
Sampai di mall Windy langsung berlari menarik tangan Reva, tapi terhenti di depan pintu masuk, melihat Mall yang ramai membuat Windy dan Reva lesu mereka berdua memiliki kesamaan yang tidak begitu suka keramaian. Karena hari libur, Mall ramai pengunjung dari banyak kalangan, yang memang tujuan untuk belanja atau sekedar cuci mata dan jalan-jalan.
"Ayo masuk!" Bima mendahului kedua wanita yang masih terdiam.
"Mami Windy pusing melihat banyak orang, udah binggung mau ngapain?" Windy manyun melihat kearah Reva.
"Kita belanja makanan saja, setelah itu santai di mobil jika ada waktu kita ke pantai." Reva tersenyum memberikan solusi yang langsung disetujui oleh Windy.
Bima binggung melihat keduanya yang katanya ingin bermain tapi belanja makanan, Reva mengambil banyak Snack diikuti oleh Windy, Bima menggelengkan kepalanya melihat keserakahan keduanya yang tidak sadar jika keranjang sudah penuh. Reva dan Windy menoleh ke belakang dengan wajah kaget, Snack mereka berhamburan di lantai, sedangkan Bima hanya diam tidak ikut berjalan melipatkan kedua tangannya di dada.
Windy yang sangat hafal sifat Bima langsung memunguti Snack, dan meletakkannya di tempat semula sampai rapi.
"Kenapa Om berdiri di sana?" Reva mendekati Bima dan mengambil keranjang Snack.
"Buat apa Snack sebanyak ini, jangan serakah. Ambil yang mana kamu suka." Bima menahan keranjang belanja.
"Reva suka semuanya!"
"Mau di makan, atau mau buka toko cemilan." Bima menatap mata Reva yang binggung.
"Emmhhh, hanya suka!" Reva membalik badannya melihat Windy yang tertawa.
Selesai belanja mereka bertiga kembali ke mobil, Reva duduk di kursi penumpang membiarkan Bima duduk sendiri di depan.
"Reva duduk depan!" Bima kesal melihat dirinya yang seperti supir.
"Tidak mau Om, mau nyemil dan cerita di belakang." Reva membuka Snack dan memakannya bersama Windy.
"Ya sudah! mobil tidak akan jalan." Bima mematikan mesin mobil, Reva dan Windy saling pandang melihat Bima yang ngambek tua.
Dengan terpaksa Reva keluar dan pindah ke kursi samping, Bima baru menghidupkan mobil kembali dan melajukan mobilnya.
"Om ngambek ya, udah tua Om." Reva mengejek Bima sambil tertawa.
"Siapa yang ngambek? aku bukan supir kalian." Bima membela diri.
"Iya Papi jangan ngambek gitu, nanti gantengnya hilang." Reva mencubit pelan pipi Bima.
"Windy jadi nyamuk," Windy manyun memandangi Bima dan Reva.
Reva menangkup wajah Windy dan mencium kening dan kedua pipinya. Sejak pertama bertemu Reva sangat menyayangi Windy, melihat Brit pergi meninggalkan Windy sungguh sakit hati Reva.
__ADS_1
"Kenapa kita tidak jadi main di Mall?"
"Ramai Papi!" Reva dan Windy menjawab bersamaan.
"Jadi sekarang ke mana?"
"Pantai!" keduanya menjawab bersamaan lagi.
Reva dan Windy menikmati Snack yang mereka beli, saling suap-suapan membuat Bima mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak dianggap, bahkan ditawar makan juga tidak.
"Om mau!" Reva ingin menyuapi Bima.
"Tidak!" kesal Bima dari tadi baru ditawar sekarang, hari ini dia merasa banyak ngambeknya dibuat dua bidadari.
"Mami aaakk, Papi juga aaakk!" Windy menyuapi keduanya bergantian.
Reva juga menyuapi Windy, ingin juga menyuapi Bima tapi terus ditolak, Reva sadar Bima lagi ngambek.
"Ayo Om Duren buka mulutnya. Ini enak!" Reva mendekati wajah Bima dan memaksanya memakan yang Reva pegang.
"Reva berhenti memanggil saya Om Duren, nanti orang berpikir saya tukang jual Duren."
Reva dan Windy tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Bima, Reva tidak pernah terpikirkan soal buah duren.
"Cukup tertawanya, kita sudah sampai!" Bima memarkirkan mobilnya.
Mereka bertiga turun, Bima belum sempat bicara keduanya sudah berlari ke pinggir pantai. Matahari yang terik membuat Bima hanya memandangi keduanya dari pohon rindang. Bima mengambil kacamata hitam dan menggunakannya, banyak perempuan yang memandanginya membuat Reva kesal.
Bima berjalan mendekati Reva yang teriak-teriak, memberikan topi pantai ke Windy sambil membantu memasangkannya. Bima juga mendekati Reva yang manyun memasangkan topi pantai. Reva meletakan tangannya di leher Bima membuat banyak perempuan teriak.
"Om suka tebar pesona, lihat banyak banget cacing kepanasan di sini."
"Ini pantai Reva, mana ada cacing." Bima ingin melepaskan tangan Reva dilehernya tapi ditahan.
"Om terlalu tampan, menggunakan baju santai dan kacamata. Tau ahhh Reva kesal berbagi dengan banyak mata."
"Om tidak mengerti apa yang kamu katakan, tapi intinya Om tidak perduli dengan banyak mata."
Bima berjalan mendekati Windy yang asik mencari kerang, Reva memandang tajam ke wanita yang tadinya jauh sekarang semakin mendekat. Berpura-pura mencari kerang dan mulai mendekati Windy.
Melihat Reva yang diam dan kesal, Bima mendekati dan menarik tangannya untuk bergabung dengan Windy. Reva tersenyum melihat tangannya yang berada dalam genggaman Bima.
__ADS_1
"Hai adik kecil, ke sini bersama siapa?"
"Windy sudah besar Tante, ke sini bersama Mami dan Papi. Itu mereka lagi bergandengan tangan, romantis ya Tante, Mami cantik dan muda sedangkan Papi tampan dan gagah." Windy pergi menjauh mendekati Bima dan Reva yang asik melihat laut yang luas.
Handphone Bima bergetar, dia langsung meninggalkan Windy dan Reva sedikit menjauh. Bima berbicara di dalam telpon sambil matanya memandangi Reva dan Windy yang asik bermain kejar-kejaran.
Windy berlari kencang dan langsung menabrak seorang Bule tampan, membantu Windy berdiri dan menggendongnya.
"Adik kecil baik-baik saja?"
"Iya Om bule!" Windy memandangi Bule yang tersenyum manis.
"Lepasin anak gue, Lo penculik ya." Reva memukuli dan memaksa agar Windy diturunkan.
"Santai, jangan marah. Ini anak kamu, muda sekali punya anak sebesar ini."
Bule mengajak Reva berkenalan, Reva juga meminta maaf karena lancang memukulinya.
"Kenalin, aku Steven baru 2minggu pindah ke Indonesia."
"OHH, aku Reva semoga betah berada Indonesia."
Reva dan Steven kaget tangan mereka langsung dipisahkan oleh Bima, tatapan mata Bima melihat Reva sangat dingin. Reva bukannya takut tapi ingin tertawa, jadi seperti ini wajah Bima yang sombong cuek dan dingin kalau lagi cemburu. Rasanya Reva ingin terbang ke langit ke tujuh karena bahagia melihat Bima yang cemburu.
"Ya Papi marah ke Mami karena om." Windy menjadi kompor.
"Maaf ya saya tidak tahu jika dia punya suami." Steven kaget setelah berhadapan dengan Bima.
Bima menatap dingin, ingin sekali dia memukuli Bule yang beraninya tertawa dan menyentuh tangan Reva. Kemarahan yang Bima rasakan melebihi rasanya ditinggal menikah oleh Viana.
"Kak Bima! masih ingat Steven."
Bima menatap sinis, menggenggam tangan Reva dan menggendong Windy pergi menjauh.
"Kak Bima benar-benar melupakan Steven!" Steven berdiri di depan Bima yang ingin pergi.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.
***