MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PELAKORR


__ADS_3

Hari persidangan tiba, Glen dan Ghina yang bertugas, Steven hanya melihat bersama yang lainnya. Windy juga duduk bersama Stev, Vero, Saka, Bagus juga hadir melihat hasil akhir perjuangan mereka.


Banyak orang yang terlibat dalam politik kehilangan jabatan, perusahaan bangkrut kehilangan banyak saham, harta, jabatan, keluarga.


Hakim memberikan vonis kepada Angela atas pembunuhan keluarga pengacara Stevie sekeluarga, keluarga Alvaro, juga banyak orang lain yang terlibat dalam kecelakaan juga meninggal karena ulah Angela.


Dia divonis seumur hidup penjara, sedangkan Mikel yang mengetahui seluruh kejahatan Angela, menutupi, juga menyuap banyak aparat, pencucian uang, bisnis ilegal, bandar terbesar obat terlarang, juga dalang dari seluruh kekacauan. Mikel di dendam 20 Triliun, penjara 20 tahun.


Steven sedikit tidak setuju hanya 20 tahun, setidaknya Mikel harus seumur hidup.


"Sialan, hanya 20 tahun seharusnya sampai mati." Saka menatap tajam.


"Sudahlah, dia tidak mungkin hidup 20 tahun lagi, setidaknya kita berhasil memasukan mereka ke dalam penjara." Bagus menepuk pundak Steven dan Saka.


"Saya belum kalah, ini semua salah dia!" Angela menatap tajam Mikel.


"Angela, kamu tidak merasa bersalah membunuh ibu kamu sendiri, anak durhaka." Ghina menggelengkan kepalanya.


Mikel melihat seseorang yang duduk di kursi belakang, langsung berlari mendekatinya, polisi mengejar untuk menahan Mikel yang ingin aku mencekik seseorang.


"Bima, kamu mengingkari janji dan kesepakatan yang sudah kita buat. Dulu kamu mengatakan tidak akan mengusik hidupku, tapi kenyataannya kamu membesarkan Steven untuk menghancurkan aku, bahkan melibatkan Windy." Mikel menatap Bima yang duduk tenang.


"Aku tidak terlibat, tugas aku hanya melindungi putriku dan Steven, karena Stev amanah yang Stevie tinggalkan untuk aku jaga. Steven bergerak sendiri sampai sejauh ini, kalian pantas dihukum, sudah melukai ingatan anak remaja, sampai kehilangan ingatannya." Bima tersenyum melihat Mikel.


"Aku belum kalah Bima!"


Mikel langsung dibawa pergi keluar, Steven dan Windy langsung jaga jarak, melihat Papi juga hadir dipersidangan.


Persidangan selesai, Glen langsung bersalaman dengan Bima. Senang bisa berjumpa dengan Bima secara langsung.


Saka juga bersalaman dengan Bima, sosok pengusaha yang sangat Saka kagumi. Bagus juga bersalaman senang bisa bertemu Bima langsung.


Bima langsung memeluk Vero, air mata Vero menetes mengingat kepergian orang tuanya. Bima menepuk punggung Vero menguatkannya, jika Vero tidak sendiri, ada Bima yang bisa menjadi Ayahnya.


"Sudah jangan menangis, kak Bima bangga sama kamu bisa kuat dan bertahan. Belajar yang rajin, agar orang tua kamu bangga bisa melindungi kamu, sekarang bukan hanya Steven keluarga kamu, tapi kak Bima juga. Vero bisa menganggap kak Bim sebagai orang tua kamu." Bima menangkup wajah Vero, menepuk pipinya pelan.


Bima mendekati Windy yang langsung memeluk manja, sikap manja Windy terlihat membuat Saka dan Bagus saling pandang.


"Ayo kita makan siang bersama, Om yang traktir."

__ADS_1


"Nah ini yang Saka tunggu dari tadi, makan gratis." Saka tertawa mengikuti langkah kaki yang lainnya.


Bima satu mobil bersama Windy yang terus memeluknya, Vero duduk di samping Stev yang menyetir.


"Papi, Mami tidak ikut?" Windy menatap Papinya yang tersenyum.


"Tidak sayang, Papi juga tidak lama. Hanya ingin melihat keadaan kalian." Bima mengusap kepala Windy.


Kedatangan Bima bukan tanpa alasan, Glen memberikan kabar jika Windy bertemu dengan Mikel, bahkan Mikel membahas soal kesepakatan Bima dan Mikel di masa lalu.


Mata Bima menatap putrinya sangat kagum, karena putrinya sangat dewasa tidak langsung memaksa ingin tahu, Windy anak yang sabar menunggu.


"Sayang kamu ingin makan apa?" Bima merangkul pundak Windy, penuh kasih sayang.


"Apapun Papi, Windy kangen Papi. Nanti kita mampir ke butik Windy, Papi lihat hasil kerja keras Windy, seadanya ada Mami Windy bisa pamer."


Bima tersenyum mencium kening Windy, putri yang sangat dicintainya.


Mobil sampai di Restoran mewah, Windy langsung turun dan masuk ke Restoran. Bima masuk terakhir bersama Steven karena masih ada yang mereka bicarakan, mantan Steven langsung memeluk erat Stev, Bima langsung mundur Stev juga langsung memaksa melepaskan.


"Apa kabar kamu Stev? aku rindu."


"Hai, aku Sindy mantan Steven." Sindy mengulurkan tangannya kepada Bima.


"Bima! beraninya kamu berkenalan dengan wanita, lihat anak kamu sudah tiga. Winda Wildan dekati Papi kalian, Mami juga bisa mencari brondong." Reva teriak kuat, menatap tajam.


Windy langsung berlari keluar mendengar suara Maminya marah, tatapan mata Reva tajam, Steven langsung berlari mendekati Windy, Bima langsung memeluk Reva meminta maaf, Steven menjadi saksi jika dia tidak macam-macam.


Winda menatap tajam Sindy yang langsung pamitan pergi, Wildan santai langsung masuk ke dalam Restoran.


"Tante punya harga diri, jangan dekati lelaki jika tidak mendekati Tante lebih dulu, namanya pelakorr."


"Siapa mereka Win?" Saka menatap Bima yang memeluk Reva meminta maaf.


"Mami Windy."


"Mami kamu cantik, tidak heran kamu dan adik kamu cantik dan tampan."


"Diamlah Saka, kamu tidak mengenal Reva jika sudah mengamuk." Steven merinding.

__ADS_1


"Steven! ini semua karena kamu, playboy tidak jelas seperti kamu yang membawa banyak kuman." Reva menatap Stev yang menelan ludah.


"Sayang maaf."


"Belum satu hari, kamu sudah berani berkenalan, jika dua hari sudah punya istri baru."


"Astaghfirullah Al sayang, pikiran kamu jauh sekali, jangan sampai." Bima memeluk Reva memintanya masuk ke dalam.


Wildan duduk menatap Glen, Ghina, Bagus. Wildan heran melihat Maminya bukannya dia yang di marah Papinya, tapi Maminya yang mengamuk kepada Papinya.


"Mami kamu kenapa?"


"Biasalah, wanita tidak pernah salah."


Reva langsung masuk mengambil minuman Ghina, meneguknya sampai habis. Windy tersenyum melihat Maminya, mengusap punggungnya.


"Mami datang ke sini tidak izin Papi?" Windy menahan tawa.


Mami Reva menyemburkan air minumnya, Bagus mengusap wajahnya yang terkena semburan.


Bima menatap Reva yang duduk diam, Bima melihat ponselnya yang lokasinya aktif. Reva menghidupkan lokasi keberadaan Bima.


"Reva, Ayy tidak marah, tapi kamu tahu bahaya pergi tanpa penjagaan."


"Sudah dijaga Papi, bahkan lima orang pengawal yang menjaga kita, dasar Mami yang memaksa, Uncle juga sudah marah, tapi Mami tetap memaksa ingin pergi menemui Papi di luar Negeri." Windy mengomel.


"Kamu tidak mempercayai aku Va?"


"Bukan, Reva kangen Ayy."


"Alasan." Windy, Winda dan Steven menjawab bersamaan.


Bima menggelengkan kepalanya, meminta pelayan untuk menyiapkan segalanya. Semuanya kumpul untuk makan bersama, bercerita penuh canda dan tawa.


Steven menatap Wildan, mengusap kepala Wildan. mengucapkan terima kasih, sudah memberikan sistem keamanan yang canggih, Wildan bukan hanya tampan, tapi pintarnya kelewatan.


Putra Bramasta yang sangat jenius, juga sangat dingin.


***

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.


***


__ADS_2