MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
GAGAL LAMARAN


__ADS_3

Bima sampai di tempat orang tua Reva, sebelum acara lamaran. Bima dan bapak menyempatkan diri untuk ke peternakan. Seluruh keperluan lamaran dipersiapkan oleh Septi dan adik Reva, kepala Bima pusing mengurus hal-hal yang menurutnya kekanakan. Jadi dia menyerahkan semuanya kepada mereka yang berpengalaman.


Sampai di peternakan, Bima sudah disambut oleh para pekerja. Bima seorang pebisnis yang baik, ramah, juga sangat tegas. Cara kerjanya sangat rapi dan menginspirasi bagi para pemuda desa. Mendengar kabar kedatangan Bima, banyak pemuda yang bersemangat mendatangi peternakan. Bapak tersenyum melihat Bima yang bisa berkomunikasi dengan baik, tidak membedakan derajat.


"Kami warga kampung sangat senang kedatangan kamu nak Bima." Kepala desa menjabat tangan Bima.


"Saya juga senang, di sini saya datang bersama bapak saya. Orang yang juga menginspirasi saya."


"Bima ini calon menantu saya, dia orangnya terlalu merendah." Semua orang tertawa melihat bapak dan Bima.


Bapak dan warga lainnya pergi berkeliling, Bima sedikit menyingkir karena mendapatkan panggilan. Sebelum pergi Bima pamit sebentar.


"Hebat Reva, bisa mendapatkan pria pengusaha. Nasibnya sangat bagus." Seorang pemuda menatap Bima yang baru selesai menjawab telpon, Bima menatap balik sambil tersenyum.


"Reva hebat karena memiliki ibu dan ayah yang hebat, saya juga sangat beruntung bisa mengenal dia. Harta bisa dicari jika Allah berkehendak dalam sekejap saya bisa kehilangan segalanya, mohon bimbingan warga sini agar saya terus memperbaiki diri." Bima merasa tidak nyaman jika sudah membahas soal harta, dia lebih suka menjadi orang biasa.


"Kamu terlalu sederhana, juga suka merendah. Pengalaman kamu jauh di atas warga sini. Kamu memiliki banyak perusahaan, dan semuanya berada di bawah kendali kamu." Pemuda kampung mulai memojokkan Bima, bapak menatap Bima yang hanya tersenyum.


"Semua itu milik karyawan, sebagai seorang putra saya hanya menjalankan amanah. Kata ayah jika kamu mampu mendirikan sesuatu bangunlah, bukan untuk dirimu, setidaknya kamu menyelamatkan para pekerja. Saya minta maaf jika ada yang tidak berkenan tapi bagi saya jangan mengomentari hidup orang lain, jika kamu tidak mampu menjadi dirinya." Bima mendekati pemuda tersebut dan menepuk pundaknya.


"Tapi kamu memecat saya, secara tidak terhormat Bima." Tatapan matanya seakan penuh kebencian terhadap Bima.


"Saya bekerja hanya menggunakan tiga prinsip. Jujur, pekerja keras, dan disiplin. Jika kamu disiplin pasti menghargai waktu dan juga perkejaan sehingga kamu bisa menikmatinya, pekerja keras kenapa kamu membutuhkan karena bisa menjadi motivasi agar kamu semangat, dan yang terakhir jujur jika kamu jujur pasti amanah. Kesalahan mana yang kamu lakukan. Indra!" Bima menatapnya.


"Saya...."


"Indra, tangan saya hanya dua tubuh hanya satu. Beban di pundak saya sangat banyak, tidak bisa semuanya berada dalam kendali saya. Saya membutuhkan orang kepercayaan, agar bisa membentuk sebuah usaha."


"Maaf pak Bima, saya terbawa emosi. Anda terlalu baik, juga sangat sukses seakan-akan tidak punya kekurangan."


"Saya memiliki banyak kekurangan, tapi terlalu cerdas menutupinya. Datanglah jika kamu membutuhkan aku, pernah mendengar istilah aku hanya memberikan satu kali kesempatan." Bima langsung berjalan mendekati warga lainnya yang memanggil dan meninggalkan Indra.


***


Bima dan bapak pulang ke rumah untuk makan siang dan sholat zhuhur, dari luar terdengar keributan juga sudah ada mobil Reva. Ini membuat Bima sedikit kaget, rencananya gagal.


Cepat Bima dan bapak masuk ke dalam, teriak kuat Ratna terdengar. Ibu langsung menutup mulut Ratna yang sangat berisik, bapak memberikan salam saja tidak mereka dengarkan.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim, ada apa ini?"


"Bapak!" ibu langsung mendekati bapak dengan wajahnya yang kesal.


"Ada apa Bu?"


"Ratna bikin masalah, mengacaukan rencana lamaran Bima."


Bima melihat Reva yang duduk di sofa dengan wajah cemberut, Septi berada di sisinya coba menenangkan pertengkaran Reva dan Ratna.


"Seharusnya Kalau ada acara apapun, Ratna dihilangkan dulu dari muka bumi. Acaranya selesai baru balik lagi." Reva teriak sambil melempar bantal sofa.


"Reva, cukup sayang. Masalahnya apa? malu sama Bima." Bapak menghentikan kedua putrinya yang masih lempar-lemparan.


"Cincin pertunangan Reva, dia lancang pak cobain cincin Reva terus tidak bisa dilepaskan."


"Namanya juga penasaran, pengen coba." Ratna membela diri.


"Kamu tidak tahu diri ya Ratna, badan besar gitu mau pakai cincin kecil. Masih muda tapi sudah mirip Ibu-ibu anak sembilan."


"Ratna tidak gemuk, cuman sedikit berisi. Namanya juga pertumbuhan, tidak seperti kak Reva body saja rata."


"Kak Bima tolong Ratna, Mak lampir ngamuk."


Bima menahan Reva yang ingin menjambak Ratna, mereka berdua berputar mengelilingi Bima. Sampai suara bapak yang menghentikan mereka.


"Tangan Ratna sakit, lihat bengkak."


"Kita ke rumah sakit saja pak, tangan Ratna membengkak."


"Ayo Reva ikut! biar dipotong saja jarinya."


"Kak Reva!" Ratna langsung menangis, Bima berusaha menenangkan Ratna yang panik tangannya bengkak.


"Kesal Reva, 5tahun Reva mengejar cinta Om Duren sekali dilamar kacau balau." Reva menendang bantal sofa yang berhamburan.


"Kak Reva bilang apa? 5tahun! berarti kak Reva ingat semuanya. Hilang ingatan bohong."

__ADS_1


Ratna menatap wajah Bima yang tidak terkejut sama sekali, bapak menggelengkan kepalanya melihat Reva. Tanpa berdosa Reva melangkah pergi masuk ke kamarnya dengan membanting pintu sangat kuat.


"Maaf ya Bima, ulah Reva juga Ratna rencana lamaran kamu yang ingin memberikan kejutan gagal total."


"Ana yang kasih tahu kak Reva, kalau kak Bima datang ke sini."


"Keluarga ini mulutnya memang tidak ada yang bisa direm." Ibu menghela nafasnya.


"Tolong Ratna! nanti jari Ratna dipotong."


"Tidak mungkin dipotong Ratna, tapi kamu harus kuat menahan sakitnya." Bima mengelus kepala Ratna, air matanya masih mengalir.


"Kak Bima bersih-bersih dulu, baru kakak antar ke rumah sakit."


"Biar bapak Bima, kamu mandi terus sholat jangan lupa makan. Maafkan kekacauan hari ini ya."


"Tidak apa pak, Bima mengerti."


Septi keluar kamar Reva dengan menggakat bahunya, Bima hanya menghela nafas dan langsung pergi membersihkan diri.


Selesai semuanya Bima mengetuk kamar Reva, mengajak Reva makan bersama. Reva membuka pintu dengan matanya yang sebab.


"Maafkan Ratna ya, dia tidak sengaja." Bima menghapus air mata Reva.


"Om tidak marah, Reva bohong!"


"Saya mana mungkin bisa marah, sujud syukur aku lakukan karena kamu masih mengigat aku." Bima tersenyum menatap mata Reva yang juga menatapnya.


"Terus tidak jadi lamaran!" Reva cemberut kembali.


"Jadi! nanti malam kita keluar ya. Cincin juga ganti yang baru, jangan sedih lagi. Ada tidaknya lamaran, kita akan tetap menikah."


Bima menarik Reva dalam pelukannya, rasanya Reva ingin pingsan. Bima memeluknya, rasa bahagia Reva rasakan berada dalam pelukan Bima. Wanita pertama yang Bima pelukan memang Viana, tapi Reva akan jadi wanita terakhir.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2