
Kepulangan twin W disambut sangat bahagia, keluarga bergantian melihat. Seluruh asisten yang setia kepada Bima menangis bahagia, baby Wildan yang lebih banyak diam, baby Winda yang cengeng.
Tengah malam Reva selalu bergadang karena Wildan akan berbunyi jika lapar, karena dia laki-laki 30 menit sekali dia akan menangis meminta asi, sedangkan Winda lapar tidak lapar jika terbangun pasti menangis.
Bukan hanya Reva Bima tidak kalah repot, malam bergadang, siang bekerja. Bahkan Reva sering kasihan. Baru saja memejamkan mata sudah terbuka lagi, jika siang Reva bisa tidur karena ada ibunya yang membantu menjaga twin.
Kini Bima dan Reva benar-benar merasakan yang namanya menjadi orang tua baru yang masih harus banyak belajar, dan ekstrak sabar.
"Ayy tidur saja, besok ada meeting pagi."
"Iya sayang, aku tidur bentar ya, kalau twin bangun, kamu juga bangunkan Ayy jangan bergadang sendirian."
Reva hanya menggagukan kepalanya, berbaring dalam pelukan lelaki terbaiknya. Baru saja Bima tertidur, gerakan Wildan sudah terdengar, Reva langsung bangun menggendong Wildan untuk keluar agar tidak menggangu Bima.
Setelah menyusui Wildan dan dia langsung kembali tidur, Reva kembali ke kamar mengambil Winda yang hampir menangis. Reva pindah ke kamar bayi dan menyusui di sana, jika Bima tahu pasti dia marah karena ingin menjaga kedua anaknya bersama, tapi Reva yang tidak tega melihat Bima, matanya sudah berkantung, terlihat sangat lelah.
Semalaman Reva duduk sambil menyusui, memejamkan matanya hanya sekilas, bahkan sudah waktunya subuh Reva masih menjaga anaknya, Bima membuka pintu mengambil Winda yang berada dalam pelukan Reva meletakan di ranjang bayi.
Bima tersenyum melihat dua anaknya, melihat istrinya yang baru saja terlelap dan sudah pindah ke ranjang.
Sudah siang Bima sudah bersiap ke kantor, Reva kaget jika dia ketiduran. Bima sudah sarapan, kedua anaknya sudah berjemur bersama ibu dan bibi.
"Ayy, kenapa tidak membangunkan Reva?"
"Kamu juga kenapa tidak membangunkan Ayy?"
"Maaf, Reva ingin Ayy istirahat."
"Mulai hari ini anak-anak tidur dengan Maid, aku sudah menyiapkan babysister pribadi."
"Kenapa? Reva bisa menjaga mereka."
"Kamu melanggar perjanjian kita sayang, kita sudah sepakat melakukan semuanya bersama tapi kamu memilih melakukan sendiri, aku tidak rela."
Bima langsung berdiri, menciumi wajah Reva yang masih cemberut. Bima menyapa Windy barulah dia menemui kedua anaknya untuk pamitan kerja.
Reva ikut berjemur sambil ingin menangis.Dia tidak rela akan ada maid baru.
"Kenapa Reva, bibir kamu hampir jatuh?"
__ADS_1
"Ayy Bima memutuskan untuk mencari babysister, Reva tidak mau. Kalau mereka menggoda Bima bagaimana, mana badan Reva masih gemuk."
Ibu Reva dan bibi tertawa, Reva masih meragukan kesetiaan pria sedingin Bima. Sebelum ada Reva saja tidak bisa melihat senyuman, apalagi sudah punya Reva dan anak-anak. Bima tidak punya waktu untuk melirik yang lain.
"Bibi saja yang jaga twins W ya Bi, Reva tidak mau menambah orang lagi."
"Baiklah jika itu keinginan kamu, bibi juga tidak rela jika ada yang merusak kebahagiaan rumah tangga kamu.
***
Waktu terus berjalan, Bima dan Reva terus menikmati moments kebersamaan dengan ketiga anak mereka.
Mengikuti semua pertumbuhan sampai akhirnya keduanya bisa berjalan, memanggil Mi dan Pi. Kebahagiaan Reva tidak bisa diungkapkan saat Wildan pertama kali memanggilnya Mimi, senyuman mahal putranya hanya Reva, Bima dan Windy yang tahu, dia sangat cuek juga dingin, tidak bisa semua orang menyentuhnya.
Wildan lebih suka menyendiri, dia paling sering sembunyi jika Ravi yang berkunjung, ditambah lagi oleh Tian yang mengoceh tengang adiknya.
Berbeda dengan Winda, dia sangat ceria suka keramaian. Winda sangat senang saat melihat Vira datang, dia juga suka merangkak jika melihat Bella dan Billa ikut bermain.
Bima memperhatikan kedua anaknya, Wildan lebih mengikuti dirinya, sedangkan Winda mengikuti Reva yang heboh.
"Kak Bim, lihatlah para gadis kecil yang sangat mengemaskan. Mereka berbicara seakan mengerti satu sama lain." Bisma tersenyum, melihat kedua putri kecilnya yang seakan menyimak ocehan Vira.
"Mereka akan sahabat seperti Viana, Reva dan Jum." Bima tersenyum, menyapa Rama yang juga baru datang.
Tawa Bima dan Bisma terdengar, jika sedang berkumpul Wildan pasti pergi mencari tempat yang tenang.
Semuanya makan bersama, suara tangisan terdengar Jum langsung meninggalkan makanannya karena twin B menangis, setelah twin B menangis lanjut lagi Winda, Reva langsung mendekat dan melihat tiga bocah menangis.
"Apa yang terjadi Bi, ini bocah bertiga mengapa menangis?"
"Sepertinya takut dengan tuan muda Wildan."
"Di mana Vira?" Viana ikut mendekat.
"Dia membuntuti Wildan?"
Viana dan Reva langsung menyusul, melihat Wildan menatap tajam Vira. Dia tidak suka diikuti, sedangkan Vira sangat ceria terus menggoda Wildan dengan gerakan lucunya.
"Wildan tidak ada senyuman sama sekali Va?"
__ADS_1
"Iya kak, Wildan sangat dingin."
Belum sempat Viana bergerak, Vira sudah terjatuh karena di dorong Wildan yang meninggal tidak perduli dengan tangisan Vira. Viana bukannya panik tapi tertawa.
Bima yang mendapatkan laporan, mendudukkan Wildan kecil di atas meja, Bisma dan Rama juga duduk di sana menatap Wildan seakan menyidang.
"Wildan kamu tahu salah kamu apa?" Bima menatap putranya, Bima sudah biasa bicara dengan anaknya sejak keduanya masih dalam kandungan.
Mata Wildan menatap mata Bima, jika dia sudah bisa bicara mungkin sudah menjawab tapi Wildan baru bisa mengatakan Mimi Pi ka, mam, nen, cu dan hal lainnya yang dia butuhkan.
"Sayang, laki-laki tidak boleh menyakiti wanita, tadi Wildan mendorong Vira. Kasihan dia sampai menangis." Mata Wildan berkaca-kaca, dia mengerti jika sedang mendapatkan teguran.
"Tugas Wildan sebagai lelaki menjaga wanita, salah satunya Vira. Dia keluarga Wildan, kakak Wildan, wanita yang harus Wildan hormati." Bima menyentuh tangan kecil putranya yang masih diam memperhatikan.
Rama tersenyum melihat kecerdasan Wildan sedari kecil, bocah jenius yang akan menuruni kecerdasan Bima. Bisma juga menyentuh pipi gembul Wildan.
"Ini bocah ganteng parah, selain terlihat cerdas Wildan sangat mirip kakak kecil dulu tapi kakak sangat lembut, sedangkan Wildan galak." Bisma mencium gemas pipi Wildan, bibirnya langsung monyong.
"Wildan, Papi tidak suka dengan ekspresi kamu, ayo senyum." Dengan terpaksa Wildan tersenyum.
Suara teriakan Rama dan Bisma yang akhirnya bisa melihat betapa tampannya Wildan saat tersenyum.
"Astaghfirullah Al azim, indahnya senyuman ini anak." Rama sangat gemas, mencium pipi Wildan.
"Dia cocok jadi playboy, wajah tampannya sekali senyum pingsan semua perempuan."
"Jangan ya sayang, harus jadi lelaki baik, tidak boleh menyakiti hati wanita." Bima menatap putranya.
"Nen cu." Wildan menatap Bima dengan mimik memelas.
"Dia mau nenek cucu." Bisma menatap Rama dan Bima.
"Mami, Wildan mau nen?" Bima memanggil Reva yang sedang asik tertawa, langsung mendekat menggendong putranya.
"Wildan lapar mendengar ocehan bapaknya." Viana mengikuti Reva, ingin sekali melihat senyuman Wildan tapi dia langsung buang muka, membuat Viana manyun.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***