
Pembicaraan hangat di dalam ruangan kerja Bima terdengar, Reva membawakan minuman juga cemilan ringan.
"Sebelum kita membahas pernikahan kalian dengan seluruh keluarga, lebih baik kita berbicara berempat terlebih dahulu. Kalian lelah tidak?"
"Lelah Ay, nanti tidurnya peluk." Reva memeluk lengan Bima.
"Mami."
"Nanti juga kamu seperti ini Windy, mungkin lebih parah."
Windy tersenyum malu-malu, Steven juga tertawa santai melihat kehangatan dari Reva dan Bima yang bicaranya sangat lembut.
"Kalian berdua ingin pesta di mana?"
"Stev mengikuti keinginan Windy saja kak Bim."
"Windy tidak menginginkan pesta besar, tidak menginginkan kemewahan cukup keluarga lengkap, baik dari kerajaan juga keluarga kita yang di sini." Senyuman Windy terlihat menatap Steven.
"Mami ingin pesta pernikahan kamu diadakan secara besar Win, kamu putri utama dari dua keluarga."
"Mami, Windy tidak ingin terlalu mewah karena bagi Windy kebahagiaan terbesar bisa berkumpul bersama keluarga, juga lelaki yang Windy cintai."
"Steven katakan kamu menginginkan pesta."
"Tidak ada salahnya Win pesta besar, Mami benar kamu putri dari dua keluarga yang memiliki nama juga status."
"Ay, jika terlalu banyak acara terus tamu terlalu banyak lama kita malam pertama, Windy sudah membuang waktu tiga tahun. Seandainya kita menikah tiga tahun yang lalu mungkin sekarang sudah ada putra atau putri bersama kita." Windy menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Windy."
"Sayang, jodoh, maut, rezeki juga keturunan sudah Allah tentukan. Jangan menyalahkan takdir nak, Papi tahu betapa sulitnya kamu menanti hari bahagia, sabar sayang." Bima mengusap kepala Windy.
"Papi benar Win, jika Stev lelaki jantan sekali masuk hamil. Mami dulu juga begitu selesai bulanan, malam pertama langsung isi dua." Reva tersenyum menatap Bima.
"Reva, tidak baik bicara seperti itu."
"Iya maaf Ay. Steven Windy pernikahan bukan hanya soal keturunan, banyak orang lama menikah belum memiliki anak, tapi mereka bahagia. Jangan terlalu terburu-buru, banyak berdoa insyaallah niat baik diberikan keturunan yang baik juga." Reva mengedipkan matanya kepada Windy.
Bima meminta Stev dan Windy beristirahat, masih ada hari esok untuk bicara soal pernikahan. Windy memeluk Bima langsung melangkah pergi ke kamarnya, Steven masih duduk diam melambaikan tangannya kepada Windy.
"Beristirahatlah Stev, kamu harus banyak istirahat."
"Maafkan Stev kak Bim, selama tiga tahun Steven melukai Windy dengan terus menunggu."
"Steven jangan merasa bersalah, Windy sangat mencintai kamu sehingga dia sangat takut kehilangan kamu." Reva menatap Stev memberikan semangat.
"Apa kamu merasa ragu dengan pernikahan ini?"
"Tidak kak, Steven sangat yakin."
"Jika kamu yakin, siap dengan segala konsekuensinya. Stev kamu harus menjadi panutan, suami yang bisa membimbing istrinya ke jalan yang lebih baik."
"Siap kak Bima, Steven sangat yakin bisa menjadi suami dan Ayah yang baik."
"Kembali ke kamar kamu."
__ADS_1
"Kak Stev sudah boleh belum menghamili Windy?" Stev menatap Bima serius.
"Dasar Steven bodoh, ternyata kamu playboy tidak punya *****, aku pikir Bima om-om paling polos ternyata masih ada om tua yang yang kelewat polosnya." Reva menatap kesal.
"Hanya bertanya Va, karena Windy masih kecil."
"Dia sudah besar Steven." Bima menatap dengan wajah datar.
"Ohh berarti sudah boleh, selamat malam Papi dan Mami." Steven tersenyum langsung melangkah keluar.
Bima memijit pelipisnya, Reva mencium pipi Bima menggodanya.
"Steven bodoh, soal rajang saja dia bertanya, jangan bilang dia tidak tahu letak lubang."
"Reva."
"Iya maaf, dasar suami cuek, jutek, tapi Reva cinta."
Bima tersenyum meminta Reva tidur lebih dulu, Reva langsung menganggukkan kepalanya mengerti jika Bima ingin sendiri.
Bima duduk diam seorang diri, melihat komputernya menatap tumbuh kembang Windy sejak kecil.
"Windy, setelah kamu menikah selesai sudah tugas Papi, karena semua tanggung jawab pindah ke tangan suami kamu. Putri kecil Papi sudah besar, kamu lucu sekali sayang." Bima tersenyum mematikan komputernya.
***
Pagi-pagi Steven melihat dari jendela kamar menatap Winda yang sudah berjalan bersama Vira, Bella dan Billa yang sedang mengintip seseorang.
"Pagi Ay." Windy mendekati Steven.
"Biasalah, paling juga sedang mengintip asisten Bunda Jum yang temu kangen dengan tukang kebun Mommy Vi."
"Wow, pacarku tetanggaku." Steven tertawa menatap kejahilan Winda yang menganggu orang pacaran.
"Ay, hari ini kita kumpul di rumah utama untuk membicarakan pernikahan."
"Iya, kak Bima sudah mengatakannya."
"Kita belanja dulu ya Ay." Windy langsung melangkah keluar kamar Steven.
"Windy."
"Iya Ay."
"Kamu ingin mahar apa?" Steven menatap Windy sambil tersenyum.
"Rumah mewah, mobil mewah, uang dua milyaran." Windy tersenyum lucu.
"Baiklah, aku menyanggupinya."
Windy langsung tertawa, menggelengkan kepalanya karena Windy hanya menginginkan ketulusan cinta Steven, tidak membutuhkan hartanya.
Steven sebenarnya juga binggung bicara kepada Bima soal mahar, takutnya Bima salah paham karena bagi keluarga Bramasta Steven sudah keluarga yang tidak diukur dengan harta.
Reva mengetuk pintu meminta Windy keluar, Stev langsung menahan Reva menatapnya serius.
__ADS_1
"Kenapa Steven?"
"Bagaimana soal mahar Mami?"
"Windy minta sesuatu?"
"Rumah, mobil uang dua milyaran."
"kamu keberatan?"
"Tidak, jadi aku harus menyiapkan mahar terlebih dahulu."
"Stev oh Steven kamu ingin membuat Bima marah, dia tidak menjual putrinya."
"Mahar hak mempelai wanita."
"Kamu bicarakan dengan Papi saja."
Steven menghela nafasnya, mengikuti Reva melangkah keluar menemui Bima yang sedang membahas pekerjaan dengan Rama.
"Pagi kak Bim, pagi Rama."
"Pagi Stev."
"Kak Bim, mahar untuk pernikahan rumah mewah, mobil mewah uang dua milyaran."
"Windy yang minta?" Bima menatap Steven serius.
"Iya, tapi Stev meminta persetujuan kak Bima."
"Ya sudah berarti itu maharnya, kamu mampu tidak menyiapkannya?" Bisma langsung duduk di depan Stev.
"Insyaallah sanggup."
"Kamu cukup menyediakan mas kawin seperangkat alat sholat, juga hafalan surat Ar Rahman."
Steven menatap Bima, hafalan ayat lagi. Bisma menahan tawa menatap Steven yang terkejut.
"Masih hafal tidak?" Bima menatap Stev yang diam.
"Insyaallah kak Bim hafal."
"Steven, seperangkat alat shalat mahar yang cukup berat, karena kamu harus membimbing istri kamu menggunakan alat sholat untuk terus beribadah, bukan hanya untuk simpanan, jika kamu lalai dosa kamu yang menanggungnya."
"Tidak ada juga kak Bim yang ingin bagi-bagi dosa." Bisma tertawa bersama Rama yang tersenyum menatap Bima yang memukul adik lelakinya.
Steven masih terdiam memejamkan matanya, mengigat kembali hafalan, mengulang bacaan di dalam hati.
"Masih ada waktu Stev untuk belajar." Rama menepuk pundak Steven.
Steven tersenyum menganggukkan kepalanya, menatap Bunda Jum yang datang membawa beberapa rekomendasi dekor gedung termewah.
"Soal pernikahan jangan dipikirkan, cukup fokus malam pertama karena jalannya pesta sudah ada yang mengatur." Bisma menatap tri istri yang mulai sibuk.
***
__ADS_1