MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KUMPUL LAGI


__ADS_3

Keluarga Bisma juga siap berangkat, Jum harus mondar-mandir di buat oleh kedua putrinya, belum lagi Bella yang sangat pemarah, Billa yang sangat cengeng.


"Minggir!" teriak Bella marah.


"Bella tidak boleh kasar dengan Billa, ayo sini dua-duanya Kaka gandeng."


"Bella mau digendong, dia tidak boleh digendong." Tian menuruti keinginan Bella yang suka mengatur, Bisma tidak bisa memarahi Bella karena sikap Bella mirip dengannya suka memberontak, hanya Jum dan Wildan tempat dia takut.


Mobil Bisma jalan, keributan di kursi belakang masih terdengar, Jum menghela nafas dan langsung meminta Bisma berhenti. Jum langsung keluar membuka pintu belakang meminta Bella keluar.


"Kenapa Bunda?"


"Kamu turun di sini, tidak usah ikut. Bunda capek menasehati setiap hari ribut-ribut dan terus ribut. Tidak ada kompaknya dalam bersaudara, ada saja yang kalian perebutkan.


"Kak Tian punya Bella!"


"Tidak ada punya Bella, tidak ada juga punya Billa. Kak Tian sayang kalian berdua, tidak ada yang lebih diutamakan, semaunya sama rata."


"Bunda!" teriak Bella marah.


"Keluar kamu Bella!" nada Jum langsung tinggi, Bisma hanya bisa mengisap wajahnya jika Jum sudah marah.


Bella langsung keluar, Jum menutup pintu belakang membiarkan Bella sendirian, dia juga langsung masuk ke dalam mobil. Tangisan Bella langsung pecah, Tian langsung keluar dan memeluk adiknya.


"Masuk kamu Tian, kalau tidak kamu tinggal juga."


Tian hanya diam saja memeluk adik kecilnya, Jum meminta mobil berjalan, Billa juga membuka pintu keluar. Bisma binggung melihat ketiga anaknya di tinggal dipinggir jalan.


Mobil melaju, tangisan Billa langsung kuat memeluk kakaknya, Bella juga memeluk Tian. Bisma memijit pelipisnya, menatap Jum.


"Pusing kepala Jum, seharusnya kita berangkat tiga jam yang lalu, tapi harus terlambat selama ini."


"Sabar sayang," Bima menghentikan mobilnya, melihat ketiga anaknya yang saling berpelukan.


"Bella, kakak sayang Bel tapi jangan sering bertengkar, kalian berdua harus kompak, jangan ribut terus kasian Bunda."


"Maafkan Bella kak, tidak akan bertengkar lagi, Bella akan jadi anak baik."


"Ayo minta maaf sama Billa." Tian mengambil kedua tangan kecil adiknya.


"Maafkan Bella ya Bil kamu boleh pinjam kak Tian, tapi jangan lama-lama."


"Billa juga minta maaf ya," keduanya berpelukan, Tian memeluk kedua adik kembarnya, mencium pipi gemes Bella dan Billa.


Tian mengandeng kedua tangan adiknya, mengejar mobil yang sedang berhenti, Tian membuka pintu mobil Bella dan Billa masuk, Jum membuang pandangannya.


"Bunda, bunda, bunda maafkan Bella."


"Maafkan Billa juga bunda,"


"Tian juga minta maaf Bunda."


"Percumah minta maaf jika masih diulangi,"


"Tidak lagi Bunda." Jawab twin B bersamaan.

__ADS_1


Bella sudah merangkak ke depan memeluk Jum dan duduk dipangkuan, tangannya memegang baju Jum.


"Bunda,"


"Emhhh,"


"Mau nen," tangan Bella memegang dada Jum.


"Kamu sudah besar, susah pintar bicara, tapi masih nen memangnya tidak malu."


"Tidak ada yang lihat,"


"Bella kamu sudah berhenti nen, lima bulan yang lalu."


"Bunda nen," Bella meletakkan kepalanya di dada Jum.


"Bisma ini gimana? sudah tidak ada air susu lagi."


"Ya kasih sajalah,"


Jum akhirnya membuka kancing bajunya, membiarkan anaknya Bella menyusui tanpa ada air susu. Perlahan Bella tertidur, sedangkan di belakang Tian dan Billa asik bercerita sepanjang perjalanan, Billa yang banyak tanya, apapun yang dia lihat pasti dia bertanya kepada kakaknya.


Setelah berjam-jam perjalanan, air laut sudah mulai terlihat. Tian yang tertidur melihat kagum dengan indahnya lautan yang luas, Billa juga bangun langsung merangkak ingin duduk dengan Bisma, dengan penuh kelembutan Bisma mengambil Billa dan mendudukkannya di pangkuan.


"Bunda cucu," Billa merasakan lapar, Jum memang sudah menyiapkan susu dan cemilan untuk anak-anak. Billa memegang susu botolnya, sambil bernyanyi. Bella masih terlelap tidur sepanjang perjalanan.


***


Di restoran sudah penuh dengan suara anak-anak, Bima sengaja memboking satu restoran untuk makan keluarga dan para sahabatnya.


"Bisma kenapa lama sekali ya?" Ammar menatap semuanya.


"Iya seharusnya sudah tiba dari beberapa jam yang lalu, mengapa bisa duluan kita yang sampai."


Semuanya menatap mobil Bisma yang akhirnya terparkir, Tian keluar dan berlari menemui sahabatnya, Ravi dan Erik yang sudah bermain.


Bisma keluar sambil menggendong Billa, sedangkan Jum keluar membawa Bella yang masih muka bantal.


"Lama sekali kak Jum, kita semua khawatir."


"Iya, kita telat pergi karena dua bocah ini bertengkar. Satu kamar Bella hancurkan, mereka juga main pukul- pukulan, sempat aku tinggalkan di jalanan."


"Bella ayo sini sama Aunty," Septi mengendong Bella yang masih lesu sedangkan Billa sudah bermain dengan Winda dan Vira.


"Kak Vi, si Bella juga aneh minta nen setelah hampir setengah tahun susu formula."


"Kamu kasih."


"Iya, Bisma yang suruh, Jum takut nanti kebiasaan."


"Winda juga begitu kak Jum, kalau dia sudah nangis bertengkar dengan Wildan pasti minta nen ujungnya tidur."


Semuanya bercerita sambil makan santai, anak-anak juga bermain dalam pengawasan. Penduduk asli juga untuk bergabung bercerita banyak hal, perjalanan pembangunan kampung nelayan sampai seindah sekarang, sekarang pemiliknya bukan hanya Bima tapi dibantu oleh Rama.


Perkembangan akan terus dilakukan, bahkan Romi juga berniat untuk membuka bisnis kerajinan juga makanan khas untuk oleh-oleh dari daerah setempat.

__ADS_1


"Minta Bisma yang menyumbang selancar di sini kayaknya seru, dia punya bisnis di bidangnya." Viana memberikan usulan.


"Bisma sudah meletakan 15 motor boat mungkin akan terus bertambah."


"Woww, kenapa Jum tidak tahu ya."


"Kita cukup menerima uang suami saja kak Jum, yang penting tiap bulan setoran." Septi tertawa diikuti yang lainnya.


"Kalian tahu tidak, saat ulang tahun pernikahan kak Jum yang ke-tiga, dia marah ke Bima karena membeli mobil sport mewah untuk Jum, tapi Jum nolak dan dibalikin lagi." Reva tertawa ngakak jika ingat moments konyol Bisma diusir.


"Lebih konyolnya lagi, perusahaan yang tempat Jum balikin mobil ternyata milik suaminya sendiri." Viana juga sangat merasa lucu saat pagi-pagi terjadi keributan di komplek hanya karena mobil.


"Terus mobilnya di ambil tidak?" Septi penasaran endingnya.


"Jum ambillah, tapi mobil Bisma aku jual tuker mobil yang Jum suka di sana."


"Mobil lama Bisma tidak dia jual kak Jum,"


"Tapi tidak ada di garansi, uang penjualan juga dia serahkan ke aku Va."


"Mobilnya ada di garansi kita, dia nitip lama banget." Reva dan lainnya sudah terpingkal-pingkal tertawa, Jum berdiri menatap Bisma kesal.


"Terus kenapa Jum tidak melihat adanya penarikan uang."


Reva kembali tertawa, Bisma sangat takut dengan Jum katena dia sangat sayang ke wanita polosnya.


"Kemungkinan yang yang dia minta ke Viana, soalnya Bisma mengambil uang yang pernah Vi pegang soal bisnisnya di LN."


"Jadi Bisma punya simpanan lain?"


"Itu uang pembangunan panti Jum, dia mendonasikan penghasilan usahanya untuk sedekah, tapi kemarin sudah dibalikkan."


"Kak Jum terlalu posesif soal keuangan Bisma."


"Bukan masalah posesif Va, kalau dia bebas keluar masuk uang tanpa Jum tahu, nanti dia main perempuan."


"Bener juga, Septi seharusnya lebih takut karena Ammar jarang pulang."


Reva dan Viana saling tatap melihat suami mereka, Reva tidak pernah tahu soal uang Bima. Viana apalagi, dia tidak suka mengurus uang.


Percaya tidak percaya Reva akhirnya khawatir, tapi menyakinkan dirinya jika Bima tidak mungkin macam-macam tapi hati kecilnya tidak setuju.


"Ayy!" Reva langsung berjalan menemui Bima.


"Kenapa sayang."


"Kamu selingkuhnya,"


"Astaghfirullah Al azim Reva,"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2