vero lagi." Tegar mematikan layar, diikuti oleh Saka.
"Stev, jangan sampai Windy terlibat, orang yang ingin kamu jatuhkan seorang bandar narkoba terbesar. Keadaan akan kacau jika Bima juga turun tangan." Bagus langsung mematikan layarnya, Steven menghela nafasnya membenarkan ucapan Bagus.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1